Mila menarik napas, lalu menyeka matanya. “Aku tahu kamu datang untuk meminta maaf. Tapi aku ingin tahu, apa yang sebenarnya kamu rasakan dulu?”
Aara menahan diri untuk tidak menjawab terlalu cepat. “Aku pernah menyukai Dhanis. Kami sama-sama membiarkan perasaan itu berjalan di arah yang salah. Aku tahu dia punya hubungan denganmu, tapi aku tetap berharap dia memilihku.”
Dhanis menunduk. Ia tidak menyela.
“Aku tidak akan bilang aku tidak tahu,” lanjut Aara. “Aku tahu. Aku tetap memilih untuk terlibat. Itu kesalahanku.”
Mila mulai menangis. Aara menggeser tisu ke dekatnya, tetapi tidak menyentuh tangannya.
“Kamu masih menginginkan dia?” tanya Mila.
“Tidak. Aku sudah mengakhiri harapan itu. Tapi aku tahu kata-kata itu mungkin tidak langsung membuatmu percaya.”
“Kamu pernah membayangkan hidup dengannya?”
Aara mengangguk pelan. “Pernah. Itu menyakitkan untuk diakui, tapi aku tidak mau berbohong.”
Mila menutup wajahnya sebentar. Bahunya bergerak naik turun. Aara menunggu. Ia tidak memohon agar Mila berhenti menangis dan tidak mengatakan bahwa semuanya sudah berlalu. Bagi Mila, luka itu masih terasa nyata.
“Waktu di rumah sakit, aku memintamu menjaga jarak,” kata Mila setelah beberapa saat. “Aku takut kehilangan Dhanis. Aku tahu kamu tidak pernah datang untuk merebutnya saat itu, tapi ketakutanku besar sekali.”
“Aku mengerti. Aku tidak membalas pesan Dhanis karena mengingat permintaanmu. Aku tidak ingin memberi ruang pada sesuatu yang bisa membuatmu takut lagi.”
Mila menatapnya. “Dia menghubungimu?”
“Dia mengirim pesan ingin menjelaskan. Aku tidak menanggapi ajakan pribadi. Setelah dia bilang kamu ingin bicara, aku membalas hanya untuk mengatur kunjungan ini dan mendengarkanmu.”
Dhanis bergerak sedikit, seolah hendak bicara, tetapi Mila mengangkat tangan. Ia menunggu Aara menyelesaikan kalimatnya.
“Aku tidak datang untuk mengambil keputusan tentang hubungan kalian,” kata Aara. “Aku datang karena aku punya bagian yang harus kuakui. Aku minta maaf karena pernah berharap pada suamimu dan karena tindakanku ikut membuatmu merasa tidak aman.”
Mila menangis lebih keras. Kali ini Aara menawarkan tisu lagi. Mila menerimanya.
“Aku selalu membandingkan diriku denganmu,” katanya. “Aku tahu itu tidak adil. Aku bahkan tidak mengenalmu dengan baik, tapi aku terus membayangkan kamu lebih cocok untuk Dhanis.”
“Kamu tidak perlu membandingkan diri dengan aku. Hubungan kalian bukan perlombaan.”
“Aku tahu sekarang. Tapi saat kehilangan bayi, rasanya aku tidak punya apa-apa lagi untuk membuatnya bertahan.”
Aara merasakan dadanya sesak. Ia tahu tidak ada jawaban yang bisa menghapus kehilangan itu. “Aku turut berduka, Mil. Aku tidak akan bilang kamu harus segera kuat. Kamu boleh sedih selama yang kamu perlukan.”
Mila mengangguk sambil mengusap pipi. “Dhanis tetap di sini. Dia merawatku, meski aku sering menjauh dan marah kepadanya.”
“Dia memilih bertahan bersamamu,” kata Aara.
Mila menatapnya, heran. “Kamu tidak marah?”
“Tidak. Itu memang pilihan yang seharusnya dia buat kalau kalian saling memilih. Aku hanya ingin memastikan aku tidak lagi menjadi alasan kamu takut.”
Dhanis akhirnya bersuara. “Aara, aku juga minta maaf. Aku dulu membiarkan hubungan kita berjalan tanpa batas yang jelas. Aku membuat kamu dan Mila terluka.”
Aara menatapnya. “Aku menghargai kamu mengakui itu. Tapi aku tidak datang untuk membahas hubungan kita lagi.”
“Aku mengerti.”
Mila menarik napas panjang. Matanya merah, tetapi suaranya mulai stabil. “Aku ingin memaafkanmu. Bukan karena semua yang terjadi tidak penting, tapi karena aku tidak ingin terus hidup dengan ketakutan yang sama.”
Aara menahan air mata. “Terima kasih. Kamu tidak harus melakukannya hari ini kalau belum siap.”
“Aku siap mencoba.”
Mereka duduk dalam diam. Kali ini, keheningan tidak terasa sebagai tuduhan. Ia memberi ruang bagi Mila untuk menerima permintaan maaf dengan caranya sendiri.
***
Mila meminta segelas air. Dhanis segera mengambilkannya dari dapur. Aara menunggu sampai Mila selesai minum sebelum bertanya apakah ia ingin beristirahat. Mila menggeleng.
“Aku ingin menyelesaikan pembicaraan ini,” katanya. “Sudah terlalu lama aku menyimpan semuanya sendiri.”
“Kita bisa berhenti kapan saja,” ujar Aara.
“Aku tahu. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa Dhanis memilih bertahan denganku. Setelah kehilangan bayi, aku sempat menyuruhnya pergi karena merasa aku tidak mampu menjadi istri yang baik. Dia menolak.”
Aara menunduk. “Aku senang dia tetap menemanimu.”
“Kamu benar-benar tidak ingin dia kembali?”
“Tidak. Aku tidak ingin mengambil tempatmu. Aku juga tidak ingin kembali ke masa lalu yang membuat banyak orang terluka.”
Mila menyeka sisa air mata. “Aku takut mengakui ini, tapi aku sebenarnya sudah melihat Dhanis berusaha. Dia tidak sempurna, dan kami masih berduka. Tapi dia ada di sini.”
“Kamu berhak meminta waktu untuk sembuh.”
“Aku juga harus belajar bicara dengannya, bukan terus menuduhnya akan pergi.”
Dhanis kembali dari dapur dan berdiri dekat pintu. Ia tampak ragu bergabung. Mila memandangnya.
“Duduklah. Ini juga tentangmu.”
Dhanis duduk di kursi samping, tidak terlalu dekat dengan Aara. Ia menatap Mila lebih dulu, lalu berkata, “Aku tidak akan meninggalkanmu karena kamu sedang berduka. Aku tahu kehilangan itu tidak bisa diselesaikan dengan janji sederhana, tapi aku ingin menjalaninya bersamamu.”
Mila menggenggam tangannya. “Aku tidak meminta kamu mengganti bayi kita atau membuatku cepat bahagia. Aku hanya ingin kamu jujur kalau ada yang kamu rasakan.”
“Aku akan berusaha.”
Aara memalingkan pandangan, memberi mereka ruang. Ia merasa lega melihat Dhanis tidak berbicara kepadanya dengan cara yang bisa menimbulkan harapan baru. Ia benar-benar sedang memilih Mila.
“Ra,” kata Mila setelah melepas tangan Dhanis, “aku memaafkanmu. Aku tidak ingin kita menganggap masa lalu itu tidak terjadi. Tapi aku juga tidak ingin terus menghukummu setiap kali melihatmu.”
Aara mengangguk. “Aku menerima. Aku juga akan tetap menjaga jarak dari Dhanis, seperti yang kamu minta.”
“Terima kasih.”
“Kamu tidak perlu berterima kasih. Itu batas yang memang harus kujaga.”
Dhanis menunduk. Ia tampak ingin mengatakan lebih banyak, tetapi menahan diri. Aara menghargai sikap itu. Ia tidak datang untuk membuka kembali percakapan lama, dan Dhanis tidak memaksanya.
Mila bertanya tentang pekerjaan Aara. Aara menjawab bahwa ia bekerja di bagian keuangan dan sedang mencoba fokus pada tugas. Mereka berbicara sebentar tentang hal ringan, termasuk makanan yang dibawa tetangga Mila. Suasana berubah perlahan dari berat menjadi lebih tenang.
“Kamu mau teh?” tanya Mila.
“Kalau tidak merepotkan.”
“Tidak. Aku ingin membuatnya.”
Dhanis berdiri. “Aku yang buat. Kamu tetap duduk.”
Mila tersenyum kecil. “Baik. Tapi jangan terlalu manis.”
“Aku tahu.”
Untuk pertama kalinya sejak Aara datang, Mila tertawa kecil. Aara ikut tersenyum, tanpa merasa harus menjadi bagian dari rumah tangga mereka. Ia hanya menyaksikan dua orang yang sedang mencoba kembali saling merawat setelah kehilangan.