Teh yang dibuat Dhanis tidak terlalu manis, sesuai permintaan Mila. Mereka meminumnya perlahan. Aara mendengarkan ketika Mila bercerita bahwa ia sedang mencoba kembali makan teratur dan berjalan sedikit setiap hari. Ia tidak memberikan nasihat yang tidak diminta; ia hanya berkata bahwa ia berharap Mila lekas pulih.
“Aku tahu kamu mungkin tidak ingin sering bertemu denganku,” kata Mila. “Aku juga belum tahu apakah aku akan selalu nyaman. Tapi hari ini aku lega kita bisa bicara.”
“Aku senang kamu mengatakan itu. Kita tidak perlu memaksakan hubungan menjadi dekat. Yang penting kita tidak saling menyakiti lagi.”
Mila mengangguk. “Aku setuju.”
Aara melirik jam. Ia harus pulang sebelum terlalu malam. Ia berdiri dan merapikan tas.
“Terima kasih sudah menerimaku,” katanya.
Mila ikut berdiri pelan. “Terima kasih karena datang dengan jujur.”
Dhanis berjalan mengantar Aara sampai pintu. Ia berhenti di ambang, menjaga jarak. Mila tetap berada di ruang tengah.
“Aara,” katanya.
Aara menunggu.
“Aku tahu aku pernah membuat semuanya rumit. Aku tidak akan menghubungimu lagi untuk urusan pribadi. Kalau ada hal yang benar-benar penting, aku akan menyampaikannya dengan cara yang pantas dan memastikan Mila tahu.”
Aara mengangguk. “Itu lebih baik.”
“Aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi.”
“Terima kasih.”
Dhanis hanya mengangguk. Tidak ada permintaan agar mereka tetap berteman, tidak ada penjelasan tambahan, dan tidak ada sentuhan yang bisa disalahartikan. Aara membalas anggukan itu sebelum melangkah keluar.
Di halaman, ia berhenti sebentar untuk menarik napas. Ia merasa ada bagian dari masa lalunya yang akhirnya mendapat penutup, meski bukan penghapusan. Ia pernah menyukai Dhanis dan pernah berharap terlalu jauh. Ia tidak bisa mengubah itu, tetapi ia bisa memilih untuk tidak mengulanginya.
Dalam perjalanan pulang, Aara mengirim pesan kepada ibunya bahwa ia sedang menuju rumah. Ibunya membalas dengan ucapan hati-hati. Aara menatap lampu jalan dari jendela kendaraan dan merasa sedikit lebih ringan.
Namun rasa lega itu tidak membuat rasa cemburunya kepada Naomi hilang. Ia tetap belum tahu apa yang terjadi antara Harist dan mantan kekasihnya. Ia juga belum tahu apakah Harist akan menjelaskan seperti yang dijanjikan. Ia memutuskan untuk tidak mencampuradukkan dua hal itu: ia bisa menyelesaikan urusannya dengan Mila tanpa menuntut Harist memberi jawaban malam ini.
Sesampainya di rumah, Aara memberi tahu ibunya bahwa ia sudah meminta maaf kepada Mila dan permintaan itu diterima. Ia belum menceritakan keterlibatannya dengan Dhanis. Ibunya hanya mengetahui ia pernah melukai seorang teman, bukan keseluruhan hubungan yang masih membuat Aara malu.
Ibunya memeluknya sebentar. “Kamu sudah melakukan bagianmu. Semoga permintaan maafmu diikuti sikap yang baik.”
“Aku akan menjaga jarak, Bu.”
“Bagus. Bukan karena takut, tapi karena kamu menghormati batas yang sudah disepakati.”
Aara mengangguk. Ia merasa lebih ringan, meski kunjungan itu tidak menghapus penyesalan. Ia hanya tidak lagi bersembunyi dari bagian kesalahannya.
Keesokan harinya, Harist kembali kaku di kantor. Ia menyapa Aara sebagai karyawan dan membahas pekerjaan seperlunya. Aara membalas formal. Ia tidak mengejarnya di koridor, tetapi ketika pekerjaan usai, ia mengirim satu pesan singkat: “Aku siap mendengar penjelasan kalau kamu sudah siap bicara. Tolong jangan biarkan aku menebak-nebak terlalu lama.”
Harist membaca pesan itu, tetapi belum membalas. Aara meletakkan ponsel dan membereskan meja. Ia telah meminta maaf kepada Mila dan menjaga jaraknya dari Dhanis. Kini ia harus menunggu Harist memutuskan kapan ia mampu menghadapi masa lalunya sendiri.
***
Pagi itu, Aara bekerja tanpa membuka pesan Harist berulang kali. Ia sudah mengirim laporannya, menghadiri rapat, dan mengoreksi angka yang diminta Okta. Namun ketika jam makan siang tiba, ia melihat sebuah pesan masuk.
“Bisa bertemu di taman dekat persimpangan setelah pulang? Aku ingin menjelaskan semuanya. Kalau kamu belum siap, bilang saja.”
Aara membaca pesan itu dua kali. Ia tidak langsung menjawab. Jarak di kantor beberapa hari terakhir membuatnya lelah, tetapi ia juga tidak ingin menerima ajakan hanya karena takut Harist kembali menjauh.
Aqila melihatnya menatap ponsel. “Ada kabar?”
“Harist mengajak bicara di taman.”
“Kamu mau pergi?”
“Aku mau mendengar penjelasannya. Tapi aku belum tahu apa yang akan kulakukan setelah itu.”
“Tidak harus memutuskan semuanya hari ini.”
“Aku tahu. Aku hanya ingin datang dengan kepala dingin.”
Ia membalas Harist: “Aku akan datang. Kita bicara di tempat terbuka, dan aku ingin mendengar semuanya sampai selesai.”
Harist menjawab singkat bahwa ia mengerti. Sepanjang sore, Aara berusaha fokus. Ia tak lagi mengira-ngira apa yang mungkin dikatakan Harist. Ia mengingat janjinya kepada diri sendiri: mendengar bukan berarti langsung memaafkan, dan memahami masa lalu seseorang bukan berarti harus menyetujui semua tindakannya.
Sepulang kerja, Aara pergi sendiri ke taman. Langit mulai berwarna jingga. Ia memilih bangku agak jauh dari pedagang ramai, tetapi masih dekat jalur pejalan kaki. Bangku itu sama dengan tempat ia bertemu Naomi beberapa waktu lalu. Aara menyadari kebetulan tersebut ketika duduk; ia pun menghela napas. Tempat itu rupanya menyimpan terlalu banyak persimpangan bagi mereka.
Harist datang beberapa menit kemudian. Ia tidak membawa mobil ke dekat bangku, melainkan berjalan dari area parkir. Wajahnya tampak tegang.
“Terima kasih sudah datang,” katanya.
“Kamu bilang ingin menjelaskan. Aku akan mendengarkan.”
Harist duduk dengan jarak sopan. Ia meletakkan kedua tangan di lutut, lalu menatap jalan yang membelah taman.
“Aku seharusnya memberitahumu ketika Devan mengabarkan bahwa Naomi pulang beberapa hari sebelum pertemuan di taman,” ucapnya. “Aku menutup diri dan membuat kamu menebak-nebak. Itu tidak adil.”
Aara tak menjawab. Ia memberi Harist ruang melanjutkan.
“Naomi bukan seseorang yang ingin kudatangi lagi. Tapi dia pernah menjadi bagian penting dalam hidupku. Saat melihatnya, semua yang lama muncul sekaligus. Aku marah, kaget, dan bingung. Aku seharusnya tidak menarikmu pergi tanpa bertanya.”
“Aku sudah mendengar permintaan maafmu,” kata Aara. “Yang belum kudengar adalah ceritanya.”
Harist mengangguk. “Baik.”
Ia menarik napas dan mulai bercerita. “Naomi dan aku pernah sangat dekat. Kami sama-sama mengira hubungan kami akan menuju pernikahan. Keluargaku mengenalnya, dan keluarganya mengenalku. Lalu semuanya berantakan karena keputusannya dan keputusanku sendiri.”
Aara menatap Harist. “Keputusanmu juga?”
“Ya. Aku tidak mau membuat diriku terlihat sebagai orang yang tidak pernah salah. Aku terlalu yakin bisa mengendalikan hubungan itu. Saat ada sesuatu yang tidak beres, aku memilih marah dan pergi, bukan duduk dan mencari tahu. Itu bukan alasan untuk apa yang dia lakukan. Tapi aku punya bagian dalam cara hubungan kami berakhir.”
Angin menggoyangkan daun di atas mereka. Harist berhenti sejenak, seperti berusaha memastikan dirinya tak melewatkan hal yang penting. Aara tetap diam. Ia tidak menyela, meski dadanya sesak oleh rasa ingin tahu dan cemburu yang sejak tadi ia tekan.
“Devan teman dekatku,” lanjut Harist. “Dia sering ada di sekitar kami. Aku percaya kepadanya. Ketika aku tahu Naomi dan Devan melewati batas, rasanya seperti kehilangan dua orang sekaligus.”
Aara mengatupkan jemarinya. Ia pernah mendengar nama Devan, tetapi baru kini memahami bahwa ia bukan orang asing dalam cerita itu.
“Kamu pernah bilang memergoki mereka. Apa yang terjadi setelah itu?” tanyanya.
Harist mengangguk pelan. “Aku menemukan bukti bahwa mereka menyembunyikan hubungan. Aku tidak akan menceritakan detail yang bukan hakku untuk diumbar. Yang perlu kamu tahu, pengkhianatan itu nyata. Aku dan Naomi berpisah. Setelahnya, aku memutus komunikasi dengan Devan cukup lama.”
“Lalu apa kalian pernah berbicara lagi?”
“Karena Devan meminta maaf dan menjelaskan apa yang terjadi. Aku belum sepenuhnya memaafkan, tapi aku juga tidak mau hidup hanya dengan kemarahan. Naomi baru kembali belakangan ini. Aku belum menyelesaikan percakapan dengannya.”
Aara menahan diri agar tidak menyimpulkan bahwa kepulangan Naomi berarti Harist akan kembali memilihnya. Ia harus mendengar sampai akhir. Harist menatapnya, lalu berkata, “Ada bagian yang lebih sulit. Naomi bukan hanya seseorang yang mengkhianatiku. Dia juga orang yang pernah kusayangi. Dua hal itu bisa benar bersamaan.”
Aara mengangguk perlahan. “Aku tidak meminta kamu pura-pura tidak pernah menyayanginya.”
“Aku tahu. Tapi aku takut kamu mengira masih ada hubungan yang ingin kuhidupkan lagi.”
“Aku belum tahu apa yang harus kupikirkan. Aku cuma ingin kamu berhenti menyembunyikan hal yang menyangkut kita.”
Harist menunduk. “Kamu benar.”
“Setelah itu, bagaimana kamu tahu Devan benar-benar menyesal?” tanya Aara.
“Aku tidak tahu dengan cepat. Aku melihat apakah dia berhenti mencari alasan dan menerima bahwa aku mungkin tidak akan kembali dekat dengannya.”
“Dia pernah menyalahkan Naomi?”
“Tidak di depanku. Tapi aku tidak tahu semua percakapan mereka. Aku hanya bisa menilai apa yang dia katakan kepadaku dan bagaimana dia bersikap setelahnya.”
“Jadi, kamu juga belum sepenuhnya percaya.”
“Benar. Aku sedang belajar bahwa memaafkan dan kembali percaya bukan hal yang sama. Aku bisa berhenti ingin membalas, tapi itu tidak otomatis membuat semuanya seperti dulu.”
Aara mengangguk. Ia teringat Mila yang juga memilih memaafkan tanpa berpura-pura bahwa rasa sakitnya lenyap. “Aku menghargai kamu tidak membuat akhir yang rapi hanya supaya aku merasa tenang.”
“Aku tidak mau menenangkanmu dengan cerita yang tidak benar.”
“Kalau begitu, lanjutkan. Aku ingin tahu bagian yang belum kamu ceritakan.”