“Setelah hubungan itu berakhir, aku berusaha bersikap seolah semuanya mudah,” kata Harist. “Aku kembali bekerja, menghadiri acara keluarga, dan tidak menyebut nama Naomi. Orang-orang mengira aku sudah baik-baik saja. Padahal aku hanya tidak tahu bagaimana membicarakannya tanpa kembali marah.”
Aara mendengarkan dengan kedua tangan bertaut di pangkuan. Ia teringat pertemuan di taman, ketika Naomi membeku melihat Harist. Kini reaksi itu terasa masuk akal, meski tidak membuat rasa cemburunya hilang.
“Apa kamu masih marah kepadanya?” tanyanya.
“Kadang-kadang. Tapi marah bukan berarti aku ingin kembali.” Harist menatapnya. “Aku perlu membedakan keduanya. Dulu, setiap kali namanya muncul, aku langsung merasa semua yang kubangun setelah perpisahan itu terancam. Padahal kenyataannya tidak begitu.”
“Naomi ingin kembali?”
“Aku belum tahu. Dia belum meminta itu. Saat kami bertemu, dia bahkan tidak sanggup bicara. Aku juga tidak siap. Aku tidak mau membuatmu menunggu tanpa batas, tapi aku perlu berbicara dengannya agar bagian lama itu tidak terus menjadi sesuatu yang kita hindari.”
Aara menghela napas. “Aku tidak akan menghalangi kamu bicara dengannya. Tapi aku juga tidak mau menjadi orang yang hanya menunggu sementara kamu menyelesaikan hubungan yang belum selesai.”
“Kamu tidak seharusnya begitu.”
“Kalau kamu ingin melanjutkan hubungan dengan Naomi, katakan. Kalau tidak, katakan juga dengan tindakan. Aku tidak mau membangun kesimpulan dari tebakan.”
Harist mengangguk, menerima kalimat itu tanpa membela diri. Ia lalu menjelaskan bahwa setelah mengetahui tentang Naomi dan Devan, ia memilih menjauh dari keduanya. Ia pindah fokus ke perusahaan dan menghabiskan banyak waktu bersama Alvyan. Namun, jarak itu tidak menyembuhkan rasa dikhianati; hanya membuatnya tak perlu menghadapi percakapan yang menyakitkan.
“Devan kemudian mencoba menghubungimu?” tanya Aara.
“Beberapa kali. Aku mengabaikannya. Sampai suatu hari dia datang langsung dan mengatakan dia tidak akan meminta hubungan kami kembali seperti dulu. Dia hanya ingin mengakui kesalahannya tanpa menyalahkan Naomi.”
“Kamu percaya?”
“Tidak langsung. Aku butuh waktu. Kami mulai bicara sedikit demi sedikit. Tapi hubungan kami tidak sama. Kepercayaan yang rusak tidak bisa dipulihkan hanya dengan satu kata maaf.”
Aara memikirkan Mila. Ia baru saja belajar bahwa permintaan maaf bukan tuntutan agar orang lain segera memaafkan. Harist pun masih berusaha memahami batasnya sendiri.
“Naomi bagaimana?”
“Dia juga meminta maaf, tapi kami belum bicara panjang. Ada banyak hal yang belum dia ceritakan. Aku tidak tahu apakah dia akan menjelaskannya. Aku tidak akan memaksanya, tetapi aku juga tidak mau mengarang jawaban untuk menutup lubang yang ada.”
“Kamu masih mencintainya?”
Pertanyaan itu akhirnya keluar. Aara sudah menahannya sejak Harist menyebut nama Naomi. Ia tidak ingin terdengar menuntut, tetapi ia juga tidak ingin pulang dengan pertanyaan yang sama.
Harist mengusap wajahnya. “Aku pernah mencintainya. Aku tidak bisa menghapus fakta itu. Tapi perasaan yang pernah ada bukan bukti bahwa aku ingin kembali. Saat ini aku tidak sedang meminta Naomi kembali kepadaku.”
“Itu belum menjawab apakah kamu masih punya perasaan.”
“Aku masih punya kenangan dan luka. Mungkin masih ada sisa sayang kepada orang yang pernah kukenal. Tapi itu berbeda dari memilihnya sekarang. Aku tidak mau berbohong kepadamu dengan bilang masa lalu itu tidak berarti apa-apa.”
Aara menatap rumput di bawah kakinya. Jawaban itu tidak memberinya kepastian penuh, namun ia menghargai kejujurannya. Ia lebih takut pada jawaban yang dibuat hanya untuk menyenangkan dirinya.
“Terima kasih sudah tidak mengubah ceritanya,” katanya. “Aku memang tidak nyaman mendengarnya. Tapi aku lebih tidak nyaman kalau kamu menyembunyikannya lalu aku tahu dari orang lain.”
“Aku minta maaf sudah membuatmu merasa seperti orang asing.”
“Aku menerima permintaan maafmu. Tapi kepercayaan bukan sesuatu yang langsung kembali.”
“Aku mengerti.”
Harist tidak mencoba menyentuh tangannya. Ia tidak meminta Aara menghiburnya atau menyatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Sikap itu membuat Aara sedikit lega. Ia bisa duduk mendengar kisah masa lalu Harist tanpa harus bertanggung jawab menyembuhkan lukanya.
“Ketika Naomi kembali, aku panik,” kata Harist. “Bukan karena aku ingin kembali, tapi karena aku tahu ada cerita yang belum selesai. Aku takut kalau aku menjelaskannya, kamu akan melihatku sebagai orang yang masih terikat masa lalu. Jadi aku memilih diam, yang justru membuat semuanya lebih buruk.”
“Kamu seharusnya mengatakan bahwa kamu butuh waktu, bukan menutup semua pintu.”
“Iya. Aku akan berusaha melakukan itu mulai sekarang.”
Mereka terdiam. Di dekat jalur pejalan kaki, seorang pedagang merapikan keranjang dagangannya. Suara kendaraan dari jalan besar terdengar bersahutan, tetapi tidak mengganggu percakapan mereka.
Aara akhirnya bertanya, “Apa kamu akan bertemu Naomi lagi?”
“Mungkin. Kalau dia siap bicara dan kalau itu tidak dilakukan diam-diam. Aku akan memberitahumu. Aku tidak meminta izin untuk menyelesaikan masa lalu, tapi aku ingin bersikap terbuka karena sekarang tindakanku berdampak kepadamu.”
“Aku menghargai itu. Tapi jangan menjadikan keterbukaan sebagai kewajiban yang diucapkan saja.”
“Aku tahu.”
Aara menatap Harist. Rasa cemburu masih ada, tetapi ia tidak lagi merasa harus menutupinya dengan senyum. “Aku masih punya pertanyaan lain tentang kita.”
Harist tampak menegang. “Aku akan jawab.”
“Bukan malam ini kalau kamu belum sanggup. Tapi aku ingin kamu jujur.”
“Aku siap mendengarnya.”
Aara menarik napas. Ada ucapan lama yang selama ini ia simpan, berasal dari percakapan mereka di bak pikap. Saat itu Harist berkata bahwa ia menyukai sesuatu, tetapi tidak menjelaskan apa. Kalimat ambigu tersebut tumbuh di benaknya bersama harapan yang tak pernah ia akui.
***
Aara memandang jalan setapak yang mulai sepi. “Aku ingin bertanya tentang kalimatmu waktu di bak pikap.”
Harist mengernyit, mencoba mengingat. “Kalimat yang mana?”
“Kamu bilang, ‘Aku menyukainya.’ Aku tidak sempat menanyakan apa yang kamu sukai. Kamu beralih menanyakan tempat berobat.”
Harist diam. Wajahnya berubah, bukan seperti orang yang lupa, melainkan seperti orang yang baru sadar bahwa kalimat itu masih tertinggal di antara mereka.
“Aku ingat,” katanya.
“Waktu itu aku mengira kamu bicara tentang perjalanan atau suasana. Tapi setelah kamu makin dekat denganku, aku mulai bertanya-tanya. Aku tidak ingin membuat makna sendiri. Jadi, apa maksudmu?”
Harist menunduk. “Aku sengaja membuatnya ambigu.”
Aara menahan napas. “Kenapa?”
“Karena aku belum berani mengatakannya langsung. Saat itu aku takut kalau kamu tahu, kamu akan menjauh. Kita baru mulai berteman, dan kamu sudah punya banyak alasan untuk tidak percaya kepada laki-laki.”
“Jadi kamu membiarkan aku menebak?”
“Iya. Itu bukan hal yang adil.”
Aara menggeleng. “Kamu terus bilang tidak ingin memaksaku, tapi menyimpan kalimat seperti itu juga membuatku membangun harapan sendiri.”
“Kamu benar. Aku seharusnya bicara jelas atau tidak mengatakannya sama sekali.” Harist mengangkat wajah. “Aku tidak bermaksud mempermainkanmu. Tapi niat baik tidak menghapus akibatnya.”
“Apa yang kamu sukai?”
Harist menghela napas panjang. Tangannya yang bertaut tampak tegang. “Aku menyukai kamu, Aara.”
Kalimat itu sederhana. Justru karena sederhana, Aara merasa dadanya bergetar. Ia sudah membayangkan berbagai kemungkinan, tetapi tidak siap mendengar jawaban itu diucapkan tanpa gurauan atau kiasan.
“Sejak kapan?” tanyanya.
“Aku tidak tahu tanggal pastinya. Awalnya aku merasa nyaman bicara denganmu. Lalu aku mulai menunggu kamu datang ke kantor, mencari alasan untuk memastikan kamu pulang dengan aman, dan mengingat hal-hal kecil yang kamu ceritakan. Aku sadar perasaanku berkembang ketika aku mulai takut kehilangan pertemanan kita.”
“Kamu kasihan kepadaku?”
“Tidak. Aku peduli karena aku melihat kamu sebagai dirimu sendiri. Kamu keras kepala, berani mengakui kesalahan, dan sering memikirkan kebutuhan orang lain sampai lupa menanyakan kebutuhanmu sendiri. Aku tidak ingin menyelamatkanmu atau membuatmu berutang perasaan.”
Aara membuang pandangan. “Aku sering merasa kamu datang saat aku sedang rapuh. Kamu menolongku, mengantarku, berpura-pura menjadi pacarku. Aku tidak tahu mana yang karena keadaan dan mana yang karena perasaanmu.”
“Pada awalnya ada keadaan yang membuatku berpura-pura. Tapi setelah itu aku tetap mendekat karena aku memang ingin mengenalmu. Aku seharusnya memastikan kamu bisa membedakan keduanya.”
“Kamu ingin berhenti hanya berteman?”
Harist terdiam sejenak. “Iya. Aku ingin mencoba hubungan yang lebih serius, kalau kamu juga menginginkannya. Tapi aku tidak ingin jawabanmu lahir karena kamu takut mengecewakanku.”
Aara menatapnya, matanya mulai basah. Ia berusaha mengendalikan diri, tetapi semua perasaan yang ia tunda—cemburu, lega, kecewa karena Harist diam, serta takut berharap—bercampur menjadi satu.
“Jangan jawab hanya karena kamu merasa harus membalas kebaikanku,” ujar Harist. “Aku tidak menganggap semua yang kulakukan sebagai utang.”
“Aku tahu kamu sedang berusaha tidak menuntut balasan. Tapi dulu kamu pernah mengancam denda dan daftar hitam kalau aku keluar dari pekerjaan. Ucapan dari atasanku bukan sesuatu yang bisa kuanggap sekadar gurauan.” Suara Aara bergetar. “Tapi aku takut salah memilih. Aku baru membereskan masa lalu dengan Dhanis. Aku tidak ingin melompat dari satu ketergantungan ke ketergantungan lain.”
“Kamu tidak perlu melompat ke mana pun. Kamu boleh berjalan pelan.”
“Kalau aku menolak?”
“Aku akan terluka, tapi aku tetap menghormati keputusanmu. Aku tidak akan mengancam, mengurangi hakmu di kantor, atau membuatmu merasa bersalah.”
Aara mengusap pipi yang basah. “Kamu atasan di kantor. Itu juga membuatku takut.”
“Kekhawatiran itu masuk akal. Kalau kita memutuskan mencoba, kita harus membicarakan batas profesional dan aturan kantor. Aku tidak ingin posisi kerjamu terpengaruh oleh jawabanmu.”
“Kamu bisa menjamin itu?”
“Aku salah mengancammu. Aku tidak punya hak menghukum keputusan pribadimu dengan karier. Aku akan meminta personalia menjelaskan prosedur yang sebenarnya secara tertulis kepadamu, tanpa aku mengatur jawaban mereka. Aku bisa berjanji akan menjaga profesionalitas. Kalau ada konflik kepentingan, kita cari cara yang adil, bukan mengorbankan pekerjaanmu. Tapi aku tidak akan meminta kamu menjawab sekarang.”
Aara menunduk. Ia menangis tanpa suara. Harist tetap di tempatnya dan tidak menyentuhnya, memberi ruang agar ia bisa mengatur napas.
“Aku tidak menangis karena kamu salah bicara,” katanya setelah beberapa saat. “Aku hanya takut pada semua kemungkinan yang muncul setelah ini.”
“Aku mengerti.”
“Aku perlu memikirkan apakah aku menginginkan kamu, bukan sekadar menyukai perasaan saat kamu ada di dekatku.”
Harist mengangguk. “Itu pertanyaan yang penting.”
“Aku juga perlu tahu bahwa kamu benar-benar selesai dengan Naomi. Bukan berarti kamu harus membenci dia, tapi aku tidak mau menjadi pilihan sementara.”
“Aku tidak meminta kamu menjadi pilihan sementara. Aku akan menyelesaikan percakapan yang perlu kuselesaikan dengannya, dan aku akan jujur tentang hasilnya. Perasaanku kepadamu tidak bergantung pada apakah Naomi memaafkanku.”
“Apa yang akan kamu lakukan kalau aku meminta kita tetap berteman?” tanya Aara.
“Aku akan menghormatinya. Aku mungkin perlu waktu menata perasaanku, tetapi aku tidak akan membuatmu menanggungnya.”
“Dan kalau aku bilang aku tertarik, tapi ingin berjalan pelan?”
“Aku akan bertanya seperti apa batas yang membuatmu nyaman. Kita tidak harus mengumumkan apa pun atau langsung mengubah semua kebiasaan.”
“Jangan menganggap diamku sebagai persetujuan.”
“Tidak akan.”
“Jangan memakai kebaikanmu sebagai alasan untuk membuatku merasa berutang.”
“Aku tidak akan.”
“Kalau kamu berubah pikiran tentang Naomi atau tentang aku, katakan langsung.”
“Aku berjanji akan bicara, bukan menghilang.”
Aara menghirup napas panjang. “Aku tidak bisa memberimu jawaban malam ini.”
“Aku tidak meminta.”
“Aku ingin semalam untuk berpikir.”
“Ambil waktu yang kamu butuhkan. Besok atau lusa, kamu bisa menghubungiku.”
Aara mengangguk. Ia belum tahu jawaban yang akan keluar, tetapi setidaknya tidak ada lagi kalimat samar di antara mereka. Harist sudah mengatakannya dengan jelas. Kini ia harus mendengar dirinya sendiri.