Harist mengantar Aara sampai ke tepi taman, lalu berhenti ketika Aara memintanya tidak mengantar sampai rumah. Ia menerima batas itu tanpa bertanya. Mereka berpisah setelah mengucapkan selamat malam, tanpa janji akan bertemu lagi besok.
Di perjalanan pulang, Aara memandangi pantulan wajahnya di kaca kendaraan. Matanya merah. Ia mengusapnya dengan tisu, tetapi air mata kembali menggenang ketika teringat kalimat Harist: “Aku menyukai kamu.”
Ia pernah berharap Harist akan mengatakan sesuatu seperti itu, lalu memarahi dirinya sendiri karena berharap. Sekarang ketika pengakuan itu datang, ia tidak merasa lega sepenuhnya. Ada ketakutan yang menyertainya: Harist adalah atasannya, masa lalunya dengan Naomi belum sepenuhnya selesai, dan dirinya baru saja belajar berdiri tanpa menunggu Dhanis memilihnya.
Sesampainya di rumah, ibunya masih terjaga di ruang tengah. Ia menatap Aara dan segera berdiri.
“Kamu habis menangis?”
Aara mencoba tersenyum. “Sedikit.”
“Ada apa?”
“Harist akhirnya menjelaskan soal Naomi. Lalu dia bilang dia menyukaiku.”
Ibunya tidak langsung bereaksi. Ia mengajak Aara duduk, lalu menuangkan air putih. “Kamu ingin menjawab apa?”
“Aku belum tahu. Aku minta waktu semalam.”
“Bagus. Jangan menjawab karena kasihan, takut kehilangan, atau merasa berutang. Pikirkan apa yang kamu inginkan.”
Aara memegang gelas dengan kedua tangan. “Aku takut kalau aku menerima, nanti ternyata dia masih ingin kembali kepada Naomi.”
“Apa yang dia katakan?”
“Dia pernah menyayanginya dan masih punya luka. Tapi dia bilang tidak sedang meminta Naomi kembali.”
Ibunya mengangguk pelan. “Masa lalu seseorang memang tidak hilang. Yang penting bagaimana dia memperlakukanmu sekarang dan apakah tindakannya sejalan dengan ucapannya.”
“Aku juga takut soal kantor. Dia atasanku.”
“Kamu perlu memikirkan itu dengan serius. Hubungan kalian tidak berdiri terpisah dari pekerjaan.”
Aara mengangguk. Ia tidak ingin mengubah pengakuan Harist menjadi kisah indah yang mengabaikan risiko nyata. Ia bekerja di bawah arahannya. Kalau hubungan mereka berjalan, mereka harus memikirkan aturan perusahaan, menjaga agar keputusan kerja tidak berubah menjadi urusan pribadi, dan memastikan Aara tetap punya pilihan.
“Kamu menyukainya?” tanya ibunya.
Aara terdiam. “Aku nyaman dengannya. Aku rindu kalau dia menjauh. Tapi aku juga marah karena dia diam tentang Naomi dan membiarkanku menebak maksud ucapannya.”
“Semua perasaan itu bisa hadir bersamaan.”
“Aku pernah terlalu lama berharap pada seseorang. Aku tidak ingin menganggap rasa nyaman saja cukup untuk membuat keputusan.”
“Kamu bukan orang yang sama persis seperti dulu. Kamu sudah memahami batas dan bersedia mengakui kesalahan. Tapi jangan menjadikan masa lalu sebagai alasan untuk melarang dirimu bahagia. Gunakan itu untuk memilih lebih hati-hati.”
Aara menatap ibunya. Nasihat itu tidak membuat keputusan menjadi mudah, tetapi membuatnya merasa tidak sedang diadili.
Malam itu, Aara duduk di kamar dan membuka buku kecilnya. Ia menulis beberapa pertanyaan: Apakah ia menyukai Harist sebagai dirinya sendiri? Apakah ia merasa aman mengatakan tidak? Apakah Harist akan tetap menghormatinya jika jawabannya bukan yang ia harapkan? Apakah ia siap menjalani hubungan sambil menghadapi aturan kantor?
Ia mencoba menjawab satu per satu. Untuk pertanyaan pertama, ia menulis “mungkin, dan aku ingin mengenalnya lebih jauh.” Untuk pertanyaan kedua, ia menulis “aku belum tahu sepenuhnya.” Pada pertanyaan ketiga, ia teringat janji Harist bahwa ia tak akan mengubah perlakuannya di kantor. Ia harus melihat apakah janji itu benar. Pertanyaan terakhir belum memiliki jawaban.
Ponselnya bergetar. Pesan Harist masuk: “Aku harap kamu sudah sampai. Kamu tidak perlu membalas. Istirahatlah.”
Aara hampir membalas dengan kalimat panjang. Ia berhenti, lalu menulis, “Aku sudah sampai. Terima kasih sudah menjelaskan. Aku akan menghubungimu setelah berpikir.”
“Baik. Aku akan menunggu.”
Tidak ada pesan lain setelah itu. Aara meletakkan ponsel. Sikap Harist yang tidak meminta jawaban malam itu membuatnya sedikit lebih tenang, tetapi ia tetap tidak akan menganggap satu malam cukup untuk menguji seluruh hubungan.
Ia mengambil wudu dan berdoa meminta kejernihan, bukan tanda yang membuat keputusan untuknya. Ia ingin memilih dengan kesadaran, bukan karena tekanan atau takut kehilangan. Setelah berdoa, ia kembali ke meja dan membaca catatannya sekali lagi.
Ia menyukai Harist, tetapi belum yakin siap menjadi kekasihnya. Itu bukan penolakan, juga bukan penerimaan penuh. Ia bisa menawarkan kesempatan untuk saling mengenal dengan batas yang jelas, selama Harist bersedia menyelesaikan urusannya dengan Naomi dan menjaga hubungan kerja mereka tetap profesional.
Menjelang tidur, ia menyimpan buku kecil itu di laci. Aara belum akan mengatakan ya hanya karena hatinya berdebar. Ia juga tidak akan mengatakan tidak hanya karena takut terluka. Besok, ia akan berbicara lagi dengan Harist dan menjelaskan apa yang ia butuhkan sebelum memutuskan langkah berikutnya.
***
Pagi berikutnya, Aara bangun dengan pikiran yang lebih tenang, meski belum sepenuhnya yakin. Ia membantu ibunya menyiapkan sarapan, lalu berangkat kerja seperti biasa. Di kantor, Harist menyapanya dengan sopan dan tidak mencoba membahas percakapan semalam di depan orang lain.
“Pagi, Pak,” kata Aara.
“Pagi. Laporan anggaran bisa kamu kirim sebelum siang?”
“Bisa. Saya sedang menyelesaikan bagian terakhir.”
“Baik. Terima kasih.”
Interaksi itu formal dan singkat. Aara memperhatikannya, tetapi tidak menjadikannya bukti bahwa Harist sedang menghukumnya atau berpura-pura. Mereka sedang bekerja. Ia menyelesaikan laporan, mengirimnya tepat waktu, lalu kembali memeriksa berkas bersama Niken.
Menjelang makan siang, Harist mengirim pesan melalui jalur pribadi: “Kalau kamu ingin bicara hari ini, aku tersedia setelah jam kerja. Kalau belum, tidak apa-apa.”
Aara membacanya. Ia menjawab, “Aku ingin bicara sebentar setelah kerja. Di tempat terbuka.”
“Baik.”
Mereka bertemu di taman dekat persimpangan pada sore hari. Kali ini Aara datang lebih dulu. Ia memilih bangku berbeda, dekat lampu taman. Harist tiba tanpa membawa bunga atau hadiah. Aara menghargai kesederhanaan itu; ia tak ingin percakapan mereka terasa seperti upaya membujuk.
“Aku sudah memikirkan ucapanmu,” kata Aara setelah mereka duduk. “Tapi aku belum bisa memberi jawaban yang tepat hari ini. Aku ingin bertemu lagi besok di taman supaya bisa menyampaikan semuanya dengan tenang.”
Harist mengangguk. “Terima kasih sudah jujur.”
“Kalau aku memilih mencoba, aku ingin mengenalmu dengan lebih jelas, bukan menebak-nebak. Aku juga perlu memastikan perasaanmu tidak muncul karena kamu merasa perlu menyelamatkanku.”
“Aku tidak ingin menjadi penyelamatmu. Aku ingin berdiri di sampingmu, kalau kamu mengizinkan.”
“Kita perlu bicara soal Naomi. Aku tidak akan melarangmu menyelesaikan percakapan dengannya, tapi aku tidak mau menjadi rahasia atau pilihan cadangan. Kalau kamu bertemu dengannya, aku ingin kamu terbuka.”
“Aku setuju. Aku akan memberitahumu sebelum atau sesudahnya, tanpa menyembunyikan. Aku juga akan menjelaskan kepadamu apa yang perlu kamu tahu, sambil tetap menjaga hal-hal pribadi yang bukan milikku untuk diceritakan.”
“Itu adil.”
Aara melanjutkan, “Soal kantor, aku tidak mau kedekatan kita mengubah penilaian kerjaku. Jangan memberiku keistimewaan, dan jangan membuat pekerjaanku lebih sulit kalau kita sedang berbeda pendapat.”
“Aku setuju. Aku akan membicarakan konflik kepentingan dengan Pak Rendy dan bagian terkait dengan cara yang menjaga privasimu. Aku tidak akan memakai jabatan untuk meminta jawaban atau kedekatan.”
“Aku perlu melihat itu dalam tindakan.”
“Kamu memang harus melihatnya. Aku tidak meminta kamu percaya hanya karena aku berjanji.”
Aara menggeleng pelan. “Aku belum bilang iya. Aku baru menjelaskan hal-hal yang kubutuhkan kalau nanti memilih mencoba.”
Harist mengembuskan napas, tampak lega namun berusaha tidak merayakan berlebihan. “Aku menerima batasnya. Dan kalau suatu saat kamu berubah pikiran, kamu boleh mengatakannya.”
“Begitu juga kamu. Jangan bertahan hanya karena takut membuatku sedih.”
“Baik.”
Harist tidak mengulurkan tangan untuk menggenggamnya. Ia menunggu, memberi Aara ruang menentukan jarak. Aara menghargai sikap itu, tetapi ia tetap menjaga jarak. Keputusan yang akan ia berikan besok harus lahir dari pikirannya sendiri, bukan dari suasana atau sentuhan yang membuatnya merasa perlu membalas.
“Aku masih cemburu pada Naomi,” kata Aara. “Aku tahu itu bukan salah dia. Aku juga tahu kamu tidak bisa menghapus masa lalu. Tapi aku ingin jujur tentang perasaanku.”
“Terima kasih sudah mengatakannya. Aku tidak akan menyuruhmu berhenti merasa begitu. Aku akan berusaha agar tindakanku tidak memberi alasan baru untuk menebak.”
“Dan jangan menutup diri seperti beberapa hari kemarin.”
“Kalau aku butuh waktu, aku akan mengatakan berapa lama dan kapan kita bisa bicara lagi.”
“Itu lebih baik.”
Mereka duduk beberapa saat, membicarakan hal-hal sederhana. Harist bertanya tentang pekerjaan Aara, dan Aara mengeluh tentang laporan yang terus berubah karena data terlambat. Harist tertawa kecil, lalu mengakui bahwa ia juga sering membuat timnya menunggu keputusan terlalu lama.
“Jangan mengira aku akan membelamu kalau tim keuangan protes,” kata Aara.
“Aku tidak berharap begitu.”
“Bagus. Aku akan tetap mengirim catatan koreksi.”
“Aku sudah menduga.”
Percakapan ringan itu membuat mereka kembali merasa seperti dua orang yang pernah berteman, bukan hanya dua orang yang sedang membicarakan luka. Namun mereka tahu kedekatan yang baru tidak otomatis menyelesaikan semua hal. Harist tetap perlu menyelesaikan percakapan dengan Naomi. Aara tetap perlu memastikan batas profesional dijaga.
“Kita tidak perlu merahasiakan bahwa kita dekat, tapi kita juga tidak perlu mengumumkannya ke kantor sebelum tahu langkahnya,” kata Aara.
“Aku setuju. Tidak ada yang perlu dijadikan tontonan.”
“Dan jangan lagi berpura-pura menjadi pacarku tanpa bertanya dulu.”
Harist tertawa pendek. “Itu pantas kuingat.”
“Memang.”
Saat mereka berdiri untuk pulang, Harist bertanya apakah Aara ingin diantar. Aara mempertimbangkan sebentar, lalu berkata ia akan pulang sendiri malam itu.
“Baik. Hati-hati.”
“Terima kasih.”