Aara datang ke taman dengan keputusan yang telah ia susun sejak malam sebelumnya. Ia tidak menulis jawaban di buku kecil; ia ingin mengucapkannya sendiri dan melihat apakah Harist dapat menerimanya tanpa mengubah makna.
Harist sudah menunggu di bangku dekat lampu taman. Ketika melihat Aara, ia berdiri, lalu berhenti beberapa langkah darinya.
“Terima kasih sudah datang lagi,” katanya.
“Aku sudah memikirkan ucapanmu.”
Harist tidak buru-buru bertanya. Ia memberi Aara kesempatan menentukan awal percakapan.
“Aku mau mencoba,” kata Aara. “Tapi aku tidak mau hubungan ini dijalani dengan bersembunyi seperti dulu. Aku tidak mau terus menjadi rahasia yang harus pura-pura tidak mengenalmu di depan orang lain.”
Harist mengangguk. “Aku setuju. Aku tidak akan memintamu merahasiakan hubungan kita.”
“Aku belum mengatakan kita harus langsung mengumumkannya ke semua orang. Aku ingin kita membicarakan batasnya dulu. Kamu atasan di kantor, ada aturan yang melarang hubungan sesama karyawan, dan aku tidak mau pekerjaanku berubah karena perasaan kita.”
“Aku mengerti. Kita tidak boleh mengabaikan aturan itu atau berpura-pura tidak ada masalah.”
“Kalau begitu, bagaimana kamu membayangkan kita mencoba?”
“Dengan jujur dan terbuka. Aku akan membicarakan aturan itu dengan Pak Rendy. Aku tidak akan mencari jalan belakang. Kita perlu tahu pilihan yang benar sebelum melangkah lebih jauh.”
Aara memperhatikan wajahnya. “Kamu tidak akan memintaku berhenti bekerja supaya masalahnya selesai?”
“Tidak. Aku tidak akan membuat keputusan sepihak tentang kariermu. Kita harus mencari cara yang adil, dan kamu ikut menentukan apa yang nyaman bagimu.”
“Aku tidak mau dipindahkan diam-diam atau dianggap mendapat perlakuan khusus.”
“Aku juga tidak mau begitu. Kalau ada perubahan struktur atau pelaporan, semuanya harus jelas dan dibicarakan denganmu.”
Aara menarik napas. Jawaban itu belum menyelesaikan masalah, tetapi setidaknya Harist tidak menepis kekhawatirannya.
“Aku ingin kita mencoba saling mengenal dengan niat serius,” katanya. “Bukan sekadar berteman sambil berharap suatu hari kamu memutuskan sendiri.”
Harist tersenyum kecil, lalu mengurungkan langkah mendekat. “Aku menerima itu. Aku juga tidak mau hubungan kita menjadi teka-teki.”
“Dan kalau Naomi menghubungimu?”
“Aku akan memberitahumu. Aku tetap harus menyelesaikan percakapan dengannya dengan batas yang baik. Tapi aku tidak akan menyembunyikannya.”
“Aku tidak akan meminta kamu menghapus masa lalu. Aku hanya tidak mau dibiarkan menebak.”
“Aku tahu.”
Mereka berjalan pelan menyusuri sisi taman. Aara merasa gugup, tetapi tidak sesesak semalam. Harist tidak menggenggam tangannya dan tidak mencoba membuat pengakuannya menjadi adegan romantis. Ia berjalan seiring dengannya, memberi jarak yang nyaman.
“Aku masih takut,” kata Aara.
“Aku juga.”
“Kamu takut apa?”
“Takut mengulang kesalahan. Takut caraku mendekat membuatmu merasa tidak punya pilihan. Takut hubungan kerja kita membuat semuanya tidak seimbang.”
“Bagus kalau kamu menyadarinya. Tapi kesadaran saja tidak cukup.”
“Karena itu aku ingin membicarakannya terbuka. Aku tidak akan menjadikan rasa takut sebagai alasan untuk menghilang.”
Aara menatap jalan yang membentang di depan. “Aku akan mengingat ucapanmu, dan menilai dari tindakanmu.”
“Itu adil.”
Di dekat gerbang, Harist bertanya apakah Aara ingin pulang bersama. Aara berpikir sebentar.
“Tidak malam ini. Aku ingin pulang sendiri dan mengabari ibuku dulu.”
“Baik. Aku tidak akan memaksa.”
Aara berhenti. “Kamu boleh mengantar sampai halte, kalau memang searah. Tapi jangan menganggap itu berarti semua batas sudah hilang.”
Harist tertawa kecil. “Aku tidak akan menyimpulkan macam-macam.”
Mereka berjalan sampai halte. Dalam perjalanan, mereka membicarakan hal ringan—laporan yang belum selesai, lelucon Aqila di kantor, serta kebiasaan Harist memesan kopi terlalu pahit. Percakapan itu mengembalikan sedikit keakraban tanpa menghapus keseriusan yang baru saja mereka bicarakan.
Ketika kendaraan Aara tiba, Harist tidak menahannya. “Kabarilah kalau sudah sampai.”
“Aku akan mengabari ibuku.”
“Baik.”
Aara naik dan menoleh sebentar dari jendela. Harist mengangkat tangan. Ia membalas dengan senyum kecil. Senyum itu bukan janji bahwa semua akan mudah. Itu hanya tanda bahwa ia telah memilih mencoba, dengan mata terbuka dan syarat yang jelas.
***
Pagi berikutnya, Aara tiba di kantor lebih awal. Ia mengerjakan tugasnya seperti biasa, tetapi percakapan dengan Harist masih berputar di benaknya. Mereka sepakat mencoba, tetapi aturan perusahaan tetap ada. Ia tidak ingin melangkah lebih jauh sebelum tahu bagaimana aturan itu berlaku pada posisi mereka.
Di ruang keuangan, Okta sedang memeriksa dokumen lama. Aara memanfaatkan kesempatan untuk bertanya tanpa menyebut hubungan pribadinya.
“Bu, saya ingin memastikan soal aturan hubungan di kantor. Apakah benar karyawan tidak boleh berpacaran dengan sesama karyawan?”
Okta menurunkan kacamatanya. “Aturannya memang ada, terutama untuk menghindari konflik kepentingan. Kenapa kamu bertanya?”
“Aku ingin memahami penerapannya. Kalau salah satu pihak punya jabatan lebih tinggi, apakah ada prosedur khusus?”
“Ada. Biasanya dibicarakan dengan pimpinan dan bagian personalia. Tidak boleh ada bawahan yang dirugikan, dan keputusan kerja tidak boleh dipakai untuk kepentingan pribadi.”
Aara mengangguk. Ia tidak menyebut nama Harist. “Jadi, kalau situasinya nyata, sebaiknya dibahas terbuka?”
“Tentu. Menyembunyikan justru membuat orang mudah berprasangka dan bisa menimbulkan masalah lebih besar.”
Percakapan itu menguatkan kekhawatirannya, tetapi juga menjelaskan bahwa aturan bukan sekadar larangan tanpa jalan keluar. Ia berterima kasih kepada Okta lalu kembali bekerja.
Menjelang siang, Harist mengirim pesan singkat: “Aku sudah meminta waktu kepada Pak Rendy untuk membicarakan aturan kantor. Aku tidak menyebutkan keputusanmu tanpa persetujuanmu.”
Aara menjawab: “Terima kasih sudah bertanya dulu. Aku setuju kamu membahas prosedurnya, tapi jangan mengambil keputusan tentang pekerjaanku sebelum kita bicara.”
“Tidak akan.”
Mereka bertemu sebentar di ruang rapat setelah jam kerja. Harist membawa salinan pedoman perusahaan, bukan keputusan yang sudah jadi.
“Aku membaca bagian ini bersama sekretariat,” katanya. “Ucapanku di kantin waktu itu terlalu mutlak dan dipengaruhi rasa cemburu. Pedoman yang sebenarnya mengatur hubungan yang menimbulkan konflik kepentingan, dengan prosedur deklarasi dan pengaturan pelaporan. Aku perlu meluruskan ucapanku melalui penjelasan resmi yang berlaku untuk seluruh staf.”
“Apakah kamu akan mengubah aturan hanya karena kita?”
“Tidak. Aku akan meminta Pak Rendy meninjau apakah prosedur yang ada cukup jelas dan adil. Kalau perlu perubahan, itu harus berlaku untuk semua karyawan dan melalui proses yang benar.”
“Bagus. Aku tidak ingin dianggap alasan perubahan atau orang yang mendapat keistimewaan.”
“Aku paham. Aku juga tidak ingin memakai posisi direktur untuk mengatur hal yang seharusnya diputuskan perusahaan secara terbuka.”
Aara membuka lembar pedoman. Ada beberapa istilah yang belum ia pahami. Harist menjelaskan bahwa jika hubungan mereka dinyatakan, salah satu dari mereka mungkin perlu mengubah jalur persetujuan kerja agar Aara tidak berada langsung di bawah evaluasi Harist. Namun, itu belum keputusan.
“Apakah yang dipindahkan harus aku?” tanya Aara.
“Belum tentu. Kita belum tahu semua pilihannya. Aku tidak mau kamu merasa harus menerima perubahan yang merugikanmu.”
“Kalau ada pilihan, aku ingin ikut menilai. Aku sudah membangun posisiku di bagian keuangan.”
“Baik. Aku akan menyampaikan itu kepada Pak Rendy.”
Aara menatapnya. “Jangan bicara seolah semuanya sudah pasti. Kita baru sepakat mencoba.”
“Aku tahu. Pembicaraan ini bukan pengumuman hubungan. Ini memastikan bahwa kalau kita berjalan, kita tidak mengabaikan dampaknya.”
Aara menutup dokumen. “Itu yang ingin kudengar.”
Sebelum pulang, Harist menyampaikan bahwa Pak Rendy bersedia bertemu mereka dalam beberapa hari, setelah ia mengumpulkan penjelasan prosedur dari bagian terkait. Aara setuju hadir, selama pertemuan itu tidak berubah menjadi pembicaraan yang membuatnya harus menjelaskan perasaan pribadi secara berlebihan.
“Aku bisa meminta agar fokusnya pada aturan dan konflik kepentingan,” kata Harist.
“Baik. Aku ingin semuanya jelas, bukan jadi bahan pembicaraan kantor.”
Harist mengangguk. “Aku juga.”
Malamnya, Aara menyiapkan makan bersama ibunya. Ia belum bercerita tentang langkah administrasi yang rumit, tetapi ia merasa perlu menjelaskan bahwa hubungannya dengan Harist tidak lagi ia sembunyikan dari keluarga.
“Besok malam aku ingin bicara dengan Ibu dan Kakak,” katanya. “Ada kabar tentang Harist.”
Ibunya menoleh. “Kabar baik atau membuatmu bingung?”
“Keduanya. Aku memutuskan mau mencoba mengenalnya dengan serius, tapi kami masih harus menyelesaikan urusan aturan kantor.”
Ibunya meletakkan sendok. “Kamu yakin keputusan itu datang dari dirimu?”
“Iya. Aku tidak merasa berutang kepadanya. Aku hanya ingin memberi kesempatan, dengan batas yang sudah kubicarakan.”
“Kalau begitu, ceritakan pada kakakmu juga. Dia akan senang mendengar langsung darimu.”