Hari ketiga sejak Aara dan Harist sepakat mencoba, mereka bertemu Pak Rendy di ruangannya. Sebelum masuk, Aara merasa gugup. Ia tidak tahu apakah Pak Rendy akan melihatnya sebagai karyawan yang membawa masalah, atau sebagai perempuan yang ingin menjaga pekerjaannya.
Harist berjalan di sampingnya, tetapi tidak mendahului. “Kalau kamu ingin berhenti kapan saja, bilang.”
“Aku datang karena ingin mendengar prosedurnya. Aku tidak akan berhenti hanya karena gugup.”
Harist tersenyum singkat. “Baik.”
Pak Rendy mempersilakan mereka duduk. Di meja sudah ada berkas pedoman dan catatan dari sekretariat. Ia menatap Harist lebih dulu.
“Kamu meminta pertemuan ini karena aturan hubungan kerja?”
“Ya, Pak. Saya ingin membahas prosedurnya dengan terbuka sebelum hubungan pribadi kami berkembang lebih jauh.”
Aara memperhatikan penggunaan kata “kami”. Harist tidak menyebut hubungan mereka sebagai sesuatu yang sudah resmi, tetapi juga tidak menyangkal kedekatan mereka.
Pak Rendy mengangguk. “Saya menghargai kalian datang langsung. Aturan itu dibuat untuk mencegah konflik kepentingan dan menjaga kepercayaan karyawan. Apa yang kalian usulkan?”
“Kami ingin mengetahui pilihan yang tidak merugikan pekerjaan Aara,” jawab Harist. “Saya tidak ingin menjadi pihak yang menilai langsung kinerjanya kalau hubungan kami berjalan.”
Pak Rendy menoleh kepada Aara. “Kamu sendiri bagaimana?”
“Saya ingin pekerjaan saya tetap dinilai dari hasil. Saya tidak ingin menerima keistimewaan, dan saya tidak ingin dipindahkan tanpa persetujuan saya. Saya bersedia mengikuti prosedur yang berlaku, selama ada kesempatan membahas dampaknya.”
“Pernyataan yang masuk akal,” kata Pak Rendy. “Belum tentu tidak ada perubahan pelaporan, tetapi keputusan itu tidak akan dibuat sepihak hari ini. Kita perlu memeriksa struktur tim dan meminta masukan bagian terkait.”
Harist mengangguk. “Saya setuju, Pak.”
Pak Rendy membuka catatan. “Ada juga soal keterbukaan. Saya tidak ingin kabar ini beredar sebagai gosip lebih dulu. Tapi saya juga tidak akan meminta kalian berpura-pura tidak saling mengenal.”
Aara merasa bahunya sedikit mengendur. “Terima kasih, Pak. Saya tidak ingin membuat pengumuman sebelum prosedurnya jelas. Tapi saya juga tidak ingin terus menyembunyikan bahwa kami sedang mencoba menjalin hubungan.”
“Tidak perlu membuat pengumuman besar,” jawab Pak Rendy. “Kita bisa menetapkan langkah profesional lebih dulu, lalu kalian menentukan apa yang ingin disampaikan kepada rekan kerja.”
Pertemuan berlangsung hampir satu jam. Mereka membahas jalur persetujuan laporan, evaluasi tahunan, dan akses informasi keuangan. Harist tidak memutuskan apa pun sendiri. Pak Rendy mencatat opsi untuk meminta pejabat lain yang berwenang dan tidak terlibat dalam hubungan keluarga mereka meninjau laporan Aara dan memastikan perubahan, jika ada, dilakukan dengan alasan yang terdokumentasi.
Aara mengajukan beberapa pertanyaan tentang penilaian kinerja. Ia ingin memastikan hasil kerjanya tidak perlu disetujui Harist secara langsung. Pak Rendy menjelaskan bahwa untuk sementara, laporan Aara bisa ditinjau oleh Pak Rendy atau pejabat yang berwenang, sampai prosedur permanen ditetapkan.
“Apakah itu akan menghambat pekerjaan?” tanya Aara.
“Kita akan atur agar tidak menghambat,” jawab Pak Rendy. “Kalau ada kendala, kamu bisa menyampaikannya langsung kepada saya atau Okta.”
Aara mengangguk. “Saya menghargai kejelasannya.”
Setelah pertemuan berakhir, Harist menunggu Aara keluar lebih dulu. Di lorong, ia bertanya, “Kamu baik-baik saja?”
“Aku lega karena kita tidak mengambil jalan sembunyi-sembunyi. Tapi aku masih perlu melihat bagaimana prosedurnya berjalan.”
“Aku akan menepati bagian yang menjadi tanggung jawabku.”
“Aku akan menilai dari tindakan, seperti yang sudah kubilang.”
Harist mengangguk. Tidak ada rasa tersinggung di wajahnya. “Itu wajar.”
Mereka kembali ke pekerjaan masing-masing. Aara merasa lebih tenang karena keputusan pribadi mereka tidak lagi bergantung pada janji di taman saja. Pak Rendy mengetahui keadaan itu, dan prosedur mulai diperiksa. Belum semuanya selesai, tetapi langkah pertama sudah dilakukan dengan terbuka.
Sore itu, Aara bertemu Aqila di dekat lift. Aqila memperhatikan map yang dibawanya.
“Rapat dengan Pak Rendy?” tanyanya.
“Urusan prosedur kerja.”
Aqila mengangkat alis. “Kamu dan Harist keluar dari ruangan yang sama.”
“Memang.”
“Baiklah. Aku tidak akan bertanya kalau kamu belum ingin cerita.”
Aara menghargai sikap itu. “Nanti aku akan bicara denganmu. Aku hanya ingin memastikan semuanya jelas dulu.”
“Tidak apa-apa. Aku ada kalau kamu butuh.”
Dalam perjalanan pulang, Aara bertanya, “Kalau Pak Rendy menilai hubungan ini tidak bisa diteruskan tanpa salah satu dari kita pindah bagian, apa yang akan kamu lakukan?”
“Aku akan membicarakan semua pilihan denganmu. Aku tidak akan memilih untukmu.”
“Kalau pilihan itu paling mudah untuk perusahaan tetapi merugikan pekerjaanku?”
“Kita sampaikan keberatan dan cari pilihan lain. Aku tidak bisa menjanjikan perusahaan akan menyetujui semua yang kita minta, tapi aku bisa berjanji tidak akan membiarkan keputusan dibuat tanpa mendengarkanmu.”
Aara menatapnya. “Aku tidak mau pekerjaan yang kubangun dianggap harga yang harus kubayar karena dekat denganmu.”
“Seharusnya tidak begitu.”
“Kalau begitu, pastikan tindakannya sama.”
Harist mengangguk. “Aku akan.”
Malam itu, Aara mengirim pesan kepada ibunya bahwa pertemuan dengan Pak Rendy berjalan baik dan prosedur sedang diperiksa. Ibunya membalas agar ia tetap berani bertanya jika ada keputusan yang tidak adil. Aara membaca pesan itu sambil duduk di teras, kemudian memasukkan ponsel ke saku.
Ia merasa lega karena keluarga dan perusahaan tidak lagi menjadi sesuatu yang harus ia hindari. Ia belum tahu hasil pembicaraan berikutnya, tetapi sekarang ada orang-orang yang mengetahui keadaan sebenarnya dan bisa membantu memastikan ia tidak menanggung semua akibat sendirian.
***
Malam itu Aara mengundang ibu dan kakaknya duduk bersama di ruang tengah. Ia sudah menyiapkan teh, tetapi tidak menyentuh cangkirnya. Keponakannya, Aya, sedang belajar di kamar kakaknya. Aara ingin berbicara tanpa membuat anak itu ikut mendengar pembicaraan orang dewasa.
Ibunya memperhatikan wajahnya. “Kamu sudah siap bercerita?”
Aara mengangguk. “Aku dan Harist sepakat mencoba menjalin hubungan dengan serius.”
Kakaknya tersenyum, tetapi tidak langsung bersorak. “Kamu yakin?”
“Aku masih punya takut. Tapi aku memilih ini sendiri, bukan karena merasa harus membalas kebaikannya.”
Ibunya menggenggam tangan Aara. “Bagaimana dengan Naomi?”
“Harist sudah menceritakan masa lalu mereka. Dia belum selesai berbicara dengannya, tapi dia berjanji terbuka. Aku tidak melarang percakapan itu, selama dia tidak menyembunyikannya.”
“Kamu merasa aman?” tanya kakaknya.
“Belum sepenuhnya. Kepercayaan perlu dibangun. Aku juga meminta dia tidak menghilang kalau butuh waktu.”
Kakaknya mengangguk. “Bagus. Kamu boleh bahagia dan tetap berhati-hati.”
Aara menceritakan bahwa mereka sudah bertemu Pak Rendy untuk membahas aturan kantor. Mereka belum mengumumkan apa pun kepada rekan kerja. Pak Rendy sedang menindaklanjuti jalur evaluasi dan pelaporan supaya Harist tidak menilai pekerjaan Aara secara langsung jika hubungan mereka berkembang.
“Dia mau membicarakan itu terbuka?” tanya ibunya.
“Iya. Kami tidak ingin menyiasati aturan. Aku juga bilang aku tidak mau dipindahkan tanpa persetujuanku atau dianggap mendapat keistimewaan.”
Mata ibunya mulai berkaca-kaca. Ia menggenggam tangan Aara lebih erat. “Kamu sudah jauh berjalan sejak kamu meninggalkan pekerjaan lamamu dalam keadaan tidak bahagia.”
Aara menunduk. “Aku masih malu mengingatnya.”
“Jangan terus menghukum diri. Kamu sedang berusaha memperbaiki diri dan sudah meminta maaf kepada temanmu. Ibu belum tahu seluruh ceritanya, tapi Ibu ingin kamu tetap bisa pulang dan berbicara jujur. Itu yang penting.”
Kakaknya mengusap punggung Aara. “Aku senang kamu sekarang bisa mengatakan apa yang kamu butuhkan. Dulu kamu sering mengalah, lalu berharap orang lain mengerti sendiri.”
“Aku sedang belajar bicara sebelum terluka terlalu jauh.”
Ibunya mengusap air mata. “Ibu bahagia kamu memberi kesempatan kepada seseorang yang memperlakukanmu dengan baik. Tapi ibu tidak akan memaksamu menikah cepat atau menentukan hidupmu.”
Aara tersenyum haru. “Aku belum bicara soal menikah, Bu. Kami baru mencoba mengenal satu sama lain.”
“Ibu tahu. Ibu hanya ingin kamu tahu bahwa ibu mendukungmu, selama kamu tetap menjaga dirimu.”
Kakaknya mengangguk. “Dan kalau ada masalah, jangan menghilang atau menanggung semuanya sendirian. Ceritakan.”
Aara memeluk mereka bergantian. Ia merasakan kehangatan keluarga yang dulu ia takutkan akan hilang jika mereka mengetahui masa lalunya. Ia berharap suatu hari mampu menceritakan seluruh masa lalunya. Malam ini keluarganya menerima pilihan barunya, sementara bagian cerita yang masih ia simpan belum hilang begitu saja.
Aya muncul dari kamar sambil membawa buku. “Tante, kenapa matanya merah?”
Aara tertawa kecil dan menghapus pipi. “Tante cuma terharu.”
“Karena apa?”
Kakaknya menjawab, “Tante sedang bercerita tentang kabar baik.”
Aya tersenyum. “Kalau kabar baik, jangan sedih.”
“Ada air mata bahagia juga,” kata ibunya.
Aya mengangguk seolah memahami, lalu kembali ke kamarnya. Suasana ruang tengah menjadi lebih ringan. Kakaknya menggoda Aara agar tidak lupa makan malam hanya karena sedang memikirkan Harist.
“Aku tetap bisa makan,” jawab Aara. “Aku hanya sedang berusaha tidak membayangkan terlalu jauh.”
“Bagus. Fokus pada hari ini,” kata ibunya.
Sebelum tidur, Aara mengirim pesan kepada Harist bahwa keluarganya sudah tahu. Harist membalas, “Terima kasih sudah menceritakannya. Aku senang mereka mendukungmu.”
Aara menjawab bahwa dukungan itu bukan berarti mereka tidak akan mengingatkan jika ada yang salah. Harist membalas dengan emoji senyum dan berkata ia berharap bisa mendapat kesempatan berbicara dengan mereka saat waktunya tepat.