Dua hari setelah pertemuan keluarga, Aara dan Harist kembali menjalani rutinitas kantor. Jalur pemeriksaan laporan Aara sementara dialihkan kepada Pak Rendy. Perubahan itu diberitahukan secara resmi kepada tim terkait, tanpa mengumumkan alasan pribadi mereka secara berlebihan.
Aara membaca pemberitahuan itu dengan saksama. Tidak ada kalimat yang membuatnya terlihat mendapat promosi atau perlakuan khusus. Ia tetap mengerjakan tugas yang sama dan tetap bertanggung jawab kepada tim keuangan.
Saat rapat pagi, Harist membahas target mingguan seperti biasa. Ia tidak menatap Aara lebih lama daripada karyawan lain. Setelah rapat, ia meminta semua orang mengirim pembaruan lewat sistem.
“Kalau ada kendala pada laporan, sampaikan melalui jalur baru yang sudah diumumkan,” katanya. “Jangan mengirim langsung kepada saya untuk persetujuan angka.”
Aara mengangguk bersama anggota tim lain. Ia menghargai bahwa Harist tidak memperlakukan prosedur itu sebagai rahasia atau beban yang hanya diketahui mereka berdua.
Di lorong, mereka berpapasan ketika Aara membawa map ke ruang Okta. Harist membawa beberapa berkas dari ruang rapat. Mereka saling menyapa.
“Pagi, Aara.”
“Pagi, Pak.”
Harist tersenyum tipis. Aara tanpa sadar membalas senyum itu. Mereka terus berjalan ke arah berbeda, tetapi Aqila yang baru keluar dari ruang fotokopi melihat semuanya.
Aqila menyusul Aara ke ruang keuangan. “Aku boleh bertanya sekarang?”
Aara meletakkan map di meja. “Tentang apa?”
“Kalian berdua tadi tersenyum seperti baru berbagi rahasia.”
“Kami memang sedang mencoba menjalin hubungan.”
Aqila menahan seruan. “Akhirnya kamu cerita juga.”
“Aku menunggu sampai kami bicara dengan Pak Rendy dan tahu urusan kerja tidak akan disembunyikan.”
“Aku mengerti. Bagaimana perasaanmu?”
“Takut, tapi lebih tenang daripada sebelumnya. Kami belum mengumumkan apa pun. Kami sepakat saling mengenal dengan serius dan terbuka.”
“Dan Naomi?”
Aara menghentikan gerakannya sejenak. “Harist sudah menjelaskan masa lalu mereka. Dia masih perlu bicara dengannya, tapi berjanji tidak akan menyembunyikan apa pun.”
Aqila mengangguk. “Aku senang kamu tidak menebak-nebak sendirian lagi.”
“Aku juga. Tapi aku masih akan melihat tindakannya.”
“Memang seharusnya begitu.”
Niken yang mendengar bagian akhir percakapan menoleh dari mejanya. “Kalian membicarakan apa?”
“Hal pribadi,” kata Aqila cepat, lalu melirik Aara meminta izin.
Aara tersenyum kecil. “Aku sedang mengenal seseorang. Belum banyak yang perlu diceritakan.”
Niken tersenyum. “Kalau kamu bahagia, aku ikut senang. Tapi kalau ada yang membuatmu tidak nyaman, jangan dipendam.”
“Terima kasih.”
Aara tidak menyebut nama Harist di ruang kerja. Ia tidak ingin hubungan mereka menjadi bahan pembicaraan saat prosedur baru saja berlaku. Namun, ia juga tidak merasa harus berpura-pura tidak punya kehidupan di luar kantor.
Siang itu, Pak Rendy meminta Aara memastikan bahwa jalur persetujuan yang baru tidak menghambat laporan. Aara menjelaskan bahwa ia telah mengirim dokumen melalui sistem dan menunggu tinjauan.
“Kalau ada keterlambatan, catat alasannya,” kata Pak Rendy. “Jangan sampai kamu yang disalahkan karena alur berubah.”
“Baik, Pak. Saya akan mencatatnya.”
“Dan kalau ada keberatan, sampaikan langsung. Perubahan ini bukan hukuman untukmu.”
Aara mengangguk. “Saya mengerti.”
Ketika ia keluar dari ruangan, Harist berdiri di dekat pintu seberang. Ia tidak bertanya isi percakapan itu, hanya mengangkat alis seolah memastikan semuanya baik.
Aara menjawab dengan anggukan kecil. Tidak ada kata-kata pribadi di koridor. Namun, senyum mereka muncul lagi, singkat dan cukup bagi Aqila untuk mengamatinya dari kejauhan.
Sore hari, Aara sempat mengabari Harist bahwa ia sudah berbicara dengan Aqila. Harist kemudian menjawab: “Terima kasih sudah berani bicara dengan Aqila.”
“Aku belum menceritakan semuanya,” balas Aara. “Tapi dia teman dekatku. Aku tidak ingin terus menutup-nutupi.”
“Aku mengerti. Kamu yang menentukan siapa yang kamu beri tahu.”
Aara membaca pesan itu dan tersenyum. Ia membalas, “Kita jalani pelan-pelan. Jangan lupa kamu masih harus konsisten.”
“Aku akan berusaha.”
Hari itu berakhir tanpa pengumuman besar, tanpa janji berlebihan, dan tanpa menyembunyikan fakta dari orang-orang yang penting bagi Aara. Ia pulang dengan perasaan campur aduk, tetapi kali ini ia tidak merasa berdiri sendiri di persimpangan.
***
Naomi menatap layar ponsel cukup lama sebelum mengetik pesan. Ia sudah beberapa kali menulis kalimat pembuka, menghapusnya, lalu mencoba lagi. Setiap kalimat terdengar seperti usaha untuk membenarkan diri. Ia tidak ingin mengulang kebiasaan lamanya: menunggu sampai orang lain membuka percakapan, kemudian berharap masalah selesai sendiri.
Devan duduk di ruang tamu rumah ibunya. Ia tidak mendekat atau mengambil ponsel Naomi. Ia hanya memperhatikan perempuan itu menghela napas berkali-kali.
“Kamu ingin menghubungi Harist?” tanyanya.
Naomi mengangguk. “Aku ingin meminta maaf langsung. Aku sudah terlalu lama membiarkan dia hanya mengingat bagian buruknya.”
“Kalau kamu siap, kirim pesannya. Tapi jangan berharap dia langsung memaafkan.”
“Aku tahu. Aku tidak ingin memaksanya.”
Naomi kembali mengetik: “Harist, aku ingin meminta maaf atas semua yang terjadi dulu. Kalau kamu bersedia, aku ingin bertemu di taman. Aku tidak meminta kamu melupakan atau memaafkanku hari ini. Aku hanya ingin mengatakan semuanya dengan jujur.”
Ia membaca ulang pesan itu. Devan tidak memberi saran kata-kata. Pesan itu harus menjadi tanggung jawab Naomi sendiri.
“Sudah,” katanya.
“Kalau begitu, kirim.”
Naomi menekan tombol kirim. Jantungnya berdetak cepat. Ia meletakkan ponsel di meja, lalu berdiri untuk mengambil air. Ia tidak ingin menunggu dengan menggenggam layar seperti orang yang berharap satu balasan akan menghapus bertahun-tahun penyesalan.
Beberapa menit kemudian, Harist membalas: “Aku bersedia bertemu. Besok sore di taman dekat persimpangan. Aku ingin bicara dengan tenang.”
Naomi membaca pesan itu, lalu menutup mata. Ia tidak tahu apakah Harist akan datang dengan kemarahan atau diam. Ia hanya tahu dirinya harus hadir dan mengatakan kebenaran tanpa menyalahkan keadaan.
Devan melihat wajahnya. “Dia setuju?”
“Besok sore.”
“Aku tidak akan ikut. Ini percakapan kalian.”
Naomi mengangguk. “Terima kasih sudah mendorongku menghubunginya. Tapi jangan berpikir itu membuat kita kembali seperti dulu.”
“Aku tidak berpikir begitu. Aku juga harus bertanggung jawab atas bagianku sendiri.”
Naomi menatapnya. “Kamu pernah mengatakan kamu tidak akan meminta hubungan kita kembali. Aku perlu tahu kamu masih mengingat itu.”
“Aku ingat. Aku tidak mengharapkan apa pun darimu. Aku ingin kamu punya kesempatan berdamai dengan masa lalumu, bukan supaya kamu memilihku.”
Kata-kata itu membuat Naomi merasa lega sekaligus malu. Ia telah lama menganggap dirinya tidak pantas meminta apa pun dari siapa pun. Namun, Devan tidak sedang menawarkan penebusan; ia hanya memberi ruang agar Naomi menyelesaikan urusan yang belum pernah ia hadapi.
Malam itu Naomi sulit tidur. Ia teringat masa ketika ia dan Harist merencanakan masa depan, lalu saat ia mengambil keputusan yang menghancurkan kepercayaan. Ia tidak ingin menceritakan hal-hal intim secara rinci. Yang perlu ia akui adalah bahwa ia melewati batas dan menyembunyikan kebenaran. Ia tidak bisa menaruh tanggung jawab itu pada rasa takut, tekanan, atau kebingungan.
Pagi berikutnya, ia menyiapkan sarapan untuk ibunya. Ibunya bertanya mengapa Naomi tampak gelisah.
“Aku akan bertemu Harist sore ini.”
Ibunya mengusap punggung tangannya. “Kamu akan minta maaf?”
“Iya. Aku ingin menjelaskan, tapi aku tidak mau meminta dia menghiburku.”
“Bagus. Jangan jadikan rasa bersalahmu pekerjaan orang lain.”
Naomi mengangguk. Ia membawa nasihat itu sepanjang hari. Sebelum berangkat, ia memilih pakaian sederhana, membawa tas kecil, dan mengecek pesan Harist sekali lagi. Tidak ada pesan tambahan. Ia tak berharap ada.
Pada malam ketika janji pertemuan itu dibuat, Harist memberi tahu Aara bahwa Naomi meminta bertemu. Ia menepati janji mereka untuk terbuka.
“Aku akan menemuinya besok sore,” katanya melalui pesan suara. “Kamu tidak harus ikut. Aku ingin kamu tahu dulu dan memutuskan sendiri apakah ingin berada di sana.”
Aara mendengarkan pesan itu setelah selesai bekerja. Ia membalas bahwa ia tidak ingin duduk bersama mereka, tetapi bersedia menunggu agak jauh jika Harist merasa perlu. Harist menjawab bahwa ia tidak ingin menjadikannya penengah. Mereka sepakat Aara boleh datang ke taman, tetapi percakapan antara Harist dan Naomi tetap milik mereka.