Taman dekat persimpangan terasa lebih ramai daripada yang Naomi ingat. Ia tiba lebih awal dan duduk di bangku dekat jalur pejalan kaki. Tangannya dingin meski udara sore tidak terlalu sejuk. Ia mengingat pesan yang dikirimnya dan berusaha menenangkan diri.
Harist datang tepat waktu. Ia berhenti beberapa langkah dari bangku, lalu duduk setelah Naomi memberi isyarat. Tidak ada salam hangat atau pertanyaan tentang kabar. Mereka tidak berpura-pura bahwa waktu yang berlalu telah menghapus luka.
“Terima kasih sudah datang,” kata Naomi.
“Aku datang karena ingin mendengar apa yang ingin kamu sampaikan.”
Naomi mengangguk. “Aku tidak akan lama-lama mencari pembuka. Aku mengkhianati kepercayaanmu. Aku melewati batas dengan Devan, lalu menyembunyikannya. Itu pilihanku dan aku bertanggung jawab.”
Harist menatapnya tanpa menyela. Naomi menunduk ke tangannya.
“Malam itu, aku dan Devan bertemu setelah hubungan kita sedang dipenuhi pertengkaran. Aku merasa tidak didengar, tapi itu bukan alasan untuk melakukan apa yang kulakukan. Aku bisa pergi, bisa bicara jujur, atau mengakhiri hubungan dulu. Aku memilih jalan yang melukai kalian berdua.”
Harist menarik napas. “Kenapa kamu tidak mengatakannya saat itu?”
“Karena aku takut kehilanganmu dan takut menghadapi akibatnya. Aku berharap bisa menyembunyikannya sampai semuanya terasa lebih mudah. Itu membuat kebohonganku semakin besar.” Naomi menatapnya. “Aku tidak ingin kamu menganggap keadaan kita waktu itu membenarkan tindakanku. Aku salah.”
Harist terdiam. Ia pernah membayangkan percakapan ini akan penuh alasan. Mendengar Naomi tidak menyalahkan dirinya tidak menghapus apa yang terjadi, tetapi membuatnya bisa mendengar tanpa harus membantah setiap kalimat.
“Aku juga ingin menjelaskan,” lanjut Naomi, “bahwa aku tidak kembali ke kota untuk merebutmu dari siapa pun. Aku tahu kamu dekat dengan Aara. Aku tidak berhak meminta kamu menunda hidupmu karena aku baru berani pulang.”
“Kenapa kamu kembali?” tanyanya.
“Ibuku perlu ditemani dan menjalani kontrol. Aku juga harus menghadapi hal-hal yang selama ini kuhindari. Aku tidak tahu apakah kamu akan mau bicara denganku. Waktu bertemu di taman, aku membeku dan tidak sanggup mengatakan apa pun.”
Harist mengangguk kecil. “Aku kaget melihatmu. Aku marah, tapi juga tidak tahu harus bicara apa.”
“Aku paham.”
“Aku perlu mengatakan sesuatu juga. Dulu aku terlalu menuntut hubungan kita berjalan sesuai bayanganku. Aku ingin semuanya pasti, ingin kamu selalu menjawab seperti yang kuharapkan, dan ketika kamu tidak melakukannya, aku memilih marah. Itu membuatmu merasa tidak punya ruang.”
Naomi menatapnya. “Itu menyakitkan, tapi aku tidak mau memakai sikapmu sebagai alasan untuk kesalahanku.”
“Aku tidak sedang meminta kamu mengaku salah atas tindakanku. Aku hanya perlu mengakui bahwa aku juga punya bagian dalam cara hubungan itu menjadi buruk.”
Mereka terdiam. Naomi mengusap jemarinya, lalu berkata, “Aku tidak meminta kita kembali menjadi seperti dulu. Aku hanya ingin kamu tahu aku menyesal dan tidak akan mengganggu hubunganmu dengan Aara.”
Harist mengalihkan pandangan ke jalan. “Aku sedang mencoba menjalin hubungan dengannya. Kami sepakat terbuka dan menjaga batas.”
Naomi mengangguk. Ada rasa perih yang ia terima tanpa menyalahkan siapa pun. “Aku senang kamu menemukan seseorang yang bisa kamu ajak bicara lebih jujur.”
“Aku masih belajar.”
“Kita semua begitu.”
Di bangku lain, agak jauh dari mereka, Aara duduk dengan ponsel di tangan. Ia tidak mendengar setiap kata dan tidak mencoba mendekat. Ia datang karena Harist menawarkan keterbukaan, tetapi ia tidak ingin menjadikan dirinya pengawas. Ia memberi mereka ruang sesuai kesepakatan.
Naomi menyadari Aara berada di sana ketika menoleh sebentar. Ia tidak melambaikan tangan atau memanggilnya. Aara membalas dengan anggukan kecil, kemudian kembali melihat layar. Naomi merasa lega perempuan itu tidak berada dekat mereka, tetapi juga tidak disembunyikan.
“Aku tidak berharap dimaafkan hari ini,” kata Naomi kepada Harist. “Kalau kamu masih marah, kamu berhak.”
“Aku tidak tahu apakah aku bisa menghapus luka itu. Tapi aku tidak ingin menyimpan kemarahan selamanya.”
Naomi menarik napas. “Itu sudah cukup untuk kudengar.”
“Belum tentu kita bisa kembali berteman dekat.”
“Aku mengerti. Berdamai tidak harus berarti kembali seperti dulu.”
Kata-kata itu membuat Harist menatapnya lebih lama. Untuk pertama kalinya percakapan mereka tidak terasa seperti upaya merebut masa lalu.
***
Harist tidak langsung menjawab setelah Naomi mengatakan bahwa berdamai tidak harus berarti kembali seperti dulu. Ia mengamati taman yang mereka datangi bertahun-tahun lalu, tempat ia dulu percaya bahwa semua rencana bisa dijalankan hanya dengan kemauan.
“Aku juga meminta maaf,” katanya akhirnya. “Bukan atas pilihanmu, tetapi atas caraku memperlakukanmu saat kita bersama.”
Naomi mengerutkan kening. “Kamu tidak harus meminta maaf hanya supaya aku merasa lebih baik.”
“Aku tidak melakukannya untuk membuatmu nyaman. Ada hal yang memang harus kuakui.” Harist menautkan jemari. “Aku menuntut kamu selalu menjelaskan semua hal dengan caraku. Kalau kamu butuh ruang, aku menganggapnya sebagai penolakan. Aku sering berusaha menang dalam percakapan, bukan memahami apa yang sebenarnya kamu rasakan.”
Naomi terdiam. Ia tidak mengira Harist akan mengakui itu. Selama ini ia mengingat Harist sebagai laki-laki yang terluka dan marah, sementara dirinya sebagai pihak yang bersalah. Dua hal itu tidak saling menghapus, tetapi membuat masa lalu mereka lebih rumit daripada satu keputusan.
“Kadang aku merasa tidak punya ruang untuk mengatakan aku tidak siap,” ujar Naomi. “Tapi aku tetap bisa memilih bicara atau pergi. Aku tidak melakukannya.”
“Aku tahu. Aku tidak meminta kamu mengubah kesimpulan tentang dirimu.”
“Aku berterima kasih kamu mengatakannya. Tapi aku juga tidak mau kamu memikul kesalahan yang bukan milikmu.”
Harist mengangguk. “Aku sedang belajar membedakan tanggung jawabku dan tanggung jawab orang lain.”
“Bagaimana dengan Devan?”
“Aku masih berusaha. Dia meminta maaf dan aku mulai bicara dengannya lagi, tapi kepercayaan tidak kembali begitu saja.”
“Dia tidak pernah meminta aku memilihnya. Aku tahu itu tidak menghapus apa yang kami lakukan. Setelahnya, aku menjauh karena malu dan tidak tahu bagaimana menghadapi akibatnya.”
“Dia bilang dia tidak meminta hubungan kalian kembali.”
Naomi menunduk. “Aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi di antara kami. Aku belum siap memberi nama pada apa pun. Aku sedang mencoba hidup dengan lebih jujur.”
“Itu keputusanmu.”
Mereka bicara tentang beberapa hal yang tertinggal: hari-hari setelah perpisahan, pesan yang tidak pernah dibalas, dan keputusan Naomi pulang tanpa memberi kabar. Tidak ada yang berusaha merekonstruksi setiap detail. Mereka hanya menyebut bagian yang perlu agar masing-masing memahami luka pihak lain.
“Aku dulu menunggu kamu menghubungiku,” kata Harist. “Lalu aku marah karena kamu tidak melakukannya.”
“Aku juga menunggu kamu mencari aku, meski aku tahu aku yang melakukan kesalahan.”
“Kita sama-sama menunggu sesuatu yang tidak pernah dikatakan.”
Naomi mengangguk. “Dan diam membuat semuanya makin buruk.”
Harist melihat ke arah tempat Aara duduk. Aara masih memberi mereka jarak. Ia tidak tampak ingin ikut campur, dan sikap itu membuat Harist merasa lebih bertanggung jawab untuk menuntaskan percakapan sendiri.
“Dia tahu kamu akan bertemu denganku?” tanya Naomi.
“Ya. Aku memberitahunya sebelum datang. Dia memilih menunggu agak jauh, bukan menjadi bagian dari percakapan kita.”
“Dia terlihat tenang.”
“Dia sedang belajar percaya. Aku juga sedang belajar agar dia tidak harus menebak-nebak.”
Naomi tersenyum samar. “Jangan ulangi kesalahan kita. Jangan menuntut dia membaca pikiranmu.”
“Aku berusaha mengingatnya.”
“Aara pantas mendapat kejujuran. Aku tidak ingin kepulanganku menjadi alasan kamu menyakitinya.”
“Terima kasih.”
Naomi tidak menjawab. Ia menatap jalur pejalan kaki yang mulai ramai. “Aku ingin mengatakan bahwa aku merestui kalian, tapi aku tidak ingin kalimat itu terdengar seperti aku punya kuasa atas hubunganmu.”
“Tidak ada yang menganggap begitu.”
“Aku tahu. Aku hanya ingin kamu mengerti bahwa aku tidak akan menghalangi. Kalau kamu memilih Aara, jalani dengan sungguh-sungguh. Jangan menjadikannya tempat bersembunyi dari luka lama.”
Harist merasakan kalimat itu tepat mengenai sesuatu yang selama ini ia takut akui. Ia tidak ingin Aara menjadi pengganti siapa pun, dan ia harus membuktikannya melalui tindakan.
“Aku tidak ingin menjadikannya begitu,” katanya. “Aku menyukainya karena dirinya sendiri.”
“Kalau begitu, jaga dia dengan cara yang tidak membuatnya kehilangan kebebasan.”
Harist mengangguk. Ia tahu Naomi tidak bisa menentukan apa yang harus ia lakukan. Namun, dukungan yang dinyatakan tanpa tuntutan terasa berbeda dari permintaan agar ia kembali.
Naomi berdiri perlahan. “Aku sudah mengatakan apa yang perlu kukatakan.”
“Aku juga.”
“Aku tidak tahu apakah setelah ini kita akan sering bertemu.”
“Kita tidak perlu memutuskan sekarang.”
Naomi tersenyum kecil. “Itu jawaban yang lebih baik daripada memaksakan semuanya kembali seperti dulu.”
Harist ikut berdiri. Mereka tidak berpelukan. Keduanya tahu ada luka yang masih perlu waktu, dan sentuhan tidak akan membuatnya hilang.