Naomi meminta Harist duduk kembali sebentar. “Sebelum kita pulang, aku ingin menjelaskan satu hal lagi.”
Harist duduk. “Silakan.”
“Waktu aku kembali ke taman dan melihatmu bersama Aara, aku membeku bukan karena berharap kamu masih menungguku. Aku membeku karena melihat akibat dari pilihanku. Kamu sudah melanjutkan hidup, dan aku tiba-tiba harus menerima bahwa aku tidak lagi punya tempat yang sama di dalamnya.”
Harist mendengarkan tanpa memotong.
“Aku malu karena selama ini aku membayangkan meminta maaf akan membuat semuanya terasa lebih ringan. Tapi ketika bertemu langsung, aku sadar aku tidak berhak menentukan bagaimana kamu menerima permintaan maafku.”
“Kamu benar. Aku juga tidak berhak memaksamu menjelaskan sebelum kamu siap.”
“Terima kasih.”
Harist menatap tangannya. “Saat melihatmu, aku sempat merasa seolah semua yang kucoba bangun kembali terancam. Itu bukan karena Aara salah. Aku membawa luka lama ke pertemuan kami dan membiarkan dia menanggung kebingunganku.”
“Apakah kamu sudah menjelaskan kepadanya?”
“Ya, beberapa hari lalu. Aku menceritakan apa yang kuketahui dan bagian yang menjadi tanggung jawabku. Dia memintaku jujur kalau ada pertemuan lagi.”
“Bagus. Jangan jadikan kejujuran sebagai sesuatu yang kamu berikan hanya saat ditanya.”
“Aku paham.”
Naomi menunduk. “Aku meminta maaf karena pernah mengkhianati kepercayaanmu. Aku juga minta maaf karena kembali tanpa siap menghadapi akibatnya, lalu membuat kamu dan Aara berada dalam situasi yang canggung.”
“Permintaan maafmu kuterima. Tapi aku mungkin masih membutuhkan waktu untuk benar-benar merasa damai.”
“Aku tidak akan menuntut lebih.”
“Dan aku minta maaf karena menuntutmu menjadi seperti yang kubayangkan. Aku membuat hubungan kita terasa seperti ujian yang harus selalu kamu lalui dengan benar.”
Naomi menarik napas, matanya berkaca-kaca. “Aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkan diriku sendiri secepat kamu memaafkanku.”
“Kamu tidak harus mengikuti kecepatanku. Memaafkan diri sendiri juga bukan berarti mengatakan pilihanmu tidak salah.”
“Aku tahu. Aku hanya masih merasa malu.”
“Rasa malu bisa membuatmu belajar, tapi jangan biarkan ia membuatmu terus bersembunyi dari orang-orang yang perlu kamu hadapi.”
Naomi menatap Harist. “Kamu terdengar lebih tenang daripada yang kubayangkan.”
“Aku masih bisa marah. Tapi aku tidak ingin marah menjadi satu-satunya hal yang tersisa dari hubungan kita.”
Mereka berbicara lebih lama. Naomi mengisahkan bagaimana ia menjaga jarak setelah perpisahan, bagaimana ia selalu menunda meminta maaf, dan bagaimana kepulangan untuk menemani ibunya membuatnya akhirnya berhadapan dengan orang-orang yang pernah ia tinggalkan. Ia tidak menjelaskan hal-hal pribadi yang tidak perlu, tetapi ia tidak lagi menyalahkan keadaan.
Harist juga menceritakan bahwa ia pernah menutup diri dari banyak orang dan membiarkan pekerjaan memenuhi waktunya. Ia mengira kesibukan sama dengan pulih. Baru belakangan ia menyadari bahwa ia masih membawa kemarahan ke setiap hubungan baru.
“Aku tidak tahu apakah kita bisa berteman,” kata Naomi.
“Kita tidak perlu memberi nama pada hubungan kita sekarang.”
“Aku akan menghormati hubunganmu dengan Aara. Aku tidak akan menghubungimu diam-diam atau membuatnya merasa harus bersaing denganku.”
“Terima kasih. Aku juga akan menjaga batas.”
Naomi menatap ke arah bangku tempat Aara menunggu. “Aku ingin bicara dengannya suatu saat, kalau dia bersedia. Bukan untuk menjelaskan masa laluku kepadanya, tapi untuk meminta maaf karena reaksiku di taman membuatnya ikut bingung.”
“Aku akan menyampaikan bahwa kamu bersedia, tapi keputusan ada pada Aara.”
“Begitu seharusnya.”
Aara tetap duduk di tempatnya. Ia melihat Harist dan Naomi berbicara tanpa pertengkaran, tetapi ia tidak mencoba membaca gerak bibir mereka. Ia menunggu sampai Harist sendiri menghampirinya. Menjaga jarak itu bukan tanda tidak peduli; ia ingin menghormati percakapan yang bukan miliknya.
Ketika Harist akhirnya berdiri, Naomi pun bangkit. Mereka berjabat tangan singkat—sebuah gestur sederhana yang tidak menghapus sejarah, tetapi menandai bahwa keduanya tidak lagi ingin saling menyakiti.
“Semoga kamu baik-baik saja,” kata Harist.
“Kamu juga. Dan semoga kamu berani jujur pada Aara.”
“Aku akan berusaha.”
Naomi tersenyum. “Jangan hanya berusaha. Lakukan.”
Harist tertawa kecil, menerima teguran itu. Ia kemudian berjalan menuju Aara, sementara Naomi tetap berdiri di dekat bangku. Tidak ada adegan dramatis atau janji untuk kembali. Naomi berjalan perlahan sampai ke gerbang. Sebelum pergi, ia menoleh sekali lagi. Harist tidak mengejarnya, dan ia tidak berharap lelaki itu melakukannya. Justru batas itu membuatnya lebih mampu menerima kenyataan.
Ia mengeluarkan ponsel dan menulis pesan kepada ibunya: “Aku sudah bicara. Aku belum merasa semuanya selesai, tapi aku sudah mengatakan kebenaran tanpa meminta alasan.”
Ibunya membalas bahwa ia menunggu di rumah. Naomi memasukkan ponsel ke tas dan mengambil napas panjang. Ia belum tahu kapan rasa bersalahnya akan reda. Namun, untuk pertama kalinya, ia tidak berusaha lari dari orang yang pernah ia sakiti.
***
Harist menghampiri Aara setelah Naomi berjalan ke arah gerbang. Aara berdiri dan merapikan tasnya.
“Sudah selesai?” tanyanya.
“Untuk hari ini. Kami saling meminta maaf. Tidak semuanya langsung baik, tapi kami sepakat tidak memaksa hubungan kembali seperti dulu.”
Aara mengamati wajah Harist. “Kamu merasa lebih lega?”
“Sedikit. Aku juga merasa masih ada hal yang perlu kuproses. Tapi aku tidak lagi ingin menghindari percakapan itu.”
“Naomi mengatakan sesuatu tentang aku?”
“Dia bilang tidak ingin menghalangi hubungan kita. Dia mendukung kita menjalani pilihan sendiri. Keputusan tetap milik kita.”
Aara menghela napas. “Aku tidak membutuhkan izinnya untuk memilih. Tapi aku menghargai dia mengatakan itu.”
“Dia ingin meminta maaf kepadamu karena membuatmu ikut berada di tengah situasi canggung. Aku bilang itu keputusanmu kalau mau bertemu dengannya.”
“Aku akan pikirkan. Aku tidak ingin pertemuan itu dilakukan hanya supaya semua orang merasa masalahnya selesai.”
“Itu masuk akal.”
Mereka berjalan menyusuri taman. Harist tidak mencoba menggenggam tangan Aara. Ia tahu bahwa pembicaraan tadi mungkin membuka lagi rasa cemburu atau takut. Ia ingin memberi Aara kesempatan bertanya tanpa merasa didesak.
“Apa yang paling kamu rasakan setelah bicara dengannya?” tanya Aara.
“Sedih karena hubungan lama kami berakhir dengan cara yang menyakitkan. Tapi juga lega karena kami akhirnya mengakui bagian masing-masing. Aku tidak ingin kembali kepadanya.”
Aara menatapnya. “Kamu yakin?”
“Ya. Aku bisa mengingat dan memaafkan Naomi tanpa memilih hubungan itu lagi. Aku sedang memilih mengenalmu.”
Aara merasakan dadanya mengendur. “Aku ingin percaya, tapi aku tetap akan melihat tindakanmu.”
“Kamu berhak.”
“Jangan tersinggung kalau aku masih cemburu.”
“Aku tidak akan menyalahkanmu. Aku hanya akan berusaha tidak menambah kebingungan.”
Mereka berhenti dekat penjual jajanan pasar. Harist bertanya apakah Aara ingin membeli sesuatu. Aara menggeleng, lalu berubah pikiran setelah mencium aroma kue yang baru matang.
“Kamu tadi bilang tidak mau,” kata Harist.
“Aku berubah pikiran.”
“Baik. Aku tidak akan mencatatnya sebagai keputusan permanen.”
Aara tertawa. “Bagus.”
Mereka membeli dua potong kue dan duduk sebentar di bangku. Suasana ringan itu tidak menjadikan luka Naomi bagian yang selesai begitu saja. Namun, percakapan jujur Harist membuat Aara tidak merasa harus bersaing dengan masa lalu.
“Terima kasih sudah memberitahuku sebelum bertemu dengannya,” kata Aara.
“Aku sudah berjanji.”
“Dan terima kasih karena tidak memintaku menjadi penengah.”
“Aku tahu itu bukan tanggung jawabmu.”
Aara menatap langit yang mulai gelap. “Aku mungkin ingin bertemu Naomi suatu saat, tapi bukan sekarang. Aku ingin memastikan itu karena aku memang ingin, bukan karena merasa harus menenangkan semua orang.”
“Tidak perlu terburu-buru.”
“Kalau nanti aku berubah pikiran, aku akan bilang.”
Harist tersenyum. “Kita belajar bicara sebelum menebak.”
“Semoga kamu ingat kalimat itu saat kita mulai berdebat.”
“Aku akan menuliskannya di meja.”
Aara tertawa lagi. Mereka berjalan ke arah gerbang. Di persimpangan, Aara berhenti sejenak dan melihat arus kendaraan. Tempat itu pernah menjadi awal perkenalannya dengan Harist, lalu menjadi saksi pertemuannya dengan Naomi. Kini tempat itu menyimpan percakapan yang berbeda: bukan tentang siapa yang dipilih masa lalu, melainkan tentang bagaimana mereka memilih bersikap setelah terluka.
“Besok kita tetap bekerja seperti biasa,” kata Aara.
“Tentu. Tidak ada perlakuan khusus.”
“Dan jalur laporan tetap lewat Pak Rendy.”
“Sudah jelas.”
“Bagus. Aku tidak mau kue hari ini membuatmu lupa prosedur.”
Harist tertawa. “Tidak akan.”
Mereka berpisah di gerbang. Harist tidak mengantar Aara pulang karena ia tahu Aara ingin mengambil kendaraan sendiri. Sebelum beranjak, ia berkata, “Aku senang kamu ada di sini.”
“Aku juga senang kamu akhirnya bicara jujur.”
Aara pulang dengan perasaan lebih lapang. Naomi tidak meminta Harist kembali, Harist tidak menyembunyikan pertemuan itu, dan Aara tidak harus berpura-pura bahwa ia tidak memiliki rasa cemburu. Mereka belum menyelesaikan semua tantangan. Aturan kantor masih harus dijalankan, dan hubungan mereka masih baru.
Namun, malam itu Aara merasa mereka telah melewati satu persimpangan penting. Ia memilih untuk terus mengenal Harist, sementara Naomi mendapat kesempatan untuk meminta maaf tanpa tuntutan.