Tiga minggu setelah percakapan Harist dan Naomi di taman, hubungan Aara dan Harist berjalan lebih hangat. Mereka saling mengirim pesan setelah jam kerja, sesekali makan bersama di luar kantor, dan belajar bertanya sebelum membuat kesimpulan. Di kantor, mereka tetap menggunakan sapaan formal dan mengikuti jalur kerja yang sudah disepakati.
Pagi itu Aara datang membawa laporan anggaran. Ia meletakkannya di meja Pak Rendy, sesuai prosedur sementara.
“Berkasnya sudah saya kirim lewat sistem, Pak,” katanya.
Pak Rendy memeriksa layar. “Sudah masuk. Saya tinjau siang ini.”
“Baik, Pak.”
Saat berbalik, Aara melihat Harist keluar dari ruang rapat. Ia menyapa dengan anggukan kecil. Harist membalas dengan senyum sekilas. Tidak ada percakapan pribadi di lorong, tetapi senyum itu cukup membuat Aara merasa mereka tidak sedang berpura-pura menjadi orang asing.
Aqila yang berjalan di sampingnya memperhatikan. “Kalian kelihatan lebih tenang.”
Aara pura-pura tak mengerti. “Siapa?”
“Kamu dan Pak Harist. Cara kalian bicara masih formal, tapi tidak lagi seperti sedang bertengkar.”
Aara tersenyum. “Kami sudah sepakat menjaga urusan kerja tetap profesional.”
“Itu bagus.”
“Ada hal pribadi yang sedang kami jalani, tapi belum ingin kami bicarakan di kantor.”
Aqila mengangguk. “Aku tidak akan bertanya lebih jauh.”
“Terima kasih.”
Di ruang keuangan, Aara menyelesaikan pemeriksaan transaksi. Hubungan yang lebih hangat dengan Harist tidak mengurangi tugasnya. Ia tetap meminta bukti yang kurang dan mengoreksi angka yang keliru, bahkan ketika laporan itu berasal dari bagian yang dipimpin Harist.
Menjelang siang, Harist mengirimkan catatan melalui sistem tentang satu angka yang berbeda.
Aara menjawab: “Angka di tabel sudah sesuai dokumen pendukung. Saya lampirkan bukti pembayarannya.”
Harist membalas: “Saya cek kembali. Terima kasih.”
Tidak ada panggilan pribadi atau permintaan untuk mengubah hasil. Aara merasa lebih aman ketika mereka bisa menguji kesepakatan itu dalam pekerjaan sehari-hari.
Saat jam istirahat, Aara dan Aqila makan di kantin. Harist berada di meja lain bersama Alvyan. Mereka tidak duduk berdekatan karena beberapa orang dari tim manajemen sedang bersama mereka.
Aqila menyenggol lengan Aara. “Kamu tidak keberatan duduk terpisah?”
“Tidak. Kami memang tidak harus selalu berdekatan.”
“Kadang orang mengira kalau punya hubungan, harus selalu terlihat bersama.”
“Justru aku ingin kami tetap punya ruang sendiri.”
Aqila tersenyum. “Kedengarannya sehat.”
Aara melihat Harist tertawa mendengar sesuatu dari Alvyan. Ia ingin menyapanya, tetapi tidak perlu memaksakan interaksi. Ia kembali mendengarkan cerita Aqila tentang jadwal pelatihan.
Sore hari, Pak Rendy meminta Harist masuk ke ruangannya. Harist membawa beberapa dokumen dan menutup pintu. Aara tidak tahu alasan pemanggilan itu. Ia berusaha tidak menghubungkannya dengan hubungan mereka, tetapi ketika Harist keluar, wajahnya tampak lebih serius.
Saat melewati ruang keuangan, Harist bertanya dengan nada formal, “Laporan revisi sudah selesai?”
“Sudah saya kirim ke Pak Rendy.”
“Baik. Terima kasih.”
Harist tidak berhenti. Aara menatap punggungnya sebentar, lalu kembali ke layar. Mereka sepakat membicarakan hal pribadi setelah kerja, bukan di lorong.
Malamnya, Harist mengirim pesan: “Ayah memanggilku tadi. Aku ingin membicarakan isinya langsung, bukan lewat pesan. Kamu ada waktu besok?”
Aara menjawab bahwa ia bisa bertemu setelah kerja. Ia tidak bertanya lebih banyak. Kalau Harist ingin memberitahu, ia akan mendengarkan; jika ia sedang memikirkan kata-kata, ia tidak akan memaksanya lewat layar.
***
Pada pertemuan ketika Pak Rendy memanggil Harist sehari sebelumnya, tidak ada laporan rutin di meja. Yang disiapkan ayahnya hanya salinan pedoman hubungan kerja dan catatan dari sekretariat. Inilah pembicaraan yang kini harus dijelaskan Harist kepada Aara.
“Duduklah,” kata Pak Rendy.
Harist duduk. “Ada yang perlu dibicarakan?”
“Hubunganmu dengan Aara.”
Harist tidak mengelak. “Kami sedang mencoba menjalin hubungan dengan serius. Kami sudah membicarakan aturan perusahaan dan jalur pelaporan.”
“Saya tahu. Justru karena itu saya ingin mengingatkanmu langsung.” Pak Rendy menyentuh berkas di meja. “Kamu direktur pengganti sekaligus atasan yang punya pengaruh besar. Aara adalah staf keuangan. Walaupun jalur penilaiannya sudah diubah sementara, orang-orang tetap bisa menganggap dia mendapat keistimewaan.”
“Saya tidak akan memberi keistimewaan.”
“Bagus. Tapi niatmu tidak selalu mengendalikan cara orang lain melihatnya. Mereka akan melihat siapa yang mendapat akses, siapa yang dipuji, dan siapa yang dipindahkan.”
Harist menahan napas. “Saya mengerti.”
“Yang lebih penting, jangan sampai nama baik Aara menjadi harga dari keputusanmu. Dia punya karier sendiri. Jika hubungan kalian berubah, jangan biarkan dia menanggung akibat yang lebih besar karena posisimu.”
“Saya akan menjaga batas profesional.”
“Jangan hanya berjanji kepada saya. Bicarakan dengan Aara dan pastikan dia tahu risiko sebenarnya.”
“Saya sudah membicarakannya.”
Pak Rendy menatap putranya. “Apakah dia tahu aturan ini sudah pernah menjadi persoalan di perusahaan?”
Harist terdiam sejenak. Ia tahu Pak Rendy pernah memperingatkannya soal Naomi. Namun, ia belum menceritakan semua itu kepada Aara.
“Aku belum menjelaskan bagian itu,” katanya.
“Harist, jangan ulangi kebiasaanmu menyimpan informasi karena merasa sedang melindungi seseorang.”
“Saya akan bicara dengannya.”
“Dulu saya menegurmu karena hubunganmu dengan Naomi membuat orang mempertanyakan keputusanmu. Saya tidak ingin kamu berpikir bahwa Aara akan mengalami hal yang sama. Situasinya berbeda, tetapi perusahaan dan gosip tidak selalu membedakan.”
Harist mengangguk. “Saya tidak ingin Aara menanggung akibat dari masa lalu saya.”
“Kalau begitu, pastikan kamu tidak membuatnya berdiri di belakangmu tanpa tahu apa yang sedang terjadi.”
Perkataan ayahnya membuat Harist merasa ditegur, bukan sebagai direktur, melainkan sebagai seseorang yang pernah melakukan kesalahan serupa. Ia tahu Pak Rendy tidak melarang hubungan mereka, tetapi meminta tanggung jawab yang lebih besar.
“Apakah ada prosedur baru?” tanya Harist.
“Sekretariat sedang memeriksa opsi. Sampai ada keputusan, jangan ada keputusan personal yang memengaruhi pembagian tugas atau penilaian. Jika kalian ingin melanjutkan, semua perubahan harus transparan.”
“Baik, Pak.”
Pak Rendy menutup map. “Saya ingin kamu bahagia. Tapi saya juga ingin Aara bisa bekerja tanpa merasa harus memilih antara karier dan hubungan.”
Harist berdiri. “Saya akan menjelaskan ini kepadanya tanpa menyembunyikan bagian yang memalukan.”
Sebelum keluar, Pak Rendy memanggilnya kembali. “Jangan membuatnya menunggu penjelasan seperti dulu.”
Harist mengangguk. “Saya tidak akan.”
Keesokan harinya, ia berusaha menepati janji kepada Aara. Ia mengirim pesan kepada Aara bahwa ada hal penting yang ingin dibicarakan setelah kerja. Aara membalas bahwa ia akan menemuinya di tempat biasa.
Mereka bertemu di taman dekat persimpangan. Harist menjelaskan bahwa Pak Rendy memperingatkannya tentang aturan, konflik kepentingan, dan reputasi Aara. Ia juga mengakui bahwa ayahnya pernah menegurnya saat hubungan dengan Naomi menimbulkan pertanyaan di kantor.
Aara mendengarkan, tetapi wajahnya berubah ketika nama Naomi disebut dalam konteks itu. “Kenapa kamu tidak memberitahuku sebelumnya?”
“Aku salah. Aku mengira cukup menjelaskan bahwa aturan ada. Aku tidak mengerti bahwa pengalaman lama di kantor juga bisa memengaruhi cara orang menilai kita.”
“Apakah kamu pernah mendapat perlakuan khusus untuk Naomi?”
“Tidak secara resmi. Tapi ayahku menegurku karena aku terlalu sering melibatkan urusan pribadi di jadwal kerja. Aku belum menjelaskan itu karena malu.”
Aara menarik napas. “Aku lebih memilih mendengar hal yang memalukan daripada menemukannya belakangan.”
“Aku tahu. Aku minta maaf.”
Aara berterima kasih atas keterusterangan Harist. Ia masih merasa tidak nyaman membayangkan dirinya menjadi bahan dugaan, tetapi setidaknya kini ia memahami bahwa teguran Pak Rendy berhubungan dengan batas profesional, bukan larangan atas hubungan mereka.
“Aku ingin kita membicarakan prosedur kerja dengan jelas,” kata Aara. “Aku tidak mau ada perlakuan khusus atau keputusan yang dibuat tanpa sepengetahuanku.”
“Aku setuju. Aku akan membicarakannya lagi dengan ayahku dan bagian terkait.”
“Dan kalau ada sesuatu dari masa lalumu yang bisa memengaruhi hubungan kita, katakan langsung.”
“Aku akan melakukannya.”
Aara belum sepenuhnya tenang, tetapi ia pulang dengan pertanyaan yang lebih terarah. Ia tidak akan membiarkan rumor menjawabnya; ia akan meminta fakta dan mengamati tindakan Harist.