Aara masih memikirkan percakapan dengan Harist ketika tiba di kantor. Ia tidak marah karena Pak Rendy mengingatkan putranya. Ia justru mengerti bahwa seorang direktur perlu memikirkan dampak hubungan di tempat kerja. Yang membuatnya gelisah adalah kenyataan bahwa pengalaman lama Harist dengan Naomi pernah menjadi bahan perhatian perusahaan.
Ia menyelesaikan tugas pagi, tetapi pikirannya sesekali kembali pada ucapan Pak Rendy. Apakah orang-orang akan menganggap Aara sebagai perempuan berikutnya yang dekat dengan Harist? Apakah mereka akan membandingkannya dengan Naomi? Apakah setiap keputusan kerja akan dipandang sebagai akibat hubungan mereka?
Saat makan siang, Okta duduk di sebelahnya di kantin. “Kamu kelihatan banyak pikiran.”
“Sedikit,” jawab Aara.
“Masalah kerja?”
“Sebagian.”
Okta tidak mendesak. Ia mengaduk teh dan melihat beberapa staf berlalu-lalang. “Kalau ada urusan yang menyangkut posisi atau penilaianmu, jangan diam. Kamu berhak tahu bagaimana keputusan dibuat.”
Aara menatapnya. “Bu Okta, apakah dulu ada masalah ketika Pak Harist dekat dengan Naomi?”
Okta terdiam sesaat. “Saya tidak tahu semua urusan pribadi mereka. Tapi Pak Rendy pernah menegur Harist soal batas antara pekerjaan dan hubungan pribadi. Waktu itu orang-orang mulai bertanya-tanya karena Harist sering mengubah jadwal dan terlalu melibatkan Naomi dalam beberapa kegiatan.”
“Apakah Naomi bekerja di sini?”
“Tidak. Tapi kedekatan mereka tetap menjadi bahan pembicaraan karena Harist punya jabatan. Orang kadang menyimpulkan macam-macam tanpa bukti.”
Aara menunduk. “Jadi bukan hanya aturan tentang sesama karyawan.”
“Betul. Aturan itu satu hal. Persepsi orang hal lain. Saya tidak bilang kamu harus mundur. Saya hanya ingin kamu siap menjaga profesionalitas dan mencatat kalau ada perlakuan yang tidak adil.”
“Aku tidak ingin dianggap mendapat kemudahan.”
“Kalau pekerjaanmu memang baik, simpan bukti hasilnya. Jangan pula menerima beban lebih hanya untuk membuktikan diri. Kamu berhak diperlakukan sama.”
Aara mengangguk. “Terima kasih sudah jujur.”
Okta tersenyum tipis. “Saya pernah melihat banyak gosip membuat orang lelah. Jangan biarkan cerita orang lain menentukan siapa dirimu.”
Nasihat itu dimaksudkan untuk menenangkan, tetapi justru membuat Aara memikirkan kemungkinan terburuk. Ia membayangkan namanya dipasangkan dengan Naomi di lorong kantor, atau orang-orang bertanya apakah ia hanya pelarian setelah mantan Harist pergi.
Sore itu, Harist mengirim pesan bahwa prosedur pelaporan sementara berjalan sesuai rencana. Aara membalas bahwa ia sudah berbicara dengan Okta dan mengetahui Pak Rendy pernah menegurnya soal Naomi.
Harist menelepon setelah jam kerja. “Kamu marah karena aku tidak menceritakan semuanya?”
“Okta memperjelas cerita yang kamu sampaikan kemarin. Aku masih tidak nyaman membayangkan bagaimana pengalaman itu bisa memengaruhi penilaian orang terhadap pekerjaanku.”
“Kamu benar. Aku tidak akan membela diri.”
“Aku tahu kamu tidak memberi aku perlakuan khusus, tapi aku tetap khawatir orang akan membuat kesimpulan sendiri.”
“Aku juga khawatir. Aku tidak ingin kamu jadi bahan gunjingan.”
“Kalau begitu, kita harus punya rencana. Bukan hanya mengatakan akan berhati-hati.”
Harist setuju untuk kembali berbicara dengan Pak Rendy tentang prosedur tertulis, termasuk siapa yang meninjau pekerjaan Aara dan bagaimana menjelaskan perubahan itu kepada tim. Ia juga menawarkan agar Aara hadir dalam pertemuan berikutnya.
“Aku tidak mau kamu membuat keputusan tanpa aku,” kata Aara.
“Aku tidak akan.”
Mereka berbicara cukup lama. Aara menjelaskan bahwa ia tidak ingin hubungan mereka menjadi rahasia, tetapi ia juga tidak ingin diumumkan secara terburu-buru sebelum prosedur jelas. Harist mengatakan ia memahami perbedaan antara privasi dan menyembunyikan hubungan.
Setelah telepon ditutup, Aara tetap merasa gelisah. Ia membuka buku kecilnya dan menulis semua kekhawatiran yang muncul. Ia tidak ingin melampiaskannya kepada Harist sebelum memahami apa yang benar-benar ia takutkan.
***
Aara mencoba menjalani hari seperti biasa. Ia mengirim laporan melalui jalur resmi, memeriksa bukti transaksi, dan menghadiri rapat kecil dengan Niken. Tak ada yang membahas hubungannya dengan Harist. Namun, peringatan Pak Rendy dan cerita Okta terus terngiang.
Saat rapat selesai, Niken berjalan bersamanya ke ruang keuangan. “Kamu masih memikirkan sesuatu?”
Aara mempertimbangkan untuk menjawab tidak, tetapi ia lelah berpura-pura. “Aku sedang khawatir soal omongan orang.”
“Omongan apa?”
“Belum ada yang pasti. Aku cuma tahu dulu kedekatan Harist dengan Naomi pernah jadi bahan pembicaraan kantor.”
Niken mengangguk. “Orang memang suka menghubungkan hal yang tidak mereka tahu.”
“Kalau nanti mereka menganggap aku hanya pelarian?”
“Kalau mereka berkata begitu, itu tidak otomatis menjadikannya benar. Tapi kamu bisa meminta Harist memastikan kalian menjalani hubungan dengan jelas.”
“Aku sudah memintanya.”
“Bagus. Jangan menanggung kecemasan sendirian.”
Aara berterima kasih. Ia kembali ke meja dan mencoba fokus pada dokumen. Siang hari, Harist melewati ruang keuangan bersama Pak Rendy. Ia menyapa semua orang secara formal, termasuk Aara. Tidak ada perhatian khusus. Sikap itu seharusnya membuat Aara lega, tetapi ia juga takut orang akan melihat mereka seperti tak pernah punya kedekatan.
Ia mengingat perjanjian mereka: menjaga profesionalitas, tidak berpura-pura tidak saling mengenal jika ditanya, dan tidak menggunakan jabatan untuk memengaruhi pekerjaan. Mereka belum mengumumkan hubungan kepada kantor. Aara mulai bertanya-tanya berapa lama privasi itu bisa dijaga sebelum berubah menjadi persembunyian.
Setelah jam kerja, Harist menemuinya di taman. Ia memberi kabar bahwa Pak Rendy meminta sekretariat menyusun panduan tertulis, tetapi prosesnya mungkin memerlukan waktu.
“Untuk sementara, jalur penilaianmu tetap lewat Pak Rendy?” tanya Aara.
“Ya. Tidak ada perubahan sampai prosedurnya selesai.”
“Dan kalau ada orang bertanya kenapa?”
“Kita bisa mengatakan ada penyesuaian jalur persetujuan untuk menghindari konflik kepentingan. Kita tidak harus mengumumkan kehidupan pribadi.”
Aara mengangguk, tetapi tidak tampak sepenuhnya tenang.
“Aku khawatir,” katanya. “Bukan karena aku tidak percaya kepadamu. Aku takut nama kita menjadi cerita yang dibuat orang lain.”
“Aku tidak bisa mengendalikan semua omongan. Tapi aku bisa memastikan tindakanku tidak memberi alasan yang bisa dihindari.”
“Bagaimana caranya?”
“Tidak mengubah jadwal kerja untuk kepentingan pribadi, tidak memberi kamu fasilitas khusus, dan tidak meminta kamu menutup-nutupi kalau ditanya langsung.”
“Dan kalau kabar soal Naomi muncul lagi?”
“Aku akan memberi tahu kamu lebih dulu. Aku tidak akan membiarkan kamu mendengarnya dari orang lain.”
Aara memandang Harist. “Aku ingin percaya pada itu. Tapi aku butuh waktu.”
“Aku akan memberi waktu.”
Harist tidak mencoba menggenggam tangannya. Mereka duduk berdampingan sambil membicarakan pekerjaan dan rencana akhir pekan. Sebelum pulang, Aara merasa sedikit lebih tenang, tetapi masih belum yakin apakah hubungan mereka akan mampu bertahan menghadapi perhatian kantor.