Pagi itu, Aara baru saja membuka laporan pembayaran ketika notifikasi grup kantor muncul berturut-turut. Biasanya ia mengabaikannya sampai jam istirahat. Namun, kali ini beberapa rekan yang duduk tidak jauh darinya ikut menatap ponsel, lalu saling melirik.
Aqila menghampiri mejanya. “Kamu sudah lihat grup?”
“Belum. Ada apa?”
“Sepertinya ada foto lama Harist dan Naomi.”
Aara berhenti mengetik. Ia membuka grup kerja. Sebuah gambar memperlihatkan Harist dan Naomi duduk di bangku taman dekat persimpangan. Keduanya tampak lebih muda, tertawa ke arah kamera. Di bawah foto ada pesan singkat bahwa Naomi sudah kembali ke kota.
Aara memperbesar gambar. Ia mengenali bangku itu, tempat yang sama dengan tempat ia bertemu Naomi beberapa minggu lalu. Foto tersebut jelas diambil sebelum Naomi pergi. Aara dapat melihat akun yang meneruskan gambar itu, tetapi tidak mengetahui siapa pemotret atau sumber awalnya.
Beberapa pesan bermunculan.
“Ini foto lama?”
“Katanya Naomi sudah pulang.”
“Mereka dulu dekat, ya?”
Aara mematikan layar. Ia mencoba kembali ke laporan, tetapi angka-angka seolah bergeser. Ia sudah tahu Naomi kembali. Yang membuatnya terganggu adalah melihat masa lalu mereka ditampilkan kepada banyak orang, seolah seluruh kantor berhak menyusun cerita dari satu foto.
Aqila menarik kursi di sampingnya. “Kamu baik-baik saja?”
“Aku tidak tahu harus merasa apa. Foto itu lama, tapi kabar dia kembali memang benar.”
“Harist sudah tahu foto ini beredar?”
“Aku tidak tahu.”
Aqila melihatnya dengan hati-hati. “Kamu mau menghubunginya?”
Aara menatap layar komputernya. “Aku ingin bertanya, tapi aku tidak mau melakukannya hanya karena panik. Aku akan menunggu sampai bisa bicara tenang.”
Ia menyimpan tangkapan layar untuk dirinya sendiri, lalu kembali memeriksa angka. Ia tidak membalas pesan di grup. Ia tidak ingin menjadikan dirinya bagian dari percakapan yang menilai masa lalu Harist dan Naomi.
Menjelang siang, Pak Rendy masuk ke ruang keuangan untuk membahas dokumen. Ia menyapa semua orang, lalu meminta Aara menjelaskan perubahan jalur persetujuan.
“Pak, semua dokumen sudah saya kirim melalui sistem. Saya belum melihat ada yang tertunda,” katanya.
“Bagus. Kalau ada kendala, laporkan.”
“Baik, Pak.”
Pak Rendy keluar tanpa menyinggung foto. Aara lega sekaligus merasa aneh. Ia takut gosip itu menyentuh pekerjaan, tetapi tidak ingin orang-orang mengaitkan setiap tindakan resmi dengan hubungan pribadinya.
Di kantin, Niken duduk bersama Aqila dan Aara. Ia tampak ragu sebelum bicara.
“Foto di grup itu sudah ramai,” katanya.
“Aku lihat,” jawab Aara.
“Orang-orang cuma bertanya. Belum semua punya pendapat.”
Aara mengaduk makanannya. “Aku tidak mau membicarakan masa lalu Harist dari foto.”
“Aku juga tidak,” ujar Niken. “Aku hanya ingin kamu tahu karena kamu mungkin akan mendengar versi yang lebih buruk.”
“Terima kasih sudah memberitahuku.”
Aqila menambahkan, “Satu foto tidak menjelaskan hubungan mereka sekarang.”
Aara mengangguk. Ia tahu itu. Namun, melihat Harist dan Naomi tertawa bersama membuatnya teringat bahwa mereka pernah memiliki kehidupan sebelum Aara mengenal Harist. Ia tidak ingin merasa tersaingi, tetapi tubuhnya menegang sebelum pikirannya sempat menenangkan diri.
Setelah makan siang, Aara kembali ke meja. Ada satu pesan dari Harist, tetapi isinya hanya tentang laporan yang ia kirim pagi itu. Ia menjawab secara profesional. Ia tidak menyebut foto. Harist pun tidak.
Sore hari, mereka berpapasan di lorong. Harist tampak membawa map menuju ruang Pak Rendy.
“Laporan revisi sudah masuk?” tanyanya.
“Sudah, Pak. Pak Rendy sedang meninjau.”
“Baik. Terima kasih.”
Aara ingin berkata bahwa ia melihat foto lama itu di grup. Namun, beberapa karyawan lewat dan percakapan mereka berhenti di situ. Ia tidak ingin bertanya dengan nada cemburu di depan orang.
Sebelum pulang, Okta meminta semua orang tidak memakai grup kerja untuk membahas urusan pribadi. “Grup ini untuk informasi pekerjaan,” katanya. “Kalau kalian punya pertanyaan, jangan menyebarkan dugaan.”
Beberapa orang mengangguk dan kembali ke tugas masing-masing. Aara merasa lega Okta menetapkan batas, tetapi ia sadar foto itu sudah terlanjur dilihat banyak orang. Ia tidak tahu siapa yang pertama membagikannya atau apa tujuan orang itu.
Dalam perjalanan pulang, ia mencoba mengingat kembali pertemuannya dengan Naomi. Perempuan itu tidak pernah mengatakan ingin kembali kepada Harist. Bahkan saat bertemu di taman, Naomi tampak terkejut dan kehilangan kata-kata. Mungkin foto itu memang hanya kenangan lama. Namun kabar kepulangannya membuat orang menghubungkan foto itu dengan keadaan sekarang.
Aara tidak ingin meminta Harist menghapus masa lalunya. Ia hanya ingin tahu apakah ada hal baru yang perlu ia ketahui. Ia membuka percakapan mereka, mengetik “Aku melihat foto di grup,” lalu menghapusnya. Ia ingin menunggu sampai bisa bicara tanpa membuat Harist merasa sedang diinterogasi.
Malamnya, Aara membuka kembali gambar itu di ponsel. Ia memeriksa komentar, tetapi tidak menemukan keterangan baru. Ia lalu meletakkan ponsel di meja. Ia akan menanyakan langsung kepada Harist ketika mereka bisa bicara berdua. Ia tidak ingin menebak, tetapi ia juga tidak bisa berpura-pura bahwa foto itu tidak mengusik hatinya.
***
Keesokan harinya, Aara datang lebih awal dan menyelesaikan rekonsiliasi yang tertunda. Ia berusaha menjaga rutinitas supaya pikirannya tidak kembali ke foto. Namun, beberapa rekan di lorong berhenti bicara saat ia mendekat. Ia tidak tahu apakah mereka membicarakan dirinya atau hal lain.
Ketika Aara membawa dokumen ke meja Niken, Niken memanggilnya pelan.
“Aku perlu bilang sesuatu, tapi aku tidak ingin menambah kecemasanmu.”
“Katakan saja.”
“Beberapa orang mulai mengira Harist dan Naomi akan kembali bersama. Ada juga yang bilang kamu mungkin hanya pelarian.”
Aara menegang. Ia sudah membayangkan kemungkinan itu, tetapi mendengarnya langsung terasa berbeda.
“Siapa yang bilang?”
“Aku tidak mau menyebut nama. Aku tidak ingin membuatmu menghadapi orang-orang itu berdasarkan percakapan yang belum tentu mereka ulangi. Aku hanya ingin kamu tahu apa yang sedang dibicarakan.”
Aara meletakkan map di meja. “Terima kasih karena memberitahuku. Tapi aku tidak ingin kita ikut menyebarkan.”
“Benar. Aku juga tidak setuju dengan mereka. Foto lama tidak membuktikan apa-apa tentang hubungan kalian.”
Aara menatap Niken. “Aku tidak tahu harus menjawab apa kalau ada yang bertanya.”
“Kamu tidak wajib menjelaskan kehidupan pribadi kepada semua orang. Kamu bisa mengatakan bahwa urusan pekerjaan tetap profesional dan meminta mereka berhenti membuat dugaan.”
“Aku takut kalau diam, mereka menganggap cerita itu benar.”
“Kalau kamu menjawab semua orang, mereka bisa terus meminta rincian. Pilih jawaban yang menjaga batasmu.”
Aara mengangguk. Ia berterima kasih, lalu kembali ke mejanya. Sepanjang pagi, ia bekerja dengan rahang mengeras. Ia tidak ingin membiarkan komentar itu merusak hasil kerjanya, tetapi ia merasa dipermalukan oleh sesuatu yang tidak pernah ia ucapkan.
Saat istirahat, Aqila menghampirinya. “Niken cerita?”
Aara mengangguk.
“Orang kantor sering menyusun cerita dari potongan kecil.”
“Aku sudah berusaha tidak menganggap hubungan kami sebagai rahasia. Tapi sekarang aku takut hubungan itu memang terlihat seperti sesuatu yang disembunyikan.”
“Kalian belum mengumumkannya karena prosedur kerja belum selesai. Itu berbeda dari menyangkalnya.”
“Bagaimana orang lain tahu bedanya?”
“Mereka mungkin tidak tahu. Tapi kamu dan Harist tahu apa yang kalian sepakati. Kalau ada yang bertanya, kalian bisa menjawab konsisten.”
Aara menarik napas. Ia tahu Aqila berusaha menenangkannya, tetapi kata “pelarian” tetap tertinggal. Ia takut orang-orang melihat dirinya sebagai seseorang yang dipilih setelah Naomi pergi, bukan sebagai perempuan yang dipilih karena dirinya sendiri.
Siang itu, ia mengirim pesan kepada Harist: “Aku perlu bicara tentang foto di grup dan kabar yang beredar. Bisa bertemu setelah kerja?”
Harist menjawab beberapa menit kemudian: “Bisa. Aku ada rapat sampai sore. Aku akan kabari setelah selesai.”
Aara menunggu kabar itu sepanjang sisa jam kerja. Ia tidak ingin menelepon atau mengirim pesan berulang kali. Ia menyelesaikan tugas dan memastikan laporan tidak tertunda.
Menjelang pulang, Niken mengembalikan map yang tadi ia pinjam. “Kalau ada yang bicara langsung, kamu boleh bilang bahwa itu bukan urusan mereka.”
“Aku akan mencoba menjawab tenang.”
“Kamu tidak harus menghadapi semuanya hari ini.”
Aara tersenyum tipis. Ia menyukai perhatian Niken, tetapi tidak ingin teman-temannya harus terus menjaga dirinya dari gosip. Ia ingin Harist juga menyadari bahwa situasi itu bisa melukai, meski ia belum tahu apakah ia mampu menjelaskannya tanpa terdengar menuduh.
Harist belum mengabari sampai Aara sampai di rumah. Ia lalu mengirim pesan bahwa rapat molor dan ia belum bisa bertemu. Ia meminta maaf dan berkata akan menghubungi besok.
Aara membaca pesan itu beberapa kali. Ia menahan keinginan untuk menulis bahwa ia sudah cukup lama menunggu kejelasan. Ia hanya menjawab, “Baik. Kabari aku besok.”