Harist mengirim pesan keesokan paginya, meminta maaf karena belum sempat bicara. Ia berkata ada urusan yang harus ia selesaikan dan akan menghubungi Aara setelah jam kerja. Aara membalas bahwa ia mengerti, tetapi berharap mereka tidak menunda lagi.
Di kantor, ia melihat Harist berbicara dengan Pak Rendy. Keduanya tampak serius. Ketika rapat selesai, Harist melewati ruang keuangan dan berhenti sebentar.
“Kita bicara nanti, ya,” katanya.
Aara mengangguk. “Aku menunggu kabarmu.”
“Aku tidak lupa.”
Ia ingin bertanya apakah Harist telah melihat foto di grup. Namun, mereka sedang berada di lorong dan beberapa staf di sekitar. Aara memilih kembali ke pekerjaannya.
Siang itu, Aqila membawa kabar bahwa foto tersebut sudah dihapus dari grup oleh admin. Namun, salinannya mungkin telah dikirim ke beberapa percakapan lain.
“Berarti orang-orang akan terus membicarakannya?” tanya Aara.
“Mungkin sebentar. Biasanya mereka pindah ke hal lain.”
“Kalau mereka tidak pindah?”
“Kita hadapi saat itu. Jangan menyiksa dirimu dengan semua kemungkinan.”
Aara mengangguk. Ia mencoba fokus, tetapi setiap notifikasi ponsel membuatnya menoleh. Tidak ada pesan dari Harist.
Niken melintas membawa berkas. “Kamu sedang menunggu kabar?”
“Sedikit. Harist bilang akan menghubungiku.”
“Kalau belum ada, coba selesaikan dulu pekerjaanmu. Kamu tidak bisa mengendalikan kapan dia membalas.”
“Aku tahu. Aku hanya berharap dia tidak lupa.”
“Kalau lupa, kamu bisa mengingatkannya. Tapi jangan biarkan seluruh harimu berhenti.”
Aara mengangguk. Ia kembali melihat angka pada layar dan memeriksa satu transaksi sampai selesai.
Sore harinya, ia melihat Harist keluar kantor lebih cepat dari biasanya. Ia tidak membawa tas kerja, hanya ponsel dan kunci mobil. Harist melewati lobi dengan langkah tergesa. Aara berdiri di dekat meja resepsionis karena hendak menyerahkan dokumen, dan mata mereka sempat bertemu.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Aara.
“Ada urusan mendesak. Aku harus pergi ke rumah sakit.”
“Apakah ada yang sakit?”
“Aku belum tahu jelas. Aku akan kabari setelahnya.”
“Kalau ada yang bisa kubantu, katakan.”
“Terima kasih. Aku harus memastikan keadaan dulu.”
Aara menatapnya, berusaha membaca wajahnya. “Baik. Jangan lupa kabari aku.”
“Aku tidak lupa.”
Aara ingin bertanya apakah Naomi ada di rumah sakit, tetapi ia belum memiliki alasan untuk menduga. Ia juga tidak ingin membuat Harist terlambat jika memang ada keadaan darurat.
“Baik. Kabari aku,” ujarnya.
Harist mengangguk dan pergi. Aara melihat mobilnya keluar dari area parkir. Ia kembali ke meja, menyelesaikan dokumen, lalu mencoba meyakinkan diri bahwa urusan rumah sakit tidak selalu berkaitan dengan Naomi atau foto itu.
Di dalam mobil, Harist membaca pesan Naomi: “Ibu sedang dirawat di Bhakti Husada. Beliau ingin bertemu dan menyampaikan sesuatu kepadamu sendiri. Kalau kamu bersedia datang sebentar, aku berterima kasih.” Dalam pesan berikutnya Naomi menjelaskan bahwa Devan sedang bertugas di luar kota dan bibinya baru dapat menyusul malam itu. Percakapan Harist dan Naomi di taman sudah menutup hubungan lama mereka; yang kini meminta bertemu adalah ibunya. Harist tahu ia tetap perlu memberi tahu Aara sebelum datang.
Ia mulai mengetik pesan, tetapi telepon kembali bergetar. Naomi menulis bahwa ibunya sedang menunggu dan keadaannya membuat Naomi panik. Harist menyalakan mesin. Ia berpikir akan menjelaskan kepada Aara setelah memastikan keadaan di rumah sakit, lalu menyadari bahwa “setelah” adalah kata yang sama yang sudah terlalu sering ia gunakan.
Namun, ia tetap pergi tanpa mengirim pesan. Ia mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa keadaan mendesak dan ia tidak ingin membuat Aara cemas sebelum tahu apa yang terjadi. Ia tahu diam itu dapat melukai Aara, tetapi tetap memilih menunda kabar yang seharusnya dapat ditulis singkat.
Di rumah sakit, Naomi menyambutnya di koridor. “Terima kasih sudah datang. Ibu ingin melihatmu sebentar.”
“Apa kondisinya?”
“Dokter sedang memeriksa. Aku belum tahu banyak.”
Harist mengikuti Naomi ke ruang tunggu. Ia tidak tahu berapa lama mereka akan berada di sana. Ia berencana menghubungi Aara setelah keadaan lebih tenang, tetapi ponselnya terus menerima panggilan dari bagian administrasi dan ia membiarkannya bergetar di saku.
Malamnya, Harist tidak menghubunginya. Aara mengirim satu pesan: “Semoga urusanmu baik-baik saja. Aku masih menunggu percakapan kita.”
Pesan itu terkirim, tetapi tidak segera dibaca. Aara meletakkan ponsel. Ia merasa marah sekaligus khawatir. Ia tidak ingin menuduh Harist, tetapi ia juga tidak ingin mengulang kebiasaan lama menunggu tanpa kepastian.
Keesokan paginya, Harist datang ke kantor. Ia menyapa Aara seperti biasa, tetapi tampak lebih lelah. Aara tidak mendekatinya. Ia menunggu sampai Harist sendiri menghubunginya seperti yang dijanjikan.
Pada jam istirahat, ia menerima pesan pendek: “Aku akan bicara setelah kerja. Maaf kemarin tidak sempat menghubungi.”
Aara membalas, “Aku ingin mendengar semuanya.”
Ia merasa kalimat itu cukup. Ia tidak ingin menambahkan tuntutan melalui pesan. Namun, rasa gelisahnya semakin besar. Ia bertanya-tanya apakah Harist pergi ke rumah sakit untuk menemui Naomi dan mengapa ia tidak mengatakan lebih banyak.
Sore hari, Harist mengirim pesan bahwa ia harus kembali ke rumah sakit dan akan menjelaskan setelah urusan selesai. Aara menatap layar lama. Ia ingin bertanya siapa yang sakit, tetapi menahan diri. Ia tidak mau menjadi orang yang memaksa seseorang menjawab di tengah keadaan mendesak.
Namun, janji percakapan mereka kembali bergeser. Aara mulai merasa bahwa penundaan kali ini bukan sekadar soal waktu. Ia tetap berusaha memberi Harist kesempatan, tetapi kepercayaan yang baru dibangun mulai goyah.
***
Pada sore yang sama, Aara mengantar dokumen ke kantor cabang administrasi yang tidak jauh dari Rumah Sakit Bhakti Husada. Sesudah menyerahkan berkas, ia berjalan ke arah halte di sisi rumah sakit. Ia tidak berencana mencari Harist dan tidak tahu apakah lelaki itu berada di sana.
Di dekat akses parkir rumah sakit, Aara melihat mobil Harist. Ia berhenti. Nomor kendaraannya tidak mungkin tertukar. Ia memeriksa jam, lalu berpikir mungkin Harist datang untuk urusan lain.
Aara melangkah ke dalam lobi rumah sakit. Ia tidak ingin menguntit, tetapi ingin memastikan apakah ada keadaan darurat yang perlu ia ketahui. Ia bertanya kepada petugas arah menuju ruang tunggu umum, lalu berjalan ke koridor yang mengarah ke bagian rawat jalan.
Dari balik kaca ruang tunggu, ia melihat Harist duduk berhadapan dengan Naomi. Naomi tampak lelah. Ia memegang map rumah sakit, sementara Harist menunduk mendengarkan. Mereka berbicara dengan serius. Tidak ada sentuhan atau tawa, tetapi kedekatan mereka membuat Aara terdiam.
Ia tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Ia juga tidak tahu apakah pertemuan itu berkaitan dengan foto, permintaan maaf, atau hal lain. Yang ia tahu, Harist telah mengatakan akan pergi ke rumah sakit tanpa menyebut Naomi dan kemudian menunda penjelasan.
Aara merasa tenggorokannya mengering. Ia teringat janji Harist bahwa ia akan memberitahunya jika bertemu Naomi. Ia teringat ucapannya sendiri: ia tidak meminta izin, hanya tidak ingin mengetahui dari orang lain. Kini ia melihatnya sendiri secara kebetulan.
Ia mundur dari kaca sebelum Harist menoleh. Ia tidak ingin membuat keributan di rumah sakit atau memaksa Naomi menjelaskan sesuatu yang bukan urusannya. Ia berjalan kembali ke lobi, tangannya menggenggam tali tas terlalu erat.
Di luar, ia berhenti dekat pintu dan mengirim pesan kepada Harist: “Aku melihatmu di rumah sakit bersama Naomi. Aku tidak akan mengganggu. Aku menunggu penjelasanmu, seperti yang sudah kamu janjikan.”
Pesan terkirim. Aara menatap layar, berharap Harist membacanya dan segera menjawab. Tidak ada tanda pesan dibaca. Ia memasukkan ponsel ke tas dan kembali ke kantor.
Sepanjang perjalanan, ia berusaha mencari alasan yang masuk akal. Mungkin ibu Naomi sakit. Mungkin ada urusan yang harus diselesaikan. Namun, alasan yang mungkin tidak menghapus kenyataan bahwa Harist tidak memberi tahu Aara, padahal mereka sudah menyepakati keterbukaan.
Aara tidak tahu apakah pertemuan itu berarti Harist kembali kepada Naomi. Ia tidak ingin menyimpulkan begitu hanya dari satu pemandangan. Namun, komentar di kantor, foto lama, dan pertemuan yang disembunyikan menumpuk di kepalanya.
Ketika sampai di ruang keuangan, Niken bertanya apakah dokumen sudah diserahkan.
“Sudah,” jawab Aara singkat.
“Kamu kelihatan pucat. Perlu duduk?”
“Aku baik-baik saja.”
Niken tidak memaksa. Aara duduk dan membuka komputer, tetapi tidak segera bekerja. Ia membaca pesan yang belum dibalas. Harist belum menjelaskan kenapa ia bertemu Naomi di rumah sakit.