Menjelang sore, Harist akhirnya membaca pesan Aara. Tidak ada balasan selama beberapa menit. Lalu sebuah pesan masuk: “Aku melihat pesanmu. Aku akan jelaskan. Tolong beri aku waktu sampai malam.”
Aara membaca kalimat itu. Ia merasa lelah mendengar permintaan waktu lagi. Namun, ia juga belum tahu apa yang terjadi di rumah sakit. Ia menjawab, “Baik. Malam ini, aku ingin mendengar penjelasan yang jujur.”
Harist membalas, “Aku mengerti.”
Aara mencoba menyelesaikan pekerjaannya, tetapi sulit fokus. Setiap kali melihat ruang direktur, ia bertanya-tanya apakah Harist sedang menunggu waktu yang tepat atau sedang memilih kata yang akan membuatnya tenang. Ia tidak ingin menghakimi sebelum mendengar, tetapi ia tidak bisa menghapus apa yang ia lihat.
Aqila datang membawa map. “Kamu sudah makan?”
“Belum.”
“Ambil waktu sebentar. Kamu tidak bisa terus menatap layar tanpa membaca apa pun.”
Aara mengikuti Aqila ke kantin. Ia tidak menceritakan pertemuan di rumah sakit. Ia belum siap menyebutkannya, dan ia tidak ingin menyebarkan cerita yang belum ia pahami.
Aqila membeli dua minuman. “Kamu tidak harus cerita. Aku hanya tidak mau kamu duduk sendirian sampai malam.”
“Terima kasih.”
Mereka duduk. Aara mencoba meminum teh, tetapi rasanya hambar. Aqila bercerita tentang pelatihan dan jadwal rapat yang berubah. Aara mendengarkan, menjawab sesekali, lalu kembali memeriksa ponsel.
“Kalau ada yang membuatmu tidak nyaman, kamu boleh menunda percakapan sampai siap,” kata Aqila.
“Aku ingin mendengar penjelasannya dulu.”
“Baik. Tapi kamu tidak wajib langsung menerima jawaban.”
Kalimat itu membantu Aara. Ia tidak perlu memilih antara percaya sepenuhnya atau memutus hubungan sebelum mendengar. Ia bisa mendengarkan dan tetap menjaga batas.
Setelah jam kerja, Aara menunggu di luar gedung. Harist mengirim pesan bahwa ia masih di rumah sakit dan belum bisa pulang. Ia meminta maaf karena penjelasan malam itu akan terlambat.
Aara membaca pesan tersebut dengan dada berat. Ia melihat kembali gambar di grup, lalu teringat Naomi di taman bersama Harist. Ia tahu foto itu lama, tetapi rumor membuatnya merasa seolah ia sedang berdiri di luar hubungan yang sudah berlangsung lama.
Ia membalas, “Aku tidak akan menunggu di kantor. Kalau kamu ingin bicara, hubungi aku besok.”
Ia membaca pesannya sekali lagi sebelum mengirim. Ia tidak menambahkan tuduhan atau meminta Harist meninggalkan Naomi. Ia hanya menyatakan apa yang ia lihat dan apa yang ia harapkan: penjelasan yang jujur.
Aara kemudian menghapus draf pesan lain yang sempat ia tulis. Di dalamnya ia bertanya apakah Harist masih mencintai Naomi. Ia sadar pertanyaan itu tidak akan dijawab baik-baik lewat layar, terutama ketika ia belum tahu alasan pertemuan di rumah sakit. Ia akan menunggu sampai mereka bisa bicara langsung.
Dalam perjalanan pulang, lampu-lampu kota tampak buram karena matanya berkaca-kaca. Ia berusaha mengatur napas dan mengingat bahwa satu adegan tidak menceritakan keseluruhan hubungan. Namun, janji yang tidak dipenuhi tetap sesuatu yang harus ia hadapi. Ia tidak akan membiarkan rasa cemburu mengubah kenyataan, tetapi ia juga tidak akan mengecilkan rasa kecewanya.
Ia naik kendaraan umum dan pulang. Sepanjang jalan, ia mencoba menenangkan diri. Ia tidak ingin menangis di depan penumpang lain. Ia mengingat Mila dan Dhanis, lalu mengingat janji yang ia buat kepada dirinya sendiri: jika merasa disembunyikan atau dirugikan, ia akan bicara sebelum memilih pergi.
Di rumah, ibunya bertanya kenapa Aara pulang lebih cepat. Aara menjawab bahwa ia lelah. Ibunya tidak mendesak, tetapi meletakkan segelas air di dekatnya.
“Kamu tidak harus menceritakan sekarang,” kata ibunya. “Tapi jangan tanggung sendiri terlalu lama.”
Aara mengangguk. Ia ingin percaya bahwa Harist memiliki alasan, tetapi ia juga tidak mau mengabaikan rasa sakit yang muncul karena tidak diberi tahu.
Malam itu, ponselnya tetap sunyi. Tidak ada penjelasan dari Harist. Aara mematikan layar, lalu menaruhnya di meja. Ia tidak akan mengejar jawaban lewat pesan berulang-ulang.
Keesokan harinya, ia akan mendengar apa yang Harist katakan. Namun, kali ini ia tidak ingin menjadi orang yang menunggu sambil membayangkan kemungkinan terbaik. Ia akan menilai penjelasan itu bersama tindakannya, lalu menentukan apakah hubungan ini masih terasa aman baginya.
Akhirnya Aara menceritakan bahwa ia melihat Harist dan Naomi di ruang tunggu rumah sakit, tetapi belum mengetahui alasan pertemuan itu. Ibunya duduk di tepi ranjang. “Kamu melihat mereka bersama?”
Aara mengangguk. “Di rumah sakit. Aku tidak tahu kenapa Harist ke sana.”
“Kamu sudah bertanya?”
“Aku mengirim pesan. Dia bilang akan menjelaskan, lalu belum bisa bicara.”
Ibunya mengusap punggung Aara. “Kalau ada orang sakit, mungkin memang ada keadaan mendesak. Tapi kamu tetap boleh kecewa karena dia tidak memberi kabar.”
“Aku takut terlihat egois kalau mempermasalahkannya.”
“Meminta kejujuran bukan berarti kamu menghalangi orang menolong.”
Aara menutup mata. Ia tahu ibunya benar, tetapi ia juga tahu ketakutannya tidak sesederhana cemburu. Ia pernah menunggu Dhanis memilihnya dan tidak ingin kembali berada dalam posisi yang hanya menerima penjelasan setelah semuanya terjadi.
“Aku akan mendengar Harist,” katanya. “Tapi aku tidak tahu apakah aku bisa langsung percaya.”
“Kamu tidak harus memutuskan malam ini.”
Aara mengangguk. Ia membiarkan ibunya duduk di sana sampai napasnya lebih teratur. Besok ia akan menghadapi percakapan itu, meski sebagian dirinya sudah bersiap menarik diri jika sekali lagi ia merasa disembunyikan.
Sebelum tidur, Aara memeriksa ponselnya sekali. Pesan Harist belum masuk. Ia meletakkan perangkat itu di laci agar tidak terbangun setiap kali layar menyala. Ia ingin datang ke kantor esok hari dengan pikiran jernih, sekalipun hatinya belum tenang.
Ia tidak tahu penjelasan apa yang akan diberikan Harist. Ia hanya tahu bahwa ia akan mendengarkan dan bertanya langsung. Jika jawabannya masuk akal, mereka masih perlu membicarakan kenapa janji mereka tidak dijalankan. Jika jawabannya membuatnya merasa terus disisihkan, ia tidak akan berpura-pura baik-baik saja.
Aara mematikan lampu. Untuk malam itu, ia membiarkan pertanyaan tetap terbuka tanpa menjadikannya keputusan akhir. Ia juga berusaha mengingat bahwa Naomi bukan orang yang membuat janji kepadanya. Yang perlu ia bicarakan adalah sikap Harist dan batas yang mereka sepakati.