Aara datang lebih pagi ke kantor. Ia membuka laporan, tetapi matanya berkali-kali melirik ponsel yang diletakkan telungkup di meja. Sejak malam sebelumnya ia menunggu penjelasan Harist, lalu menyesali dirinya sendiri karena masih menunggu.
Sebuah pesan masuk. “Aku sudah di kantor. Bisa kita bicara sebelum rapat?”
Aara tidak membalas. Beberapa menit kemudian Harist muncul di dekat mejanya.
“Kamu sudah membaca pesanku?”
“Aku sedang bekerja.”
“Aku cuma perlu lima menit.”
“Sekarang bukan waktu yang tepat.”
“Kapan?”
“Aku belum tahu. Jangan bahas ini di kantor.”
Harist mengangguk. “Baik. Tapi pertemuanku dengan Naomi di rumah sakit bukan seperti yang kamu pikirkan.”
Aara menelan ludah. Ia ingin bertanya, tetapi tidak mau mendengarnya di antara meja kerja dan suara printer. “Aku tidak bilang aku berpikir apa-apa.”
“Kamu mengirim pesan bahwa kamu melihatku.”
“Memang.”
“Aku akan menjelaskan saat kamu siap.”
“Kamu tidak tahu apa yang aku rasakan, Harist.”
“Aku tahu aku membuatmu menunggu.”
“Bukan cuma itu. Aku tidak mau membicarakannya sekarang.”
Harist mundur. “Baik. Aku tetap ada kalau kamu ingin bicara.”
Aara berusaha kembali pada angka-angka. Ia tahu Harist tidak sama dengan Dhanis, tetapi kenangan membuatnya sulit berpikir jernih. Dhanis juga pernah meminta waktu, lalu membiarkannya menunggu tanpa kepastian.
Aara mencoba membaca kembali laporan dari awal. Ia mengecek nomor bukti, tanggal transaksi, dan kolom keterangan satu demi satu. Pekerjaan yang biasanya ia selesaikan dengan cepat terasa lambat karena pikirannya terus menyusun percakapan yang belum terjadi. Ia membayangkan Harist mengatakan bahwa pertemuannya dengan Naomi hanya kebetulan. Ia juga membayangkan penjelasan yang jauh lebih rumit. Setiap kemungkinan membuat dadanya terasa berat.
Ia mengingat percakapan mereka di taman, janji untuk tidak lagi bersembunyi, dan bagaimana belakangan Harist berusaha bertanya sebelum mendekatinya. Jika ia mengabaikan semua itu, ia tidak adil. Namun jika ia menganggap semua perhatian sebagai jaminan, ia juga mengabaikan pelajaran pahit dari masa lalu. Ia perlu mencari jalan di antara kedua sikap itu.
Saat makan siang, Aqila menghampiri. “Kantin?”
“Aku bawa bekal.”
“Kamu biasanya tetap ikut.”
“Aku belum ingin cerita.”
“Baik, aku tidak memaksa. Tapi makan tetap harus. Masalah hati bukan alasan melewatkan nasi.”
“Aku tidak sedang punya masalah hati.”
“Kalau begitu makan demi kesehatan angka-angkamu.”
Aara tertawa kecil. Aqila bercerita tentang jadwal kuliah adiknya dan pelanggan yang salah memasukkan nomor rekening. Untuk beberapa menit, Aara bisa melupakan rumah sakit.
Sebelum pulang, Okta meminta Aara memeriksa satu berkas pembayaran yang harus diserahkan ke bagian lain. Aara melakukannya dengan teliti, meski pekerjaan itu membuatnya pulang sedikit terlambat. Ia tidak ingin masalah pribadi membuat tanggung jawabnya berantakan. Harist melewati mejanya sekali, melihat tumpukan kertas, lalu mengurungkan niat menyapa. Aara menyadari gerakan itu dari sudut mata. Ada rasa terima kasih karena ia tidak dipaksa bicara, sekaligus rasa kehilangan karena jarak itu benar-benar terasa.
Hujan turun deras menjelang jam pulang. Di lobi, Harist menawarkan tumpangan.
“Aku bisa antar.”
“Tidak perlu. Aku pesan kendaraan.”
“Aku tidak sedang mencoba membeli maafmu.”
“Aku tahu. Aku cuma ingin pulang sendiri.”
Harist mengangguk. “Baik. Hati-hati.”
Aara naik ke kendaraannya tanpa menoleh. Ia meyakinkan diri bahwa menjaga jarak bukan hukuman, melainkan cara untuk memahami perasaannya. Tetapi di sudut hatinya ia tahu, ia juga sedang berusaha pergi sebelum Harist sempat mengecewakannya.
Di rumah, ibunya bertanya mengapa ia tidak diantar. Aara menjawab bahwa ia ingin pulang sendiri. Ia belum siap menjelaskan lebih jauh.
Malam itu Harist menelepon. Aara membiarkan panggilan berhenti. Pesan datang kemudian: “Kalau kamu belum siap bicara, aku mengerti. Kabari kalau sudah sampai rumah.”
Aara mengetik “sudah”, lalu menghapusnya. Ia menaruh ponsel di meja. Ia tidak ingin menjawab hanya untuk membuat orang lain merasa tenang. Ia berhak meminta kejelasan, tetapi ia belum tahu bagaimana melakukannya tanpa membiarkan masa lalu berbicara lebih keras daripada kenyataan hari ini.
***
Hari kedua, Aara bekerja seperti biasa. Ia menyapa rekan-rekannya, memeriksa transaksi, dan menjaga agar tidak berdua dengan Harist. Ia tidak ingin suasana kantor berubah, tetapi belum sanggup mendengar penjelasan lelaki itu.
Pesan Harist masuk menjelang siang. “Aku tidak ingin menjelaskan lewat telepon. Tapi kalau kamu lebih nyaman, aku bisa menulisnya.” Aara tidak membalas. Ia ingin mendengar langsung, namun belum siap menghadapi jawaban yang mungkin menyakitkan.
Aara mencoba menyelesaikan pekerjaannya tanpa memeriksa ponsel. Ia memindahkan dokumen yang sudah selesai ke folder bersama, menandai transaksi yang perlu ditinjau, lalu mengirim catatan singkat kepada Okta. Rutinitas kantor setidaknya memberinya sesuatu yang jelas: angka yang salah bisa dicari, berkas yang kurang bisa diminta. Perasaannya sendiri tidak sesederhana itu.
Ia beberapa kali melihat ruang direktur. Harist tampak sibuk mengikuti rapat. Aara bertanya-tanya apakah lelaki itu juga memikirkan percakapan mereka atau sudah memilih menunggu saja. Ia segera menghentikan dugaan itu. Ia meminta waktu, jadi ia tidak berhak menuntut Harist menebak kapan ia siap.
Aqila membawa map transaksi. “Tolong cek angka ini. Sepertinya ada yang tertukar.”
“Aku periksa.”
“Kamu baik-baik saja?”
“Kenapa semua orang menanyakan itu?”
“Karena wajahmu seperti orang yang bernegosiasi dengan spreadsheet dan kalah.”
Aara tersenyum tipis. “Aku cuma kurang tidur.”
“Jangan ambil keputusan besar saat sedang marah atau takut.”
“Aku belum memutuskan apa-apa.”
“Bagus. Aku cuma teman yang belum dibelikan kopi.”
“Nanti aku belikan.”
“Janji harus ditepati,” kata Aqila, lalu tertawa. “Aku tidak sedang menyindir siapa-siapa.”
Aara tahu Aqila tidak mengetahui persoalannya. Namun kalimat itu tetap membuatnya termenung.
Menjelang akhir jam kerja, Aara merapikan meja lebih lama dari biasanya. Ia memastikan kuitansi kembali ke map yang benar dan menutup seluruh berkas di komputer. Ia sengaja menunggu beberapa rekan keluar agar tidak berpapasan di lift dengan Harist. Namun saat melangkah ke koridor, ia melihat lelaki itu sedang berbicara dengan staf lain. Harist mengakhiri percakapan dan memberi ruang agar Aara lewat. Tidak ada sapaan pribadi, hanya anggukan formal. Aara membalas anggukan itu. Kesopanan kecil tersebut membuatnya sadar bahwa mereka masih bisa menjaga batas tanpa saling menyakiti di depan orang lain.
Sore hari Harist menelepon. Aara membiarkan panggilan pertama berhenti. Panggilan kedua datang dua menit kemudian. Pesan menyusul: “Aku di lobi. Aku cuma ingin memastikan kamu pulang dengan aman. Aku tidak akan memaksamu bicara.”
Aara turun. Harist berdiri dekat pintu kaca dengan payung hitam.
“Kamu tidak perlu melakukan ini,” kata Aara.
“Aku tahu.”
“Kalau tahu, kenapa menunggu?”
“Karena aku khawatir. Tapi aku tidak akan memaksamu naik mobilku.”
“Aku bisa menjaga diriku sendiri.”
“Aku percaya. Kamu sudah siap bicara?”
“Belum. Jangan tanya lagi hari ini.”
“Baik.”
Aara memesan kendaraan. Ketika kendaraan tiba, Harist tidak menahannya.
“Aku pergi setelah kendaraanmu jalan,” katanya.
“Aku tidak meminta itu.”
“Aku tahu. Ini pilihanku.”
Aara naik. Dari jendela ia melihat Harist masih berdiri di lobi, kemudian memalingkan wajah. Perhatian Harist berbeda dari janji Dhanis, tetapi ia belum tahu bagaimana membedakannya tanpa mengambil risiko terluka.
Di rumah, Aara mengirim pesan: “Jangan datang dulu. Aku butuh waktu.” Harist menjawab, “Baik. Aku akan menunggu kabarmu. Jaga kesehatan.”
Ibunya menghampiri saat Aara mengambil buah. “Ada masalah yang belum ingin kamu ceritakan?”
“Aku belum siap menceritakan semuanya.”
“Kamu boleh cerita kalau sudah siap.”
Aara mengangguk. Ia merasa bersalah membiarkan Harist bingung, tetapi juga sadar dirinya berhak mengambil waktu. Malam itu ia berjanji kepada diri sendiri untuk menentukan kapan percakapan itu bisa dilakukan, bukan menghindarinya selamanya.