Hari ketiga, Aara dan Harist berada di lift yang sama. Harist masuk beberapa detik sebelum pintu tertutup. Mereka berdiri berseberangan tanpa bicara. Harist tidak bertanya apa pun. Aara menatap angka lantai sampai pintu terbuka.
Di meja, Aara mencoba fokus pada laporan. Ia tidak ingin menghukum Harist atau menjadikan Naomi musuh. Namun ia juga tidak mau mendengar kabar dari orang lain lalu berpura-pura tidak terluka. Dhanis dahulu selalu memiliki alasan setelah melakukan sesuatu yang menyakitinya. Harist belum tentu sama, tetapi rasa takut tidak bisa langsung dihapus.
Di kantin, Aqila bercerita soal sepatu barunya yang membuat kakinya lecet.
“Sepatunya cantik, tapi punya niat jahat,” keluh Aqila.
“Kamu sendiri yang membelinya.”
“Aku tertipu penampilannya. Kita sering begitu, kan?” Aqila tertawa. “Maksudku sepatu. Jangan menganggap semua hal sebagai kode.”
“Aku tidak menganggapnya kode.”
“Bagus. Kalau jadi kode, aku menagih biaya konsultasi.”
Aara tertawa, walau sebentar. Ia ingin mendengar sisi Harist, tetapi tidak ingin merasa wajib menerima alasan apa pun.
Sepanjang hari Aara berusaha memahami perubahan kecil yang ia rasakan. Saat Harist tidak menghubunginya, ia merasa lega. Beberapa menit kemudian ia merasa kehilangan. Ia tidak suka perasaan yang berubah-ubah itu, tetapi setidaknya ia mulai melihat bahwa ia masih menyayangi lelaki tersebut. Rasa takut tidak otomatis menghapus kasih sayang, sama seperti kasih sayang tidak mewajibkannya menerima apa saja.
Ia menuliskan kalimat itu di secarik kertas, lalu melipatnya dan memasukkannya ke dalam buku catatan. Ia belum berani mengatakannya kepada Harist. Untuk saat ini, cukup baginya mengakui bahwa ia tidak ingin hubungan mereka berakhir karena kesimpulan yang dibuat tanpa bicara. Ia hanya perlu menunggu sampai cukup tenang untuk meminta percakapan yang jujur.
Sore itu Harist mengirim pesan: “Aku tidak akan menghubungimu lagi hari ini. Kalau ada urusan kerja, silakan lewat jalur kantor.” Aara membalas, “Terima kasih.” Harist hanya mengirim tanda jempol.
Aara memandangi simbol itu lama, berharap ada kalimat yang lebih hangat, lalu kesal kepada diri sendiri karena masih berharap.
Sepulang kerja ia mampir ke minimarket. Sepasang anak muda berdebat memilih rasa keripik. Pemandangan itu mengingatkannya pada jajanan yang pernah ia bagi dengan Harist di taman. Kenangan manis itu membuatnya sedih.
Di rumah, ia membantu ibunya menyiapkan makan malam.
“Kalau ada yang kamu pikirkan, kamu bisa cerita,” kata ibunya.
“Aku sedang mencoba memahami perasaanku.”
“Tidak semua hal harus langsung diputuskan.”
“Aku takut keputusan apa pun nanti salah.”
“Kalau kamu memilih dengan jujur, setidaknya kamu tidak mengkhianati dirimu sendiri.”
Aara bertanya apakah ibunya pernah merasa begitu. Ibunya menjawab bahwa semua orang pernah salah memilih dan salah menilai, tetapi hidup tidak berhenti karenanya.
Malamnya Aara membuka laptop kerja. Ia bertanya kepada dirinya sendiri apakah ingin berhenti karena pekerjaannya atau karena takut berada dekat Harist. Apakah mengundurkan diri akan menyelesaikan masalah atau hanya membuatnya kabur sebelum mendengar kebenaran?
Ia menutup laptop tanpa mengetik. Belum ada jawaban. Sebelum tidur, ia membuka percakapan Harist, tetapi tak ada pesan baru. Ia tidak tahu apakah ia berharap ada pesan atau justru takut menerimanya.
Mereka berada di gedung yang sama, tetapi terasa seperti berdiri di dua sisi jalan. Aara tahu ia tidak bisa selamanya diam. Namun ia juga tidak harus menyeberang hanya karena seseorang menunggu. Ia perlu memastikan langkahnya lahir dari keinginannya sendiri, bukan dari takut ditinggalkan.
***
Hari keempat sejak ia mengambil jarak, Aara membuka kembali folder “Pertimbangan Kerja” sebelum berangkat. Draf pengunduran diri yang pernah disimpannya masih ada. Kali ini ia meninjau lagi apakah keinginan pergi itu berasal dari persoalan pekerjaan atau dari kecemasan yang belum dibicarakan.
Kursor berkedip pada kalimat yang belum diselesaikan. Aara mencoba merapikan alasan pengunduran diri, lalu berhenti. Ia belum mempunyai pekerjaan baru dan belum mendengar penjelasan Harist. Ia menyimpan ulang draf itu tanpa mengubahnya menjadi keputusan.
Pesan Harist muncul: “Aku berharap kamu baik-baik saja. Aku akan menunggu sampai kamu siap.” Aara menatap layar. Kesabaran Harist membuatnya sulit menyalahkan lelaki itu. Ia takut penjelasannya nanti masuk akal, tetapi juga takut penjelasan itu tidak cukup.
Sebelum berangkat, Aara sempat membuka kembali berkas draf. Ia membaca kalimat awal dan menyadari belum tahu tanggal terakhir kerja, tata cara pemberitahuan, atau bahkan alasan yang benar-benar ingin ia tulis. Surat itu baru berupa bentuk dari kecemasan, bukan rencana yang matang. Ia menyimpan laptop dan berangkat, tetapi bayangan draf tersebut ikut terbawa sepanjang perjalanan.
Di kantor Aara menyampaikan laporan kepada Okta, membantu Niken merapikan dokumen, dan memeriksa transaksi. Harist hanya membicarakan pekerjaan.
“Rapat jam sepuluh diundur,” katanya.
“Baik. Aku sudah menerima email.”
“Kalau ada yang perlu dibantu, beri tahu aku.”
“Aku bisa menangani pekerjaanku.”
“Aku tahu.” Harist tersenyum tipis lalu pergi.
Aara ingin berkata pekerjaan bukan masalahnya. Yang ia takutkan adalah kebiasaan memberi terlalu banyak ruang kepada orang yang belum memilihnya secara jelas. Namun ia belum mampu mengatakannya.
Siang itu Niken masuk ke ruang istirahat membawa teh. “Kamu kelihatan seperti sedang menulis dokumen penting.”
“Dokumen kerja.” Aara meminimalkan layar.
“Kalau begitu kenapa wajahmu seperti menulis surat wasiat?”
Aara menghela napas. “Aku mempertimbangkan sesuatu.”
“Kalau soal pekerjaan, jangan ambil keputusan hanya karena satu minggu yang berat. Aku pernah mau resign saat marah. Untung aku tidur dulu, lalu sadar yang kubenci cuma rapat panjang.”
Aara tertawa. “Pengalamanmu tidak terlalu menghibur.”
“Tapi berguna. Tunda sehari. Jangan kirim surat saat kepala panas.”
“Aku tidak akan mengirimnya hari ini.”
“Bagus. Minum tehnya sebelum dingin.”
Sepulang kerja, Aara berjalan bersama Aqila.
“Besok pulang bareng aku? Kita mampir beli roti,” kata Aqila.
“Boleh.”
“Aku butuh alasan untuk tidak langsung membantu adikku belajar matematika.”
“Bukannya kamu yang mengajarinya?”
“Dulu dia menganggapku pintar. Sekarang dia kelas enam dan bisa membantah.”
Aara tertawa kecil. Di rumah ia hanya mengatakan kepada ibunya bahwa pekerjaan melelahkan. Ibunya tidak mendesak.
Setelah makan, ibunya menanyakan jadwal kerja Aara untuk akhir pekan. Aara menjelaskan ada satu laporan yang mungkin perlu diselesaikan, tetapi ia tidak akan lembur jika tidak diminta. Ia mulai menyadari bahwa hidupnya tidak hanya terdiri dari persoalan Harist. Ada pekerjaan, keluarga, dan teman-teman yang tetap hadir. Mengingat hal itu tidak menghapus takutnya, tetapi membuat rasa takut tersebut tidak memenuhi seluruh ruang di kepalanya.
Malam itu Aara menyimpan draf dengan nama “Draf—jangan dikirim”. Ia tidak menghapusnya, tetapi tahu itu belum menjadi keputusan. Ia teringat bahwa dirinya meminta ruang kepada Harist, jadi tidak bisa menyalahkannya karena menghormati jarak itu.
Di buku catatan, ia menulis tiga pertanyaan: Apa yang sebenarnya kulihat? Apa yang belum kutanyakan? Apa yang akan kupilih jika tidak takut ditinggalkan? Ia belum menemukan jawaban, tetapi sadar ia tidak harus menjawab semuanya dengan surat resign.