Hari kelima, Aara pulang lebih awal karena pusing. Ibunya sedang melipat pakaian ketika ia masuk.
“Kamu pucat. Sudah makan?”
“Sedikit.”
“Sedikit itu bukan nama makanan. Ibu buatkan sup. Istirahat dulu.”
Aara masuk kamar dan membuka laptop. Draf pengunduran diri itu tidak memuat rasa takutnya. Tak ada kalimat yang menjelaskan bahwa ia lelah menunggu atau menyayangi Harist dan takut kehilangan dirinya sendiri. Ia menutup laptop. Air matanya jatuh. Ia menutup wajah, berusaha menahan isak.
Pintu diketuk. “Aara? Ibu masuk, ya?”
“Sebentar, Bu.”
Ibunya melihat mata Aara yang merah dan duduk di sampingnya. “Kamu sakit?”
“Tidak.”
“Kalau begitu kenapa menangis?”
Aara menggeleng. Ibunya memberikan tisu lalu menunggu sampai napasnya lebih tenang.
“Ini soal Harist?”
Aara terkejut. “Ibu tahu?”
“Ibu tidak tahu semuanya. Tapi kamu berubah. Biasanya kamu cerita soal kantor, sekarang langsung masuk kamar.”
Aara meremas tisu. “Aku melihat dia bersama mantan pacarnya di rumah sakit. Aku tidak tahu kenapa mereka bertemu. Dia ingin menjelaskan, tapi aku menghindarinya.”
Ibunya mengusap punggungnya. “Kamu takut apa?”
“Takut jadi pilihan kedua lagi.”
“Pernah ada yang membuatmu merasa begitu?”
Aara menunduk. Bertahun-tahun ia menyimpan kisah Dhanis. Ia malu dan takut ibunya kecewa, tetapi tidak sanggup lagi menanggung semuanya sendirian.
“Dulu aku dekat dengan Dhanis. Hubungan itu berlangsung lama, tapi dia tidak pernah benar-benar memilihku. Dia terus bilang akan menyelesaikan semuanya, lalu menikah dengan Mila. Aku tahu hubungan kami salah. Aku ikut menyakiti orang lain. Tapi waktu itu aku percaya suatu hari dia akan menepati janji.”
Ibunya menarik napas. “Ibu tahu kamu pernah patah hati, tapi baru sekarang Ibu mengerti hubunganmu dengan Dhanis dan bahwa ia sudah mempunyai pasangan.”
“Aku takut Ibu marah.”
“Ibu mungkin kecewa kamu menyimpan semuanya sendiri. Tapi ibu ingin mengerti dulu.”
Aara mengangguk. “Ketika sedang berusaha melepaskan Dhanis, aku bertemu Harist. Dia baik. Kami berteman, lalu aku mulai menyayanginya. Aku pikir kali ini berbeda. Tapi Naomi kembali, aku melihat mereka bersama, dan semua ketakutan itu datang lagi.”
“Kamu sudah bertanya kenapa mereka bertemu?”
“Aku sudah meminta penjelasan, tetapi belum mendengarnya sampai selesai. Aku takut dia masih mencintai Naomi. Aku juga takut alasannya masuk akal, tapi aku tetap terluka karena dia tidak memberitahuku.”
Ibunya menggenggam tangannya. “Dua hal itu bisa sama-sama benar. Kamu bisa memahami alasan seseorang dan tetap meminta dia memperhatikan perasaanmu.”
“Aku sampai menulis surat resign.”
“Sudah dikirim?”
“Belum. Masih draf.”
“Bagus. Jangan gunakan surat itu untuk menjawab pertanyaan tentang hubungan yang belum kamu bicarakan. Pikirkan soal pekerjaan saat sudah tenang.”
Aara menyandarkan kepala ke bahu ibunya. “Aku tidak tahu harus bagaimana.”
“Untuk sekarang kamu tidak perlu tahu semuanya. Kamu sudah melakukan satu hal penting: akhirnya cerita.”
“Maaf baru cerita sekarang.”
“Ibu sedih kamu menanggungnya sendiri. Tapi ibu tidak akan mengusirmu hanya karena kamu pernah membuat kesalahan.”
Aara menangis lagi. “Aku takut Ibu tidak percaya padaku.”
“Kepercayaan dibangun dari kejujuran. Hari ini kamu mulai jujur.” Ibunya mengusap rambutnya. “Kalau sudah siap, bicaralah dengan Harist. Dengarkan dulu. Kamu tidak harus langsung menerima apa pun.”
Aara tidak berjanji akan menemui Harist besok. Ia belum siap membuat janji baru. Namun ia merasa sedikit lebih ringan karena tak lagi sendirian menghadapi rasa takutnya.
Ibunya tidak mencoba membela Harist atau menyalahkan Naomi. Ia juga tidak mengatakan bahwa Aara harus segera memaafkan. Sikap itu membuat Aara lebih berani meneruskan ceritanya. Ia mengakui bahwa selama ini ia jarang menceritakan Dhanis karena malu pernah bertahan dalam hubungan yang membuatnya menjadi rahasia. Ibunya mendengarkan tanpa menyela. Ada kecewa di wajahnya, tetapi tidak ada penolakan.
Aara menceritakan pertemuan di restoran ketika ia mengakhiri hubungan dengan Dhanis, sebelum mengetahui bahwa Mila kehilangan calon bayinya. Ia kemudian menjenguk Mila dan menegaskan jarak setelah diminta. Ia tidak membenarkan pilihannya selama bertahun-tahun. Ia ingin ibunya memahami mengapa ketidakjelasan dengan Harist membangkitkan ketakutan lama, sambil mengakui bahwa ia belum mendengar seluruh alasan kunjungan rumah sakit itu.
Ibunya menawarkan sup. Mereka keluar kamar bersama. Aara memindahkan draf ke folder lain. Ia tidak menghapusnya, tetapi juga tidak mengirimnya malam itu. Di meja makan mereka berbicara tentang hal-hal kecil sambil makan.
Aara masih belum tahu apa yang akan dikatakan Harist. Namun untuk pertama kalinya sejak melihat mereka di rumah sakit, ia membiarkan seseorang mengetahui alasan di balik diamnya. Malam itu tidak memberi jawaban, tetapi memberinya tempat untuk mulai mencari jawaban dengan jujur.
***
Pagi setelah Aara bercerita, ibunya menyiapkan sarapan seperti biasa. Namun suasana meja makan terasa berbeda. Ada kalimat yang belum selesai di antara mereka. Aara mengaduk teh tanpa meminumnya, sementara ibunya beberapa kali memandangnya lalu mengalihkan mata.
“Ibu kecewa,” kata ibunya akhirnya.
Aara meletakkan sendok. “Karena aku tidak cerita tentang Dhanis?”
“Karena kamu menanggung semuanya sendiri selama ini. Ibu merasa seharusnya kamu bisa datang kepada Ibu.”
“Aku takut Ibu marah.”
“Ibu memang marah kamu merahasiakannya, tapi bukan berarti Ibu berhenti menyayangimu.” Ibunya menghela napas. “Ibu juga tahu, mungkin selama ini Ibu terlalu sering mengatur hidupmu. Ibu ingin kamu bahagia, tapi mungkin caraku membuatmu sulit bicara.”
Aara menunduk. “Aku tidak mau menyalahkan Ibu.”
“Ibu juga tidak sedang menyalahkanmu. Ibu hanya sedih.”
Aara meraih tangan ibunya di atas meja. “Maaf.”
Ibunya berdiri dan memeluknya. Pelukan itu membuat Aara kembali menangis, tetapi kali ini ia tidak berusaha menyembunyikannya. Ibunya mengusap rambutnya sampai tangisnya reda.
“Kamu harus bicara dengan Harist,” ujar ibunya. “Jangan menghilang begitu saja. Kalau memang dia salah, katakan apa yang membuatmu terluka. Kalau kamu belum siap memaafkan, sampaikan juga. Tapi jangan lari sebelum mendengar.”
“Aku takut dengar jawabannya.”
“Ibu tahu. Tapi kamu tidak bisa mengendalikan jawaban Harist. Kamu bisa mengendalikan caramu menyampaikan perasaanmu.”
“Aku juga takut nanti aku malah menerima semua alasannya karena masih sayang.”
“Dengarkan bukan berarti langsung menerima. Kamu boleh meminta waktu setelah mendengar.”
Aara mengangguk. Ia belum siap menelepon Harist, tetapi untuk pertama kali ia bisa membayangkan percakapan itu tanpa langsung ingin kabur.
Di kantor, ia berusaha bekerja seperti biasa. Namun beberapa kali ia membuka percakapan Harist, mengetik satu kalimat, kemudian menghapusnya. Ia tidak ingin meminta penjelasan lewat pesan. Ia ingin melakukannya langsung, ketika dirinya tidak sedang dikuasai marah maupun panik.
Menjelang makan siang, Aqila mengajak Aara ke kantin. Aara menerima ajakan itu. Mereka berbincang tentang pekerjaan dan rencana akhir pekan. Aqila tidak bertanya tentang Harist, tetapi ia tetap menemani Aara sampai jam istirahat selesai.
Sore harinya, Aara pulang bersama ibunya yang kebetulan berbelanja di dekat kantor. Di rumah, ibunya tidak mengulang nasihatnya. Ia hanya meminta Aara membantu menata belanjaan. Hal kecil itu membuat Aara merasa bahwa hubungan mereka tidak berubah menjadi sesi pengadilan.
Sebelum tidur, Aara menulis pesan kepada Harist: “Aku belum siap bicara malam ini. Tapi aku akan mendengarkan penjelasanmu. Tolong jangan datang dulu. Aku akan menghubungimu setelah siap.”
Ia membaca kalimat itu, lalu menambahkan, “Aku tidak ingin terus menghindar.” Setelah pesan terkirim, Harist membalas singkat: “Terima kasih sudah memberitahuku. Aku akan menunggu.”
Aara menarik selimut sampai ke dada. Ia masih takut. Namun sekarang ia tahu bahwa menghadapi seseorang tidak sama dengan menyerahkan seluruh keputusan kepadanya. Ibunya telah memeluknya setelah mendengar hal yang paling ia sembunyikan. Mungkin ia bisa belajar melakukan hal serupa kepada dirinya sendiri: mengakui ketakutan tanpa membiarkannya memilihkan jalan.