Pada hari berikutnya, Aara bangun dengan tekad sederhana: ia tidak akan menghindari Harist selamanya. Ia belum menentukan kapan percakapan berlangsung, tetapi ia sudah mengirim pesan bahwa ia bersedia mendengarkan. Itu langkah kecil, namun cukup membuatnya merasa sedikit lebih ringan.
Di kantor, Harist tidak mendatanginya. Ia menepati permintaan Aara untuk menunggu. Mereka hanya berkomunikasi soal pekerjaan lewat pesan kantor. Aara menghargai sikap itu, meski ada bagian dirinya yang berharap Harist bertanya apakah ia sudah siap.
Menjelang siang, Okta meminta Aara mengantarkan dokumen ke ruang administrasi. Saat kembali, Aara bertemu Alvyan di dekat lift. Ia jarang melihat sahabat Harist itu di lantai keuangan tanpa Harist.
“Aara, boleh bicara sebentar?” tanya Alvyan.
Aara menegang. “Soal pekerjaan?”
“Bukan. Soal Harist dan Naomi.”
“Aku rasa itu urusanku dengan Harist.”
“Benar. Aku tidak mau menggantikan penjelasan dari dia. Tapi ada sesuatu yang perlu kamu tahu supaya kamu tidak menyimpulkan sendiri.”
Aara melipat tangan. “Silakan.”
Alvyan memilih tempat yang agak sepi dekat ruang arsip. “Menurut cerita Harist, ibu Naomi dirawat dan meminta bertemu dengannya sendiri. Percakapan Harist dan Naomi di taman sudah berlangsung jauh sebelumnya. Kunjungan itu bukan untuk memulai hubungan kembali. Tapi alasan ia tidak memberi kabar kepadamu tetap harus ia jelaskan sendiri.”
Aara berusaha menjaga wajahnya tetap tenang. “Kenapa Harist tidak bilang kepadaku?”
“Itu yang harus dia jawab sendiri. Aku tidak membenarkan dia diam.”
“Dia tahu aku melihat mereka.”
“Aku tahu. Dia cerita kepadaku setelahnya. Dia mau menjelaskan, tapi kamu belum siap mendengar.”
Aara menghela napas. Penjelasan Alvyan mengurangi satu ketakutannya, tetapi tidak menjawab pertanyaan tentang sikap Harist. “Jadi Naomi tidak datang untuk kembali kepadanya?”
“Bukan. Ibunya ingin menyampaikan maaf dan berbicara dengannya sebentar. Itu yang Harist ceritakan kepadaku.”
“Dan kamu tahu semua ini dari Harist?”
“Iya. Aku tidak akan mengarang cerita untuk melindungi dia. Kalau kamu ingin kepastian, kamu tetap harus bicara langsung dengannya.”
Aara diam sejenak. “Terima kasih sudah menjelaskan. Tapi jangan minta aku langsung percaya atau memaafkan.”
“Aku tidak akan minta begitu. Aku cuma tidak mau kamu mengambil keputusan berdasarkan kabar kantor.”
“Bagaimana kamu tahu ada kabar kantor?”
“Orang-orang membicarakan foto lama itu. Aku tahu rumor seperti itu bisa membuat keadaan tambah buruk.”
Aara merasa lega karena setidaknya pertemuan di rumah sakit bukan tanda Harist kembali kepada Naomi. Tetapi ia tetap sakit hati karena harus mengetahuinya dari pandangannya sendiri, bukan dari Harist. Ia juga sadar, informasi Alvyan belum menggantikan percakapan yang ia butuhkan.
“Dia ada di ruangannya?” tanya Aara.
“Sepertinya sedang rapat.”
“Aku belum mau bicara sekarang. Aku perlu memikirkan ini dulu.”
Alvyan mengangguk. “Wajar. Tapi jangan biarkan orang lain menentukan akhir ceritamu.”
Aara kembali ke meja. Sepanjang sore ia menimbang apakah akan menghubungi Harist. Ia tidak melakukannya. Ia ingin berbicara dengan tenang, bukan sekadar membuktikan bahwa Alvyan benar atau salah.
Di rumah, ia menceritakan kedatangan Alvyan kepada ibunya. Ibunya mendengarkan lalu berkata, “Informasinya membantu, tapi kamu masih berhak bertanya langsung.”
“Aku tahu. Aku akan bicara dengannya.”
“Kalau sudah siap.”
Aara mengangguk. Malam itu ia tidak menangis. Ia menulis pertanyaan-pertanyaan yang ingin ia ajukan: mengapa Harist tidak mengabarinya, apa yang sebenarnya dibicarakan dengan Naomi, dan bagaimana mereka akan menjaga keterbukaan setelah ini. Ia melipat catatan itu dan menyimpannya di laci. Percakapan itu belum berlangsung, tetapi kini ia tahu apa yang ingin ia sampaikan.
***
Pada hari berikutnya, Aara datang ke kantor dengan pikiran sedikit lebih teratur. Keterangan Alvyan mengurangi kekhawatirannya tentang dugaan paling buruk—bahwa Harist kembali menjalin hubungan dengan Naomi—tetapi belum menyelesaikan rasa kecewanya. Ia mengingatkan dirinya bahwa sumber utama penjelasan tetap Harist.
Pada pagi hari, Harist mengirim pesan kerja tentang jadwal rapat. Aara membalas seperlunya. Beberapa menit kemudian, pesan pribadi muncul: “Alvyan bilang dia sudah bicara denganmu. Aku minta maaf seharusnya aku sendiri yang menjelaskan lebih cepat.”
Aara membaca kata-kata itu lama. Ia mengetik, “Aku masih ingin mendengar langsung darimu,” lalu mengirimnya.
Balasan Harist datang cepat: “Tentu. Kapan pun kamu siap.”
Aara tidak menetapkan waktu. Ia belum merasa mampu duduk bersama Harist tanpa menangis atau marah. Namun ia tidak lagi mengunci kemungkinan itu.
Menjelang siang, Okta meminta Aara memeriksa daftar pembayaran bulanan. Mereka bekerja bersama di meja kecil dekat lemari arsip.
“Belakangan kamu kelihatan banyak pikiran,” kata Okta sambil menyusun berkas.
“Sedikit, Bu.”
“Kalau soal pekerjaan, sampaikan. Jangan sampai kamu menanggung sendiri lalu tiba-tiba mengambil keputusan.”
Aara terdiam. Ia ingin mengatakan bahwa ia sedang mempertimbangkan resign, tetapi belum siap mengakui keputusan yang bahkan belum dibuat. “Aku akan mengingatnya.”
Okta memandangnya sebentar, lalu kembali ke berkas. “Bagus. Kamu karyawan yang teliti. Kalau ada yang mengganggu, kita bisa bicara.”
Ucapan itu membuat Aara merasa dihargai. Ia bekerja di BEST Hawwan bukan hanya karena Harist. Ia menyukai pekerjaannya, memiliki rekan yang ia percaya, dan telah membangun rutinitas sendiri. Namun setiap kali membayangkan bertemu Harist, rasa cemas muncul lagi.
Sore harinya, Aara duduk di taman kecil dekat gedung kantor. Ia membuka catatan pertanyaan yang dibuat malam sebelumnya. Di baris pertama ia menulis: “Aku melihatmu di rumah sakit dan merasa tersisih karena kamu tidak memberitahuku.” Ia tidak menuduh Harist. Ia hanya menyebut apa yang ia lihat dan rasakan.
Aqila datang membawa minuman. “Kamu menyendiri lagi.”
“Aku sedang berpikir.”
“Berpikir boleh. Jangan sampai lupa minum.” Aqila duduk di sampingnya. “Aku tidak akan tanya detailnya. Tapi kalau kamu butuh ditemani, aku ada.”
“Terima kasih.”
“Dan aku tetap menagih kopi yang kamu janjikan.”
Aara tersenyum. “Aku ingat.”
Mereka duduk beberapa menit tanpa bicara. Aara menyadari bahwa ia tidak harus menjalani percakapan sulit sendirian dalam arti harfiah. Ia bisa meminta Aqila menemani sebelum atau sesudahnya, meski pembicaraan dengan Harist tetap harus dilakukan berdua.
Malam itu, Aara membuka draf surat resign di laptop. Ia tidak menambahkan apa-apa. Ia membaca kembali lalu menutupnya. Keputusan itu belum final. Yang lebih penting, ia tidak ingin surat tersebut menjadi satu-satunya cara untuk merasa punya kendali.
Ia mengirim pesan kepada Harist: “Aku akan bicara besok di kantor. Tolong jangan bahas di depan orang lain.”
Harist membalas, “Baik. Aku tunggu.”
Aara meletakkan ponsel dengan napas panjang. Ia tahu esok mungkin sulit, tetapi ia tidak lagi bersembunyi dari percakapan. Ia akan mendengar Harist, menyampaikan batasnya, lalu menentukan langkah setelah itu.