PERUT PUTRIKU TERUS MEMBESAR (9)
#Kirana
"Aku tidak setuju!"
Mas Hendi dan Kirana menatapku bersamaan. Aku mendesah, lalu menyorot tajam ke arahnya bergantian.
"Kirana bisa membunuh janin itu. Aku yakin, masih bisa digugurkan dengan mudah." Aku mendekati Mas Hendi.
Lelaki itu tampak tegang. Sedikit mendongak, aku menunjuk-nunjuk dadanya dengan kasar.
"Mas, seharusnya kamu peduli dengan masa depan Kirana. Dia sebentar lagi akan lulus, biarkan putriku melanjutkan hidupnya dengan baik. Tidak perlu dihalangi dengan kehamilan itu," protesku.
Kirana tiba-tiba menarikku pelan menghadapnya. Tangan itu merapikan rambutku yang kini menutup sebelah wajah, akibat sejak tadi marah-marah.
"Ibu, aku tidak mau membunuh anak ini, bukan karena Ayah menginginkan anak. Tapi, aku mengikuti kata hatiku, tidak tega." Kirana menatapku lekat.
Aku berdecak, menepis tangan Kirana dari rambutku. Dia sedang menggali lubang untuk memerangkap dirinya sendiri.
"Terserah!" Aku meninggalkan mereka berdua dengan amarah mengentak-entak dalam d**a.
Kalian tahu, aku hanya sedang memperjuangkan masa depan putriku.
Aku tidak mau Kirana mengingat peristiwa menyakitkan malam itu terus.
.
Selepas Magrib aku masih berdiam di kamar. Pikiran masih kalut malut dengan keputusan yang diambil Kirana.
Aku jadi kepikiran Mas Hendi. Entah apa yang dilakukan suamiku sejak tadi, sama sekali tak kulihat ia masuk kamar. Pakaian yang dipakainya ke kantor pun belum diganti, terbukti dari stand hanger yang masih kosong. Biasanya dia menggantung pakaian di sana.
Aku jadi khawatir Mas Hendi juga belum makan. Tidak mau terus penasaran seperti ini, aku beringsut pelan turun dari ranjang.
Semarah-marahnya aku pada suamiku, tetap saja rasanya berat untuk tidak mempedulikannya.
Kugiring langkah lebar-lebar menuju ruang televisi. Bisa jadi Mas Hendi ada di sana. Mungkin dia sengaja tidak ke kamar untuk menghindari aku.
"Mas ...." Tirai kusingkap perlahan.
Kosong!
Tidak ada siapapun di sofa yang didominasi warna merah itu. Televisi juga tidak menyala, masih ada kain penutup di sana. Artinya Mas Hendi sama sekali belum menyalakan televisi.
Biasanya dia akan menonton siaran berita di waktu seperti ini. Lalu, mana dia sekarang dan sedang melakukan apa?
Kirana sepertinya tahu ke mana ayahnya pergi. Meski berat kaki ini melangkah menghampiri Kirana di kamarnya, aku sekuat hati tetap menahan egoku.
Kirana pasti tahu ke mana Mas Hendi.
Kudorong pelan pintu kamar Kirana yang tidak dikunci. Aku mengernyit heran, Kirana juga tidak ada di kamarnya.
Kirana ke mana?
Mas Hendi pun tidak ada.
Lekas kuayun langkah keluar dari kamar anak gadisku. Sekarang aku ke dapur, mungkin salah satu dari mereka ada di sana.
Setibanya di dapur, aku tidak menemukan siapa pun. Beberapa kali memeriksa kamar mandi di dapur, sama saja. Tetap kosong.
Ck!
Sebal sekali mencari mereka ke mana-mana. Ke mana, sih?
Baru kali ini Kirana juga pergi, tanpa memberitahuku. Biasanya dia akan izin lebih dulu.
Jika pun Mas Hendi tak minta izin, itu tidak apa-apa. Aku tahu dia masih marah karena masalah anak yang dikandung Kirana. Akan tetapi, berbeda dengan Kirana. Putriku tidak pernah main pergi keluar rumah tanpa sepengetahuanku.
Kepalaku tiba-tiba terasa berat. Mungkin efek tidur dari sore sampai menjelang malam. Saat sedang sedih, aku memang banyak tidur untuk menenangkan diriku.
Tak habis pikir saja dengan dua orang itu, kenapa mereka malah meninggalkan aku sendirian di rumah dalam keadaan tertidur.
Jangan-jangan mereka pergi tanpa mengunci pintu? Kalau itu sampai terjadi, ini benar-benar kelewatan.
Aku melanjutkan langkah ke luar, untuk memastikan pintunya dikunci. Konyol sekali jika aku ditinggal sendiri dalam kondisi pintu dibiarkan. Bisa saja ada pencuri yang masuk dan melakukan hal jahat.
Ceklek!
Aku memutar, lalu menarik hendel pintu.
Jantungku seperti akan melompat saat mendapati kenyataan pintunya dalam keadaan tidak terkunci.
Kirana, Mas Hendi, kalian meninggalkan rumah tanpa memikirkan aku yang terlelap di dalamnya?
Aku mengusap d**a. Lalu menyapu wajah yang memanas tiba-tiba. Gejolak amarah dalam d**a membuat kepalaku semakin berat rasanya.
"Argh!!" Aku menggeram. Nyaris menghentakkan pintu dengan kasar, andai tidak cepat melihat Mpok Ira melewati pagar.
Kalau sampai perempuan itu melihat aku marah-marah, bisa heboh sekampung. Namaku mungkin akan dibicarakan sana-sini dengan dugaan macam-macam.
Aku menahan pintu, setelah Mpok Ira sudah berlalu, barulah aku menutupnya. Tak lupa mengunci, agar ketika Kirana atau Mas Hendi pulang, dia tidak langsung masuk.
Akan lebih baik mungkin, jika aku menunggu Mas Hendi dan Kirana di dalam.
Aku menyandarkan kepala di sandaran sofa. Menarik napas dalam-dalam hingga merasa cukup, lalu mengembuskannya pelan dalam keadaan mata terpejam.
Setidaknya dengan begitulah, aku bisa menetralkan perasaanku yang acakadut ini.
"Ibu, Ibu kenapa?" Suara lembut terdengar begitu dekat.
Kirana, kah?
Aku membuka mata pelan. Seketika tersentak saat melihat putriku berdiri di seberang sofa di mana aku duduk.
Kirana masih mengenakan pakaian yang sama seperti yang dipakainya sore tadi. Jadi, dia tidak habis ke mana-mana?
"Ibu kenapa diam aja, Bu?" Kirana turut duduk di sofa yang terpisah.
"Kamu habis ke mana? Kamu nggak ada di kamarmu, dicari di seluruh sudut rumah juga nggak ada? Dari mana, Kirana?" Aku memberondongnya dengan banyak pertanyaan.
Gadis itu mengedikkan bahu, lalu terkekeh.
"Ih, Ibu ... kan, aku di kamarku. Sibuk belajar untuk persiapan ujian besok," jawabnya.
Di kamarnya?
Aku tidak mungkin salah lihat, kamar gadis itu tadi jelas-jelas kosong.
"Oh, begitu, ya? Kalau Ayahmu, Mas Hendi ... kamu tahu dia ke mana?" tanyaku dengan alis terangkat.
Kirana menatapku lama, masih tidak menjawab. Seperti sedang berpikir.
"Aku gak tahu," sahutnya, setelah sekitar tiga menit berlalu, "mungkin di dapur," lanjutnya.
Di dapur?
Ruangan itu sudah kuperiksa, tidak ada siapa-siapa di sana. Masak iya, Mas Hendi tiba-tiba saja muncul di dapur?
Aku mengangguk saja. Lalu bangkit dari sofa, melangkah cepat menuju dapur.
"Mas!" Aku tersentak kaget melihat Mas Hendi sudah duduk di meja makan dengan mulut asyik mengunyah.
Tadi dapur 'kan kosong. Kok, bisa tiba-tiba ada Mas Hendi di sini?
Apakah mataku ini sudah bermasalah?