PERUT PUTRIKU TERUS MEMBESAR (8)
#Kirana
Jam sudah menunjuk pukul 8 pagi. Beberapa menit lalu, Mas Hendi berangkat kerja tanpa sarapan lebih dulu.
Aku sudah menyiapkan sarapan untuknya, tapi dia menolak. Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya sebelum meninggalkan rumah.
Sepertinya dia masih marah karena aku tidak setuju dengan rencananya yang akan tetap mempertahankan calon bayi Kirana.
Baik Mas Hendi ataupun aku, bukanlah orang yang berhak memutuskan. Kirana memiliki hak untuk menentukan, sebab ini tentang hidup yang dia sendiri akan menjalaninya.
Pagi ini putri semata wayangku itu bahkan
belum keluar kamar dan menyentuh sarapannya di meja.
Aku tidak tahu jelas bagaimana perasaannya sekarang. Namun, dia harus tetap makan agar tidak jatuh sakit.
Segera kusisihkan dua potong roti yang telah diolesi selai coklat itu di piring. Kemudian menuangkan s**u hangat ke dalam gelas. Semua kutaruh di atas nampan, lalu membawanya menuju kamar Kirana.
Pintu kamarnya dalam keadaan terbuka lebar. Ternyata Kirana sudah bangun, terlihat dari tirai jendelanya yang terbuka.
"Kirana," sapaku pada gadis yang berdiri di dekat jendela.
Ia menoleh ke arahku sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, sampai menutupi sebelah wajahnya.
Tak ada suara, dia hanya melangkah mendekat ke arahku dengan tenang. Pelan memindahkan nampan yang baru kuletakkan di atas nakas ke tangannya.
"Makasi, Bu ... seharusnya tidak perlu dibawa ke kamar. Aku bisa ambil sendiri di meja makan," terangnya, sembari mengambil roti dengan selai coklat dari piring. Pelan kemudian, Ia sudah mengunyah.
"Oh ya, Bu! Aku sudah memutuskan soal kandunganku ini ...." Ia meletakkan roti itu kembali ke piring, setelah dua gigit berhasil masuk ke mulutnya.
"Ya?" Aku menatapnya, penasaran.
Kirana mengembuskan napas pelan.
"Aku akan mempertahankannya. Makhluk dalam perut ini tidak salah apa-apa, Bu," sahut Kirana.
Aku menutup mulut yang seketika ternganga karena kaget dengan kedua tangan. Arah mataku menatap sudut kamar, berusaha mencerna lagi apa yang dikatakan Kirana.
Shock!
Ya, aku tak habis pikir dia akan berpikir demikian. Sepemikiran dengan Mas Hendi.
"Pikir-pikir lagi, sepertinya kamu keliru, Kirana." Aku tersenyum, tepatnya memaksakan bibirku tersenyum.
Gadis itu juga tersenyum, perlahan mendekatiku. Ia mengambil sebelah tanganku, menyimpanya tepat di dadanya.
"Hatiku yang mau begitu." Kirana menepuk-nepuk tanganku lembut.
"Seperti kata Ibu semalam, 'ikuti kata hatimu'," sambungnya.
Aku terkesiap, seketika menunduk tak percaya. Selapang itukah hati putriku sampai rela mimpi-mimpinya?
"Gugurkan saja, Kirana. Setelah itu kamu bisa fokus buka lembaran baru dan melupakan semua peristiwa malam itu!" saranku.
Dia tak menjawabku lagi, malah sekarang sibuk mengunyah roti dalam mulutnya.
Rasanya aku yang tidak rela, jika Kirana harus menanggung beban seberat itu. Hamil tanpa suami, artinya dia akan mengandung anak tanpa ayah yang jelas.
Keberadaan Edo--pemuda yang dibayar Mas Hendi untuk menjadi suami pura-pura Kirana--juga tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya akan bersandiwara menikahi Kirana di depan penghulu palsu nanti. Setelahnya mungkin dia akan pergi dan membawa upahnya.
.
Mobil Mas Hendi memasuki pekarangan rumah, kemudian berhenti di depan garasi.
Lelaki itu turun, raut wajahnya masih sama seperti saat Ia berangkat kerja.
Aku hanya menatapnya dari teras, menunggunya masuk rumah.
Perlahan langkahnya yang sedikit lamban itu mendekat. Aku bangkit dari duduk, menghampirinya untuk bersalaman seperti biasa saat Ia pulang kerja.
Set!
Tangannya ditarik masuk ke dalam saku celana saat aku bahkan sudah hampir menciumnya. Ia kemudian berlalu begitu saja ke dalam rumah.
"Mas ...," lirihku, terus mengikutinya.
"Kirana di mana?" Mas Hendi menatapku tajam.
"Di kamarnya, Mas ... kenapa?" Aku menatapnya penuh tanya.
Dia tidak menjawabku, malah menggiring langkahnya menuju ke ... kamar Kirana.
Mas Hendi mendorong pintu kamar gadis itu dengan pelan, lalu melepas sepatunya saat hendak masuk ke dalam sana.
"Kirana," sapa Mas Hendi ramah.
Aku terus mengekor, penasaran dengan alasan Mas Hendi menemui Kirana.
"Ayah, ada apa?" tanya Kirana, sedikit mendongak menatap Mas Hendi yang berdiri di seberang tempat tidurnya.
Mas Hendi kemudian duduk di bibir tempat tidur. Ia menyerahkan sebuah amplop pada Kirana, kemudian berdiri memunggungi.
"Surat?" Kirana terheran. Aku duduk di hadapan gadis itu untuk melepas rasa penasaranku juga.
'Aku akan menceraikan Ibumu jika kamu tidak mempertahankan anak itu. Kau tahu, Kirana? Aku sangat bermimpi punya anak, izinkan sekali saja aku bisa merasakan menjadi seorang ayah.'
Surat itu sama-sama k****a dengan Kirana. Mas Hendi mengancam Kirana dengan cara seperti itu? Bisa-bisanya dia mengorbankan aku untuk keegoisannya.
"Mas, kamu mau menceraikan aku?" Aku menarik lengannya, memaksa Ia menghadap ke arahku.
"Itu jika Kirana tidak mau mempertahankan anak yang dikandungnya," tutur Mas Hendi, terdengar begitu ringan mengucapkannya.
Aku berdecak, menatapnya sambil senyum kecut.
"Aku tidak habis pikir kamu akan sejauh itu mengambil langkah, hanya demi anak yang ayahnya gak jelas itu!" tukasku, tanpa menatapnya.
"Itu bukan salah bayinya. Dia tidak pernah minta sama Tuhan untuk dilahirkan seperti itu. Kamu paham nggak, Alina? Kamu seorang Ibu, tapi di mana naluri keibuanmu?" Mas Hendi menatapku dengan mata memerah.
Kirana tiba-tiba menarikku mundur, lalu berdiri di hadapan Mas Hendi dengan sedikit mengangkat wajah untuk menyejajarkan pandangan dengan ayah sambungnya itu.
"Ayah tidak boleh menceraikan Ibu! Sebelum Ayah memberikan pilihan dalam surat itu pun, aku juga sudah memutuskan untuk mempertahankan bayiku ini." Kirana mengusap perutnya yang sedikit membusung.
Mas Hendi terperangah, lalu memegang kedua pundak Kirana dengan wajah berbinar.
"Ja-jadi kamu tidak berniat untuk menggugurkannya?" Mas Hendi mengernyitkan dahi.
Kirana mengangguk, lalu tersenyum. Entah mengapa, aku tidak senang atas keputusan Kirana. Itu sama saja dia akan kehilangan masa depan gemerlap.
"Aku tidak setuju!" protesku.