PERUT PUTRIKU TERUS MEMBESAR (7)
#Kirana
Mas Hendi dan pemuda itu melangkah mendekat. Keduanya mengobrol begitu asyik, membuatku dan Kirana semakin penasaran.
"Ayo, Alina ... Kirana, masuk!" ajak Mas Hendi, kemudian berlalu di hadapanku.
Aku mengajak Kirana ke dalam, mengekor di belakang dua lelaki yang masih mengobrol diselingi gelak tawa itu.
Pemuda itu duduk, sementara Kirana kuminta untuk membuatkan minuman untuknya. Kirana setuju, lalu masuk ke ruang dalam.
"Dia siapa, Mas?" tanyaku pada Mas Hendi.
"Dia akan berpura-pura menjadi suami Kirana, jadi Kirana masih bisa mempertahankan calon bayinya," sahutnya, membuatku terkejut.
"Tante, saya Edo tampan ...." Pemuda itu mengulurkan tangan, hendak bersalaman.
Melihat sikapnya yang over percaya diri itu, membuatku bergidik. Entah kenapa aku jadi yakin, Kirana tidak akan menyukainya.
"Iya, saya Alina, Ibunya Kirana." Aku menyambut tangannya yang kurus itu.
Tidak lama, Kirana sudah keluar dengan wajah tanpa ekspresi. Gadis itu memang selalu bersikap dingin pada orang asing.
Mas Hendi tersenyum tipis, lalu mengenalkan pemuda itu pada Kirana.
"Edo ini siapa, Ayah?" tanya anak gadisku itu dengan wajah penuh tanya.
"Dia akan berperan menjadi suami pura-pura kamu, Kirana. Jadi tidak perlu melakukan aborsi, juga tidak perlu menanggung malu," terang Mas Hendi.
Entah kenapa Mas Hendi memilih jalan ini. Namun, dia pasti punya alasan kuat, tidak mungkin membiarkan orang asing turut masuk dalam keluarga.
Kulihat Kirana memasang wajah tak senang melihat tingkah Edo yang duduk dan tak berhenti bergerak--seperti cacing kepanasan.
"Bu, aku masuk dulu ...." Kirana menatapku, kemudian meninggalkan ruang tamu dengan raut wajah sulit kuartikan.
"Eh, kenapa Kirana?" Mas Hendi terbelalak melihat Kirana pergi begitu saja saat Ia bahkan masih mengobrol dengan pemuda bernama Edo itu.
Aku mengedikkan bahu, benar-benar tidak tahu.
Mas Hendi mendengkus kasar, lalu beranjak dari duduknya juga.
"Temani Edo dulu. Sepertinya Kirana salah paham," sahut Mas Hendi, tampak khawatir.
Aku juga berpikir sama, sepertinya putriku itu memang salah paham dan tidak nyaman dengan kehadiran Edo. Apalagi jika pemuda itu harus menjadi suami pura-puranya. Aku saja muak melihat tingkah aneh Edo sejak tadi.
"Tante, kalau saya tinggal di sini, tidurnya di mana?" Pemuda itu terkekeh, lalu celingak-celinguk menatap sekitar.
Aku menatapnya tanpa berkedip.
Dia berbicara tentang kamar?
Sudah sejauh itu pembahasannya, sementara Kirana saja belum memberikan tanggapan apa-apa.
"Maaf, anak saya belum memutuskan," sahutku.
Beberapa menit berlalu, akhirnya Mas Hendi kembali ke ruang tamu. Entah dia membawa kabar apa dari Kirana, tetapi dari wajahnya tampak sedikit canggung.
"Kenapa, Mas? Kirana bilang apa?"
Mas Hendi duduk lebih dulu, lalu menatapku.
"Dia nggak setuju. Tapi, ada tapinya ... kecuali katanya nanti setelah nikah pura-pura, Edo hanya tinggal sebentar, setelah itu pergi lagi." Mas Hendi menerangkan.
Aku mengangguk, mengerti maksud Mas Hendi.
"Terserah sih, Om. Soalnya saya juga kerja 'kan." Pemuda itu tersenyum menatapku bergantian dengan Mas Hendi.
"Iya, sesuai kesepakatan. Kamu tidak akan rugi juga," timpal suamiku itu.
Setelah mengobrol lama, Edo pun berpamitan. Kini tinggal aku dan Mas Hendi dalam suasana ruang tamu yang hening.
"Kamu marah, Sayang?" tanyanya melihatku duduk bersandar tanpa bicara.
"Kenapa harus dipertahankan janin itu? Kirana itu mau sekolah, kuliah, kerja, dan menggapai impiannya. Lagipula kita gak tahu, siapa ayahnya!" tukasku, sebal.
Mas Hendi mendekat. Duduk di seberangku, nyaris rapat.
"Dengarkan aku sekejap, Alina. Impianku adalah memiliki anak, tapi kamu tahu 'kan? Aku tidak bisa, aku lemah syahwat dan Dokter mendiagnosis aku mandul. Sampai kita berdua memutuskan untuk tidak berhubungan lagi karena alasan itu," ujar Mas Hendi.
Sesak sekali mendengar perkataannya barusan. Aku dan Mas Hendi menikah selama dua tahun lebih, memang telah sepakat untuk meniadakan nafkah batin dalam daftar kesepakatan yang tertulis.
Aku menikah dengan prinsip seperti ini, 'dia menafkahi aku dan putriku, Kirana. Aku mengurus segala kebutuhannya, sebab dia tak sanggup hidup sendiri hingga usia hampir kepala tiga. Dia ditinggal kekasihnya karena mengakui dirinya mandul'.
"Kamu tahu, bagaimana aku sangat ingin punya anak 'kan, Alina?" Mas Hendi kembali bertanya.
Airmataku jatuh tanpa bisa kutahan. Dulu aku pernah memintanya untuk berobat, tapi Mas Hendi selalu putus asa duluan.
"Sekarang aku lega, setidaknya aku akan menimang bayi. Meski bukan bayi-ku sendiri." Ia tersenyum. Mata itu menatapku berbinar, tampak sangat bahagia.
Aku berusaha keras untuk memahami Mas Hendi. Namun, hatiku tetap berat untuk menerima segala rencananya. Ditambah untuk ikut bahagia atas calon bayi Kirana?
Ah, aku tidak sekuat itu. Hatiku tidak terbuat dari baja. Melihat putri semata wayangku yang hamil karena korban pemerkosaan beberapa lelaki asing, terus aku akan bahagia dengan akibat dari peristiwa itu? Mustahil!
"Mas, kamu sadar gak? Kamu sudah egois, mengorbankan masa depan Kirana. Demi bayinya," lirihku. Kali ini tak berani menatapnya.
"Alina, justru aku gak mau kita semua ini egois dengan mengorbankan makhluk kecil yang tidak tahu apa-apa itu!" kilah Mas Hendi.
Dia memang lelaki yang pembawaannya cukup tenang. Namun, di sisi lain dia juga egois dan selalu mau didengar. Seperti saat berdebat begini, aku akan kalah.
"Kalau Kirana setuju, aku setuju." Aku beranjak dari duduk, tiba-tiba Kirana juga muncul di balik tirai pembatas.
"Edo udah pulang?" tanyanya.
"Iya, Nak ... Ibu mau bicara sama kamu." Aku mengajaknya kembali ke dalam.
Mas Hendi juga turut melangkah. Sejenak aku terhenti, menoleh ke arah lelaki itu.
"Aku mau ngobrol berdua sama Kirana, Mas. Aku mau ngobrol sama anakku sendiri," lirihku.
Aku tahu dia ingin turut berada di antara aku dan Kirana juga. Bisa-bisa gadis itu tidak memedulikan dirinya sendiri, jika mengikuti setiap ucapan Mas Hendi.
Aku ingin tahu, keputusan Kirana sendiri. Bagaimana pun juga ini menyangkut masa depannya.
.
Kirana duduk bersandar pada headboard, sedikit menekuk wajahnya yang lesu.
"Bagaimana denganmu, Sayang? Apa kamu yakin, akan mempertahankan calon bayi dari benih para lelaki b***t itu?" tanyaku, lirih.
Kirana meraih teddy bear berwarna coklat, kemudian disimpan di pangkuan. Gadis itu kemudian menaruh dagu di atasnya, sembari mengerjap.
"Bu, awalnya aku peduli dengan calon bayi di perutku ini. Tapi, bagaimana dengan mimpiku? Jika aku pura-pura nikah, terus nanti mengandung besar, pasti aku akan kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan," lirih Kirana, masih memejamkan mata.
Aku mendekat, mendorong bahunya agar ia duduk tegak. Kuraih tangannya, lalu menyimpan tepat di dadanya sendiri.
"Ikuti kata hatimu ... Ibu tidak tahu harus bagaimana, Ibu takut salah mengambil keputusan," ucapku.
Kirana membuka mata, menatapku dengan netra yang sudah mengembun.
Tak ada jawaban. Putriku memilih untuk merebahkan tubuh, tampaknya dia sudah mengantuk.
Aku mengusap lengannya, sebelum akhirnya beringsut turun dari tempat tidur.
"Pikirkan baik-baik, ya."
Aku kembali ke kamar. Mas Hendi tiba-tiba bangkit dari duduknya saat melihatku memasuki kamar.
Aku melempar senyum tipis, lalu melangkah ke sebelah kiri tempat tidur. Duduk sebentar di bibir ranjang, lalu memutuskan untuk merebahkan tubuh yang terasa penat.
"Kirana udah memutuskan?" tanya lelaki itu lirih.
Aku tak menjawab, pura-pura tidur saja.
Tidak mudah untuk mengikuti keinginan Mas Hendi yang mau mempertahankan calon bayi itu.
Kirana akan kehilangan mimpinya ....