PERUT PUTRIKU TERUS MEMBESAR (6)
#Kirana
Aku dan Mas Hendi saling diam di meja makan. Kami tidak benar-benar menikmati sarapan di piring masing-masing. Mungkin saat ini kami memikirkan hal yang sama, tentang bagaimana Kirana kedepannya.
Hari ini gadis kesayanganku itu tak masuk sekolah. Sudah kukabari pada gurunya, bahwa Kirana sedang sakit.
Sakit mental, bukan fisik.
Semalam aku tidur bersamanya, meski tidak tahu apa benar dia tidur atau hanya pura-pura.
"Makanlah, Alina ... sepulang kerja nanti, kita diskusikan lagi soal Kirana. Semua harus dihadapi dengan kepala dingin, jangan gegabah." Mas Hendi meletakkan sepotong roti kosong lagi di piringku.
"Ini selainya. Mas berangkat dulu!" Ia menggeser selai mendekat ke piringku, lalu beranjak dari duduknya.
Aku menyalaminya lebih dulu, lalu mengekor hingga ke depan pintu. Seperti biasa saat Ia akan berangkat bekerja.
"Hati-hati, Mas." Aku melambaikan tangan, saat mobilnya bertolak keluar pagar.
.
"Kirana, sarapan dulu ...." Kini aku duduk membujuk anak semata wayangku itu untuk memasukkan segigit roti saja ke lambungnya yang dari semalam tidak terisi.
"Kalau misalnya Kirana gak makan, si kecil di dalam sini akan lapar 'kan, Bu?" tanya Kirana, tanpa ekspresi.
Aku mengangguk. "Benar, kamu khawatir dengan keadaannya?" tanyaku, memastikan.
"Bukan ... jelas bukan, Bu. Aku hanya mau tahu, mungkin kami akan sama-sama mati bila tidak makan. Setidaknya aku tidak egois, mau hidup sendiri," jelas Kirana.
Aku menelan liur berulang kali. Kirana sepertinya sangat tertekan. Dia sudah banyak dijajah pikirannya sendiri. Ketakutan yang membayangi itu, mungkin membuatnya putus asa.
"Ibu sama Ayah akan bicarakan tentang kehamilan kamu, diskusi bareng ... jadi kita bisa sama-sama berbagi solusi, Ibu pastikan, kamu akan tenang dengan keputusannya nanti," tukasku, lalu mengelus lengan Kirana.
Ia tersenyum kecil, nyaris senyum itu tak tampak. Kemudian kembali cemberut, menampakkan wajahnya yang lesu.
"Ibu gak peduli dengan anak itu, tapi Ayahmu peduli. Ibu hanya mau kamu makan, itu karena Ibu peduli sama kamu, Kirana." Aku meletakkan piring di nakas, lalu beringsut turun dari tempat tidur yang didominasi warna pink itu.
"Makan, ya. Ibu keluar sebentar. Setelah Ibu ke sini lagi, piring itu harus kosong!" peringatku.
Kirana merungut, menampakkan penolakannya. Tapi aku cepat keluar dan tidak peduli. Jika sudah seperti ini biasanya Kirana akan menurut.
.
Deru mobil terdengar dari halaman. Mungkin saja Mas Hendi sudah pulang. Aku yang tadi sibuk membantu Kirana berganti pakaian, kini berjalan keluar untuk menghampiri Mas Hendi.
"Alina ...." Mas Hendi menatapku dengan matanya yang sayu.
"Mas, kenapa?" Aku tiba-tiba khawatir melihatnya menatapku seperti itu.
Ia mendengkus, lalu mendahului aku masuk rumah.
"Kirana di mana? Keadaanya baik-baik aja 'kan?" tanya Mas Hendi, masih melangkah menuju kamar Kirana.
"Iya, dia baru ganti baju. Ada apa, Mas? Jangan-jangan Mas ada rencana terus diam-diam, ya?" tebakku. Sikap Mas Hendi membingungkan sekali.
Pintu kamar Kirana yang sedikit terbuka, pelan-pelan didorong Mas Hendi.
"Sudah makan? Jangan banyak pikiran ... Ayah sudah ada jalan terbaik untuk kamu dan calon bayimu ini," sahut Mas Hendi, menepuk pelan kepala Kirana.
"Apa, Mas?" tanyaku, penasaran.
Kirana mengangkat alis, tampaknya juga sangat penasaran.
"Nanti sore jawabannya!" jawab Mas Hendi.
"Ayah ... kok, sore? Aku sudah penasaran!" Kirana merungut.
Putriku tampaknya mulai terbiasa menyebut kata 'ayah' lagi. Sehingga ringan dan nyaman didengar. Tidak seperti sebelumya, agak kaku di telinga.
Mas Hendi tetap menolak memberitahu, ia memilih keluar kamar untuk menghindari Kirana yang tak hentinya memaksa.
.
Sore.
Waktu yang dinanti pun tiba sudah. Mas Hendi meminta Kirana mengenakan pakaian serapi mungkin. Sama sepertiku yang juga diminta untuk mengenakan pakaian yang bagus.
Entah apa maksud Mas Hendi, sepertinya dia akan mengajak kami pergi ke suatu tempat.
Mas Hendi menghampiri aku dan Kirana yang duduk menunggunya di teras.
Eh!
Kenapa lelaki itu malah berpakaian biasa saja?
Aku dan Kirana bersitatap, lalu menoleh ke arah lelaki yang hanya mengenakan celana selutut dan kaos yang sering dipakainya olahraga.
"Mas, kamu gak siap-siap?" tanyaku, Kirana turut mengangguk dengan wajah penuh tanya.
Mas Hendi tersenyum, menampakkan giginya yang putih dan berjejer rapi.
"Kejutannya belum datang." Mas Hendi turut duduk di kursi yang bersisian denganku.
Apa maksud 'kejutannya belum datang?' Mas Hendi menambah beban pikiranku saja.
"Nanti Mas jelaskan. Pokoknya ini gak merugikan siapa-siapa. Baik itu Kirana atau pun bayinya," bisik Mas Hendi padaku dan Kirana. Sengaja mengecilkan suara, takut tetangga akan mendengar.
Mengingat di sekitar rumah, memang ada Ibu-ibu juara gosip yang cukup pro di bidang gibah menggibah.
"Assalamualaikum!" Perempuan berdaster ungu hitam berdiri di depan pagar. Tangannya sibuk melambai ke arah Mas Hendi, juga aku.
"Waalaikumsalam," jawabku dan Mas Hendi. Kirana juga menjawab, hanya saja suaranya begitu rendah, hampir tak terdengar.
"Mau ke mana, Mbak Alina dan keluarga? Liburan, ya? Udah pada rapi banget, nih." Wanita itu tampak sangat ingin tahu.
Aku menatap Mas Hendi, memintanya menjawab pertanyaan Mpok Ira--wanita yang paling pro atau ahli dalam dunia pergibahan.
"Kami nungguin tamu, Mpok Ira. Ada tamu yang sebentar lagi akan tiba," terang Mas Hendi.
Hah, tamu?
Mas Hendi tidak cerita apa-apa soal tamu. Kulirik sekejap ke arah Kirana, dia juga mengeryitkan kening menatap ayah sambungnya.
"Aduh, kayaknya tamu khusus, ya?" Mpok Ira yang kepo itu masih saja melempar pertanyaan.
Namun, Mas Hendi yang memang sangat ramah pada tetangga itu terus menjawab pertanyaan dari si wanita di depan sana.
"Iya, Mpok Ira. Calon mantu!" Mas Hendi terkekeh.
Kudengar Kirana tiba-tiba terbatuk. Sementara aku menyapu d**a beberapa kali, mohon ditabahkan hati dengan sikap Mas Hendi yang kali ini membuatku tak habis pikir. Bisa-bisanya dia bertindak sendiri, tanpa melibatkan aku dalam rencananya ini. Padahal kami sepakat akan berdiskusi lebih dulu, sebelum memutuskan sesuatu.
"Mpok Ira, kami mau ke dalam, ya. Mpok mau ikut masuk?" tanyaku cepat pada wanita itu sebelum Ia kembali bertanya seperti wartawan.
Benar. Mpok Ira itu wartawan khusus di kampung. Cuma kebanyakan berita yang dibeberkannya sudah ditambah-tambah atau tidak murni fakta sebenarnya, dengan kata lain, sudah dimodifikasi sedemikian rupa. Agaknya dia memang suka segala yang panas-panas.
"Ah, saya sibuk banget. Ini mau beli kopi buat suami saya. Pamit Mbak, dkk," ujarnya, kemudian berlalu.
Sibuk banget, tapi masih saja singgah menjadi wartawan di rumah orang? Hm, Mpok Ira ... Mpok Ira. Aku menyeka keringat di kening, kedatangan wanita tadi cukup menguras otak dan emosiku.
"Mas!" Aku menatap tajam pada Mas Hendi.
Belum juga dia mengatakan sesuatu, tiba-tiba sebuah motor berhenti di depan pagar rumah.
"Om!" Lelaki itu membuka kaca helm, lalu melambaikan tangan pada Mas Hendi.
"Edo sudah datang!" tukas Mas Hendi.
Ia melangkah menuju pagar dengan agar tergesa, bisa kulihat betapa Mas Hendi senang dengan kedatangan pemuda itu.
Pemuda itu membuka helm, lalu melepaskan masker dengan perlahan. Aku dan Kirana masih memperhatikan gerak-gerik dua lelaki di sana.
"Bu, Ibu kenal?" tanya Kirana.
Aku menggeleng dan menjawabnya,
"Tidak, baru kali ini malah Ibu lihat
pemuda itu."