PERUT PUTRIKU TERUS MEMBESAR (5)
#Kirana
Kirana terlihat takut mengatakan siapa lelaki yang sudah menodainya.
Aku menarik kedua sudut bibir, mengangguk sekali lagi agar dia mau melanjutkan ucapan yang tertahan.
"Katakan, Sayang ... siapa?" Tidak sabar ingin tahu nama lelaki itu.
"Tidak tahu ...." Kirana menggigit bibir bawahnya, lalu menutup wajah dengan kedua tangan.
Aku menatap Mas Hendi, putus asa.
"Dikerasi saja ... biar dia jawab ya, Mas," bisikku pada lelaki itu.
Mas Hendi menolak, masih memintaku untuk sabar.
"Mas, tapi Kirana-nya gak mau jawab!" Suaraku kali ini bisa dikata berteriak, tapi aku benar-benar tidak sengaja. Spontan.
"Alina, bukankah tadi kamu sudah janji?" tanya Mas Hendi, membuatku memejamkan mata yang meski kupejamkan, tetap saja ada kilat putih yang menyala-nyala. Tanda amarahku benar meluap-lupa saat ini.
"Atasi saja!" Aku mengambil jarak dari Mas Hendi.
Biar saja dia yang bertanya, meski kecil kemungkinan Kirana menjawab, sebab mereka baru saja saling bicara.
"Baiklah, aku yang akan mengatasi ini," lirih Mas Hendi.
Kirana masih menyembunyikan wajah di balik kedua tangannya. Mas Hendi menurunkan tangan itu, tanpa terkesan memaksa.
"Tenang, Kirana." Lelaki itu menoleh sekejap padaku, seolah ingin aku terus memperhatikan caranya menanyai Kirana.
"Mungkin ini sedikit sulit, sebab aku hanya orang asing bagimu. Mungkin juga kecil sekali kemungkinan, kamu mau menjawabku," terang Mas Hendi.
"Tapi, bagaimana dengan lelaki yang saat ini berusaha sebaik mungkin untuk berada di posisi ayahmu yang telah tiada? Yang sama mencintaimu, seperti anaknya sendiri. Meskipun kita tidak ada ikatan darah, Nak," sambungnya.
"Kamu tidak akan pernah bisa menggantikan Papa!" teriak Kirana, nyaris membuatku turut teriak, jika ayah sambungnya itu tidak cepat menoleh ke arahku sambil mendesis--memintaku diam.
"Tahu, tahu ... lagipula aku memang tidak ditakdirkan untuk memiliki anak di dunia ini. Terkadang aku berpikir, mungkin menikahi Ibumu, bisa membuatku merasa hidup lebih berarti, sebab dia punya kamu, punya Kirana. Selama ini aku sangat ingin menjadi ayah," sahut Mas Hendi parau, lalu menunduk. Suara isakan itu membuatku tak bisa menahan airmata.
"Mas, jangan sedih lagi ...." Aku mengusap bahunya dari belakang.
"Bu, maksud ayah apa?" Tiba-tiba Kirana bertanya, juga menyebut lelaki di hadapannya 'ayah'.
Itu membuat Mas Hendi terperangah. Air matanya malah semakin merembes ke mana-mana.
"Mas, boleh kuberitahu Kirana?" tanyaku lebih dulu padanya, takut Ia tersinggung.
Kepala itu mengangguk pelan, pertanda setuju.
"Kirana ... ayah sambungmu ini didiagnosis mandul oleh Dokter ... juga lemah syahwat." Tidak sengaja, airmataku jatuh juga.
Kirana menatap ayah sambungnya dengan mata berkaca-kaca.
"Jadi selama ini dugaanku salah?" tanyanya, tampak menyesal.
Mas Hendi menatap Kirana dengan raut wajah sedihnya.
"Prasangka seperti apa yang selama ini kamu pikirkan, Nak?" tanya Mas Hendi.
Kirana menahan isak yang baru saja akan keluar dari bibir. Lalu, ia mendekat dan meraih tangan ayah tirinya itu.
"Maafkan aku, Ayah. Aku berpikir semua ayah tiri itu jahat ... kalau dia akan merusak anak tirinya, akan melampiaskan nafsu bejatnya pada anak tirinya. Maafkan aku karena pikiran buruk ini, aku benar-benar minta maaf," mohon Kirana, masih menunduk dengan tangan Mas Hendi menempel di wajahnya.
"Ada banyak peristiwa semacam itu, wajar kamu berpikir demikian, Nak." Mas Hendi mengembuskan napas pelan.
"Kirana ... izinkan aku untuk menjadi ayahmu," pinta Mas Hendi, berlinang air mata.
Kirana terisak-isak, lalu mengangkat kepala. Tak lama ia mengangguk, tapi bisa kulihat masih ada raut tak senang di sana.
"Izinkan Ayah untuk tahu siapa lelaki yang sudah berani menodai putri Ayah," pinta Mas Hendi lagi, kali ini aku justru ikut menangis, sebab wajah Mas Hendi benar-benar terlihat menyedihkan.
Beberapa kali aku menelan liur, tercengang melihat cara Mas Hendi yang begitu terjaga emosinya saat menghadapi Kirana.
Mas Hendi memang lelaki yang pembawaannya tenang. Itulah yang membuatku yakin, bahwa dia bisa menjadi pengganti suamiku yang telah lebih dulu menghadap-Nya.
Meski kutahu jelas, ada kekurangan yang tak bisa ditampik. Namun, bagiku pernikahan adalah bagaimana aku menerima kekurangan Mas Hendi. Bukan menuntut dia bisa segalanya.
Kirana tertunduk.
"Aku takut kalian akan marah," sahutnya parau.
Aku mendekati Kirana, mendekap tubuhnya yang masih gemetaran.
"Justru Ibu akan marah kalau kamu terus menyembunyikan siapa pelakunya, Kirana," keluhku.
Kirana melepas pelukannya. Ia kemudian menatapku, lalu Mas Hendi.
"Ada beberapa lelaki, mereka bersama merusak Kirana. Sepulang dari kerja kelompok malam itu, saat hujan deras ... Kirana singgah berteduh, di situlah kejadian itu bermula," terangnya, terisak.
Aku tersentak, bukan main kaget mendengar ucapan putriku.
Kuingat lagi beberapa pekan yang telah lewat, suatu malam disaat Kirana pulang dengan sekujur tubuh basah.
Air yang membasahi wajahnya kala itu, kupikir hanya rintik-rintik sisa hujan. Dugaanku salah, ternyata dia tengah menderita, sampai airmatanya enggan berhenti.
"Kenapa kamu baru bilang sekarang!" Aku menggoyang-goyangkan bahu Kirana, nyaris memekik atas kebodohannya tetap diam akan peristiwa buruk itu.
"Aku takut Ibu kepikiran, takut Ibu akan stress, takut Ibu seperti dulu, sewaktu ayah baru saja meninggal ...." Kirana mengungkapkan segala khawatirnya, semua karenaku.
"Kirana pikir tidak akan sampai hamil, sebab saat itu Kirana berontak, meskipun memang mereka masih bersikeras ...." Kirana mengusap perutnya, "bagaimana dengan ini?"
Aku terdiam seketika, begitu pula Mas Hendi. Aku dan suamiku sama-sama menoleh, lalu bersitatap.
Apakah pikiran kami saat ini sama?
Aku berniat mengantar Kirana ke klinik aborsi. Setelah itu putriku akan kembali beraktivitas seperti biasa.
"Jangan sia-siakan anak itu, dia tidak salah ...." Mas Hendi menatap Kirana.
"Gugurkan, Mas! Kalau tidak, Kirana akan menanggung malu. Dia diberhentikan sekolah dan kehilangan segala mimpi-mimpinya," tolakku.
"Aku bahkan tidak menginginkan hidupku lagi, asal Ayah dan Ibu tahu."
"Hahahahahha ...." Kirana tertawa nyaring. Suaranya kini menggema di kamar. Gelak tawa yang menakutkan, membuatku menahan tangis atas apa yang kini dialami putriku.
Malang sekali nasibmu, Nak.