PERUT PUTRIKU TERUS MEMBESAR (4)
#Kirana
"Tidak perlu, jangan lakukan itu, Bu! Aku gak hamil, gak mungkin hamil." Kirana memekik, bahkan tak peduli pada Dokter yang berdiri menatapnya dengan ekspresi khawatir.
"Dokter ... aku cek, ya!" sahutku, lalu pelan-pelan menurunkan alat tes itu di wadah berisikan urin.
Kulirik ke arah Mas Hendi yang tampak menenangkan Kirana, pasalnya gadis itu terus berteriak sambil menangis.
"Sudah, kalau kamu gak salah ... jangan nangis, Kirana." Nasihat dari Mas Hendi tak juga membuat Kirana terdiam, malah gadis itu bersikap kasar lagi. Tak segan ia mendorong Mas Hendi, menjarak darinya.
"Mas, mari kita lihat hasilnya!" ajakku pada Mas Hendi, setidaknya saat mengetahui hasilnya, ada yang menemaniku berbagi perasaan. Entah itu lega atau shock.
Kuangkat pelan tespack dari wadah. Napasku mulai tak beraturan, bersamaan dengan debar-debar di d**a yang semakin kencang.
Garis satu ...
Lalu di sebelahnya yang tak begitu jauh, ada garis lagi.
Garis dua!
"Argh ... sama siapa kamu melakukannya?" pekikku pada Kirana yang kini memeluk lututnya dengan gemetar.
"Siapa, Kirana!" Lagi, aku berteriak sembari mendekat. Namun, Mas Hendi menahanku.
"Ada Dokter, Alina." Mas Hendi mengingatkan.
"Dok, maaf ... bisa kita bicara di luar saja," lanjut Mas Hendi.
Perlahan Ia melepas tanganku dan melangkah beriringan dengan Dokter tadi, keluar dari kamar.
Sementara aku dengan mata gelap, mendekati Kirana. Kusentuh lengannya, lalu menekan keras di sana. Geram.
"Jawab, Ibu! Siapa yang sudah membuatmu hamil, Kirana," ucapku pelan, tapi penuh penekanan.
Isak tangisnya benar-benar membuatnya kesusahan untuk bicara, tapi aku memaksanya menjawab.
Bagaimana pun juga, aku ingin tahu, siapa lelaki kurang ajar yang berani menyentuh putriku.
"Alina, sudah! Jangan keras pada Kirana, kalau dia stress, masalahnya akan semakin berat. Makin sulit kita atasi. Pelan-pelan, sabar ...," sahut Mas Hendi, berusaha melepaskan cengkramanku di lengan Kirana.
Aku melepaskan tanganku, lalu menatap ke arah Mas Hendi dengan d**a bergemuruh.
"Kamu masih bilang aku harus sabar, Mas? Melihat anakku hamil, aku harus sabar? Hah, sabar seperti apa yang kamu maksud!" Aku menunjuk dadanya beberapa kali, kesal.
Mas Hendi menyentuh lenganku, mengusapnya pelan. Bisa kudengar ia menghela napas, lalu mengembuskannya dengan pelan.
"Kamu tidak punya anak, makannya kamu gak merasakan bagaimana kacaunya aku saat ini!" tekanku.
Tangan yang tadinya mengusap lenganku, kini terjatuh kembali ke samping tubuh Mas Hendi.
"Aku sudah pernah bilang ... jangan bahas itu, Alina. Itu sangat menyakiti aku!" Mas Hendi menatapku dengan mata berkaca-kaca. Tak lama, bulir bening itu keluar membasahi tepat di pipinya.
Aku menunduk, menyesal dengan kalimatku barusan.
"Maaf, aku sangat emosi. Maaf, Mas!" Aku berusaha meraih tangannya, untuk memohon maaf.
Mas Hendi menepis, lalu tersenyum kecut. Beberapa menit, pintu sudah tertutup dengan hentakan yang begitu keras. Lelaki itu benar-benar marah dengan ucapanku tadi.
"Kirana!" Aku berteriak pada gadis yang masih duduk melantai itu, "gara-gara kamu!" tukasku.
Kirana tak pernah sekali pun mengangkat wajah. Melihatnya seperti itu, aku memutuskan untuk bertanya padanya nanti saja.
Saat ini, aku akan meminta maaf pada Mas Hendi karena sudah melukai perasaannya.
Kalimat barusan, benar-benar menghina dia. Aku baru sadar dan itu melanggar perjanjian.
Lelaki itu berada di ruang televisi. Duduk menangkup wajah dengan kedua tangan. Bahunya kulihat berguncang, meski aku hanya melihatnya dari jauh.
"Mas ...," sahutku sembari mendekat.
Menempelkan daguku di bahunya, lalu memeluk dari belakang.
"Maaf, aku terlalu marah. Aku tidak sadar dengan ucapanku sendiri." Menyesal, perasaan itu yang kini memenuhi dadaku.
Dia tak juga bicara, hanya suara napas yang kudengar sekarang.
"Aku akan berusaha menjaga bicaraku lagi. Sekarang, kita fokus ke Kirana?" tawarku, berusaha mengalihkan perhatiannya.
Mas Hendi mulai menurunkan tangan, lalu mengangkat wajahnya menatap lurus ke depan.
"Maafkan Alina, Mas." Aku mengeratkan pelukan, berharap ada kata 'iya' yang kudengar selanjutnya.
"Ini pertama kalinya kamu menyinggung kekuranganku, Alina. Kamu benar, aku tidak tahu bagaimana perasaanmu, karena aku tidak punya anak ...." Mas Hendi mulai bersuara.
"Tidak begi---"
"Diam, Alina! Tapi, asal kamu tahu, menikah dengan kamu ... lalu memiliki Kirana, aku merasa sudah menjadi seorang ayah. Aku menganggap putrimu itu sama seperti anakku sendiri. Tapi kamu, ternyata selama ini berpikir aku orang lain bagi Kirana?" Pertanyaan itu berhasil membuat bibirku bergetar. Tidak tahu mau menjawab apa.
"Mas ...." Aku menarik dagu dari bahunya, lalu berpindah duduk di lantai, tepat di hadapannya, "maafkan aku."
Entah bagaimana wajahku saat ini, tapi sungguh tulus mengatakan maaf padanya.
"Aku memaafkan kamu, asal jangan bertindak kasar pada Kirana seperti tadi! Di depan Dokter, kamu bahkan berteriak pada anakmu sendiri dengan kasarnya. Dokter juga manusia, dia bisa bicarakan ini ke orang lain. Beruntung, tadi aku berusaha membuatnya mengerti dan meminta tolong untuk menjaga aib ini," sahut Mas Hendi.
Dia bijak, di saat aku justru ceroboh. Keadaan seorang Ibu yang benar-benar di luar kendali akan ulah anak semata wayangnya. Siapa yang tak frustrasi?
"Iya, Mas ... maaf. Aku akan pelan-pelan lagi." Kuredam segala amarah di d**a ini, meski sekarang tanganku gemas ingin sekali meremas sekujur Kirana sampai dia menyesali perbuatannya.
Mas Hendi menatapku dengan wajah datar.
"Kirana sepertinya sudah tenang, sekarang kita mungkin bisa menanyainya." Mas Hendi beranjak dari duduk, sembari menarik pelan lenganku untuk turut bersamanya.
"Saatnya menjadi seorang ayah!" Mas Hendi tersenyum, dia terlihat bangga.
Pelan kubuka pintu. Lelaki di sebelahku menepuk bahu, lalu berbisik memberitahu agar aku tidak keras-keras pada Kirana.
Aku mengatur napas, lalu kembali melangkah mendekati gadis yang tubuhnya masih betah melantai.
"Kirana, duduk di sini." Mas Hendi membantu Kirana berdiri, lalu didudukkan di bibir tempat tidur.
Aku mengambil posisi di sebelah Kirana, masih tetap mengatupkan bibir, belum mau bicara.
"Sekarang kamu tarik napas, lalu hembuskan dengan pelan." Mas Hendi menatap gadis itu.
Dengan wajah masih penuh airmata, Kirana mengikuti penuturan Mas Hendi.
Menghela napas dalam ....
Kemudian, menghembuskan pelan-pelan.
Mas Hendi lalu menolehku, melempar senyum kecil. Aku tahu itu isyarat agar aku mulai menginteregosi gadis SMA ini.
"Ibu akan bertanya baik-baik ... kamu jawab dengan baik!" tukasku.
Lenganku kembali disentuh, Mas Hendi mendengkus kasar.
"Lembutkan suaramu, Alina," bisiknya.
Mungkin di belahan dunia lain, sangat kecil kemungkinan ada Ibu yang sepertiku. Anak sudah ketahuan hamil, tapi masih saja memelankan suaranya.
Aku mengembuskan napas kasar. Mengangguk, lalu kembali menatap Kirana.
"Jangan menangis lagi," sahutku, sembari menghapus sisa bulir bening dari pipinya.
"Matamu sudah bengkak." Aku mengangkat kedua tangan, menyentuh pipinya yang kini sudah tembam itu.
"Katakan, Sayang ... siapa lelaki itu?" Suaraku mungkin terdengar serak, sebab ada airmata dan isak yang kini kutahan.
Dua manik mata yang tengah kutatap, kini mengembun lagi.
"Ada." Kirana menatapku bergantian dengan Mas Hendi.
"...."