PERUT PUTRIKU TERUS MEMBESAR (3)
Tanganku gemetar menyaksikan Kirana memeluk lutut Mas Hendi. Sesekali kulihat ia melepaskan sebelah tangannya untuk menyeka air mata.
Mas Hendi menatapku dengan wajah memelas. Kulihat matanya juga berkaca-kaca, ada gurat yang sulit kuartikan dari ekspresi lelaki itu.
"Mas, Kirana kenapa?" lirihku bertanya, sembari memindai nampan berisi dua cangkir kopi ini di meja kaca.
Mas Hendi mengangkat sebelah tangannya, mengusap pelan bawah matanya yang kulihat sudah basah.
"Kirana minta maaf sama Mas, Alina! rasanya sulit dijelaskan. Dari tadi sudah kuminta dia bangkit, tapi dia tetap memohon dan memeluk lututku." Mas Hendi menerangkan.
Dadaku terasa sejuk, seolah ada sesuatu yang menyelinap masuk membuat suasana yang semula panas dan kalut, kembali membaik melihat Kirana kini sudah terbuka hatinya untuk meminta maaf.
"Nak, terima kasih." Aku menarik Kirana ke dalam pelukanku.
Gadis itu terisak dengan airmata yang banyak sekali. Sampai aku tidak tahu, bagaimana harus menenangkannya.
"Ayah pasti memaafkan kamu. Jangan nangis lagi, ya," sahutku, mengusap lembut kepalanya.
Kirana mulai mengambil jarak. Ia mengusap wajahnya yang sembab, kemudian menarik kedua sudut bibir menatapku.
"Selama ini Kirana menganggap Hendi orang asing di rumah ini, tapi malam ini dia begitu baik pada Kirana, Bu. Kirana minta maaf atas sikap Kirana selama ini." Lagi, air matanya merembes dengan isak yang semakin menganggu setiap kali ia bicara.
Aku mengangguk, menarik kedua sudut bibir menatap putriku yang akhirnya benar-benar sudah dewasa ini.
Mas Hendi turut duduk di lantai, mengusap pundak Kirana dengan sayang. Aku tahu dia sangat takjub melihat Kirana, mengingat selama dua tahun lebih dia tertatih untuk mendapatkan hati putriku.
"Ayah memaafkan kamu, Nak." Mas Hendi menarik Kirana ke dalam pelukannya.
Saat menyaksikan itu, aku seolah merasakan lagi kehadiran suami pertamaku dulu. Ayah kandung Kirana yang amat mencintai putri semata wayang kami ini.
Tidak sadar, airmataku jatuh begitu saja. Aku turut memeluk Kirana dan Mas Hendi. Rasa haru kini menyelimuti kami, semakin menguatkan rasa cintaku pada lelaki berdada lebar itu.
.
Aku dan Mas Hendi mengantar Kirana kembali ke kamarnya karena sadar malam sudah larut.
"Ayah, Bu ... Kirana mau makan mangga dulu, sebelum tidur." Gadis itu meraih plastik yang masih tergeletak di lantai.
"Iya, Sayang ... makan aja. Tapi jangan banyak-banyak, nanti malah jadi penyakit," ujarku.
Gadis itu mengangguk. Mas Hendi kulihat juga begitu senang melihat Kirana kini bersikap tidak sedingin biasanya.
Aku dan Mas Hendi pun meninggalkan kamar anak itu. Meskipun tadi Kirana tidak mual lagi, tapi aku tetap memutuskan untuk membawanya ke puskesmas besok.
"Mas, besok bisa antar aku sama Kirana ke puskesmas, gak?" Aku menatap Mas Hendi yang masih tersenyum-senyum. Sebegitu bahagianya dia, kini Kirana sudah menerimanya.
"Iya, Sayang. Aku juga khawatir dengan kondisi Kirana." Mas Hendi mengangguk.
Kami pun kembali melanjutkan langkah menuju kamar untuk beristirahat.
.
Pagi hari, aku menyiapkan sarapan untuk suami dan juga putriku yang sudah akur itu. Hari ini kami akan ke Puskesmas, semoga saja tidak ada hal buruk seperti yang aku khawatirkan, terjadi pada Kirana.
"Ibu!" Suara nyaring itu terdengar mendekat.
Aku menoleh untuk memastikan. Ternyata Kirana, tapi kenapa dia mengenakan seragam sekolahnya?
"Ibu lupa ngasih tau kamu! Hari ini Ayah sama Ibu berencana bawa kamu ke puskesmas untuk periksa kesehatan, Kirana," terangku.
Mas Hendi tiba-tiba muncul dengan raut wajah terheran-heran.
"Loh, bukannya mau ke puskesmas? Kok, ini pake seragam lengkap Kirana-nya, Alina?" tanya Mas Hendi menatapku dengan mata berkedip-kedip.
Aku melipat bibir masuk ke dalam mulut, lalu mengedikkan bahu. Bingung harus menjawab apa, pasalnya semalam aku lupa memberitahu Kirana. Jadi ini murni salahku.
"Kirana harus tetap berangkat sekolah hati ini, karena ada ujian. Jadi gak perlu ke puskesmas ya, Bu ... Kirana sehat-sehat aja, kok." Kirana menepuk bahuku, lalu beralih menatap Mas Hendi dengan senyum yang tertarik sempurna.
"Kirana buru-buru, Bu, Yah. Jadi gak perlu sarapan, maaf ... Kirana pamit." Gadis itu kemudian meraih tanganku dan mengecupnya, lalu mendekat pada Mas Hendi dan melakukan hal yang sama.
Kulihat Mas Hendi mengambil napas dalam, lalu kembali menampakkan raut wajah bahagianya.
"Mas, aku takut dugaanku soal Kirana itu benar!" lirihku, lalu duduk di kursi kayu beralaskan busa tipis ini.
Lelaki itu tergelak, lalu turut duduk di sisiku.
"Kirana memang cantik, sama seperti kamu. Mungkin tdak sedikit lelaki yang tertarik dengan dia, tapi jangan berpikir buruk seperti itu ... kamu itu Ibunya, doakan saja yang baik-baik." Mas Hendi menepuk bahuku pelan.
Sulit untuk berpikir semua baik-baik saja, setelah melihat banyak tanda-tanda kehamilan pada Kirana.
Mungkin saatnya aku bertindak, membeli alat tes kehamilan. Daripada kepalaku nyaris pecah, setiap hari selalu menduga-duga.
"Mas, aku ke minimarket dulu, ya."
Mas Hendi bangkit dari duduknya.
"Ayo, Mas Antar!" sahutnya bersemangat.
Aku menggeleng cepat.
"Aku mau pergi sendiri, Mas. Soalnya belanjanya bakal lama. Takut kamu capek nunggu," gugupku. Padahal aku hanya ingin membeli tespack.
Tidak banyak kata, Mas Hendi setuju saja. Asal aku hati-hati di jalan, katanya.
Aku melangkah cepat menuju apotik. Benda pipih itu harus segera kudapatkan, agar sepulang sekolah nanti Kirana bisa langsung periksa sendiri di rumah.
.
Lepas dari apotik, aku menuju minimarket untuk membeli kebutuhan dapur yang memang sudah menipis.
Kring ...!
Baru saja hendak memasukkan minyak goreng ke keranjang, tiba-tiba ponselku berdering.
Kurogoh tas dan cepat melihat layar telepon yang kini menyala. Nama penelepon tak lain adalah Mas Hendi, mungkin saja dia ingin memesan sesuatu.
"Halo, Mas ... kenapa?" tanyaku setelah menyentuh tanda hijau di layar.
"Pulang, Alina! Kirana dibawa pulang temannya, dia sakit." Mas Hendi terdengar khawatir.
Lekas kuiyakan, lalu memasukkan ponsel kembali ke dalam tas.
Apa putriku itu sedang menderita sakit yang sebenarnya aku juga tidak tahu?
Kuayunkan langkah lebar-lebar menuju kasir. Setelah membayar belanjaan, kuambil langkah seribu--berlari sekuatku, menuju rumah.
.
Sedikit terseok, akhirnya aku menggapai teras rumah dengan napas ngos-ngosan. Segera kuayunkan langkah masuk rumah yang pintunya memang tidak tertutup.
"Mas ... Kirana!" panggilku, sembari terus melangkah.
Mas Hendi kulihat berdiri di depan pintu kamar Kirana dengan wajah khawatir.
"Tadi, Mas sudah panggilkan Dokter ke sini, syukurlah dia datangnya cepat."
Aku mengangguk. Mas Hendi kemudian mengekori aku masuk ke kamar Kirana.
"Bagaimana keadaan putri saya, Dok?" Aku menatap Dokter tanpa berkedip, saking khawatirnya.
"Dia hanya kelelahan. Mual yang menyiksa beberapa hari, sepertinya karena salah makan." Dokter itu menerangkan.
Aku mendesah, bukan tidak percaya. Akan tetapi, kejadian yang dialami Kirana persis tanda-tanda kehamilan.
"Dokter, bisa dicek lagi ... Kirana gak hamil, kan?" Pertanyaan ini lolos begitu saja, tanpa peduli bagaimana perasaan Kirana yang mungkin saat ini kaget dengan pertanyaanku.
"Bu!" Kirana menepuk lenganku.
"Aku barusan beli tespack, Dok. Mungkin akan lebih jelas lagi kalau Kirana tes! Jujur, kemarin aku khawatir banget liat keadaan dia," terangku.
Kirana berulang kali menghentikan aku, seakan dia takut saja menggunakan tespack itu.
"Astaga, Bu! Ibu nuduh Kirana yang nggak-nggak. Ga perlu, Bu ... percaya sama Kirana!" protesnya.
"Diam, Kirana! Sekarang ke toilet, Ibu mau lihat sendiri." Aku menyerahkan wadah kecil, "simpan air seni kamu di sini," perintahku.
Kirana menatapku dengan wajah memerah. Bagaimana mungkin aku tidak curiga, sementara ekspresinya saja sudah seperti itu.
Mas Hendi menepuk bahuku, lalu memposisikan diri sejajar denganku.
"Mas 'kan sudah bilang, jangan terlalu keras sama Kirana. Kamu ini, harus berapa kali kuberitahu!" Mas Hendi berdecak, tampaknya dia sebal dengan sikapku.
"Sudahlah, Mas! Kamu gak tau bagaimana khawatirnya seorang Ibu pada anaknya," timpalku, lalu mendekat ke toilet. Menunggu Kirana di depan sana.
Ceklek!
Pintu toilet terbuka, Kirana muncul dengan wadah kecil yang sudah terisi. Kuambil tespack itu dan mencelupnya ke wadah.
Menunggu sekitar beberapa menit dengan jantung seperti ingin melompat.
Sementara Kirana, melewatiku begitu saja dan tiba-tiba menangis histeris. Dia berteriak memanggil ayahnya yang telah lama tiada.
Anak itu menangis, kenapa?