PERUT PUTRIKU TERUS MEMBESAR (2)
#Kirana
"Mas, kamu ngerasa ada yang aneh gak sama Kirana?" tanyaku pada Mas Hendi.
"Apanya yang aneh, Sayang? Wajarlah itu, mungkin Kirana mau makan mangga muda aja." Mas Hendi menjawab tanpa menatapku.
"Kayak orang ngidam gitu, loh. Beberapa minggu lalu, dia juga beli mangga di warung Mpok Nuri. Dimakan sendiri, kayak doyan banget. Gak biasanya gitu, Mas," aduku, masih khawatir.
Mas Hendi mematikan televisi, lalu mengusap kepalaku lembut. Tatapan mata itu, membuat resahku ini mereda.
"Kamu khawatir Kirana kenapa, sih?" tanyanya, terlihat heran.
Aku tersenyum kecut. Rasanya berat menjawab pertanyaan itu, tapi aku beranikan diri untuk mengatakannya.
"Khawatir Kirana terjerumus ke dalam pergaulan bebas, terus dia melewati batas, Mas," lirihku.
Mas Hendi mengecup keningku, hangat.
"Doakan yang baik-baik aja sama anak. Jangan berprasangka buruk, ya." Dia tersenyum, lalu menarikku bangkit dari duduk.
"Sudah malam, kamu tidur. Aku mau ke warung Mpok Nuri beli mangga buat Kirana, siapa tahu warungnya masih buka. Semoga saja kebaikanku ini bisa membuat dia luluh dan mau menerimaku sebagai ayahnya," ucap Mas Hendi.
Lelaki itu memang tidak pantang menyerah untuk mendapatkan hati putriku. Selama dua tahun, dia berjuang untuk itu. Namun, Kirana selalu saja bersikap buruk padanya.
"Udah mau jam sebelas, Mas! Gak apa-apa?" tanyaku, memastikan.
Mas Hendi menggeleng, lalu mengusap bahuku.
"Iya, Alina sayang!" desahnya.
Aku pun mengekori Mas Hendi hingga di ambang pintu. Mengingatkan dia untuk hati-hati di jalan, lalu kembali menutup pintu.
Kugiring langkah ke kamar Kirana untuk melihat keadaannya. Semoga saja dia tidak mual lagi. Mungkin ada baiknya jika besok aku membawanya ke Puskesmas.
Kuraih hendel pintu dan mendorongnya pelan. Seperti biasa, dia memang tidak mengunci pintu kamarnya. Itu salah satu fobia anak itu, takut berada dalam ruangan terkunci.
Fobia yang berawal dari peristiwa di mana Kirana kehilangan ayah kandungnya. Suamiku itu meninggal karena terjebak di ruangan yang terkunci saat kebakaran. Sejak saat itu, Kirana takut sekali mendengar dentingan kunci yang memutar, juga takut berada di ruangan yang terkunci.
"Kirana ... kamu belajar, ya?" tanyaku saat melihat dia sibuk menulis.
Gadis itu menoleh, lalu tersenyum.
"Iya, Bu. Kerjain tugas ... banyak banget!" timpalnya.
"Boleh Ibu minta waktunya sedikit? Ibu mau ngobrol sesuatu, Sayang." Aku menatapnya, penuh harap.
Kirana menutup buku, lalu memasukkan kembali pulpen ke dalam tas kecil berwarna merah muda.
Ia kemudian beranjak dari kursi, lalu duduk bersila di atas tempat tidur.
"Gak biasanya, Bu. Mau ngobrol apa?" tanya Kirana, tampak penasaran.
Aku memang jarang mengajak dia mengobrol seserius ini. Kirana selalu berdiam di kamarnya, mungkin itu dilakukan karena dia menghindari Mas Hendi--ayah sambungnya. Kami biasa berkumpul di ruang makan saja, setelah itu Kirana kembali ke kamar.
"Ibu mau nanya sesuatu," tuturku selembut mungkin.
"Boleh ... tanya aja, Bu!" serunya, santai.
"Kamu punya pacar?"
Kirana terbelalak, lalu tergelak. Entah maksudnya apa, aku juga bingung kenapa dia tertawa. Padahal tidak ada yang lucu.
"Gak, Bu ... kan, Ibu sendiri yang larang Kirana pacaran. Gimana, sih!" sungutnya.
Benar juga yang dikatakan gadis itu. Aku pernah melarang dia untuk pacaran, sudah jelas tak ada laki-laki yang berani melakukan ha kurang ajar padanya.
"Oh, begitu. Kamu tahu nggak, Ayah lagi keluar beliin kamu mangga muda di warung Mpok Nuri?" tanyaku, dengan senyum terkembang.
Kirana menaikkan sebelah alisnya, lalu menyengir.
"Sok baik banget, sih!" pungkasnya.
Aku mengelus lengan anak itu, lalu mendesis.
"Jangan begitu sama Ayah. Dia itu berjuang banget untuk mendapatkan hati kamu. Dua tahun lebih, loh ... kamu gak luluh juga?" tanyaku, sedikit jengkel.
Kirana hanya mendesah, lalu memalingkan pandangan.
"Kirana ...." Pintu tiba-tiba terbuka, Mas Hendi berdiri dengan wajah bingung melihat ke arahku.
"Sayang, kamu di sini? Ohiya, ini mangga muda buat Kirana. Mpok Nuri baru aja mau tutup warung, untung aku gak terlambat," ujar Mas Hendi, senyum kecil tertoreh di bibirnya.
Kirana hanya diam mendengar Mas Hendi. Satu kali pun ia tidak menoleh ke arah ayah tirinya itu.
"Sini, Mas ... biar aku yang kasi ke Kirana." Aku memanggil Mas Hendi untuk masuk ke kamar.
Awalnya ia menolak dengan gelengan kepala, tapi aku mengulurkan tangan memintanya mendekat. Akhirnya dia pun melangkah dengan sedikit lambat, mungkin ragu.
"Mas, ka-kakimu ... berdarah!" Aku bangkit dari duduk dan cepat berlutut di hadapannya.
Darah segar mengalir di kaki Mas Hendi, tapi dia tampaknya santai saja saat melangkahkan kakinya.
"Oh, ini tadi jatuh ...," lirihnya.
"Ini mangga mudanya Kirana." Lelaki itu menyerahkan sebuah plastik yang berisi mangga, entah ada berapa biji.
Aku menoleh ke arah Kirana yang masih juga diam, enggan mengambil plastik yang Mas Hendi berikan padanya.
Anak itu benar-benar membuat mataku panas!
"Kirana, kamu ini sudah kelewatan! Ayahmu sampai terluka, demi membelikan buah itu untuk kamu. Tapi kamu malah bersikap seperti ini? Gak tau terima kasih!" Aku meraih plastik dari tangan Mas Hendi, lalu menjatuhkannya ke lantai begitu saja.
"Sudahlah, Mas ... kalau dia tetap membenci kamu, biarkan saja. Selama ini aku menyaksikan perjuanganmu agar Kirana mau menerima kamu, tapi anak ini sangat keras kepala!" Aku melingkarkan tangan di lengan Mas Hendi, lalu keluar dari kamar Kirana dengan memapah lelaki yang kakinya terluka.
Sekuat apa kita bersabar, terkadang ada saat di mana amarah itu meledak-ledak.
Saat ini aku benar kecewa pada putriku itu, entah kapan dia akan berubah. Setidaknya menghargai kebaikan ayah sambungnya yang selama ini sudah menafkahi dan membiayai sekolahnya.
.
Kaki Mas Hendi sudah kubalut dengan perban, setelah beberapa tetes obat merah kuoles di sekitar lukanya.
"Lain kali Mas hati-hati kalau jalan! Aku khawatir banget tauk," omelku.
"Namanya juga jalanan gelap, Sayang. Mana kelihatan ada sesuatu di depan," tukasnya.
Semua karena Kirana. Dia bahkan sama sekali tidak mengucapkan terima kasih pada Mas Hendi, setelah keinginannya dipenuhi.
"Kamu jangan keras sama Kirana, Sayang. Kasian anak itu. Jangan sampai dia ngerasa jadi anak broken home. Lain kali, nasihati dia dengan pilihan kata yang baik dan intonasi suara yang lembut. Aku aja gak pernah galak sama kamu," terang Mas Hendi, menasihatiku.
Aku menghela napas dalam, lalu mengembuskannya pelan ke udara.
"Iya, Mas. Tapi aku tetap akan mendiamkan Kirana, sampai dia mau meminta maaf sama kamu!" ujarku, penuh penekanan.
Aku hanya merasa perlu menegur Kirana dengan cara berbeda. Sebelumnya sudah seringkali menasihati dengan baik, tapi responnya selalu sama--tak mau juga menerima Mas Hendi sebagai ayahnya.
"Aku buatkan kopi, Mas?" tanyaku pada lelaki yang menyandarkan punggungnya di sofa. Dia menatapku sebentar, lalu mengangguk.
Aku melangkah menuju dapur, saat melewati kamar Kirana aku memelankan langkah. Penasaran dia sedang apa, apalagi tadi sikapku mungkin mengiris hatinya.
Pintunya tidak tertutup rapat seperti biasa. Gadis itu duduk di depan meja rias dengan kepala tertunduk.
"Aku benci hidupku ... aku benci hidupku!" Suara itu nyaris tak terdengar, tapi karena dia mengulang-ulang, aku jadi bisa mengetahui apa yang diucapkannya.
Kenapa putriku membenci hidupnya?
Apa karena tadi aku memarahi dia?
Ingin rasanya masuk ke dalam sana dan bertanya maksud kalimatnya barusan. Namun, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk mendiamkan dia selama belum juga minta maaf pada Mas Hendi.
.
Kopi di atas nampan untuk Mas Hendi kubawa keluar menuju ruang televisi. Ada dua cangkir dengan ukuran berbeda, satu untuknya dan satu lagi punyaku. Kami memang sering menikmati waktu ditemani kopi hangat ini.
Aku menyingkap tirai pembatas menuju ruang televisi dengan sebelah tanganku.
"Mas, ini kopi untuk ...."
Ucapanku terhenti saat menyaksikan Kirana di sana.
Ah, kenapa anak itu?