“Kau?!”
William hanya menatapnya datar. Tanpa ragu sedikit pun, Valentina meraih pistol itu. Mengangkatnya, mengarahkan tepat ke kaca jendela besar di hadapannya. Dadanya naik turun, napasnya tertahan lalu pelan-pelan, ia menarik pelatuknya hingga membuat peluru melesat menghantam kaca
Prang!
Kaca itu pecah seketika. Serpihannya berhamburan jatuh ke lantai, berkilauan di bawah cahaya lampu yang redup, seperti ribuan bintang yang runtuh sekaligus, persis seperti dirinya yang berdiri di sini, utuh di luar namun remuk di dalam.
Valentina menurunkan tangan. Jemarinya masih sedikit gemetar, namun suaranya tenang, hampir datar, meski ada getaran halus di setiap kata yang meluncur keluar.
“Aku sudah melakukannya.”
William diam saja. Matanya tak lepas dari kepingan kaca yang berserakan di lantai itu. Perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis yang samar dan tak tertangkap oleh pandangan Valentina.
Ia mengira itu sudah cukup. Bahwa setelah ia menarik pelatuk itu, William akan langsung mengangguk, menyetujui permintaannya, membantunya meruntuhkan semua orang yang telah menginjaknya. Namun ia salah. Pria itu justru mengucapkan sesuatu yang membuat darahnya terasa membeku perlahan.
“Aku akan menghancurkan mantan kekasihmu dan keluargamu. Aku akan melakukannya tanpa menyentuh sehelai rambut pun mereka secara langsung.” William berhenti sejenak, membiarkan janji itu menggantung berat. “Dengan satu syarat.”
Tubuh Valentina menegang. Ada bisik kecil di hatinya untuk berlari, menjauh, tinggalkan semua ini. Tapi luka di dadanya terlalu dalam, dan sialnya rasa sakit itu menelan keraguannya utuh.
“Kau harus menjadi bagian dari permainanku sendiri,” lanjutnya, suaranya rendah namun tak bisa dibantah. “Tinggal di kediamanku. Mematuhi setiap aturanku. Dan berpura-pura menjadi perempuan yang berada di bawah perlindunganku.”
Valentina menatapnya tajam, napasnya memburu, d**a naik turun menahan amarah yang tiba-tiba meledak.
“Kenapa?” suaranya meninggi, bergetar namun tegas. “Kenapa harus semua ini? Anda ingin menjadikanku apa? Barang yang kau simpan? Atau b***k yang harus menuruti setiap kemauan Anda tanpa bertanya?”
Ia melangkah maju selangkah, tak peduli aura dingin yang memancar dari sosok tinggi itu seakan menekan dadanya, menyulitkan napasnya. Ia menatap lurus ke manik mata gelap William, mencari sesuatu—kasihan? Kebenaran? Apa pun itu.
“Aku datang ke sini bukan untuk dimiliki, bukan untuk diperintah! Aku datang agar kau bantu aku membalas semua yang mereka lakukan padaku,bukan untuk kau perlakukan seperti orang yang tak punya pilihan selain menuruti kemauanmu! Apa bagiku tak lebih dari sekadar alat yang bisa kau pakai sesukamu, lalu dibuang saat tak berguna lagi?”
Matanya memerah, bukan karena takut, melainkan karena luka yang baru saja mereda kini kembali terasa perih. Ia tak mau dijadikan alat lagi. Persis seperti yang keluarganya lakukan saat mengusirnya ke luar pintu tadi.
William yang melihat itu. Ia menghela napas pelan, lalu duduk di atas meja. Di situasi seperti ini, emosi Valentina terlalu bergejolak hingga menutupi makna di balik kata-katanya. Tapi ia tak berniat menjelaskan panjang lebar. Biarkan waktu yang mengajarkan.
“Aku tidak butuh b***k,” ucapnya datar, dingin, setajam es yang tak mencair walau disentuh.
Valentina menatapnya, napasnya tertahan. “Lalu apa yang Anda butuhkan?”
William menatapnya lekat, seakan menembus setiap dinding yang ia bangun di sekeliling hatinya, seakan melihat semua luka yang ia sembunyikan di balik kerangka tubuh yang rapuh itu.
“Seseorang yang cukup berani untuk berdiri di sampingku.”
Kata-kata William menggantung di udara, berat, seakan menekan setiap jengkal ruangan di antara mereka. Valentina menatapnya terpaku. Lalu, tertawa rendah.
“Jangan mengatakan hal yang terdengar seperti lelucon. Aku tidak pernah cukup berani untuk kemari. Jika saja semua ini tak terjadi, aku tak akan pernah berani melangkah ke sini. Tapi sejak pintu itu ditutup keras di hadapanku, sejak aku menyadari tak ada satu pun orang yang memihak padaku, barulah aku menemukan sedikit keberanian itu. Bukan karena aku kuat. Tapi karena aku tak punya pilihan lain.”
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan dadanya yang masih bergejolak hebat, lalu melanjutkan, menatapnya lurus tanpa menyembunyikan keraguan sedikit pun.
“Baiklah. Katakanlah aku punya keberanian itu. Lalu apa sebenarnya yang kau inginkan? Apa tujuannya berdiri di sampingmu? Apa ini memang sekadar syarat agar kau membantuku? Atau ada sesuatu yang lain di balik semua ini?!”
William tetap diam di tempatnya, namun tatapan matanya berubah lebih tajam, seakan sedang menimbang sesuatu yang berat di kepalanya. Ia tidak terburu-buru menjawab, seolah membiarkan keraguan itu meresap dulu, membiarkan setiap pertanyaan itu mengendap sebelum diberi jawaban yang tak bisa ditarik kembali.
Di ruangan yang sunyi itu, hanya terdengar suara napas mereka berdua. Satu bergejolak penuh amarah dan luka, satu lagi tenang namun menyimpan badai yang jauh lebih besar.
“Kau pikir semua ini hanya soal balas dendam atas pengkhianatan di atas kasur?” tanyanya tiba-tiba, rendah namun menohok. “Kau pikir semua yang terjadi padamu hanya karena dia tak mencintaimu lagi, hanya karena keluargamu memandangmu sebagai beban yang harus dibuang? Itu baru permulaan, Valentina. Dan kau bahkan belum menyentuh inti dari semua ini.”
Jantung Valentina berdegup kencang, menabrak dinding dadanya seakan hendak melompat keluar. Ada rasa dingin yang merayap perlahan, dari ujung kaki naik hingga ke tengkuk, membuat bulu kuduknya berdiri.
“Apa maksudmu?” suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. “Ada... ada hal lain di balik semua ini?”
“Kau benar-benar terlalu naif!”
William membentak pelan, namun kata-katanya menghantam lebih keras. Ia bangkit perlahan dari kursinya. Sosoknya yang tinggi menjulang kini berdiri tegak di belakang meja besar itu, memancarkan kekuasaan yang tak perlu diucapkan untuk dirasakan. Ia menatap Valentina sejenak, seakan memastikan apakah ia siap mendengar kebenaran yang mungkin akan menghancurkan sisa-sisa keyakinannya yang masih tersisa.
Lalu perlahan, tangannya menjangkau laci di sisi meja itu, menariknya keluar dengan gerakan yang tenang namun penuh ketegangan yang menyesakkan.
Di antara tumpukan dokumen tertutup rapat, ia mengambil sebuah benda pipih yang terbungkus kulit cokelat tua. Ia meletakkannya di permukaan meja, lalu mendorongnya sedikit ke arah Valentina, sebuah foto yang sudah agak kusam, namun gambar di dalamnya masih terlihat sangat jelas.
Itu dia. Mantan kekasihnya. Pria yang selama ini ia perjuangkan, yang ia berikan segalanya, yang ia kira akan menua bersamanya.
“Dia bukan hanya mengkhianatimu, Valentina…”
Jantungnya berdegup liar, tak beraturan, seakan hendak meledak di dalam rongga d**a. Ia menatap foto itu, lalu ke arah William, matanya membelalak, takut sekaligus tak paham.
“A-apa maksudnya?”
Perlahan William mendorong foto itu mendekat, lalu ujung jarinya mengetuk pelan wajah pria itu, seakan menandai sesuatu yang tak terlihat mata biasa.
“Dia mencuri sesuatu darimu.”