Tidak banyak yang dibicarakan saat makan malam, Vania mungkin sesekali akan menanggapi pertanyaan dari Kevin seadanya. Dan itu membuat Kevin semakin penasaran.
Dia memang terbiasa mendapatkan apapun dengan cepat, tapi kali ini mungkin dia harus bersabar lebih lama.
Pertanyaan demi pertanyaan terus dijawab dengan lugas oleh Kevin, membuat Papa Vania semakin yakin untuk menitipkan anaknya nanti. Setidaknya itulah yang dapat Vania lihat saat ini.
Rara yang melihat Kevin masih terus tidak menggubris kehadiran dirinya mencoba membuat Kevin setidaknya sedikit melirik.
Tuk
"Aw.. Shhh" Vania melirik Rara yang tanpa sengaja berniat menyiram dirinya sendiri dengan jus dingin, tapi entah mengapa jus itu malah jatuh tumpah mengenai dress yang dikenakan Vania. Bahkan sampai meninggalkan noda berwarna hijau.
"Sebentar, Aku bantu bersihin" Ujar Kevin yang ditangannya terdapat tisu, tangannya dengan cekatan mengelap noda yang berwarna hijau itu.
Sementara disisi lain, Rara semakin dibuat emosi, dadanya bergejolak marah. Dia heran, kenapa Vania selalu saja lolos dari rencana jahatnya. Rara membulatkan matanya saat melihat Vania ditarik Kevin menuju toilet. Dia semakin tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang merah karena marah dan kesal.
Kiara yang melihat gelagat aneh gadis didepannya yang terus memperhatikan kedekatan Kevin dengan Vania, perlahan dia mulai memahami bahwa Rara mungkin cemburu atau iri?
Kiara awalnya akan menyetujui perjodohan ini, karena menurut suaminya, gadis yang akan dijodohkan dengan anak mereka adalah gadis yang baik, mandiri. Jadi, Kiara beranggapan bahwa mereka akan cocok nanti.
Tapi setelah melihat Vania, Kiara menjadi bimbang. Pasalnya, kemarin sewaktu Kiara dengan Anna cucunya itu, menghabiskan waktu untuk shopping dan Anna cerita bahwa Papanya sedang dekat dengan wanita.
Memang Anna tidak menyebutkan dengan gamblang, tapi setelah melihat respon Rey saat dia dengan sengaja menerima ajakan mereka bertemu untuk makan siang. Meski dalih karena rindu, Kiara mulai merasa curiga. Bahwa wanita yang Rey maksud adalah Vania. Sekretaris di kantornya itu.
Dan yang membuat Kiara bertambah bingung, Vania menerima tawaran tentang perjodohan ini. Apakah Vania adalah wanita yang seperti itu? Bermain-main dengan pria manapun, kemudian memutuskan yang mana yang menurutnya pantas?
*********
Sementara di tempat lain, ada seseorang yang sedang bingung sambil memegang ponsel.
Nomor yang anda tuju sedang sibuk, Silahkan hub-
Tut
Tertera di layar benda persegi panjang nama 'Vania' . Jari-jari itu terus bergerak mengirim pesan yang sampai saat ini belum terbaca.
"Papa!" Teriak Anna saat melihat Papa nya fokus dengan ponsel di tangan, mulai mengacuhkannya.
"Sebentar, Papa mau telepon dulu" , Rey pergi kearah taman sambil tangannya terus menghubungi sekretarisnya itu.
Nomor yang anda tuju tidak bisa menerima panggilan-
Jarinya terus bergerak mengirim pesan sambil mulutnya bergumam lirih. Rey tidak pernah sekalut ini. Vania, yang biasanya selalu merespon pesan dan panggilan telepon darinya tanpa mengenal waktu malah saat ini susah dihubungi.
Rey khawatir, takut jika pernah berbuat salah dan berakhir membuat Vania jengkel hingga memutuskan untuk mengacuhkannya.
"Rey, Mama dari tadi teriak manggil kamu loh, tapi kok gak dijawab!" Tegur Geby, Mama Rey yang saat ini sedang membawa nampan di kedua tangannya.
"Ma, aku keluar bentar ya. Aku titip Anna" Rey bergegas masuk ke dalam mobil tanpa melihat Geby yang sekarang menekuk wajahnya dengan kusut.
"Eyang jangan ngambek, Papa emang lagi suka keluyuran" Celetuk Anna sambil mencomot cake yang masih berada ditangan Geby.
Geby mengerutkan alis, merasa aneh dengan sikap Rey yang terlihat seperti sedang mabuk cinta.
Apa mereka sudah semakin dekat ya? Pikirnya.
"Eyang pasti mikirnya Papa lagi dekat sama Ante Ona ya?" Tanya Anna dengan mulut penuh cake. Umurnya memang sudah berada diangka lima belas tahun-bahkan hampir enam Nn belas beberapa bulan lagi, tapi kelakuannya masih sering membuat Rey sakit kepala sambil menghela napas.
"Loh, Papamu kalau gak dekat sama Tante mu itu ya sama siapa lagi?" Dengan sabar Geby menunggu cucunya itu menyelesaikan kunyahan di mulutnya. Hingga ketika tangan Anna berniat menyuap kembali cake yang masih ada ditangannya, Geby langsung menahan tangan itu masuk sambil melebarkan matanya dengan kesal.
Bocah ini udah bikin orang tua penasaran malah tetap anteng banget makannya! Gerutu Geby di dalam hati.
"Jawab dulu!" Desak Geby yang kini menjauhkan piring berisi cake yang ada didepan Anna.
Anna cemberut, dia sebenarnya masih ingin makan cake. Tapi, melihat tatapan Eyang nya yang semakin tajam hingga hampir bola matanya jatuh, pada akhirnya Anna menghela napas dengan kesal menjawab "Sama karyawan Papa"
"Karyawan yang mana? Bukannya Papa lagi pegang cabang? kan Eyang dengar belum ada sekretaris yang cocok" Geby semakin bingung dengan kalimat yang dilontarkan cucunya.
Anna kembali menarik piring yang sempat disingkirkan Geby, mulai memakan kembali cake buatan Eyang dengan cita rasa bintang lima itu.
"Huh, Eyang kepo banget. Aku tuh lagi makan cake loh ini!" Gerutu Anna yang mulai kesal karena lagi-lagi ditanyai perihal kedekatan Papanya dengan Tante Vania sekretaris baru.
"Namanya Tante Vania, Oma juga udah pernah liat kok di kantor Papa. Aku ke kamar ya, makasih Eyang, cake nya enak banget. Aku bawa semua ya!" Anna buru-buru pergi takut ditanyai lebih jauh tentang sekretaris Papanya itu.
Anna yang sangat suka merecoki kehidupan Papanya sekarang harus lebih menahan diri. Karena jika hal ini bocor sampai ketelinga Eyang cantik itu, dipastikan uang jajan Anna akan terpotong ludes tak bersisa oleh Rey.
Kemarin, saat Mantan mertua Rey datang berkunjung tiba-tiba ke kantornya. Dia sempat curiga kalau Anna yang menghubunginya, hingga kesepakatan dibuat kemarin. Kalau sampai Geby mengetahui juga kedekatan antara Rey dengan Vania, uang jajan yang sangat bernilai bagi kelangsungan hidup Anna akan di potong sampai habis.
Anna hanya perlu membawa bekal dari rumah selama satu bulan penuh!. Bisa dibayangkan, Anna yang sangat mencintai makanan manis harus menahan diri selama satu bulan untuk tidak membeli cake ataupun cokelat. Dia tidak bisa jauh-jauh dari pasangannya itu!
Geby yang melihat cucunya sudah melarikan diri, bahkan saat dia masih banyak pertanyaan didalam kepalanya hanya mampu menghela napas panjang.
"Vania? Bahkan Kiara lebih dulu ketemu sama dia dibanding aku?!" Dengus Geby merasa kesal karena anaknya itu bersikap seperti bukan anaknya.
*******
"Makasih ya udah mau antar sampai rumah, padahal sebenarnya gak perlu. Aku bisa numpang di mobil Papa tadi."
Ucap Vania sambil melepaskan seat belt.
"Aku senang direpotin sama kamu, nanti kalau kamu libur boleh antar aku keliling Jakarta?" Tawar Kevin saat melihat Vania bersiap membuka pintu mobil.
Vania sempat tertegun sejenak, menimbang jawaban apa yang akan dia berikan.
Tok tok
Ketukan di kaca mobil Kevin membuat Vania lega, bergegas membuka pintu sebelum pamit dan mengucapkan terima kasih sekali lagi. Kevin hampir menghela napas panjang saat Vania tiba-tiba kembali membuka pintu disebelah kemudi sambil menyembulkan kepalanya "Nanti aku kabarin waktunya kapan"
Kevin otomatis tersenyum sampai menampilkan gigi nya yang rapi. Setelah melihat Vania masuk, dia juga sempat berpamitan dengan Brano sebentar sebelum kembali menancapkan gas mobil meninggalkan kediaman Vania.
Vania yang hampir mencapai pintu teras kembali menoleh kebelakang saat mendengar suara seorang pria yang sangat dia kenali.
Beruntung Brano sudah masuk lebih dulu, jadi Vania tidak harus memberikan alasan lebih jauh jika Papa nya itu bertanya perihal siapa pria didepannya ini.
Saat sudah mencapai mobil, tiba-tiba Rey memeluk dengan erat tubuh Vania "Nia, kenapa telepon aku gak diangkat? Pesan aku juga sampai sekarang belum kamu balas. Kamu dari mana?"
Pelukan dengan perlahan terlepas, Vania bingung menatap Rey yang saat ini berpenampilan acak-acakan. Kancing baju sudah beberapa yang terbuka, rambut seperti habis di jambak harimau juga tambahan wajah kuyu seperti menahan kantuk dan lelah.
"Aku kan bilang kemarin, kalau aku ada acara makan malam keluarga" Vania menjawab sambil sesekali tangannya memberikan usapan pada dahi pria didepannya dengan lembut.
"Kenapa telepon aku gak diangkat?"
"Aku gak sempat pegang ponsel, ini juga baru sampai rumah" Ujar Vania dengan jujur. Memang benar, Vania hampir tidak pernah bisa memegang ponsel. Karena Kevin selalu mengajaknya berbincang, entah bicara hal random atau pertanyaan seputar pekerjaan.
Vania tidak merasa Kevin mengganggu, karena memang dia belum memutuskan akan melanjutkan perjodohan ini atau tidak.
"Aku kangen" Wajah Rey cemberut, persis seperti anak kecil yang sedang butuh perhatian lebih.
"Oke, maafin aku. Tapi, aku lelah sekarang" Vania terkekeh, sedikit terhibur saat melihat Bosnya yang dingin kini menampilkan raut wajahnya yang lain.
"Oke, aku pulang. Nanti aku telepon kalau sudah dirumah. Jangan lupa diangkat!"
"Iya nanti aku angkat, hati-hati dijalan" Vania dengan spontan mencium pipi Rey. Keduanya sama-sama tertegun dan sama-sama tertawa saat mengetahui wajah keduanya memerah.
"Makasih baby.."
"Eum.." Anggukan Vania yang menyudahi pertemuan keduanya.
Lagi-lagi, Rara melihat kejadian barusan dan mulai menjalankan rencana agar Vania gagal memiliki Kevin, ataupun pria tadi.
Bersambung...
Revisi, Tangerang 5 Jun 2025