Sudah lama sekali Vania tidak menghabiskan weekend hanya untuk sekedar merawat wajahnya di clinic kecantikan yang ada di ibukota. Dirinya sudah berangan-angan menikmati pijatan dari spa yang biasa dia datangi.
Mungkin besok dia akan meluangkan waktu dengan mempercantik diri. Satu sisi karena dia merasa malas akhir-akhir ini merawat wajahnya, alhasil dia mendapati jerawat yang berada di pipi kiri dan pelipisnya. Disatu sisi, karena tuntutan Papanya yang memaksa agar dia ikut serta dalam jamuan makan malam yang diadakan oleh Rekan bisnisnya.
Karena kesibukannya saat menjabat sebagai sekretaris, Vania selalu pulang larut dan membuat dia malas untuk melakukan rutinitas setiap malam.
Kadang, dirinya hanya langsung mencuci muka tanpa melakukan double cleansing terlebih dahulu, Yah. Jangan salahkan dia, siapa yang sanggup jika job pekerjaannya jadi double. Pertama mempersiapkan segala hal yang menyangkut pekerjaan. Kedua, merelakan dirinya untuk memuaskan ranjang Bosnya.
Untuk poin terakhir, untungnya Vania menikmati segala sentuhan dari Bosnya itu jadi dia tidak pernah merasa terbebani. Hanya saja, sesekali tubuhnya akan kelelahan dan membuat orang disekitarnya curiga.
Mereka yang berpikir polos mungkin akan memaklumi, bagaimanapun Vania masih terbilang baru menjabat sebagai sekretaris. Jadi, dia masih beradaptasi. Lain dengan mereka yang sudah dari awal tidak menyukainya.
Semenjak dia kedapatan mengantuk dan sempat tertidur beberapa menit di pantri saat membuat kopi untuk Bosnya, teman yang beberapa kali dia bantu membuat rumor jahat yang mengatakan bahwa dia adalah wanita simpanan Bos.
Sebenarnya, kalimatnya kurang tepat. Vania bukan wanita simpanan siapapun. Dia dan Rey saling mencintai, terlepas dia yang tidak pernah mengutarakan perasaannya dan hanya mengikuti alur yang dibuat oleh Rey. Lambat laun dia mulai menyukai Bosnya itu, jadi dia hanya menganggap angin lalu rumor tidak sedap yang dia dengar.
Malah Rey yang merasa bersalah, pasalnya dia mengantuk saat Rey memberikan pekerjaan tambahan untuk mengecek berkas-berkas yang tidak bisa dia bawa ke Paris minggu lalu.
Melihat itu, tentu lagi-lagi Vania merasakan kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya. Cinta yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya, kini dia dapatkan dari Bosnya yang tampan.
Kesampingkan tentang kriteria idaman hatinya yang dulu, dia yang menyukai pria bersih tanpa bulu bahkan kumis sekalipun kini mulai berbelok. Dirinya tentu tidak bisa menolak pesona duda yang saat ini ada didepannya.
Senyum manis yang selalu menyapa pagi harinya, suara maskulin yang indah memenuhi pendengarannya setiap hari. Bahkan, tangan kekar dan lengan bisep serta perut berbalok yang tidak pernah dia idam-idamkan, kini menjadi salah satu tempat paling dia sukai.
Oh lupakan tentang itu, pria didepannya hanya akan menjadi miliknya.
"Kok senyum-senyum sendiri? Ada apa by?"
Senyum Vania luntur, sungguh sial nasibnya hari ini karena tidak memakai perona di pipi. Dia yang tersipu malu tidak bisa mengelak saat Bosnya dengan terang-terangan menatap dia sambil menaik turunkan alisnya yang lebat.
"Eh-Enggak kok, aku lagi gak lihat Bapak" Ucap Vania yang saat ini lebih memilih melihat kaca besar didepannya.
Hari sudah sore, jam hampir mencapai angka lima. Vania berharap Rey segera menyelesaikan laporan terakhir yang dia berikan tadi.
"By, Mama ingin ketemu. Kamu keberatan kalau aku ajak makan malam dirumah ku?" Tanya Rey setelah menutup map berisi laporan di mejanya.
"Em,.. Aku sih mau aja tapi nanti Pak. Soalnya aku ada janji makan malam sama Papa"
"Aku lebih suka dipanggil Om atau Mas, aku pernah bilang kan kalau berdua aja jangan panggil Pak"
Rey melangkah mempertipis jarak antara dirinya dengan Vania, merengkuh tubuh wanita di depannya. Sesekali dirinya akan mengecup pelan rambut Vania. Jika sudah seperti ini, Vania akan dengan mudah luluh.
"Baiklah, nanti aku atur jadwal buat ketemu Mama. Sekarang kita pulang"
Vania melambaikan tangannya saat mobil Rey perlahan pergi dari kediaman sang Papa. Di kejauhan, tanpa Vania sadari ada sepasang mata yang memperhatikan gerak gerik dirinya.
Dan seulas senyum licik terlihat saat Vania mulai memasuki pintu gerbang dan menguncinya dari dalam.
*********
"Vania, kamu siap-siap dulu nanti jam tujuh kita berangkat"
Vania yang lelah sehabis bepergian ke beberapa butik hanya untuk mencari dress yang pas. Tapi karena waktu yang mepet alhasil dia tidak membawa satu dresspun. Biarlah dia memakai dress yang ada di lemari nya nanti.
Baru menaiki satu anak tangga, saat mendengar suara yang tidak asing kembali menyapa indera pendengaran nya.
"Iya Pa, aku mau istirahat dulu sebentar" Ucap Vania dan terus melangkahkan kakinya tanpa berniat menunggu ucapan selanjutnya yang akan keluar dari mulut Papanya.
"Papa yakin mau jodohin Vania sama Kevin anaknya Pak Rathore itu?" Ucap Widia kepada suaminya.
"Tentu saja Papa yakin Ma, Anaknya Pak Rathore itu pintar dan mapan. Cocok dengan Vania" Ujar Brano dan melihat istrinya yang saat ini menampilkan gurat kekesalan di wajahnya.
"Mama kenapa?" Tanya Brano
"Tadi sore Rara liat Vania diantar mobil pribadi, mungkin aja selama ini Vania punya pacar Pa"
"Vania bukan anak kayak gitu Ma, Kamu tau sendiri kan dari dulu Vania anaknya gak pernah macem-macem" Ucap Brano
Menanggapi ucapan Brano, Widia hanya mampu menghela napas panjang. Dirinya tiba-tiba punya ide.
"Pa, kalau Rara aja yang dijodohin sama Kevin gimana? Rara kan anaknya baik juga. Gak suka macem-macem, gak jauh beda sama Vania kan?" Saran Widia.
Entah ada angin apa tiba-tiba dia berniat menjodohkan Rara dengan Kevin, padahal Rara belum tentu setuju dengan keputusan Ibunya. Sebab, saat ini Rara sedang menjalin hubungan dengan Vano.
"Loh, Mama lupa ya kalau Rara sekarang dekat sama Vano anaknya Pak Idris itu?" Ujar Brano terkejut saat mendengar saran dari istrinya itu.
Biasanya, Widia paling suka menyarankan Vania agar melakukan apa yang Brano butuhkan. Misal, hari dimana Widia sedang sakit. Alih-alih menyuruh anaknya untuk membereskan rumah, Widia malah memberikan opsi agar Vania yang membantu dirinya. Sedangkan Rara tetap sekolah dengan tenang.
Jadi, ketika dia berniat menjodohkan Vania dengan Kevin Widia jelas langsung setuju. Tapi entah kenapa sekarang dirinya berubah pikiran.
"Eh-eum, Keliatannya Vano kurang serius sama Rara Pa" Elak Widia saat mengetahui suaminya mulai curiga atas sikapnya barusan.
"Sudah terlanjur Ma. Papa gak mungkin main ganti gitu aja. Lebih baik Mama siap-siap sana" Usir Brano pada istrinya itu.
Widia yang melihat suaminya sudah berkutat kembali dengan laptop didepannya, mau tidak mau kembali ke kamar untuk bersiap.
*******
Vania kembali mematut dirinya didepan cermin, dia sengaja memilih pakaian yang lumayan tertutup.
Dress panjang menjuntai sampai pertengahan betisnya, meskipun dressnya tanpa lengan tapi potongan dadanya tidak terlalu rendah. Vania juga membawa jaket denim crop top, sengaja berjaga-jaga apabila dia kedinginan nanti.
Pasalnya, Rekan kerja Papanya itu berniat menjamu mereka di hotel dengan konsep semi outdoor. Bisa dibayangkan dinginnya angin malam yang akan menyentuh kulitnya nanti.
Vania tidak ambil pusing jika penampilannya kini tidak mencerminkan sebagai gadis dewasa, dia yang memakai pakaian dengan mengedepankan kenyamanan daripada estetika.
Lagipula, siapa yang ingin kedinginan dan berakhir pulang dalam keadaan kembung dengan hanya memakai Dress kemben yang memperlihatkan belahan dadanya seperti wanita disebelahnya?.
Ya. Rara dengan penuh percaya diri memakai dress tanpa lengan berwarna merah menyala, dengan potongan d**a rendah tentu mampu memperlihatkan isinya.
Sungguh nahas, saat ini Vania yang melihat Rara sudah mulai mengusap lengannya sendiri. Saat akan mengambil jaketnya yang tertinggal di mobil, Papanya menahan karena orang yang mereka tunggu sudah datang.
Pria itu mulai memperkenalkan dirinya, dan dengan cepat pembicaraan ala orang dewasa pun dimulai. Vania sangat menyayangkan sikap adik tirinya itu yang terlalu ceroboh. Padahal, dari awal Papanya sudah memperingatkan dia untuk mengganti pakaian dengan yang lebih hangat.
"Jadi, Vania gimana tempat kerja kamu sekarang?" Tanya pria didepannya yang dipanggil Papanya Rathore.
"Nyaman, aku sudah mulai bisa beradaptasi sebagai sekretaris di perusahaan" Jawab Vania dengan lugas.
"Wow, ternyata kamu bukan cuma cantik tapi juga pintar. Ahh, mohon maaf Brano. Kevin dan istriku mungkin akan telat datang" Ujar Rathore sambil memegang ponsel ditangannya.
Pak Rathore terlihat seperti sungkan karena anaknya yang bernama Kevin itu belum juga tiba. Vania penasaran, seperti apa wujud dari pria bernama Kevin ini? Terlihat bahwa pembawaan Ayahnya begitu baik, mungkin wajahnya memang kaku tapi sikapnya jika dibandingkan dengan Papanya akan sangat jauh berbeda.
Papanya kaku dan tidak pernah memperdulikan anak-anaknya, sementara Pak Rathore ini seperti pria kaku yang masih menyimpan kelembutan di dirinya dengan perlakuan manis yang dia berikan kepada Vania.
Wajahnya masih tampan meskipun usianya berbeda beberapa tahun diatas Papanya, tapi jika dilihat sekilas mungkin orang akan menganggap Papanya lebih tua dibandingkan Pak Rathore.
*****
Entah sudah berapa lama Vania menunggu, sampai suara seseorang menyapa telinganya. Yang pertama kali Vania lihat adalah wanita paruh baya yang cantik.
Ini?! Kenapa ada Maminya Pak Rey disini?
Vania dan Kiara sama-sama terkejut, keduanya sempat terdiam beberapa saat. Sampai suara lainnya menginterupsi keduanya. Suara pria bernama Kevin.
"Selamat malam. Maaf aku telat Pi, Om, Tadi macet di jalan karena ada perbaikan jalan. Jadi, harus putar arah"
"Gak masalah, ayo duduk nak Kevin" Ujar Brano dengan senyum merekah diwajahnya.
Sementara Vania lagi-lagi dibuat terkejut. Pria bernama Kevin adalah pria yang sama yang dia tabrak di Bandara hari itu.
Kevin yang sudah mengenali wanita didepannya dari awal dia masuk ke dalam restoran, senyumnya semakin merekah kala tatapan keduanya bertemu.
Mendapati keduanya sempat bertatapan, Rara yang sama sekali tidak di lirik sedikitpun oleh Kevin mulai merasakan geram.
Tunggu pembalasanku kak. Kali ini Kakak gak akan mungkin bisa lepas lagi!
Senyum licik mengukir wajah cantiknya, sebelum perlahan memudar dan menampilkan kembali wajah anggun tak berdosa. Seolah yang tersenyum tadi bukan dia.
Bersambung....
Revisi. Tangerang 5 Jun 2025