Happy Reading...
"Mom, c'mon really? Aku gak pernah bilang mau!" Ucap seseorang di seberang sana.
"Kalau kamu gak mau, Mami juga gak bisa bantu banyak. Kamu tau sendiri, Papi itu paling susah di bantah. Sudahlah ikuti aja" Ujar wanita berusia 50'an, setelahnya dia memutuskan sambungan telepon begitu saja.
"Mi, biarkan Kevin bermain dulu. Lagian tahun lalu Kevin pernah melamar pacarnya, tapi Mami gak setuju hanya karena alasan dia masih kuliah"
"Ini permintaan Papi mu itu, Mami juga gak bisa berbuat banyak"
Wanita itu menghela napas panjang, sebenarnya dia berusaha untuk memberikan jalan keluar agar Kevin mau pulang. Tapi, alih-alih pulang, Suaminya itu malah membuat anaknya semakin yakin dengan keputusannya untuk tetap di Paris.
Kevin Atmaja, anak bungsu dari tiga bersaudara. Pria dengan wajah bak dewa yunani dengan reputasi baik, pria dingin dengan wajah kaku tanpa senyum. Reputasinya dikalangan wanita tentu baik, dimana dia hanya mempunyai satu mantan yang saat ini sudah menikah dengan sahabatnya.
Sementara itu wanita yang berusia 50 tahun Kiara Atmaja, istri dari pebisnis yang sudah lama menetap di Ibu kota. Rathore Atmaja, pria asal Amerika Latin yang mampu membuat keluarga Kiara pada akhirnya menyetujui pilihan anaknya untuk menikahi Pria barat itu.
"Bagaimana hubungan kalian berdua? Apa sudah ada kemajuan?"
Wanita disebelahnya menghela napas panjang "Hubungan apa? Mami tau sendiri, Mas Rey bahkan gak pernah menganggap aku ada" Dengus Leona.
"Kamu yakinkan Rey, Kamu sendiri kan yang ingin sekali menjadi istrinya?" Ujar Kiara dengan sinis.
Sebenarnya, Kiara sudah pernah bilang agar anaknya itu mengubur dalam-dalam keinginannya menjadi ibu sambung cucu satu-satunya. Anna, mungkin Leona bisa mengambil hati keponakannya itu, tapi jelas Kiara tau. Leona dengan anak sulungnya itu sungguh berbeda.
Kepribadian keduanya bertolak belakang, Jika Leona wanita cantik penuh ambisi dan egois, Liana Kakaknya cenderung penurut dan penuh welas asih. Mungkin ini menjadi salah satu pertimbangan penting Rey untuk menjadikan Leona istrinya.
Kiara tidak mungkin menghakimi anaknya, sebab Kiara turut andil dalam mendidik Leona yang menjadi seperti ini. Semua karena keputusan dia serta suaminya yang lebih menitipkan Leona ke Adik suaminya sampai dia berusia lima belas tahun.
Saat ini, Kiara menyesal. Anaknya yang dia selalu dia rindukan, menjadi wanita penuh ambisi dan egois. Bahkan Kiara hampir tidak mengenalnya saat mereka bertemu kedua kali saat Leona berumur lima belas tahun.
Pertemuan pertama Kiara dengan Leona kecil yang masih berumur tujuh tahun, Kiara memaklumi jika Leona belum bisa mengerti mana baik dan buruk saat Leona dengan sengaja menyiram Mami dan Papinya. Tapi, kini dia mulai mengerti. Mengapa Leona kecil begitu penuh emosi yang sampai saat ini dia tidak mengerti.
Padahal dari awal, perjanjian keduanya antara dia dan adiknya adalah Nesya harus mengakui bahwa Leona hanya anak asuh dan Ibu kandungnya adalah Kiara.
"Sudahlah nak, mungkin Rey memang belum bisa melupakan mendiang Kakakmu" Ucap Kiara dengan lirih.
"Bukan. Mas Rey jelas-jelas sudah mulai melupakan Kak Lia, karena aku sempat ketemu Mas Rey sama wanita" Dengus Leona.
"Mungkin aja itu sekretarisnya, Mami dengar dari Anna memang Rey punya sekretaris baru"
"Tapi kenapa mereka sampai pegangan tangan? , Bahkan sama aku aja Mas Rey gak pernah mau kusentuh tangannya"
Kiara hanya menaikkan alisnya dengan bingung, Memang setelah menikah Rey dengan Liana hampir tidak pernah ingin berinteraksi dengan Leona. Bukan karena benci, tapi karena dia lebih ingin menjaga perasaan anak sulungnya itu.
"Yasudah, Mami mau makan siang sama Anna dulu" Ucap Kiara pergi ke kamarnya.
Selang beberapa menit Leona melihat Mami nya sudah berganti pakaian dengan Dress yang lebih simple, melewati dirinya yang saat ini sedang menikmati cupcake di mini bar.
*********
"Duduklah Mi" Ucap Rey yang menarik tangan Kiara untuk duduk di depan Vania.
"Loh cucu nya Oma Kia udah makan duluan nih?" Tanya Kiara kepada Anna.
"Maaf Oma, aku lapar banget" Ringis Anna sambil melanjutkan menghabiskan makanannya.
"Mi, kenalin ini Vania sekretaris baru aku"
"Siang Bu.. " Vania menganggukdan terseyum kepada wanita itu, yang dibalas anggukan kecil olehnya.
"Leona kemarin kesini kan Rey?" Ucap Kiara saat mengambil lauk yang ada didepannya.
"Iya Mi, Aku kemarin sudah ketemu Leona"
"Mami mau ajak makan malam lusa, ajak sekalian Mama mu ya?" Tanya Kiara
"Nanti aku usahakan ya Mi, nanti kamu cek jadwal lusa ya Nia" Pinta Rey menatap Vania yang menunduk.
"Ba-baik Pak, nanti setelah makan siang saya cek jadwalnya" Vania mengangguk dan menampilkan senyum tipis, berharap mampu meringankan denyutan nyeri di hatinya kala mendengar Mantan Ibu Mertua Bosnya itu mulai menyebut nama Leona.
Seperti yang diceritakan Rey kemarin saat mereka masih di hotel, Leona adalah adik dari mendiang istrinya. Entah obsesi apa yang ingin dia capai. Tapi, Rey curiga karena akhir-akhir ini Mama dan Ibu mertuanya menyebut nama Leona saat berbicara dengannya.
Rey mungkin mengabaikan itu, tapi Vania yang sudah paham betul tabiat wanita kalau sudah jatuh cinta dia akan menarik perhatian pria yang dia sukai.
Jadi, kesimpulannya Leona mulai menyukai mantan kakak iparnya itu. Vania cemburu, tapi kapasitas yang dia punya tidak pernah bisa melebihi batas yang sudah mereka tentukan. Hubungan keduanya masih mengambang, antara menuju pernikahan atau memang akan stuck disini.
Layaknya Fwb? Saling membutuhkan sentuhan masing-masing. Yah, Vania tidak bisa menuntut begitu banyak. Karena yang dia tau Rey belum terlalu terbuka kepadanya.
Makan siang itu berjalan sangat lambat bagi Vania, dia ingin cepat-cepat keluar dari ruangan itu dan mengurung diri dalam toilet. Jadi, ketika Kiara berniat pergi bersama Anna mengatakan bahwa mereka akan shopping. Vania pun langsung berdiri dan menuntun keduanya ke arah lift.
Rey yang melihat itu tidak bisa mengerutkan keningnya, lagi-lagi sikap Vania membingungkan. Dia seolah menjauhinya lagi, dan dia tentu tidak bisa menebak perihal apa yang membuat Vania menjaga jarak dengannya.
********
Leona yang sedang menyuap nasi kedalam mulutnya terhenti, saat melihat Ibunya memasuki rumah selarut ini. Pasalnya, Kiara pulang saat jam sudah akan beranjak ke angka sepuluh. Entah apa yang sudah dia lakukan selama itu diluar rumah.
"Mami kok gak biasanya pulang larut?" Tanya Leona.
"Tadi Mami habis makan siang bareng Rey juga Anna, terus sorenya mampir ke mall buat shopping. Yah, tadinya sih Mami cuma niat mau antar Anna aja cari buku, eh tapi malah Mami yang kalap" Ujar Kiara meringis saat mulai memperhatikan papper bag di kedua tangannya.
"Mami makan siang sama Mas Rey gak ngajak aku?!" Dengus Leona.
"Mami pikir kamu juga ikut" Ucap Kiara dan mulai menaiki tangga satu persatu menuju lantai dua.
"Mami! Aku belum selesai!" Teriak Leona
"Aku mau nanya soal Mas Rey Mi! Argggh" Leona jengkel, Maminya tidak pernah mau mendukung keputusannya. Minimal bantu pendekatan atau apa gitu!
"Apa aku coba tanya Anna aja ya, kenapa tiba-tiba Papa nya ngajak makan siang?" Bisik Leona lirih.
******
Bandara Charles de Gaulle-Paris pukul 16.00.
"Halo"
"Halo, Kevin. Kamu sudah sampai mana?" Ucap seseorang di sebrang telepon.
"Apasih Pi, aku bahkan masih nunggu di lounge" Dengus Kevin saat mendengar Papinya terus menerus mendesak dirinya untuk segera pulang ke Indonesia.
Terdengar helaan napas panjang di sebrang "Papi tunggu dirumah kalau gitu, kabarin biar nanti Papi yang jemput kamu langsung"
"Bye Pi"
Setelahnya sambungan telepon terputus secara sepihak, Kevin benar-benar muak. Hidupnya harus diatur kembali oleh kedua orangtuanya. Tahun lalu, ketika dia dengan penuh pertimbangan ingin melamar sang kekasih. Tapi, alih-alih di dukung oleh orang terdekatnya, Kevin malah dibuat kecewa.
Hanya karena alasan dia belum mapan, belum mampu bertanggung jawab atas hidup orang lain. Jangankan hidup orang lain, hidupnya saja hampir bisa dikatakan hanya sebagai benalu.
Kevin anak terakhir, jika biasanya beberapa orang tua akan memberikan beban dan tanggung jawab kepada ank pertama, Dia sebagai anak laki-laki diantara Kakaknya harus mendapatkan beban yang begitu dahsyat.
Kevin yang terkenal ugal-ugalan, memilih kehidupan bebas setelah kuliahnya selesai, diharuskan memegang salah satu perusahaan milik Papinya. Tentu, Kevin menolak dengan tegas dan lebih memilih melanjutkan studi S2 nya di Paris.
Setelah lulus setengah tahun yang lalu, dirinya mulai bekerja di salah satu perusahaan sebagai Manager. Dan disaat dia mulai menyukai pekerjaannya, dengan tidak tahu diri Papinya meminta dia untuk pulang.
Hampir tujuh belas jam lamanya perjalanan Paris-Jakarta, membuat Kevin semakin ingin cepat-cepat sampai rumah. Mandi dengan air hangat dan meminum kopi dingin kesukaannya.
"Duh.. "
Lamunannya buyar seketika, entah bagaimana bisa jalan seluas dan selebar ini membuat dia tanpa sengaja menabrak gadis random.
"Maaf... " Kevin dengan sigap membantu gadis itu berdiri.
"Ah ya, Aku juga tadi kurang hati-hati sampai gak lihat kedepan" Ucap gadis itu tersenyum kecil.
Kevin baru ingin berkenalan dengan gadis cantik berwajah manis tadi, tapi bahkan suaranya belum keluar gadis itu buru-buru pergi sambil berlari kecil sebelum menghilang dari pandangannya.
"Aku yakin, kita pasti ketemu lagi" Ucap Kevin yang kini mulai tersenyum.
Bersambung...
Revisi. Tangerang 5 Jun 2025