Happy Reading...
#####
Setelah kejadian kemarin, Vania dan Rey semakin dekat. Bahkan kedekatannya sudah berhembus bagai angin menyebar ke beberapa pegawai, sebagian mendukung dan mulai mencari muka, harap-harap di berikan posisi yang lebih tinggi sebagai penjilat. Sebagian terang-terangan menggunjing jika Vania tidak sedang bersama Bos mereka.
"Hufttt... Abaikan Vania, toh kamu bukannya sedang mencuri ikan di piring orang lain" Gumam Vania saat mendengar pegawai wanita dengan terang-terangan berbicara bahwa dia lebih baik dari Vania dalam segala hal.
Kalau merasa lebih baik, lalu kenapa Pak Rey lebih tertarik kepadaku buka kamu?! Ingin rasanya dia berkata dengan lantang seperti itu, tapi dia sendiri yang meminta agar hubungan keduanya tidak terlalu di publish.
Tentu karena dia sudah mengantisipasi akan hal ini kedepannya, dan juga dia tidak ingin di cap oleh Papanya menjual tubuh ke pria kaya yang saat ini menjabat sebagai Presdir di tempat dia bekerja.
Sampai sudah hampir empat bulan lamanya dia bekerja, tidak ada satupun teman yang benar-benar tulus berada di dekatnya. Karena isu kedekatan Vania dengan Rey juga isu awal mula dia bekerja. Tidak heran, mungkin orang lain akan bingung, ketika mendapati dirinya berada di salah satu ruangan yang sama dengan mereka tanpa pernah ikut seleksi interview.
Sebenarnya, saat itu Vania memang sedang sangat di butuhkan. Jadi, alih-alih memanggil semua kandidat untuk interview di satu hari itu, Vania justru dengan beruntungnya langsung di minta untuk masuk bekerja. Dengan modal perkenalan singkat, data diri, dan beberapa berkas keberhasilannya, membuat HRD di perusahaan ini langsung tanpa pikir panjang menekan kontrak dalam waktu enam bulan.
Mereka yang sempat berada satu ruangan dengannya berpikir mungkin Vania masuk lewat jalur orang dalam, Tentu tidak semuanya bohong. Dia memang memiliki kenalan di perusahaan ini, hanya saja dia merasa tidak perlu menggunakan cara itu. Karena prestasi yang dia raih sungguh mampu menarik perusahaan lain untuk memperkerjakan dirinya.
*******
Matahari semakin tinggi, saat waktu sudah memasuki jam makan siang. Rey dengan cekatan membereskan berkas-berkas yang sempat dia periksa tadi.
Sesekali dirinya mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Saat dia dengan konyolnya melamar Vania dalam keadaan tanpa busana. Vania bahkan terus mengoceh bahwa itu lamaran paling tidak bermodal, karena kebanyakan pasangan yang lain di lamar dengan cara yang indah, Vania justru mendapatkan lamaran di dalam kamar.
Beberapa hari lalu ketika dia berjanji akan menjelaskan siapa itu Vania, Anna putri semata wayang yang selalu merecoki kehidupannya bertanya dengan nada penuh selidik. Usianya yang memang semakin beranjak dewasa sudah bukan hal yang tabu jika, Papanya yang kaku ini bersama wanita di hotel dan itupun hanya berdua.
"Papa janji mau jelasin siapa wanita yang sama Papa waktu itu" Ujar Anna sambil memakan kue kering buatan Eyangnya.
"Itu sekretaris Papa"
"Yakin cuma sebatas itu? Papa gak mau cerita yang lain? Contohnya kayak, cincin dengan taburan permata diatasnya? Bahkan ada tambahan Seribu tangkai bunga mawar putih?" Anna mencibir, Rey yang tidak berbakat sama sekali dalam hal menyembunyikan apapun selalu mencoba untuk tetap polos meski sudah ketahuan.
"Eh-Itu, kok kamu... " Bisa tau? Pertanyaan itu menggantung di lidahnya karena ketika melihat tatapan Anna yang menghunus tajam mengejek dirinya. Anaknya ini, memang selalu bisa membuat dia tidak berdaya.
"Jadi.. siapa tante Vania itu Pa?" Tanya Vania saat ini menghadap Rey yang tetap masih mencoba untuk tidak menjawab dengan jujur.
"Aku yakin, Eyang pasti bakalan kaget kalau tau Papa bawa wanita ke hotel tanpa ikatan yang jelas... Apa aku kasih tau Eyang aja ya?"
"Eh.. Jangan dong sayang, Ini Papa mau jelasin. Kamu kok sekarang ngaduan banget ya sama Eyang?" Rey masih berusaha membujuk Anna agar tetap tutup mulut.
Pada akhirnya, Anna tetap melaporkan pertemuan mereka hari itu. Meskipun Rey sudah membelikan se set skincare ternama sebagai uang tutup mulut.
*******
"Halo.. "
"Vania, masuk ke ruangan saya sekarang" Ujar Rey menutup sambungan telepon tanpa menunggu balasan diseberang sana.
Tak berselang lama, Vania memasuki ruangannya sambil menenteng dokumen di kedua tangannya. Rey hanya menaikkan alisnya, kemudian menyuruh Vania mendekat.
"Aku kangen" Ujar Rey yang saat ini sedang memeluk erat tubuh Vania.
"Tapi Pak-"
"Ya, ya Aku tau. Ini masih jam kantor, tapi di ruangan ini cuma ada kita berdua. Jadi, hilangkan status atasan dan bawahan!" Perintah Rey dengan wajah datar.
"Baik Pak" Vania menunduk, tidak ingin membuat Rey marah dan melayangkan pukulan kepadanya. Meski dirinya sudah lumayan lama bekerja dan tau betul bahwa Rey tidak akan mungkin mengangkat tangannya atau menyakiti dirinya. Tapi, dia tetap tidak bisa untuk tidak merasa takut.
"Baby, Anna sudah tau tentang kamu"
"Kok? Om yang kasih tau?, Terus responnya gimana? Dia marah gak? Duh aku takut-"
"Stttt" Rey tidak membiarkan Vania berbicara lebih banyak. Dengan perlahan merengkuh tubuh wanita itu, membelai lembut pinggangnya sampai membuat Vania tenang.
"Perlu kamu tau, Anna gak permasalahkan kamu, status kamu, sikap kamu atau bahkan yang lainnya. Anna justru pengen lunch bareng, kalau kita ada waktu" Ucap Rey
"Om yakin? Anna gak takut perhatian yang kamu kasih bakalan ke bagi sama aku?"
"Anna sudah besar sayang, Anna justru mendukung sepenuhnya keputusan yang akan aku ambil. Jadi, kalau kamu mau kita bisa makan siang hari ini, nanti aku suruh Anna datang ke kantor"
"Eh-loh kok cepet banget, nanti aja lah Om" Ujar Vania yang mulai memilin dress selutut dengan aksen pita di pinggangnya. Jujur Vania gugup, dia tentu tidak pernah berurusan dengan gadis belia atau bahkan remaja?
Karena seperti yang pernah diceritakan Rey, bahwa Anna akan memasuki Sekolah Menengah Atas tahun ini. Vania yang tidak punya bekal apapun merasa bahwa dia tidak bisa bertemu secepat ini, dia tidak ingin membuat kesan pertemuan kedua mereka lebih buruk lagi.
"Aku sudah telepon sopir pribadi di rumah, nanti Anna kesini" Ucapan Rey membuat Vania terkejut setelah sekian lama merenung.
"Kenapa gak besok-besok aja sih Om" Ujar Vania merengek, dia rasanya belum sanggup berpapasan langsung dengan Anak dari mendiang istri Bosnya itu.
Tok tok tok
"Masuk" Ucap Rey
"Hai Pa" Gadis berwajah oval dengan senyum manis berlesung pipi itu memeluk Papanya.
"Halo Tante Va" Kini giliran Vania yang mendapatkan pelukan hangat dari Anna, dia masih tidak menyangka. Anna dengan lapang d**a menerima Papa nya mempunyai kekasih baru setelah kepergian Mamanya beberapa tahun silam.
"Eh Hai... " Jawab Vania kikuk. Jika Anna menampilkan senyum manis yang mampu memikat semua orang dan turut tersenyum bersama. Vania justru semakin sungkan dan merasa rendah saat ini.
"Aku bawa makan siang dari Eyang Pa, jadi gak perlu pesan makanan lagi. Papa belum pesan lewat aplikasi kan?" Tanya Anna yang dibalas anggukan kepala Rey.
Kemudian, entah datang dari mana. Satu persatu kotak makan merk ternama mulai memadati meja yang berada di dalam ruangan Rey, jika dihitung mungkin ada sekitar lima belas kotak bekal yang dikirimkan oleh Ibunya langsung.
Rey tidak habis pikir, tapi jika melirik ke samping saat Vania juga Anna membuka satu persatu kotak. Mendapati isinya yang mampu menggugah selera makan mereka, dengan mata penuh binar yang ditunjukkan Vania. Lagi-lagi meluluhkan sisi lelaki yang dia miliki. Bagaimana bisa, wanita hanya perlu dipuaskan dengan cara memberikan mereka makanan seperti ini?
Acara makan siang berlangsung dengan ceria, kedatangan Anna ternyata membuat Vania dengan mudah tertawa lepas akibat tingkah konyol yang putrinya itu tampilkan.
Kegiatan mereka harus terintrupsi ketika suara ketukan heels memenuhi ruangan itu, ketiganya dengan serempak menoleh.
Ekspresi mereka berbeda-beda, Rey yang tersedak. Vania yang dengan repleks memberikan air minum kepada Bosnya itu, juga Anna yang tetap melanjutkan makan siangnya dengan santai.
"Rey? Kamu gak mau jelasin siapa dia?" Ucap Wanita dengan sanggul tinggi, wajahnya penuh wibawa. Sifat keibuan tercetak jelas di wajahnya yang penuh kerutan tipis. Meskipun tidak menampilkan senyum sedikitpun, tapi tidak ada jejak penuh intimidasi atau ejekan yang tergambar di wajahnya.
"Mi, Duduklah" Ucap Rey yang kini bangkit dan menggandeng tangannya.
Bersambung...