Rey mengerjapkan kedua matanya, melihat jam yang saat ini menunjukkan pukul 7 malam. Entah berapa kali mereka melakukan pelepasan, tapi anehnya Rey selalu ingin lagi dan lagi.
Melihat kesebelah sisi yang saat ini kosong, menandakan Vania sudah lebih dulu bangun dan membersihkan diri. Karena Rey memesan kamar untuk dua hari tiga malam, mungkin Vania dan dia bisa istirahat dengan cukup malam ini, atau mungkin mereka bisa melakukannya lagi?
Rey tersenyum memikirkan bahwa mereka akan melakukan hal yang sama dan menjelajah kamar ini, Jika Vania tidak menolak lagi. Mungkin lain kali dia akan melakukannya di dalam jacuzzi, berendam bersama dan menikmati sentuhan satu sama lain.
"Om sudah bangun? Aku sudah pesan makan malam, karena gak tau apa yang Om suka, jadi aku pesan semuanya" Ucap Vania yang tersipu malu.
Pasalnya saat ini tubuh atas Rey yang terpahat sempurna terpampang jelas, betapa liat dan maskulin dirinya. Menelusuri sedikit kearah bawah, Vania melihat bulu-bulu halus yang tumbuh disekitar bawah perut. Saat kembali lagi naik keatas dan melihat bahwa Rey sedang menatap dirinya, Vania menundukkan kepalanya. Bisa-bisanya dia tergoda lagi hanya karena suguhan perut sixpack Om-om didepannya?!.
Rey tersenyum menanggapi pertanyaan Vania, melihat Vania yang tersipu malu dengan sengaja menatap tubuhnya. "Aku mandi dulu" Ujar Rey lalu menyingkap selimut menuju ke kamar mandi.
Vania semakin dibuat tidak bisa berkata-kata, Rey dengan santainya berjalan menuju kamar mandi tanpa memakai boksernya terlebih dahulu. Otak kotor Vania yang memang sedari tadi sudah tidak bisa diajak kerjasama, tanpa sengaja melirik s********n Rey dan melihat bukti gairahnya sudah mengacung tegak.
Vania yang sudah mendengar suara pintu tertutup, dengan cepat membereskan kembali kamar yang mereka tempati. Dirasa sudah cukup rapih, Vania yang berniat keluar dari kamar sebelum Rey, malah berakhir menabrak tubuhnya.
"Ayok" Ucap Rey yang saat ini menarik tangan Vania untuk mengikutinya.
Vania yang mulai paham Rey berniat membawanya kemana, menahan Rey yang ingin langsung menceburkan dirinya.
"Om, aku lapar. Aku butuh isi tenaga dulu" Vania cekikikan kala melihat Rey yang menekuk wajahnya, tapi dia tetap menurut saat Vania menarik tangannya menuju meja yang berada di balkon kamar yang mereka pesan.
"Kenapa makannya disini?" Ucap Rey saat menyampirkan selimut di bahu Vania.
Vania yang menerima perlakuan manis Rey tersenyum "Aku mau liat laut kalau malam gimana" Ucap Vania.
Udara di Bandung memang akhir-akhir ini sangat dingin, dia tentu tidak ingin Vania masuk angin karena hanya memakai baju tipis yang sengaja dia beli kemarin.
Sebenarnya Rey tidak hanya menyiapkan hadiah baju untuk Vania, dia juga menyiapkan cincin dengan taburan permata yang harganya tentu fantastis. Hanya waktunya yang belum pas, mungkin nanti setelah makan malam dia akan memberikan nya.
********
Ketika makan malam sudah selesai, keduanya berniat menonton film terlebih dahulu sebelum tidur. Vania merebahkan kepalanya di paha Rey, tangan pria itu sesekali mengusap pelan surai panjang miliknya.
Tangan nakal Rey tentu tidak tinggal diam, Vania yang memang mengenakan hotpants kini mulai merasakan intensitas pergerakan tangan Rey yang semakin gencar.
Awalnya hanya mengusap bagian pusar, lama-lama tangannya turun mengusap b****g sintal miliknya. Bahkan kini tangan pria itu sudah memasuki inti miliknya yang basah akibat sentuhan dari tangannya yang nakal. Jujur, Vania menikmatinya. Dia tidak pernah bisa menolak, tapi dia juga tidak ingin terus seperti ini. Merasa seolah dia hanya barang yang bisa dipakai sesuka hati.
"Awh, Om pelan-pelan dong!" Sentak Vania karena tangan Rey sempat mencubit gemas k******s miliknya.
"Maaf baby "
Tidak sempat Vania melayangkan protesan, karena selanjutnya dia sudah berada di atas tubuh Rey yang entah kapan sudah melucuti habis pakaian keduanya. Apa karena Vania terlalu menikmati sentuhan tangannya sampai Rey membuka pakaiannya saja dia tidak sadar?
"Sebent-ar" Ujar Vania dan memberikan Rey pengaman berbentuk karet elastis.
"Kamu yakin mau aku pakai ini? Rasanya mungkin gak akan sama saat gak ada penghalang apapun loh baby" Tanya Rey yang dibalas anggukan kepala Vania, setelah membuka bungkusnya. Rey memakain pengaman itu dan mulai memasukkan j****r nya ke l**************n yang selalu memanjakan miliknya.
"Ahh.. "
Desahan Vania memenuhi sepinya malam ini, sebenarnya Rey berniat mengajak Vania berendam. Tapi dia takut alih-alih keluar dengan tubuh segar, mereka malah jatuh sakit karena suhu yang mampu membekukkan tubuh saat ini.
Yah, meski tidak bisa sekarang masih ada besok atau lain waktu. Pikir Rey
Vania mulai menaik turunkan dirinya dibantu dengan Rey, mereka berdua mencari kepuasan satu sama lain. Hentakkan terus bergema bersatu dengan desahan dari keduanya.
Tangan Rey terus memilin p****g yang mengeras berwarna merah, memelintir, mengusap dan sesekali mengecup ujungnya. Menambah sensasi dalam kegiatan mereka.
"Ahh, Ahh, Om aku lelah.. " Ucap Vania yang sudah hentikkan gerakan tubuhnya.
Jangan salahkan dia, siapa suruh Rey mempunyai stamina s*x yang begitu luar biasa, sampai bertahan hampir dua jam lamanya?!
Merek berganti posisi, kini Vania yang berada di bawah. Kakinya bertumpu pada bahu kekar milik Rey, ketika dia dengan sengaja menghentakkan miliknya dalam sekali gerakan.
"Ouh, baby... kamu selalu terasa nikmat, milikmu selalu memijit j****r ku. Sungguh luar biasa, Arghh"
Vania tentu tidak bisa menanggapi ucapan itu, dia hanya bisa menikmati hujaman yang menggebu-gebu. Memenuhi dirinya, tapi seolah ada yang kurang saat ini. Apa mungkin karena pengaman itu?
"Om.. B-boleh pengamannya di lepas aja? Ahh" Tanya Vania.
"Tentu baby"
Tanpa berlama-lama, Rey kembali menancapkan j****r nya kedalam v****a Vania. Vania juga tidak tinggal diam, tangannya meraih buah z*kar Rey kemudian mengusap lembut sampai membuat Rey mendesah keras.
"Ahh, Ouhh Yes baby, come on. Ouh bagus, ya teruskan seperti itu sayang" Ujar Rey saat merasakan Vania turut menggoyangkan pinggulnya seirama dengan hentakkan yang dia berikan.
"O-Om Ahhhhh" Vania mendesah kencang saat mencapai pelepasan, sementara tubuh pria di atasnya masih terus bergerak. Tangannya menggapai p*****a Vania, meremas kasar sampai Vania mendesah dan mengaduh kesakitan.
Vania merasa Rey akan menembakkan s****a ke dalam rahimnya buru-buru menahan tubuh Rey guna menyuruhnya untuk mengeluarkan di luar, tapi Rey yang terlalu menikmati percintaan mereka seolah tidak sadar dan semakin menghentakkan dirinya lebih kuat dan dalam.
Napas keduanya beradu, mereka sama-sama tersenyum ketika sekelebat bayangan percintaan mereka yang menakjubkan. Kemudian Rey mengecup kening Vania sambil memisahkan dirinya kesisi yang lain.
Vania menghela napas, dia tentu tidak bisa berdiam seperti ini dan menganggap bahwa tindakan yang mereka lakukan hanya hal-hal kecil tanpa harus memikirkan masa depan keduanya.
Dengan keberanian penuh Vania bertanya " Aku gak bisa kayak gini terus Om, lebih baik kita gak melakukan hubungan seperti ini lagi kedepannya. Aku akan fokus sama pekerjaanku nanti"
Rey tersentak, dia yang memang sudah menyiapkan cincin dan menunggu waktu yang pas buru-buru bangun. Tanpa memakai kembali boksernya, dia berlari kearah walkin kloset dan kembali memegang sebuah paper bag.
Awalnya Rey berniat memberikan cincin itu saat mereka menonton film bersama tadi, tapi Rey yang lepas kendali seolah lupa hingga dia berpikir ulang bahwa akan memberikan cincin itu esok pagi saat mereka akan kembali ke Ibukota.
Namun, sepertinya lagi-lagi rencananya kali ini harus terkubur. Dia tidak ingin membuat Vania semakin tidak nyaman, dan menganggap Rey hanya mempermainkannya.
Vania yang melihat itu semakin kebingungan, di saat-saat seperti ini dirinya bahkan tanpa sadar melirik b*tang yang perkasa itu.
Dia baru tersadar saat gerakan tiba-tiba yang Rey lakukan. Vania terkesiap, Rey menekuk sebelah kakinya kemudian membuka kotak beludru berwarna biru dan memperlihatkan isinya.
"Om, apa ini? Maksudnya apa?" Vania masih saja tidak bisa berpikir jernih, entah karena sisa-sia percintaan mereka tadi atau karena dia tidak habis pikir. Bagaimana bisa Rey tidak merasakan kedinginan? Dia yang saat ini membungkus dirinya menggunakan selimut masih bisa merasakan semilir angin lewat jendela yang sengaja mereka buka.
Bahkan pemandangan didepannya membuat Vania semakin takjub, Rey dengan posisinya sekarang malah makin memperlihatkan j****r nya yang panjang dan berurat. Vania buru-buru membuang pandangannya ke jendela yang menampilkan gelapnya malam.
"Vania, ak-"
"Tolong pakai celana dulu" Ujar Vania
"Nanti aja, aku mau kamu jadi istri aku"
Tanpa Rey sadari Vania terkejut, kali ini bahkan cukup lama. Rey yang melihat tidak ada respon sama sekali mulai mendekati Vania, memegang bahunya "Maaf, Kamu gak suka bentuk cincinnya? , atau aku-"
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Rey mendapati sebuah wajah yang sangat dekat. Bahkan bibir keduanya saat ini menyatu.
"Aku mau" Kata-kata yang keluar dari mulut Vania membuat Rey tersadar. Dirinya tersenyum, memeluk dan membelai kepala Vania.
Keduanya sama-sama berbincang sampai larut malam, mereka tidur dalam keadaan berpelukan sampai pagi menjelang.
******
Pagi ini, mereka harus kembali ke kantor, karena Rey tiba-tiba mendapat telepon masuk dari tangan kanannya yang mengatakan bahwa ada meeting para pemegang saham. Rey tentu tidak mungkin tidak hadir, jadi dengan terpaksa dia menyudahi momen kebersamaan mereka.
"Papa? Kok Papa disini?" Suara itu mengintrupsi keduanya yang sempat membicarakan perihal kantor.
Rey menoleh ke sumber suara, sebenarnya dia terkejut. Tapi ekspresi nya langsung datar saat melihat wanita di sebelah gadis itu.
Disebelahnya, wanita berusia sekitar 50-an mengangkat kedua alisnya saat melirik Vania yang berada di sebelah Rey.
"Kamu ngapain Rey?"
Wanita itu mulai menelisik wajah kedua orang didepannya, Vania yang menunduk tidak mungkin menyapa saat ini karena akan semakin canggung.
"Maaf tante, nanti aku hubungi. Aku duluan"
"Nanti Papa jelasin" Rey mengecup pipi gadis itu dan menepuk pelan kepalanya.
"Oma, Papa ngapain disini?" Tanya gadis itu, dia memperhatikan perlakuan istimewa yang diberikan Papanya kepada wanita cantik disebelahnya.
"Oma juga gak tau"
Wanita itu terus memperhatikan keduanya yang mulai menuju lobby, memberikan kartu akses dan kemudian berjalan menuju area parkir. Alisnya mengerut tanda tidak suka, mulutnya bergumam, entah apa yang dia katakan.
Bersambung...
Revisi. Tangerang 5 Jun 2025