Hubungan keduanya merenggang, Rey yang merasakan Vania semakin jauh mulai berpikir jika Vania tidak mencintainya. Bahkan setelah kemarin dirinya mempersilahkan Leona memasuki ruangannya, Vania hanya bersikap tak acuh. Rey sama sekali tidak melihat jejak kecemburuan yang muncul di wajah cantik itu untuk Rey.
Kemarin, Rey membiarkan Leona untuk datang ke perusahaannya karena Leona terus merengek dan berkata bahwa dia akan melaporkan kepada Ibunya jika Rey terus menolak dirinya. Bisa dipastikan, Ibu nya akan terus memberikan ceramah yang panjang sampai membuat telinganya tuli nanti.
Hari ini Rey berniat makan siang di salah satu hotel dengan sekretarisnya itu, sebenarnya Rey ingin memberikan penjelasan atas sikapnya kemarin. Vania mungkin terkesan biasa saja melihat kedekatan dia dengan mantan adik iparnya, Tapi Rey tidak bisa menahan diri untuk menjelaskan dan tidak ingin hubungan keduanya yang sudah mulai dekat ini merenggang, hanya karena satu kesalahan akibat dari keegoisan dirinya yang ingin melihat seberapa besar rasa suka Vania terhadapnya.
Jadi ketika Vania masuk kedalam ruangannya , tanpa basa-basi Rey meminta dia untuk ikut makan siang bersama para kolega bisnisnya. Ini hanya alibinya saja, karena Rey terlalu malu jika bilang bahwa hanya ada mereka berdua. Yah, Rey tidak ingin Vania merasa bahwa dirinya terlalu cinta padanya. Padahal memang benar sih.
Awalnya Vania kebingungan, tapi setelah menjelaskan bahwa kolega bisnisnya ini yang meminta Private Room untuk membicarakan bisnis keduanya, Vania mulai yakin dan mengiyakan ajakan Rey.
******
Jam baru menunjukkan pukul sebelas ketika Rey mengetuk meja kerja milik Vania yang berada di depan ruangannya. Vania yang baru tersadar melihat jam, hampir melupakan janji temu buru-buru merapikan berkas yang sekiranya akan di butuhkan nanti. Tidak hanya itu, Vania membawa serta tas dan juga ponsel miliknya jaga-jaga jika nanti Bosnya akan berlama-lama di hotel itu dan dia harus dengan terpaksa pulang sendiri ke kantor.
"Kamu yakin mau dibawa semua?" Ucap Rey memperhatikan gerak gerik Vania yang memasukkan barang-barang pribadinya kedalam tas.
Vania hanya mengangguk dan berjalan disamping Bosnya dengan menenteng dokumen ditangan kanan dan tas ditangan kiri.
Vania sempat bertanya mereka akan meeting di hotel mana saat Bosnya itu mengajukan dirinya untuk ikut serta. Vania yang lumayan tau beberapa hotel bintang empat yang namanya telah disebutkan Bosnya tadi mulai mengecek penampilan di layar ponsel miliknya.
"Masuk" Ucap Rey yang kini membuka pintu di samping kemudi.
"Loh, kok Bapak yang nyetir? , perlu saya hubungi Mang Darma buat kesini?" Ujar Vania yang merasa bingung, pasalnya perjalanan kali ini akan memakan waktu hampir satu jam lamanya jika tidak macet. Dan berhubung ini akan jam makan siang kemungkinan mereka dihadang kemacetan. Sudah dipastikan mereka akan telat lebih dari dua puluh menit. Sebenarnya, Mang Darma itu salah satu sopir pribadi milik keluarga Bosnya yang sudah mulai dia hapal karena sering kali melihat nya menghantarkan makan siang ke kantor.
"Gak perlu, saya lagi pengen aja nyetir sendiri" Ucap Rey dengan santai kemudian mendorong kecil tubuh Vania agar cepat masuk ke dalam mobilnya.
Sudah hampir setengah jam lamanya mereka berada di dalam mobil, hanya diisi suara musik yang keluar dari siaran radio. Vania yang sibuk melihat dokumen didepannya harap-harap tidak membuat kesalahan sekecil apapun, karena jika sampai klien mereka menginginkan private room di hotel bintang empat itu jelas tidak main-main. Dan mereka serius untuk bekerja sama dengan perusahaan milik Rey.
Ternyata dugaan Vania salah, perkiraan mereka akan sampai sekitar tiga puluh menit lagi. Tapi kini, bahkan mereka sudah sampai sepuluh menit kemudian.
Rey yang terbiasa memegang tangan Vania, kini melakukan hal yang sama. Vania yang tidak ambil pusing juga berpikir bahwa, mungkin Bosnya tidak ingin klien mereka menunggu lebih lama.
Saat memasuki Private Room dengan nomor kamar 69, Vania masuk lebih dulu kemudian Rey masuk dan menutup pintu. Vania yang kebingungan melihat kamar yang dipesan kolega bisnis bosnya kini kosong kebingungan.
Apa mungkin mereka salah kamar ya? Atau mereka memang belum sampai? Pikir Vania.
Vania mencoba mengenyahkan pikiran negatif yang mulai mengisi otaknya, sesaat setelah Bosnya keluar dari ruangan dan masuk kedalam sambil membawa troli makanan didepannya membuat dia bertambah bingung. Service layanannya kenapa jadi anjlok gini ya? padahal hotelnya bintang empat loh! Lagi-lagi suara di dalam otaknya mengintrupsi.
"Makan siang dulu" Ucap Rey yang kini mulai memakan macaroni didepannya.
"Ah, ya Pak. Kira-kira kolega Bapak sampai jam berapa nanti?"
Rey sempat tersedak mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Vania, buru-buru Vania menyodorkan air putih dan langsung diteguk olehnya.
Menghela napas panjang dan meregangkan ikatan sampul dasinya, Rey harus menjelaskan. Tapi bingung harus mulai dari mana?
"Maaf sebelumnya, aku sebenarnya ingin makan siang sama kamu Nia. Sekaligus bicara soal kemarin-"
"Oh, gak perlu ada yang diomongin kok Pak. Saya paham. Tapi Bapak gak perlu ajak makan di hotel juga apalagi bintang empat gini, kan pasti mahal" Ujar Vania yang belum sempat mendengar kalimat selanjutnya.
Rey yang melihat Vania mulai menjaga jarak lagi, kini menghela napas lebih kencang. "Kemarin yang kamu temui jelas bukan istri saya, kemarin itu mantan adik ipar saya. Dia mau mengajukan kerjasama dengan perusahaan" Ucap Rey
"O-oh, saya kira istri Bapak bangkit dari kubur" Gumam Vania yang masih bisa Rey dengar.
Tiba-tiba Rey tertawa kencang, Vania yang terkejut karena ini pertama kali nya melihat Rey tertawa lepas. Jika biasanya, dia hanya disuguhi pemandangan pria dengan pesona matang senyum satu jari saja sudah membuat dia klepek-klepek bak ikan yang keluar dari kolam. Apalagi ini!
Rey yang melihat Vania tidak ikut tertawa seketika meringis malu, namun kecanggungan keduanya terhenti ketika Rey berinisiatif mengecup pelan bibir ranum Vania.
Vania hanya menutup mata dan menikmati bibir mereka yang beradu, awalnya hanya kecupan ringan. Lama-lama menjadi pagutan dan kini selang beberapa menit menjadi lumatan.
Rey yang memang sudah tidak bisa menahan diri akibat Rindu dengan Vania, juga j*niornya yang sudah puasa beberapa hari kini mulai mengangkat Vania membuat dia duduk di atasnya.
Sebenarnya, dari pagi Rey sudah memperhatikan bra berwarna peach yang dikenakan Vania kontras dengan kemeja putihnya juga rok diatas lutut berwarna peach.
Kini tangannya dengan bebas bergeliriya diatas bongkahan p****t yang sekal. Sesekali, dia akan dengan sengaja menggesekkan p***s nya yang sudah menegang dengan v****a milik Vania.
Mendengar desahan lirih yang keluar dari mulut Vania, membuat Rey dengan cepat membawanya menuju ranjang king size yang sudah didekorasi sedemikian rupa untuk pasangan suami istri yang baru menikah. Rey memang memesan kamar untuk bulan madu, dengan view laut lepas. Bahkan ada pemandian air panas yang mengarah langsung ke laut tanpa ada takut tetangga kamar yang mengintip.
*******
Rey membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan Vania, menampilkan gundukan yang selalu dia rindukan. Kenyal, dengan p****g merah muda yang sudah menegang sempurna.
Menghentikan lumatannya, kini Rey berpindah ke selangka leher Vania. Mengecup kecil yang diiringi lenguhan seiring dengan kecupan yang terus turun. Sampai pada buah d**a yang selalu dia rindukan, dengan tidak sabar Rey membuka mulut dan menyedot dengan rakus seolah tidak ada hari esok.
Vania yang sebelumnya hanya bergumam lirih disertai lenguhan kini mendesah dengan keras sambil mencengkeram seprai dibawah nya. Gigitan yang diberikan Rey mampu membuat Vania merasakan kenikmatan dan juga sensasi perih akibat gigitan gemas itu.
Tangan Rey tidak tinggal diam, menyibak rok yang kini bahkan suda tersingkap sedikit. Tanpa melepaskan bibirnya dari d**a Vania, Rey melepaskan roknya dan melemparkannya.
Mata Rey menggelap, Vania yang entah sengaja atau tidak. Kini hanya mengenakan gstring berwarna senada dengan bra miliknya. Bahkan gstring itu tidak mampu menutupi isi didalamnya dengan sempurna.
Rey menunduk, membuka lebar kaki jenjang Vania. Menelusupkan jari tangannya, mengusap k******s dan meniup pelan.
Tubuhnya melengkung, Vania kebingungan pikirannya menolak untuk melanjutkan tapi raganya tidak bisa berbohong bahwa dia menikmati Rey melakukan ini kepadanya.
Usapan tangannya kini berubah menjadi kocokan, desahan Vania memenuhi ruangan itu. Rey yang melihat Vania mulai berkeringat, menambah daya kocokan ditangannya. Menikmati pemandangan didepannya, Vania yang membusungkan d**a dengan mata terpejam juga desahan menyebut dirinya.
"Aku lebih suka panggilan pertama kita berjumpa baby" Ucap Rey yang mulai membuka celana dan menyisakan bokser berwarna abu-abu.
"A-ah, Om? Bapak suka dipanggil O-om Ahhh"
Rey memasukan p***s nya kedalam v****a Vania dengan sekali hentak, tidak sama sekali memberikan jeda kepada Vania untuk istirahat.
Berganti posisi beberapa kali, dengan Vania yang terus mendesah juga suara hentakkan yang kian mengeras menandakan betapa nyatanya rasa itu ada di dalam hati mereka.
Bukan hanya nafsu semata.
Bersambung...
Revisi. Tangerang 5 Jun 2025