Hari-hari berlalu dengan cepat, hubungan keduanya tidak bisa dikatakan dekat tapi baik Rey maupun Vania akan mulai terbuka satu sama lain.
Siang itu, mereka ada meeting di salah satu coffe shop dekat kantor, jika ditempuh menggunakan mobil keduanya akan sampai setengah jam. Tapi, jika mereka berjalan kaki hanya akan menempuh lima belas menit saja. Vania dan Rey sepakat bahwa mereka akan berjalan kaki, disamping cuaca yang agak mendung siang ini, Vania berencana membeli ice cream di tepi jalan yang menggunakan mobil.
Cuaca hari ini mendukung keduanya untuk lebih mendekatkan diri, Rey memang sudah beberapa kali secara tidak langsung mengucapkan bahwa dia menyukai Vania. Tapi, Vania masih menahan diri sejauh ini sebab keduanya memang memiliki kesenjangan sosial yang cukup tinggi.
Mungkin Vania tidak bisa dikatakan anak yang kekurangan, tapi jelas dia tidak seperti Rey yang menerima begitu saja jabatan yang diberikan kepadanya. Sementara Vania harus bersusah payah untuk mendapatkan salah satu cabang perusahaan Papanya.
"Bapak mau pesan rasa apa?" Tanya Vania yang kini melihat menu didepan mereka.
"Sama kayak kamu" Ucap Rey yang kini tengah membuka ponsel di tangan kirinya.
"Saya pesan rasa vanilla topping Oreo diatasnya, Bapak yakin mau disamain aja kayak punya saya?" Vania sekali lagi bertanya, dia takut Bosnya tidak akan menghabiskan ice creamnya nanti.
Pernah sekali, Vania membelikan ayam geprek sambal matah. Bosnya memang memakannya, tapi hanya beberapa suap setelah itu membiarkan dia menghabiskan sisanya. Setelah dia cari tau, Rey tidak terlalu suka dengan sambal matah yang menurutnya masih mentah. Yah tidak salah juga sih. Memang waktu itu dia juga merasa agak mentah tapi masih cocok dilidahnya.
Mendengar Vania bertanya lagi kepadanya, Rey mendongak dan wajah Vania yang mengernyit menyambutnya. Rey pun tersenyum. Tangannya yang bebas mengelus pipi dengan rona merah dikedua sisi. Ah, Vania sungguh menggemaskan.
"Mas Rey? Kok disini, Ngapain?" Ucap wanita yang sedang berjalan menghampiri keduanya.
Wanita itu cantik, tidak bisa dikatakan cantik natural karena Vania bisa melihat seberapa tebal riasan yang menutupi wajah itu. Pakaian modis dan bermerek melekat ditubuhnya, kaki jenjangnya ditutupi heels setinggi sepuluh senti meter mungkin?..
Keduanya tersentak saat tangan Rey yang masih memegang pipi Vania diturunkan oleh wanita itu, Vania malu. Seperti kepergok oleh istri Bosnya sendiri. Rey sudah pernah bercerita kalau istrinya meninggal setelah melahirkan putri mereka. Tapi yang Vania lihat didepannya ini, mirip sekali dengan istri Bosnya.
Apa selama ini Bosnya berbohong perihal istrinya? Huh, seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas ulu hatinya. Perih,.
Vania kemudian melihat ekspresi Rey yang sudah mulai pulih dari rasa keterkejutan nya tadi.
Dengan ekspresi datar, Rey menjawab "Kamu liat kan ini kedai eskrim? Apalagi yang kami lakukan disini?!" Sentak Rey yang mulai membayar pesanan mereka berdua.
Tanpa menunggu jawaban wanita itu, Rey menarik tangan Vania yang sedang dia genggam. Vania bingung, kenapa reaksi Rey sampai seperti ini? Kenapa alih-alih saling merindukan justru yang dia dapatkan sebuah ekspresi kebencian?
"Pak..."
"Pak..."
"Pak!" Setelah tiga kali Vania memanggilnya Rey baru melepaskan genggaman ditangannya. Vania tidak menghiraukan pergelangan tangannya yang kini menimbulkan bekas merah. Fokus Vania saat ini malah ekspresi dingin di wajah Bosnya, yang tidak pernah Vania lihat.
"Bapak kenapa?" Tanya Vania dan kini tangannya berniat menyentuh wajah Rey, tapi langsung ditepis olehnya.
"Gak kenapa-kenapa, kamu masuk cafe duluan. Saya ada urusan mendadak. Bilang investornya kalau saya datang terlambat" Ucap Rey kemudian berlalu pergi setelah memberikan dua cup eskrim yang sudah meleleh dikedua tangan Vania.
Vania yang menatap kepergian Rey hanya mampu menghela napas panjang. Padahal, Vania berharap Rey mau terbuka dan menceritakan perihal wanita tadi. Tapi, mungkin hubungan keduanya belum terlalu berarti untuk Bosnya itu. Atau hanya perasaannya bahwa Bosnya memanfaatkan tubuhnya saja?.
********
Meeting hari ini berjalan lancar, Vania dan Rey sama sekali tidak menyangkut pautkan hubungan keduanya jika sedang bekerja. Mereka fokus membicarakan perihal pembangunan apartement di daerah Bandung.
Hari sudah sore, Vania kini bersiap meninggalkan ruangan ketika melihat Bosnya terlihat berjalan menuju lift tanpa menyapanya. Lagi-lagi Vania hanya menghembuskan napasnya dengan berat.
Ketika sudah sampai lobby, Vania yang berniat memesan taksi online karena dia lupa hari ini tidak membawa kendaraan, sebab pagi tadi dijemput oleh Rey. Vania melihat Rey sedang berbicara dengan wanita yang mereka temui di kedai eskrim, tampak Rey ngotot untuk melepaskan tangan wanita itu. Tapi wanita itu tetap memaksa. Mereka berdua memasuki mobil Rey yang kini sudah hilang dalam pandangan Vania.
Vania tersentak, rupanya dia sempat melamun tadi. Entah apa yang sedang dia pikirkan sampai tidak sadar, taksi yang sudah dia pesan kini ada di depannya. Vania bergegas masuk dan meminta taksi untuk mengantarkannya pulang menuju kediaman sang Papa.
Sesampainya dirumah, Vania bergegas membersihkan diri dan turun ke bawah saat mendengar teriakan Ibu tirinya yang memanggil untuk makan malam bersama.
Yah, memang seperti itu interaksi keduanya, bisa dikatakan keluarganya sudah hancur akibat ketamakan sang Papa yang menginginkan wanita lain padahal dia sudah punya istri saat itu.
"Gimana pekerjaanmu di kantor Nia?" Ucap
Brano Gilbert yang sedang menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Baik Pa, Kebetulan aku diangkat jadi sekretaris Pak Rey" Jawab Vania dengan santai.
Sementara Brano menganggukkan kepalanya, dua wanita lain di meja makan yang sama terlihat saling melirik dengan wajah penuh cibiran. Sudah bisa ditebak, mereka tidak akan senang jika Vania berhasil dan mampu membuat Papanya bangga.
Vania yang tidak sengaja melihat interaksi keduanya mengutuk dalam hati. Dasar manusia ular! Musnah saja kalian!!
Awalnya suasana di meja makan hanya terdengar suara sendok beradu, setelah percakapan singkat antara Vania dengan Papanya. Tidak ada lagi yang berani membuka suara.
"Papa ingin kamu menikah dengan Kevin Atmaja, anak dari rekan bisnis Papa" Vania yang memang sudah menyelesaikan makan malamnya berniat menuju kamarnya terhenti saat mendengar Papanya mengatakan bahwa dia ingin menjodohkannya.
"Kalau Vania bilang gak mau, Apa Papa bakalan terima keputusan Vania?" Ujar Vania tanpa membalikkan tubuhnya untuk melihat reaksi mereka yang masih berada di meja makan.
"Papa gak mungkin menikahkan Rara yang sudah punya kekasih saat ini, sementara kamu belum" Ucap Brano dengan santai mengelap ujung bibirnya tanda dia telah selesai makan.
"Kalau begitu, terserah Papa. Vania harap Papa gak akan menyesal tentang keputusan Papa kali ini"
Setelah mengatakan itu, Vania berjalan dengan santai menuju kamarnya. Jika dilihat dari belakang memang tidak nampak apapun, tapi jika orang lain melihat wajahnya yang penuh guratan kesedihan. Siapapun akan dengan tega mengutuk Brano, yang sudah menyakiti perasaan anaknya.
Vania memang tidak pernah dikasih kesempatan untuk melakukan hal yang dia suka, Dia selalu harus bersikap seperti Kakak. Harus dewasa saat teman seusianya masih suka bermain, Vania harus belajar memasak agar tidak merepotkan Papanya yang memang belum punya cukup uang untuk menyewa asisten rumah tangga.
Disaat yang lain mempunyai pacar semasa SMA, Vania harus berkutat dengan buku agar dia bisa mendapatkan beasiswa ke Universitas yang dia impikan. Hampir tidak pernah menikmati hidupnya.
Vania yang bergelung kedalam selimut mulai sesenggukan, dia menangis dalam diam. Meratapi nasibnya yang kian hancur, tubuhnya bergetar menahan teriakan yang ingin dia keluarkan.
******
Sudah dua hari Vania dan Rey saling diam. Rey yang tidak berinisiatif untuk menjelaskan, juga Vania yang merasa dirinya tidak terlalu penting tidak pernah mencoba bertanya lebih jauh perihal wanita itu. Saat melakukan pekerjaannya bahkan Rey hanya memberikan isyarat atau tangan kanannya yang membantu menjelaskan kepada Vania.
"Mbak, Mas Rey ada di ruangannya?" Ucap wanita dengan postur tinggi dan baju yang ketat menampilkan lekuk tubuh juga p*yudaranya yang mencuat.
Vania yang sedang melihat jadwal Rey mendongakkan kepalanya dan melihat, Wanita cantik yang pernah dirinya temui di kedai eskrim beberapa hari yang lalu. Dengan senyum ramah dia menjawab "Mohon maaf, Apa Ibu sudah buat janji terlebih dahulu?"
"Belum, Tapi Mas Rey gak mungkin nolak aku" Ucap wanita itu sinis.
"Mohon maaf, jika belum membuat janji sebelumya. Saya tidak bisa membiarkan Ibu masuk kedalam, karena prosedur perusahaan siapapun yang ingin bertemu harus membuat janji dulu dengan Presdir kami" Vania masih menampilkan senyum sopan dan bertutur kata lembut menanggapi kalimat sinis wanita didepannya.
"Ck. Tinggal bilang sama Pak Rey kalau Leona Atmaja. Calon istrinya datang! Nanti juga beliau mengijinkan kok! " Sentaknya.
Vania yang linglung terdiam, entah teriakan wanita itu atau kalimat yang terlontar darinya yang mampu membuat dia terkejut.
Sampai suara yang dia kenal memasuki gendang telinganya, yang lebih mengejutkan pria itu sama sekali tidak melirik Vania yang saat ini kebingungan.
"Masuklah Leona, Dan kamu Vania. Lain kali, cukup beri tahu aku siapa tamu yang ingin menemuiku" Ucap Rey yang kini menutup pintu ruangannya dengan rapat.
"Leona Atmaja? Kenapa nama Atmaja terdengar tidak asing? Seperti,,, mirip dengan nama mendingan istri Pak Rey?"
Bersambung...
Revisi. Tangerang 5 Jun 2025