Reygard yang melihat ada mainan baru, mulai melancarkan aksinya dengan menyuruh bawahannya untuk memanggilkan Vania ke ruangannya.
Vania yang ingin menolak diancam akan di pecat secara tidak hormat, dan dikenakan denda karena masa kontraknya masih sisa tiga bulan lagi.
Vania mencoba mengetuk pintu ruangan yang sedang di tempati Reygard, tertera di atas pintu. Ruangan nomor 55, yang artinya ruangan sang Presdir.
Ketika mendapati suara yang menyuruhnya masuk, Lagi-lagi membuat jantung Vania berdebar. Sempat terbesit adegan panas mereka, tapi langsung Vania tepis. Dia tidak ingin melemparkan dirinya lagi kepada Rey, mengingat status pria ini sangat tidak bisa dia usik. Dia harus belajar banyak agar Papanya tidak memberikan saham miliknya kepada Rara adik tirinya.
"Duduk baby"
Vania yang mendengar panggilan itu membuat dadanya berdesir, dia suka dengan sebutan itu.
Rey yang melihat Vania sempat tersenyum beberapa detik tidak bisa menahan diri, dia langsung menerjang tubuh Vania. Mengungkung tubuhnya, mencium bibirnya dengan rakus. Tangannya tidak tinggal diam, mulai memasuki rok span yang masih dikenakan Vania. Mencari sesuatu yang bisa membangkitkan gairah mereka berdua.
Vania yang mulai tersadar, menolak ciuman Rey dan menahan tangan yang sudah menyentuh titik sensitif miliknya. Rey yang merasakan penolakan Vania mengernyit bingung.
"Maaf Pak, ini di kantor" Ucap Vania sambil memperbaiki pakaian juga posisi duduknya.
Rey yang paham mulai mengontrol dirinya untuk tidak bertindak lebih jauh, meskipun j****r miliknya sudah menegang tegak dengan sempurna dibalik celana bahan yang dia pakai.
Menghela napas panjang, Rey kembali ke meja kerja dan mulai fokus memeriksa berkas yang sempat tertunda. Vania yang kebingungan menunduk dan memilih diam.
"Mulai besok kamu akan menempati posisi sekretaris ku, periksa berkas-berkas ini dan pelajari. Aku tidak ingin ada kesalahan sekecil apapun" Ucap Rey yang kini bediri di depan Vania yang perlahan mendongakkan kepalanya, menatap Rey yang kini menampilkan raut wajah dingin seolah kecewa karena sempat ditolak oleh Vania.
"Ba-baik Pak" Vania menghela napas, dia jelas-jelas tidak ingin lagi berurusan dengan pria didepannya, Tapi seolah sengaja. Dia ditempatkan pada posisi yang akan membuat mereka selalu bersama di situasi apapun.
Rey berlalu keluar dari ruang kerja miliknya meninggalkan Vania seorang diri, suasana hati keduanya sedang tidak bagus. Rey memilih menenangkan diri dan pergi dari ruangan yang sama agar emosinya tidak meledak saat ini. Sementara Vania tidak bisa berbuat banyak, dia menyukai sentuhan dan belaian dari Bosnya. Tapi dia juga tidak mungkin menjadi simpanan, Bosnya jelas-jelas sudah punya istri di rumah.
Vania tidak ingin dirinya bernasib sama seperti Winda, menghancurkan rumah tangga orang lain dan mulai mengukir mimpi bersama suami yang dia rebut dari istrinya.
"Huh, mungkin lebih baik aku menjaga jarak darinya. Karena sentuhan sedikit saja bisa membuatku kembali pada kejadian kemarin, aku tidak ingin terlena dengan pesona Bos tampanku." Gumam Vania yang mulai membaca beberapa dokumen didepannya.
******
Tidak terasa hari sudah sore, seharian Vania berada di ruangan Rey seorang diri. Entah kemana perginya Rey, Vania tidak ingin ambil pusing.
Saat dia membereskan berkas-berkas yang berada di meja Rey, Vania sempat melihat biodata dirinya yang berada di meja itu. Merasa aneh, kenapa Bosnya mencari tau perihal dirinya?
Vania yang curiga mengambil ponsel dan memfoto untuk dijadikan bukti, jika nanti waktunya sudah pas dia akan bertanya mengapa Rey menyelidikinya secara detail, bahkan sampai warna kesukaan dan makanan yang paling dia sukai ada di dalam lembaran kertas itu.
Hampir selesai Vania membereskan berkas-berkas itu, ketika mendapati Rey yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan mendadak membuat Vania canggung. Mencoba bersikap biasa saja dan membereskan meja kerja Rey, tanpa disangka sang empunya kini duduk di kursi kebesaran miliknya. Vania sempat menahan napas, mencoba bersikap biasa. Tapi saat mata Rey yang melihat dirinya, bukan. Rey melihat belahan d**a miliknya yang menyembul seketika membuat Vania menjatuhkan beberapa dokumen penting yang dia pegang.
Vania otomatis menunduk untuk menggapai dokumen itu, ketika mendapati tangan Rey sedang menahan pinggangnya membuat Vania tersentak kaget.
Tidak tinggal diam, tangan Rey yang terbebas satunya perlahan masuk kedalam rok span milik Vania dan menyentuh area sensitif gadis itu.
Vania melenguh, tidak bisa menolak sentuhan dari Bos nya yang kini memangku dirinya. Tangan Rey menyibak Rok span itu, membuka lebar kaki Vania dan menahan dirinya agar tidak menutup kakinya.
Rey mulai menggerakkan tangannya memasuki k*****s, mencubit, menggesekkan tangannya dan memasuki satu jarinya kedalam v****a milik Vania.
"Ahhh.. Pak ini di kantor" Lenguhan Vania tidak membuat Rey menyudahi kegiatannya kali ini. Bahkan Rey mulai membuka kemeja stripe yang sedang dikenakan Vania hanya dengan satu tangan. Membelai p******a nya yang sekal.
Rey menaikkan bra milik Vania keatas, guna memudahkan dirinya untuk menyentuh p****g yang sudah menegang itu. Remasan pada p******a miliknya semakin kencang. Tangan Rey pun semakin kasar dan cepat mengocok v*****a miliknya.
Vania merasakan dirinya akan meledak saat itu juga, tubuhnya bergetar. Tak terasa cairan kental keluar dari miliknya, membuat celana Rey basah dan bau. Vania yang merasa lelah mulai bangkit berdiri, Tapi tubuhnya tiba-tiba terangkat dan sekarang berada di meja kerja milik Rey.
Rey membuka dengan lebar kedua kaki Vania, mulai memposisikan p***s nya yang sudah mengacung. Vania yang lemas masih tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini, tepat ketika merasakan benda tumpul yang menggesek intinya membuat dia lagi-lagi mendesah.
Rey memasukkan p***s nya yang sudah tegak dengan sekali hentak, Vania menggelinjang. Rasanya masih agak sakit, tapi kini dia mulai menikmatinya. Hujaman demi hujaman yang dia terima.
Peluh membasahi baju keduanya, Vania yang kini hanya memakain kemeja dengan bra yang sudah tidak bisa menutupi p******a nya. Sementara Rey hanya menurunkan celana bahan miliknya tanpa menanggalkan satu pakaian pun yang melekat ditubuhnya.
"Ahh.. Ahh.. Pak, Nan-ti ada yang lihat" Desahan Vania memenuhi ruang kerja Rey, membuat Rey semakin semangat menghentakkan dirinya.
"Gak akan ada yang dengar, ruangan ini kedap suara. Kita bisa melihat mereka dari dalam, sementara mereka hanya melihat kaca yang blur" Ucapan Rey diiringi hentakkan yang semakin kuat, Vania kini tidak ragu mendesah dengan kencang. Dirinya bergetar dan menubruk beberapa dokumen penting. Tapi tidak ada yang lebih penting dari menuntaskan hasrat liar mereka.
"Ahhh.. Ahh.. " Tubuh Vania menggelinjang, ledakan lagi-lagi dia rasakan. Cairan putih perlahan merembes dan mengenai meja, bunyi kecepak memenuhi ruangan selain desahan Vania dan Rey.
Rey yang belum cukup mulai mengangkat Vania menuju pintu di belakang mini bar dalam ruangan nya, menekan fungsi otomatis dan memasuki ruangan yang lebih mirip kamar hotel. Ada walk-in closet beserta kamar mandi, nakas dan ranjang king size.
Keduanya masih menyatu, Rey buru-buru membalikkan posisi Vania menjadi tengkurap. Mulai menghentak lebih keras dan kuat. Tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang berharga. Keduanya terus mendesah lirih.
Entah sudah berapa kali berganti posisi, Rey yang mulai merasakan gelombang dahsyat itu segera menghentakkan dirinya lebih keras dan dalam. Menyemburkan cairan lengket kedalam rahim Vania, mereka sama-sama melenguh kenikmatan.
Rey mencabur p***s miliknya yang sudah mulai menciut, ketika ditarik. Sisa-sisa s****a keluar dari v****a dan mulai mengotori seprai yang kini tampak kusut juga bau.
Rey merebahkan dirinya disebelah Vania, memeluknya dengan erat seolah tidak ingin dia melarikan diri lagi. Mengecup keningnya dan melihat Vania saat ini sudah menutup mata akibat kelelahan.
"Aku gak akan pernah lepasin kamu lagi baby" Gumam Rey yang kini juga ikut memejamkan kedua matanya.
*****
Mereka berdua tidur cukup lama, saat waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Vania mulai meregangkan tubuhnya, mengucek mata lalu melihat jam.
"Huh, Nenek sihir itu pasti lagi ngompor-ngomporin Papa " Dengus Vania yang kini mulai mengambil pakaian miliknya dan memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.
Vania keluar dari kamar mandi menuju walk-in closet, memilih kemeja yang bisa dia kenakan. Jujur, dia tidak ingin memakai pakaian juga dalaman yang sudah bau keringat bercampur sp*rma. Tapi, karena dia saat ini tidak punya cadangan celana dalam mau tidak mau memakai yang tadi sempat dia gunakan. Hanya saja dia berniat meminjam kemeja punya Bosnya saat ini.
"Pulanglah bersama ku" Ucap pria yang masih di dalam selimut itu.
"Gak bisa Pak, Saya harus pulang sekarang" Ujar Vania yang kini telah berpakaian secara lengkap.
Tidak ada tanggapan lagi setelah itu, Vania yang lebih memilih membereskan kekacauan di dalam ruangan Bosnya, lalu pamit untuk pulang yang hanya dibalas sebuah anggukan kepala.
Bersambung....
Revisi. Tangerang 5 Jun 2025