Saat sampai dirumah dengan cat berwarna putih gading bergaya Eropa, Vania memberitahukan pada sopir taksi untuk berhenti di depan gerbang.
Setelah membayar argo taksi itu, Vania menekan bel rumah dan muncul satpam ramah yang dia kenal dengan nama Pak Udin.
Beliau berumur sudah setengah abad tapi masih memiliki tubuh bugar, yang menunjukan bahwa Pak Udin sudah berumur, hanya rambut putih yang mulai menutupi rambut hitam miliknya.
"Non baru pulang?"
Sementara Vania hanya mengangguk dan melepaskan senyum setelah Pak Udin membuka gerbang tersebut, Vania berjalan memasuki rumah dengan tiga lantai. Membuka pintu besar didepannya, yang pertama kali Vania suguhi adalah pemandangan Sang Papa merangkul Istri mudanya dan tertawa bersama anak tirinya.
Ketiganya serempak menoleh kala melihat Vania masuk kedalam rumah masih menggunakan setelan kantor, Papanya memaklumi bahwa anak sulungnya workaholic. Sementara dua lainnya menampilkan senyum licik mereka.
Vania berjalan menuju kamar miliknya di lantai tiga, menghiraukan Rara Adik tirinya yang entah mungkin sengaja atau tidak menginginkan sebuah mobil baru dengan merk ternama yang harganya tentu sangat fantastis. Vania hanya bisa menghela napas seolah itu hal biasa.
Rara bukan Adik kandung Vania, Mamanya hari itu tengah mengandung adik nya saat mengetahui bahwa suaminya menikahi wanita lain dengan serta merta membawa anak tirinya kedalam rumah mereka. Mala sari Mamanya langsung mengalami syok dan terkena serangan jantung mendadak, membuat dia harus kehilangan dua orang sekaligus.
Vania ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SMP. Kejadian yang menorehkan luka paling dalam setelah ditinggalkan ibunya adalah Brano, Papanya tidak sama sekali perduli jika dia baru saja kehilangan anak dan istrinya, melasungkan akad pernikahan di dalam rumah mereka. Miris sekali, Vania yang melihat wanita ular itu berbicara dengan manja kepada Papanya tidak bisa merasa jijik.
"Dasar anak gak tau diri, sudah dikasih makan dan fasilitas masih saja menjual tubuh!" Ucap wanita berpenampilan glamour disertai senyuman licik di wajahnya.
Menghela napas, sepertinya kali ini dia tidak bisa diam saja "Apa maksud tante? Gak perlu pakai hidangan pembuka. Aku lelah"
"Kamu semalam nginap dimana?, Vano bilang lihat kamu di club semalam! Apalagi kalau bukan menjual tubuh!" Sentak wanita itu sambil berdiri mendekati Vania yang berada diujung tangga.
"Aku memang ke club semalam, tapi gak berniat menjual diri. Perlu tante catat, aku gak kekurangan uang sama sekali. Papaku masih mampu memberikan apa yang aku mau! Yah, beda gak kayak tante sih yang bisa melakukan segala cara hanya untuk memuaskan diri" Ujar Vania membuat wanita bernama Widia sang Mama tiri nya itu tidak mampu mengeluarkan suara lagi.
"Vania, Mamamu benar. Kemana kamu semalaman?"
"Mamaku cuma satu Pa, dan Mama sudah lama dikebumikan"
Selesai mengatakan itu, Vania pergi menuju lantai dua. Memasuki kamar dengan pintu berwarna cokelat. Setelah mengunci pintu dan membuka heels merah miliknya, dia merebahkan diri sambil menatap langit-langit dalam kamarnya. Dia kesepian, setelah Mala meninggal tujuh tahun lalu. Vania selalu merasa sendiri, meski ditempat yang ramai. Dirumah yang besar ini sekalipun. Vania rindu dengan masakan Mala sang Mama.
Tidak terasa, butiran bening jatuh perlahan melewati pipi mulusnya. Sudah berapa tahun dia tidak menangis? mengapa sekarang tiba-tiba menangis?. Vania menarik selimut menutupi tubuhnya, menghela napas untuk menetralisir rasa sesak didada. Dirasa sudah lebih baik dia mencoba memejamkan kedua matanya. Berharap suatu saat dapat bertemu dengan Mala walau hanya dalam mimpi.
******
"Papa!"
Gadis itu berlari dan memeluk pria didepannya yang masih menyeimbangkan tubuhnya, karena mendapatkan pelukan mendadak dari gadis cantik didepannya.
"Papa kemana aja sih! Janji mau beli hadiah untuk Eyang.... Terus tadi siapa? suara wanita milik siapa? Papa bersama wanita di hotel? Papa! Jawab aku ish!! Papa ngapain aja?!!"
Gadis itu berlari kecil ketika melihat Papanya seolah menghindari pertanyaan darinya, ketika menelisik wajah sang Papa yang gadis itu temukan adalah ekspresi murung. Kentara sekali Papanya langsung jatuh cinta dengan wanita itu.
"Ah ternyata Papa sedang patah hati, baiklah.. baiklah... Aku gak akan bertanya lagi. Tapi Papa perlu jawab satu pertanyaan ini!" Ucap gadis itu dengan lantang saat Papanya berniat memasuki ruang kerja miliknya.
"Papa aku serius!"
Melihat gadis itu tidak akan melepaskannya begitu saja, Rey berbalik hanya untuk menatap wajah anaknya dengan raut penasaran. Merasa gemas dengan anaknya yang sudah bertambah dewasa dari waktu ke waktu Rey menahan diri untuk tidak mengacak rambut yang sepertinya susah payah dia tata sedemikian rupa.
"Apa? Papa lagi banyak kerjaan, gak bisa lama-lama ngobrol sama kamu"
Merasa ada lampu hijau gadis itu langsung mendekat dan membisikan kalimat ditelinga Rey. Ketika mendengarnya, Rey terkejut. Bukan karena ucapan yang gadis itu katakan. Tapi istilah yang dia gunakan. PNS? Panas maksudnya atau gimana?!
"Benar kan Papa abis PNS?"
"Papa lagi gak Panas kok, kamu ini. Papa kira hal penting apa yang gak bisa ditunda"
"Ih Papa aku serius loh! Papa abis making love kan?! Ngaku!!!"
Astaga,, jadi tadi maksudnya itu ONS?
Rey menepuk jidatnya dan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya. Tapi dia ingat, dia tidak pernah membicarakan hal-hal yang mengarah ke itu.
"Anna tau bahasa kayak gini dari siapa?"
Savanna Nindya Rajasa, yang biasa di panggil Anna itu menekuk wajah saat Rey mencoba mengalihkan pembicaraan. Wajahnya memerah saat mengingat temannya Gio yang mengajarkan beberapa kata untuk dia ingat karena saat dewasa nanti dia membutuhkannya.
Raut wajah Rey semakin memerah menahan amarah saat melihat anaknya tersipu malu, otaknya yang sempat tergeser sekarang menyatu kembali. Dirinya terkejut, memikirkan anaknya mulai di ajarkan kata-kata kotor oleh entah siapa. Tapi, dia pastikan seseorang itu akan menerima balasan darinya, karena sudah mendoktrin anaknya yang polos dan murni ini.
"Anna, jawab Papa!" Ucap Rey dengan tegas dan terus memperhatikan gerak gerik tubuh Anna.
"Eh, Aku ke si Mbak dulu ya Pa. Besok-besok aja gak apa-apa cari kadonya. Bye Pa"
Anna yang mulai merasa situasi sudah tidak kondusif saat melihat Rey menatapnya dengan tajam, berlari ke arah dapur dan berteriak dengan kencang memanggil Mbak Ratmi untuk membuatkan dia perkedel ayam kesukaannya.
Rey yang melihat anaknya sudah melarikan diri hanya mampu menghela napas dengan kencang. Dirinya lelah dan memilih menaiki anak tangga satu persatu. Mulai membuka pintu kamar miliknya dan membersihkan diri.
Selepas kepergian Vania tadi siang, Rey masih harus bertemu dengan beberapa klien untuk membicarakan saham. Dan dia baru sampai di rumah pukul 16.00. Setelah membersihkan diri, Rey menuju meja kerja yang berada di dalam kamarnya. Meskipun Rey punya ruang kerja disebelah kamar, tapi beberapa kali dia lebih memilih mengerjakannya di dalam kamar.
Membaca ulang email dari Leo, seseorang yang dia suruh untuk menyelidiki Vania. Betapa terkejutnya dia, ternyata Vania bekerja di salah satu cabang perusahaan miliknya. Yang ada dipikiran Rey saat ini adalah bertemu lagi dengan Vania.
"Sampai ketemu besok baby,.. " Rey berguman lirih.
*****
Jam sudah menunjukkan pukul 08.15 yang artinya Vania hanya punya waktu sekitar lima belas menit lagi untuk sampai di kantor tempatnya bekerja.
Hari ini Vania hanya memakain kemeja stripe biru dengan rok span dibawah lutut, Rambutnya sengaja dia cepol karena tidak sempat mencatok tadi. Penampilannya kali ini terlihat simple sekaligus segar, hanya saja kantung mata yang masih cukup terlihat menghiasi bawah mata berwarna hitam milik Vania.
Semalaman Vania berpikir, apakah selama Om Rey memasuki dirinya dia menggunakan pengaman? Bagaimana jika dia hamil? Kadang beberapa orang terlihat biasa saja untuk tidak mengenakan pengaman saat berhubungan, Tapi ini jelas-jelas pengalaman Vania, umurnya hampir dua puluh lima tahun ketika dirinya disentuh sedemikian rupa dan yang paling membuatnya tidak habis pikir adalah, fakta bahwa dia b******u dan berhubungan terlalu jauh dengan suami orang. Suami orang! catat.
Vania tentu tidak semiskin itu untuk membeli lelaki bayaran untuk menemaninya, tapi dari awal memang dia tidak berniat memberikan hal-hal yang berharga dari dirinya. Vania selalu menolak ajakan mantan pacarnya jika mereka mengajaknya check-in hotel, yang berakhir membuat banyak pria itu jenuh dan lebih memilih mengakhiri hubungan mereka.
"Nia, Tungguin aku!" Seru seorang wanita dibelakangnya.
"Loh, Ca. Kamu juga telat?" Ucap Vania yang melihat Caroline yang berlari tergesa-gesa menghampirinya. Penampilannya sudah mulai acak-acakan padahal hari masih pagi, Rambut yang basah dibeberapa bagian, blouse yang mulai mencetak bekas keringat di beberapa tempat, dan yang paling menghawatirkan adalah lipstik berwarna coral yang mencoreng wajah cantik miliknya.
"Aku kesiangan, semalam nginap di rumah Brian" Caroline terkekeh dan mulai mengatur napasnya agar kembali normal.
"Sudah aku duga sih, kalian pasti menghabiskan waktu yang sangat panjang" Vania mendengus ketika mengingat Caroline selalu bercerita bahwa mereka tidak pernah untuk tidak melakukan itu jika mereka bertemu.
"Kamu belum tau aja rasanya, enak tauk!" Bela Caca saat Vania mencibir.
"Ya, ya, ya. Ayo cepat. Nanti terlambat, Kita kan dapat pengumuman semalam kalau Presdir bakalan berkunjung hari ini Ca" Ucap Vania mulai mempercepat langkah kakinya.
Tepat pukul sepuluh semua karyawan di minta berdiri untuk penyambutan Presdir mereka, Vania yang merasa tidak asing dengan nama sang Presdir tidak ambil pusing. Bisa saja hanya nama yang sama.
Vania yang penasaran mulai mengangkat pandangannya ketika mendapati sepatu seorang pria didepannya, alangkah terkejutnya dia. Reygard, pria tampan yang pernah menyentuh dirinya sampai dia tidak bisa tidur semalaman ada didepannya. Ketika tatapan mereka bertemu, Vania merasakan Rey menatap tajam dirinya diiringi senyuman dibibirnya. Bencana! sirine di dalam kepala Vania berbunyi.
Bersambung...
Revisi. Tangerang, 5 Jun 2025