Malam itu,bulan purnama menggantung utuh di langit,seolah menjadi mata raksasa yang menginta setiap dosa manusia.cahaya putihnya menyelinap melalui celah-celah dinding rumah yanto,membentuk bayangan panjang yang menari di lantai.
Suara gamelan kembali terdengar-lebih keras,lebih nyata,seolah tepat di mainkan di luar jendela.angin membawa aroma dupa dan tanah basah.
Yanto berdiri di depan cermin tua yang kini sudah penuh retakan.matanya kosong,wajahnya pucat. di belakangnya,ibunya tidur dengan tenang,dan dari kamar sebelah,rini mengigau pelan,menyebut nama yanto berulang kali.
pisau dapur masih ada di tanganya.
tanganya bergetar,namun langkahnya mantap
Yanto(lirih):
"kalau ini satu-satunya cara....biarlah aku yang jadi tumbal."
tiba-tiba,bayangan dari dalam cermin bergerak sendiri.sosok besar berbulu-Raja kera-muncul di balik pantulan,dengan mata merah menyala seperti bara.
Raja kera (Suara dalam):
"Pengorbanan sejati bukan mati,yanto...tapi kehilangan."
Cermin itu bergetar hebat.dari dalamnya,tangan hitam dan berbulu muncul,meraih leher yanto.
Darah dari retakan cermin mengalir ke lantai,membentuk lingkaran merah yang berdenyut seperti jantung hidup.
Yanto menjerit-tapi suaranya tak terdengar.
udara di sekitarnya membeku.
Di sisi lain,Rini terbangun.
ia menatap pintu kamar yang sedikit terbuka.suara gamelan kini berubah jadi bisikan-pelan,tapi mengerikan.:
"Darah menuntut darah"
Rini bangkit,berjalan keluar,kakinya gemetar.ia melihat yanto berdiri di depan cermin,tubuhnya setengah terseret kedalam pantulan gelap itu.
Bayangan raja kera di balik cermin menatapnya dengan senyum bengis.
Rini menjerit:
"Yanto!lepaskan dia!"
ia menarik tangan yanto,namun dingin luar biasa menjalar dari kulitnya-seperti memegang es yang berdarah.
Yanto menoleh,air mata menetes dari matanya yang kini mulai menghitam.
Yanto(lirih):
"pergi,Rin....jangan ikut....aku sudah pilih jalanku."
Rini(menangis):
"nggak!kita bisa lawan!mas,tolong dengarkan aku"
Namun saat itu juga,seluruh rumah berguncang,lampu padam.
Dari luar jendela,terdengar tawa panjang dan berat,seperti ribuan kera berteriak di tengah malam.
Cermin pecah dengan suara keras,meledak menjadi serpihan,dan di dalamnya keluar kabut hitam pekat yang berputar putar.
Rini terdorong jatuh ke lantai,dan saat kabut itu menghilang....Yanto sudah tidak ada.
Hanya darah di lantai yang membentuk tulisan samar:
"perjanjian...di terima."
Pagi harinya,desa gempar.rumah yanto terbakar tanpa sebab.Di antara abu dan arang,di temukan cermin tua yang utuh dan di permukaan nya,terpantul wajah yanto,tersenyum....tapi dengan mata hitam penuh kegelapan.
dan di hutan larangan,suara gamelan kembali terdengar....
lembut,namun penuh kutukan.