Malam terasa lebih dingin dari biasanya.kabut turun menutupi atap-atap rumah,sementara bulan sabit menggantung pucat di langi.Yanto duduk sendiri di teras,menatap jalan gelap tanpa lampu.kata-kata raja kera terus terngiang dalam benaknya:
"Bulan purnama...darahmu atau darah tumbalmu."
jantungnya berdegup kencang seolah ingin keluar dari dada.dari dalam rumah terdengar batuk ibunya,lirih namun menyayat.sementara di kamar sebelah,Rini masih belum pulih sepenuhnya-wajahnya pucat,menggigil meski di selimuti tebal.
angin malam membawa suara samar...suara gamelan.tidak keras namun jelas.seolah memanggil.
Yanto menggenggam pisau dapur,yang sejak tadi tak sadar masih ia pegang.tanganya bergetar.
Yanto(berbisik pada diri sendiri)"kalau aku diam...mereka mati..kalau aku setuju..aku jadi pembunuh.Tuhan...aku harus pilih yang mana?"
Tiba-tiba lampu dapur berkedip pelan.cermin kecil di ruang tamu bergetar tanpa alasan.dari pantulan cermin itu,yanto melihat bayangan hitam-bukan miliknya,tapi sosok tinggi bebulu,mata merah menyala,menatap lurus kepadanya di balik kegelapan.
suara itu kembali terdengar...dari dalam kepalanya.dalam dan dingin:
" waktu hampir habis,Yanto.malam ini...pilih atau aku yang mengambilnya."
Yanto menatap cermin itu dengan mata berkaca kaca,dalam pantulanya,ia melihat tiga wajah samar muncul di belakangnya- wajah ibunya,rini dan adiknya yang masih kecil.
mereka semua tersenyum...namun senyum perlahan berubah menjadi suram-kulit mereka membusuk,mata mereka hitam mengalirkan darah seperti rini di mimpi itu.
ia tertegun.air matanya jatuh.
Yanto(lirih):
"berhenti...jangan tunjukan itu lagi...aku mohon."
Namun bayangan itu hanya tertawa pelan.
di kamar,ibu memanggil pelan.
ibu"yanto...sudah malam.masuk nak,jangan duduk di luar."
yanto terdiam.pisau di tanganyamasih ia genggam erat,dinginya terasa menembus kulit.
ia bangkit perlahan,mengambil napas panjang.
Yanto dalam hati:
"Hari ini...aku harus ambil keputusan."
Saat ia melangkah masuk ke rumah,cermin retak di ruang tamu kembali bergetar.dari retakanya,darah segar menetes ke lantai.
membentuk satu kalimat yang perlahan membentu:
"tumbal harus di pilih malam ini"
ibu terdiam melihat lantai yang basah.
ibu gemetar:" Ya tuhan...yanto..ini..apa ini?"
Yanto menutup mata.
Yanto (berbisik,hampir tak terdengar)"
"Maaf,bu.."
di luar rumah,angin berhenti,suara gamelan tiba tiba hening...lalu terdengar lagi,jauh lebih keras. Dari kegelapan pekarangan,dua mata merah muncul di balik pepohonan..
Raja kera menunggu.
Dan malam itu,tak ada lagi tempat untuk lari.