Malam itu,yanto tidak langsung kembali ke rumah setelah pertemuan nya dengan raja kera.ia berdiri di tengah persimpangan,tubuhnya gemetar,pikiranya bising.diantara suara jangkrik yang kembali terdengar dan desir angin malam,hanya satu kalimat yang terus bergema di kepalanya:
"Tumbal....darah keluarga."
dengan langkah berat,ia pulang.namun di setiap langkah terasa seperti menginjak bara api.ketika sampai di depan rumah,ia melihat cahaya lampu dapur masih menyala.ibu duduk sendirian,mata sembab.
Ibu( lirih):"Yanto...kamu dari mana?"ibu takut terjadi apa-apa.
Yanto diam sejenak,lalu duduk di samping ibunya.
Yanto:"Bu...kalau...kalau ada cara buat hidup lebih baik...tetapi harus ngorbanin sesuatu...ibu mau?"
Ibu menatapnya bingung."ngorbanin apa dulu,to?"harta? tenaga?
Yanto menggeleng pelan."Bukan itu..bu..tapi...nyawa."
Ibu tertegun.matanya melebar."yanto!kamu bicara apa sih?jangan sembarangan!"
Yanto menunduk,air matanya jatuh."aku cuma tanya.....kalau itu bisa selamatkan ibu sama rini.....apa itu salah?"
Ibu hanya bisa diam,malam itu berakhir tanpa jawaban.tapi dalam hati yanto,sesuatu mulai retak.
TAWARAN KEDUA-DATANG DARI CERMIN
malam berikutnya,suara gamelan terdengar lagi.pelan,namun lebih jelas.yanto terbangun.di meja kecil di sudut kamar,cermin kayu tua-yang ia dapat dari gulungan kain putih-bergetar pelan.
dalam pantulanya,ia tidak melihat dirinya sendiri.ia melihat hutan larangan,dengan ribuan lentera menggantung di pepohonan.
suara dari cermin(pelan,dalam):"Yanto...kau belum menjawab,waktu hampir habis,bulan purnama tinggal tiga hari lagi.
Yanto mendekat,wajahnya tegang."kalau aku setuju.....apa keluarga aku akan selamat?"
suara itu tertawa lirih:"kau akan kaya,hutang lunas,ibumu sembuh.semua orang memujimu.harga yang kau bayar hanya satu....pilih diantara siapa keluargamu yang paling kau cintai.
Yanto terdiam.tanganya menyentuh permukaan cermin yang terasa dingin seperti es.air matanya kembali jatuh.
Yanto(berbisik):" kenapa harus keluarga?"
kenapa bukan aku?"
"karena..pengorbanan sejati kehilangan,bukan kematian."
cermin itu tiba-tiba retak,namun tidak pecah.dari dalam retakan,muncul darah segar menetes perlahan.
Yanto tersentak mundur.di luar,angin berhembus kencang.tirai jendela melambai lambai seperti tangan memanggil.
MIMPI YANG TERLALU NYATA
malam ketiga setelah pertemuan itu,yanto tertidur dengan tak tenang,dalam mimpinya,ia berdiri ditepi tebing tinggi.di bawah,jurang gelap menganga tanpa dasar.
Di hadapanya,Rini berdiri memakai selendang merah.rambutnya tergerai,matanya sayu.
Rini(tersenyum kecil):"mas...aku kedinginan boleh aku peluk?"
Yanto berlutut,menangis."Rini....maafin mas..mas mau kita semua bahagia."
Rini mendekat,namun semakin dekat,tubuhnya mulai membusuk.kulitnya pucat,kuku-kukunya panjang,dan dari matanya keluar darah hitam.
Rini(berbisik)"kalau mas mau aku tetap hidup....ada harganya."
tiba-tiba,tangan besar dan berbulu-milik raja kera- muncul dari belakang rini dan memegang bahunya.
Raja kera:"waktu hampir habis,yanto.besok malam bulan purnama bawa darahmu.bawa tumbalmu.atau aku yang datang mengambil.
yanto tersentak bangun,keringat dingin membasahi tubuhnya.dari luar jendela,terdengar suara gamelansemakin keras...dan dilantai kamar,selendang merah rini tergeletak, basah oleh tanah dan darah.
Yanto berdiri di depan cermin yang kini retak parah,ia mengangkat pisau dapu.menatap bayanganya yang samar.
Yanto (lirih):kalau ini satu satunya cara...apa aku masih manusi?
Dari dalam cermin,bayangan raja kera terlihat tersenyum.
" besok malam...aku tunggu kau di hutan.bawa jawaban mu.atau aku ambil dengan paksa.
Darah dari cermin,menetes ke lantai,membentuk tulisan samar:
"Darah menuntut darah."
Dan dari kejauhan,suara gamelan terus berbunyi....hening,namun menghantui.