Langit malam semakin pekat.Bulan tertutup mendung,menyisakan hanya sedikit cahaya pucat yang jatuh di jalan tanah menuju hutan.
yanto melangkah sendirian,menembus gelap tanpa membawa lampu.dadanya penuh kecemasan,tetapi juga putus asa.
setiap langkah terasa berat,seperti tanah berusaha menahanya agar tidak terus maju.
Di belakangnya,suara jangkrik dan burung malam saling bersahutan.namun,semakin jauh ia berjalan,suara-suara itu semakin menghilang,di gantikan kesunyian yang menekan.
Yanto berhenti di persimpangan kecil.di tempat ini,warga desa percaya ada jalan menuju dunia lain-tempat manusia dan mahluk gaib bisa saling melihat.
Tiba-tiba,kabut tipis turun,udara menjadi lebih dingin.
suara lirih muncul dari arah pepohonan:"Yanto....kenapa wajahmu di penuhi putus asa?"
Yanto terkejut.ia memutar tubuh nya,mencari sumber suara itu.
Yanto:"siapa..itu?"tunjukan dirimu kalau kau bukan setan penipu!"
Dari dalam kabut,sosok tubuh perlahan muncul.ia bukan manusia biasa.tingginya hampir dua meter,tubuhnya mirip kera namun berdiri tegak seperti manusia.matanya merah menatap tajam,
bulu hitam legam menyelimuti seluruh tubuh.Dialah raja kera,mahluk gaib,penjaga pesugihan.
Raja kera( suara berat dan tenang ):"aku bukan setan penipu,aku datang karna kau memanggil kami dengan putus asamu,wahai manusia."
Yanto mundur satu langkah,tapi tidak berlari.
Yanto:"Kalau kau tahu namaku...kau pasti tahu kesulitanku."hutang keluargaku menumpuk.aku sudah kerja siang malam,tetapi tetap saja....tidak cukup.apa yang kau mau dariku?"
raja kera tersenyum tipis,memperlihatkan taring tajam:"aku tidak mau.aku hanya menawarkan. kau ingin kekayaan?aku bisa memberimu,rumah besar,sawah luas,uang tak habis habis....semua bisa jadi milikmu.."
Yanto terdiam.suara itu menggoda,seperti janji manis di lautan gelap.
Yanto:"dengan syarat apa? tak ada yang gratis dari mahluk sepertimu,bukan?"
Raja kera:" Benar,tidak ada yang gratis.yang ku butuhkan hanya satu,tumbal.darah dari keluargamu sendiri.darah dagingmu."
udara terasa lebih berat.jantung yanto berdetak kencang,kata-kata itu menusuk dalam.
Yanto (berbisik,gemetar): tumbal....keluarga!
Raja kera melangkah mendekat,bayanganya menjulang:"pilihanya sederhana yanto.kau biarkan keluargamu mati perlahan karena hutang dan kemiskinan....atau kau korban kan satu jiwa untuk menyelamatkan semuanya.aku tunggu jawaban mu besok malam di tempat ini,kalau kau datang berarti setuju."
Kabut makin tebal.raja kera perlahan menghilang,dalam gelap, menyisakan suara
gamelan samar dari kejauhan.
Yanto berdiri kaku di tempat itu,ia tidak sadar kalau air matanya jatuh.
Yanto (pelan):"Apa.....ini satu-satunya jalan?"