Malam turun perlahan di desa karang jati,angin membawa suara-suara halus dari pepohonan bambu yang saling bergesekan.lampu-lampu temaram di rumah warga mulai padam satu persatu,menyisakan keheningan yang nyaris menusuk telinga.
Di dalam rumah kecil itu,yanto duduk menunduk di samping ibunya yang tertidur kelelahan.di sudut ruangan,tikar lusuh di gulung,dan uang receh hasil kerja seharian,hanya cukup untuk membeli beras satu liter.
Surya,adik laki-laki mereka,menatap yanto dengan ragu." Bang...kalau begini terus,kita makan apa besok?" Warung bu sari udah ga mau ngutangin lagi.hutang kita kebanyakan."
Yanto mengepalkan tangan."abang tahu..tapi abang nggak mau lihat ibu semakin sakit gara-gara mikirin hutang.besok abang coba kerja jadi kuli lagi di pasar."
Surya menunduk.ia ingin percaya,tapi rasa putus asa mulai menghantui pikiranya.
di dapur,lampu minyak hampir padam.suara jangkrik sesekali bersahutan,namun tiba-tiba.....hening.seolah seluruh desa menahan nafas.
Tok!tok!tok!
Suara ketukan terdengar dari pintu belakang rumah.pelan,namun jelas.padahal tak ada siapa pun yang biasa datang malam-malam.
Yanto berdiri perlahan,hati-hati.
Di luar,hanya ada kabut tipis dan dingin malam.
tidak ada orang.tapi di tanah,tepat di depan pintu,tergolek sebuah benda:
kain putih kuno yang di gulung,di ikat dengan benang merah,dan ditutupi tanah basah.
yanto mengambilnya.dengan tangan gemetar.ketika ia membuka gulungan itu,matanya membesar.
Di dalam nya terdapat:
segumpal uang lusuh namun banyak jumlahnya.
sebuah cermin kecil dengan bingkai kayu tua
Dan secarik kertas,bertuliskan huruf-huruf kuno:
"jika ingin keluarga hidup makmur.....datanglah ke hutan larangan sebelum bulan purnama.bawa darahmu.bawa niatmu."
Surya mendekat,wajahnya pucat,"Bang...itu apa? siapa yang taruh?
Yanto tak langsung menjawab,ia hanya menatap cermin kecil itu.anehnya,cermin itu tidak memantulkan bayanganya,
tetapi memperlihatkan siluet hitam dari dalam hutan.
Dari balik pepohonan jauh dari arah utara...
samar-samar terdengar suara gamelan tua.
pelan.mengundang.
Yanto menggenggam kertas itu semakin erat.di dadanya,ketakutan dan ke putus asaan bertabrakan.
Dan malam itu....adalah pertama kalinya ia mendengar bisikan dari kegelapan.