Tiga
Dase dan Usep tengah bermain catur ketika anggota reserse yang tinggi besar itu mendatangi mereka.
"Cepat, dia sudah pulang." Kata anggota reserse itu. "Kalian harus memancing dia seperti yang sudah dilatih selama ini."
"Baik, Pak." Jawab Dase dan Usep serentak.
Dase yang dianggap teman paling dekat Arman, melepaskan kaosnya. Dibantu Usep, anggota reserse itu memasang mikrofon penyadap di d**a Dase. Setelah terpasang, Dase mengenakan kaosnya kembali dan anggota reserse itu menyuruh Dase mengenakan kemeja tambahan di luar kaos. "Biar aman." Kata sang anggota reserse merasa puas.
***
Arman Donello tidak terkejut ketika Dase dan Usep mendatanginya. Mereka adalah tetangganya sekaligus teman sepermainannya ketika kecil. Bahkan Dase adalah teman sekelasnya ketika SMP. Arman menyambut mereka dengan gembira.
Mereka berbicara ngalor ngidul tidak berujung dan berpangkal. Namun Arman paham benar maksud Dase ketika secara sambil lalu mantan teman sekelasnya itu menanyakan bagaimana rencananya ke depan.
"Aku mau ngojek di pangkalan, ngumpulin uang buat bikin SIM... nyari cewek... kawin." Kata Arman santai.
"Koq cape-cape amat." Kata Dase. "Bukannya kamu punya duit banyak hasil kerja di rumah Pak Hendrik. Enakan bikin toko kelontong, Man." Ujar Dase.
Secara diam-diam Arman terkejut, dari mana si Dase tahu kalau dirinya kerja di rumah Pak Hendrik? Hm, orang ini pasti penghianat. Selama di penjara, dia berkenalan dengan berbagai type penjahat yang memberinya pelajaran bagaimana cara Polisi bekerja serta ciri-ciri teman yang jadi penghianat.
"Duitnya kan habis buat ini itu, Se." Jawab Arman dengan nada menggerutu. "Pak Hendrik itu orang pelit!" Kata Arman, dia sengaja menyebut nama Pak Hendrik untuk menutupi kelepasan omong Dase.
"Pasti si jangkung reserse itu sekarang sedang di rumahnya si dase... hm... mereka masih belum berhenti menduga akulah pencuri uang 2 milyar itu... aku harus hati-hati sekali." kata Arman dalam hatinya.
Sesekali Usep menanyakan bagaimana rasanya di bui di Polres Bandung, sebelum dipindahkan ke Lapas Sukamiskin.
"Aku juga pernah nginep di situ seminggu, Man... edan rasanya seperti di neraka."
"Aku mah biasa saja." Kata Arman. "Soalnya, apa yang ditanyain para penyidik itu aku jawab sejujurnya... aku sebenarnya enggak bersalah... aku kan cuma pesuruh yang kerjanya cuma disuruh-suruh."
"Katanya di rumah Pak Hendrik ada barang bukti yang hilang, benar enggak, Man?" Tanya Usep.
"Mana aku tahu. Mereka menangkap aku ketika aku mandi. Lagian aku enggak berurusan dengan narkoba, aku cuma jadi pesuruh ke sana ke sini... selain itu tugasku bersih-bersih rumah dan lain-lain." Jawab Arman. Sekarang Arman tahu kalau kedua temannya itu telah menjadi kaki tangan polisi.
"Dengarlah..." Kata Arman dengan setengah berbisik. "Aku punya sebuah cerita rahasia..."
"Apa itu? Apa itu?" Tanya Dase, sangat antusias.
"Selama aku kerja di rumah Pak Hendrik, ada seorang kepercayaan Pak Hendrik namanya Rudi Budiman... aku yakin dia punya pabrik Sabu di Bogor, soalnya mereka sering berbicara berbisik-bisik dan mereka sangat merahasiakan pembicaraan mereka dari yang lainnya..." Arman pun bercerita panjang lebar tentang Pak Hendrik dan Rudi Budiman yang semuanya adalah karangan dia sendiri alias bohong.
Arman memang pandai berbohong.
***
Setelah Dase dan Usep pergi, neneknya menyuruh Arman makan malam.
"Mungpung nasinya masih anget." Kata Enin.
"I ya, nin."
"Udah makan, kamu bantuin Enin bungkusin tempe ya."
"I ya, nin."
Nenek Arman yang biasa dipanggil Enin itu adalah penjual tempe bungkus di pasar Cileunyi, dia berjualan dari subuh jam 5 sampai sekitar jam 8 pagi. Setelah itu Nenek Arman pulang, memproduksi tempe sambil mengurus rumah.
Nenek Arman adalah perempuan yang mandiri.
Meskipun rumah itu terletak jauh di dalam gang, namun rumah itu adalah rumah terbesar yang ada di kampung itu walaupun bangunannya adalah bangunan lama. Rumah Arman adalah satu-satunya rumah yang memiliki halaman yang luas serta memiliki pohon mangga dan pohon jeruk bali. Ketika Arman sedang bertekun membantu neneknya membungkusi kacang kedelai dengan daun pisan yang dilapis kertas koran, seorang lelaki tinggi besar mengintai dari jendela dan menguping pembicaraan nenek dan cucu itu.
"Kamu jangan bohongin Enin, Man. Enin tahu kamu dibui di sukamiskin."
"Kalau enin sudah tahu, kenapa juga nanya."
"Enin cuma khawatir... sejak kamu ditangkap, banyak orang-orang aneh lalu lalang ke rumah ini... bahkan beberapa di antaranya ada yang sempat menggeledah rumah ini... mereka mencari barang bukti... Arman, dengarlah, kamu harus jujur, apa yang kamu sembunyikan dari mereka?"
"Enggak, Nin. Arman enggak menyembunyikan apa pun... Arman jujur koq."
"Enin enggak bodoh Arman... dengar, katanya mereka kehilangan barang bukti uang 2 Milyar?"
"Dari mana enin tahu itu semua?"
"He he he... jangan tanya, pokoknya enin tahu. Kamu yang ambil uang itu kan?"
"Sumpah, Nin, demi awloh, Arman tidak tahu apa-apa soal uang itu."
"Sungguh?"
"Sumpah!"
"Ya, sudah sana tidur, kamu enggak bener ngebungkusin tempenya."
***
Pagi-pagi ketika bangun, Arman tahu neneknya sudah pergi ke pasar Cileunyi, namun di meja dapur sudah tersedia sepiring nasi goreng dan segelas kopi yang sudah hangat. Arman segera menyikat sarapannya kemudian pergi mandi dan gosok gigi.
Dia lalu pergi ke pangkalan ojek Cibeusi dan harus mendaftar lagi untuk menjadi anggota. Arman protes kepada Ayi Abeng, pengurus ojek pangkalan itu, dengan kesal.
"Tapi kartu anggotanya ini masih berlaku kan?" Tanya Arman.
"I ya tentu saja masih berlaku, tapi masalahnya kamu berbulan-bulan tidak bayar iuran bulanan dan kamu juga tidak membayar registrasi tahunan jadi..."
"Tapi aku kan tidak narik, untuk apa aku iuran bulanan? Kalau iuran tahunan okelah aku terima... tapi kalau sama iuran bulanan kan berat, Kang Ayi, aku kan mau mulai usaha. Bantu sedikit kenapa sih."
"Tidak, pokoknya kalau kamu mau mangkal di sini kamu harus lunasi iuran bulanan dan tahunan, atau membayar keanggotaan baru."
Arman terdiam, nafasnya memburu. Seorang tukang ojek lainnya yang sudah tua menyabarkannya. Namanya Mang Oha.
"Sudahlah, kamu pulang dulu. Tenangkan pikiranmu... kalau kamu mau, kamu ngojek nembak aja punya aku. Nanti kita ngobrol di rumah." Kata Mang Oha dengan suara tuanya yang khas.
Arman menatap mang Oha, jelas orangtua ini memiliki maksud baik kepadanya.
"I ya, baiklah Mang."
"Sabar, ya, Man." Kata Mang Oha. "Si Ayi memang mata duitan... "
Arman mengangguk-angguk, dia berbalik dan melangkah pergi diikuti tatapan tukang ojek lainnya yang sedang mangkal. Sementara di warung kopi dekat gang, orang tinggi besar itu tak berkedip mengawasi Arman.
"Bisa saja komandan salah." Bisik Orang tinggi besar itu dalam hatinya. "Penjahat tengik itu tidak tahu menahu soal uang 2 milyar itu..."
***
Perasaan Arman masih kesal, dia menuju pasar Cileunyi dan melihat neneknya sedang membereskan jualannya.
"Enggak ngojek, Man?" Tanya Enin.
"Enggak, Nin."
"Enggak ada motornya atau apa?"
"Ah, biasa Nin, si Ayi cari gara-gara."
"Sudah, kamu sabar. Kamu bantu enin aja bikin tempe di rumah."
"I ya, Nin. Yuk, pulang."
***
Pukul setengah sembilan pagi, mereka berjalan di dalam gang dari arah sebelah barat. Arman sepertinya tidak puas melirik betapa banyak emak-emak dan mamah-mamah muda yang sibuk bekerja di rumah-rumah yang mereka lewati. Ada yang menjemur, ada yang ngepel, ada yang pulang belanja... hampir semuanya mereka mengenakan baju seenaknya. Ada yang pake daster, celana pendek bahkan ada yang menjemur baju hanya dililit handuk.
Ketika melewati rumah Ceu Nuning, mamah muda itu baru saja mandi dan mencuci pakaian. Dia menjemur baju di depan rumahnya dengan mengenakan daster terusan yang tipis.
"Enin, tempenya masih ada... eh, Arman... kemana aja koq baru kelihatan?" Kata Ceu Nuning dengan suara khasnya yang merdu. Sekilas ujung matanya melirik ke arah Arman dengan lirikan penuh arti.
"Masih, Ning. Mau beli berapa?" Tanya Enin.
"Sepuluh aja, Nin." Katanya sambil menjepit baju di tali jemuran. Sementara itu Arman hanya bengong saja menatap tubuh mamah muda yang menggiurkan itu tanpa kedip. Nuning kemudian masuk ke dalam rumah mengambil uang untuk membayar tempe.
Nuning lebih tua 3 tahun dari Arman. Dulu, sebelum dia menikah dengan Kang Dadang, Ceu Nuning sering main ke rumahnya membantu Enin membuat tempe bungkus. Arman sering tak berkedip melihat Ceu Nuning membungkusi tempe. Soalnya, Nuning itu memiliki wajah yang manis dan sepasang p******a yang besar. Kulitnya kuning langsat dan betisnya mulus.
Jika Ceu Nuning datang membantu, Arman pasti ikut nimbrung duduk di atas tikar di depan ceu Nuning.
"Kamu ngapain sih ngeliatin aku terus?" Tanya Ceu Nuning waktu itu.
"Habis ceuceu cantik sih..."
"Hus, kecil-kecil suka ngerayu." Jawab ceu Nuning dengan mulut tersenyum senang. Ketika Enin pergi sebentar ke warung Ceu Romlah, Arman mencuri cium pipi Ceu Nuning dengan cepat.
"Iih... kamu apaan..."
"Aku... aku..."
"Awas ya kalau kamu melakukan itu sekali lagi... aku bilangin Enin." Ancam Ceu Nuning, tapi ekspresi wajahnya tidak marah. Malah sebaliknya.
Suatu hari Ceu Nuning datang sore-sore dan Arman baru saja pulang sekolah. Dia sedang bertengkar dengan Kang Dadang, dia ke situ untuk bersembunyi sekaligus mendinginkan kepala yang panas.
"Ceuceu kenapa?" Tanya Arman.
"Si akang ternyata selingkuh... punya pacar yang lain." Berkata begitu Ceu Nuning menangis tersengguk-sengguk. Arman memeluknya dan menghiburnya. Pada saat itu, tiba-tiba Arman kelepasan. Dia mencium bibir Ceu Nuning dan meremas bokongnya dengan erat. Lalu memeluknya dengan kuat dan merapatkan tubuhnya ke tubuh Arman. Namun Ceu Nuning bukannya menolak malah membalasnya dengan antusias. Mereka berciuman tanpa bisa dihentikan sampai tiba-tiba Kang Dadang berteriak-teriak di luar rumah.
"Nuning... nuning... jangan marah sayang... maafin akang."
Arman dan Ceu Nuning saling melepaskan diri dengan tatapan aneh.
"Arman... jangan bilang-bilang." Bisik Ceu Nuning. Lalu dia pergi ke luar dan menemui pacarnya. Arman menarik nafas panjang dan meraba celana dalamnya yang basah. Ketika berpelukan itu, k*********a yang tegang tidak kuasa menahan semburan hasrat. Dia muncrat saat itu.
"Ah... seandainya saat itu Kang Dadang tidak datang... aku mungkin... ah... tidak." Batin Arman saat tersadar dari lamunannya. Ekspresi wajahnya jelas sekali memancarkan semangat anak muda yang penuh gairah. Sekilas saja nenek tua yang berpengalaman itu melihat cucunya itu sambil menghela nafas.
"Harusnya dia cepet-cepet kawin." Batin Enin.
"Kamu kenapa bengong aja Arman... nin, ini uangnya." Kata Ceu Nuning yang seperti tiba-tiba datang dari dalam rumah dan membiarkan pintu terbuka.
"Eh, enggak ceu." Jawab Arman gagap, sekilas saja melihat Pak Nanang, ayahnya Ceu Nuning tengah berbaring di sofa ruang tamu. "Itu bapak kenapa?" Tanya Arman.
"Kemarin jatuh waktu disuruh ngebenerin plafon rumah Pak Jono." Jawab Ceu Nuning.
"Boleh saya lihat, biar saya pijit... " Kata Arman.
"Emang kamu bisa mijit?"
"Lumayanlah... Enin yang ngajarin."
"Betul, Nin?" Tanya Nuning. Nenek tua itu mengangguk sambil tersenyum. "Tapi Arman masih belajar."
"Ya udah... coba aja, siapa tahu Bapak bisa tidur dan istirahat setelah dipijit sama kamu." Kata Nuning, dia menatap tubuh Arman yang tampak semakin atletis dengan tatapan nanar. Nuning juga tak bisa melupakan kejadian sore itu yang sudah lama sekali berlalu. Dia tahu, Arman menyukai dirinya.
"Ahh... aku juga tahu dia memiliki tongkol yang gede..." Desah Nuning dalam hatinya.
***
"Ceu ada minyak tawon enggak?" Tanya Arman sambil memeriksa kaki Pak Nanang.
"Enggak ada, Man. Pake minyak goreng aja ya?"
"Jangan. Hasilnya kurang bagus. Aku pulang dulu sebentar ya ngambil minyak tawon..."
"I ya... cepet ya kasihan bapak."
Sebelum pergi, Arman menatap Ceu Nuning dengan lekat. Nuning membalasnya dan mengedipkan matanya.
"Ah!" Batin Arman.
Dia berlari ke rumahnya menyusul Enin yang pulang duluan, mengambil minyak tawon yang disimpan di lemari buffet tua. Arman kemudian masuk ke dalam kamar dan mengambil obat berbentuk tablet berwarna pink, yang dia sembunyikan dalam gulungan kaos kaki di dalam lemari bajunya.
"Satu saja cukup." Katanya dalam hati.
Ketika kembali ke rumah Nuning, Pak Nanang sudah pindah ke kamar.
"Bu Ros ke mana, Pak?" Tanya Arman, menanyakan istrinya.
"Pergi ke rumah Bu Jono, bantu masak-masak."
"Oh, diminum dulu ini obat sakit badannya pak." Kata Arman sambil memberikan tablet itu. Tanpa banyak pertanyaan, Pak Nanang yang sedang kesakitan itu langsung menelan tablet itu.
Pelahan-lahan kemudian Arman mengurut kaki Pak Nanang, menyusurinya dari dengkul hingga ke tungkai mata kaki. Memijit-mijitnya secara sistematis
"Ough!" Keluh Pak Nanang.
"Maaf, Pak, ini agak sakit." Kata Arman sambil menarik tungkai itu dan meluruskan telapak kakinya. Nuning diam-diam memperhatikan punggung Arman yang terlihat semakin kokoh.
"Nah, sudah. Mudah-mudahan cepat sembuh." Kata Arman.
Pak Nanang tampak santai akibat efek obat yang diberikan Arman. Dia memejamkan mata dan akhirnya tertidur.
"Bapak keseleo." Kata Arman kepada Nuning yang menatapnya.
"Makasih ya man."
"I ya sama-sama."
"Mana Nita? Koq enggak kelihatan dari tadi?" Tanya Arman.
"Nita sekolah, sekarang dia sudah TK."
"Oh." Kata Arman pendek. "Aku ikut cuci tangan ya." Berkata begitu Arman ngeloyor ke kamar mandi yang terletak di pojok, mencuci tangan dengan sabun sampai bersih. Nuning mengikutinya.
Ketika Arman berbalik, dia melihat Ceu Nuning diam dengan tubuh agak gemetaran. Wajahnya merah. Mereka bertatapan. Arman kini lebih tinggi 12 centi meter dari Nuning. Dia mendekati mamah muda itu dan dengan gerakan tak terduga, memeluk lehernya dari belakang. Lalu menarik kepala Nuning dan kemudian mencium bibirnya dengan penuh gairah.
Bibir Nuning terasa panas. Namun lebih panas lagi ketika membalas. Satu tangan Arman langsung menyentuh belahan kemaluan Nuning dari luar dasternya... walau tak sengaja.
Mereka saling berciuman dengan tak terkendali. Saling berpelukan dengan erat, sampai tahu-tahu Arman telah menjatuhkan celana jeans 3/4nya dan tangan Nuning menggenggam tongkatnya yang besar itu, membimbing ke balik daster yang tak mengenakan apa-apa lagi. Lalu menempelkannya di mulut goa mamah muda itu.
"Akh... Arman... masukkan..."
Arman menekan pinggulnya dan menyodok liang itu dengan ujung tongktnya, slepp! Masuk!
"Adduuuhhh... "
"Uh! Uh!" Arman menjotoskan kepalanya hingga menerobos masuk. Dalam keadaan sambil berdiri, memang itu agak sulit dilakukan.
Tapi baru saja kepalanya terbenam di vulva yang sudah basah itu, tiba-tiba di luar terdengar suara seorang anak kecil.
"Mamah... Nita pulang!" Suara itu berkata dengan riang dan lantang. Mereka tergeragap dan segera memperbaiki pakaiannya masing-masing.
"I ya sayang. Koq udah pulang lagi?" Kata Ceu Nuning, nadanya sangat gemetar.
"Tadi Bu Gurunya ada rapat jadi Nita dan teman-teman disuruh pulang."
Setelah memperbaiki celananya dengan baik, Arman ke luar dari dapur dan menyapa anak kecil itu.
"Eh, ada anak cantik baru pulang sekolah."
"Om siapa?"
"Ini Om Arman, dia baru saja selesai mijit Kakek Nanang... tuh sekarang kakek sudah bisa tidur dengan nyenyak." Kata Nuning.
"Ceu, saya pulang dulu ya." Kata Arman. Ceu Nuning menatap Arman dengan sorot gemerdep.
"I ya, Man. Makasih ya... kalau ada waktu dilanjutkan ya..."
"I..ii.. ya..." Jawab Arman gagap.
***