Empat
Tiba di rumah, kepala Arman terasa pening karena kentang (kena tanggung). Dia melihat Enin sedang sibuk mengaduk-aduk kacang kedelai yang sudah direbus dan ditiriskan sejak semalam. Lalu menaburkan ragi sedikit demi sedikit sambil terus mengaduk-aduk kacang kedelai itu. Melihat neneknya sedang sibuk, Arman tanpa bicara masuk ke dalam kamar Enin dan mengambil handbody lotion yang biasa dipakai Enin sesudah mandi. Dia kemudian masuk ke dalam kamarnya dan berniat melakukan onani sambil tiduran. Pada saat itu mendadak pintu ada yang mengetuk dan suara seorang perempuan berteriak “permisi” di luar.
"Ya... tunggu sebentar." Jawab Arman. Dia meloncat dari tempat tidurnya dan menuju pintu depan. "Eh, bu RW... ada apa?" Tanya Arman.
"Eh, Arman... " Kata Bu RW sambil matanya menatap terbelalak ke arah celana pendek Arman yang menggembung. "Saya mau pesan tempe bungkus... seratus bungkus..."
Arman pura-pura merasa jengah.
"Enin... ini Bu RW mau pesan tempe... seratus bungkus." Arman berteriak.
"Ya... tunggu, ini lagi tanggung. Lagi ngaduk kedelai... sebentar ya..."
"Silahkan masuk Bu... maaf tempatnya berantakan." Kata Arman lagi.
"Engga apa-apa... Arman, koq lama enggak kelihatan?"
"Saya kerja Bu..."
"Panggil Tante Susi aja, kamu kenapa sih sukanya sok resmi-resmian?" Kata Bu RW sambil menatap Arman. "Kerjanya di mana?"
"Di Jakarta Bu eh Tante."
"Oh begitu ya? Dapat uang banyak dong."
"Ah, enggak banyak tante..."
"Tante rasanya baru ngelihat kamu tambah gede loh..." Berkata demikian Tante Susi melirik ke arah celana Arman yang masih menggembung karena efek kentang yang tak terselesaikan dengan Ceu Nuning. "Mmm... gimana kalo tempenya dianter aja ke rumah..."
Enin datang dari arah dapur.
"Eh, Bu RW maaf tadi lagi nanggung... pesennya seratus ya? Buat Kapan?" Tanya Enin.
"Buat besok arisan ibu-ibu... rencananya sambil arisan kita mau botram (makan bersama) dengan lauk tempe bungkus yang digoreng pake garam... begitu, Nin."
"Bisa koq Bu... ini ada persediaan..."
"Tapi Nin, saya sedang buru-buru, bapaknya mau berangkat... jadi tempenya dianter aja ke rumah sama Arman."
"Oh i ya Bu RW... kalau gitu saya bungkusin sekarang."
"I ya, ini uangnya Enin, seratus ribu... saya permisi dulu ya."
"I ya, mangga. Makasih loh sebelumnya bu RW."
Arman terdiam. Dia membalas tatapan Bu RW yang penuh arti... seperti mengisyaratkan sesuatu. Di antara semua emak-emak STW, Bu RW adalah yang paling cantik dan paling bersih. Kulitnya sawo matang dengan tubuh semampai. Suaminya, Pak Erik, adalah seorang pengusaha kecil yang terbilang sukses. Kehidupan mereka berkecukupan. Mereka memiliki dua orang anak laki-laki, Joko dan Edi. Arman mengenal keduanya yang sekarang sedang berada di akhir masa kuliah.
Selama Arman melamun, Enin sibuk menghitung tempe bungkus dan memasukkannya ke dalam kantong kresek hitam yang cukup besar.
"90, 91, 92,93... seratus." Gumam Enin. "Man, ini anter tempenya cepetan, keburu sore."
"Itu tempe udah mateng, Nin?"
"Kalau besok dibukanya, pasti udah mateng. Bilangin ya."
"I ya, Nin."
"Nih cepet anterin."
***
Masih dengan celana pendek katun yang sama, Arman melangkah menyusuri gang menuju rumah Pak RW. Dia berpikir, dia cuma datang ke rumah Pak RW, memberikan pesanan, sudah itu selesai. Lalu pulang, masuk ke kamar dan meneruskan niatnya yang terutunda.
"Paling juga semenit." Katanya dalam hati.
Tiba di rumah Pak RW dia menemukan Joko sedang menyalakan motor dan siap-siap pergi kuliah.
"Hey Man... elu bawa tempe pesanan mami ya?"
"I ya Ko, mau kuliah ya?"
"Enggak, gua mau bimbingan... kuliah sih udah selesai. Edi! Cepet, udah siang!"
Adiknya, Edi muncul dari pintu.
"Sabar dikit, nape lu tereak-tereak."
"Ganjen lu mo kuliah pake dandan segala."
"Sirik lu, lu tau gua lebih ganteng dari lu.. ayo cabut." Kata Edi sambil menaiki jok motor.
Mereka ngeloyor pergi.
Arman memasuki halaman rumah besar itu dan memasukinya dengan ragu.
"Permisi..."
"Arman, tante di dapur." Kata Bu RW. "Tutup pintunya, suka ada kucing masuk!"
Arman menutup pintu dan menemukan rumah besar yang bagus itu terasa hening.
"Simpan di situ, Man, di atas meja..." Kata Tante Susi. Ketika Arman masuk ke dapur, Tante Susi sedang menungging membersihkan bagian bawah rak yang kelihatannya kotor.
Aih, p****t semok itu! Belahannya tercetak jelas karena Tante Susi mengenakan celana daster yang tipis. Sepertinya, bagian-bagian di dalamnya juga ikut tercetak. Belahan segitiganya itu loh...
Arman menarik nafas. Tongkatnya yang sudah dingin mengaceng kembali.
"Maaf, ini ada sendok yang jatuh ke bawah rak, sekalian tante sapuin biar bersih." Kata Tante Susi sambil bangkit dari menunggingnya. Sepasang matanya yang jeli dan berpengalaman, menangkap tatapan Arman yang tak berkedip.
"Di sini tante?" Tanya Arman sambil meletakkan kantong kresek itu di atas meja.
"I ya di situ... uangnya cukup kan?"
"Cukup tante."
"Arman... mmm... kamu enggak kuliah?"
"Enggak tante, enggak ada biaya."
"Selama ini kamu menghilang, apa betul kamu kerja?"
"Be... betul tante."
Tante Susi tersenyum. Wajahnya yang lembut dan keibuan nampak menampilkan ekspresi yang penuh pengertian. Dia mendekati Arman.
"Kabarnya sudah tersebar ke seluruh kampung... kamu jangan bohong, apa benar kamu dibui di sukamiskin?"
Arman terdiam.
"Begitulah tante... sebetulnya saya enggak bersalah koq..."
"Tante mengerti. Kamu cuma kerja jadi pembantu kan? Kamu enggak mungkin jadi bandar narkoba, tante yakin kamu cuma kena getahnya saja." Kata Tante Susi. "Jadi orang harus sabar menahan cobaan..." Tante Susi membelai rambut Arman yang mulai gondrong dengan lembut. "Kalau ada apa-apa tante bisa bantu koq..."
Arman menunduk.
Hidungnya mencium bau parfum Tante Susi yang lembut.
"Kamu jangan sungkan minta bantuan sama tante..." Katanya lagi dengan lebih lembut. "Tante tahu kamu butuh uang jajan... tante bisa kasih... asal..." Tangan Tante Susi yang lembut itu meraih tangan Arman, membawanya pelahan ke arah dadanya.
"Asal apa tante?"
"Kamu tahu... Pak Erik itu orang baik... dia sangat baik... cuma... dia selalu sibuk, tidak ada waktu buat tante... padahal tante sangat butuh... perhatian... kamu mengerti maksudnya kan?"
Arman menatap tante Susi. Dia tahu maksudnya.
Tante Susi sudah berusia sekitar 40-an. Wajahnya boleh dibilang manis, tanpa make up berlebihan. Bibirnya, walau agak keriput, namun masih menjanjikan kelembutan.
"Berbulan bulan di penjara... kamu pasti menginginkannya." Kata Tante Susi, sekarang tangannya hinggap di celana Arman. "Nah, kan, kamu sudah tegang."
"Tante..."
"Sssttt... ini rahasia kita berdua."
Tante Susi membawa Arman ke ruang tengah, dia mendorong anak muda bertubuh tinggi itu ke sofa. Sekali tarik, celana pendek itu lepas dengan celana dalamnya. Kontan saja, sebuah laras tank baja berwarna coklat muncul dan memantul-mantul.
"Oh Tuhan... Arman... punyamu besar sekali." Bisik Tante Susi dengan mata melotot. Dia langsung menunduk dan melahap batang sosis berwarna coklat itu dengan rakus. "Baunya enak sekali... Arman... Arman... telanjangi tante... cepat..."
Dalam sekejap Arman sudah menarik celana daster Tante Susi serta bajunya. Tante Susi menyorongkan p****l susunya untuk diisap oleh Arman. Jari jemari Arman dibimbing oleh Tante Susi untuk mengobel liang vulvanya yang masih kering. Lalu tiba-tiba Tante Susi menaiki sofa dan mengangkangkan ke dua pahanya di depan wajah Arman.
"Jilat... kacang…nya... aghkhh... arman... i ya jilat... itu.. jilat terussss..."
Arman mencengkram ke dua buah p****t tante Susi yang terasa masih kencang, menjilati kue serabi itu dengan liar. Dia pernah melakukan hal ini selama beberapa kali, Bu Polwan, Bu Kepala Lapas... ya dia pernah melakukannya beberapa kali.
"Ougkh... Armaannnn...." Tante Susi menjerit tertahan. "Sekarang... sekarang..." Tante Susi menurunkan pinggulnya, dia mengangkangi Arman yang duduk menyandar sofa. "Ini..ah... ini.. baru pas... huft...."
Cleb!!!
Tante Susi menggenjot Arman dengan cepat. Batang yang besar dan berurat itu tampak timbul tenggelam ke dalam vulva Tante Susi yang terbeliak-beliak kelaparan.
"Oh Tuhan... oh tuhan... enaaak sekali Arman... aduuuh.... euh euh euh..." Jerit Tante Susi dengan tertahan.
Crot crot crot... tampak dari bibir-bibir mulut kucing Tante Susi mengalirkan sebuah cairan berwarna putih seperti s**u.
Sementara itu, di luar jendela, seorang lelaki tinggi besar tengah mengintip secara diam-diam apa yang tengah dilakukan oleh Arman dan Tante Susi.
"Jancok bener itu apem sampai ambyar begitu!" Maki orang itu sambil melakukan onani secara sembunyi-sembunyi.
***
Tante Susi benar-benar kerasukan setan. Selama hampir satu jam dia minta disodok terus dengan berbagai gaya. Tubuhnya bersimbah keringat dan Arman melayaninya dengan semangat yang sama.
Walau pun saluran vulva itu sudah longgar, tapi Arman menikmatinya sepenuh hati. Hanya saja dia menikmatinya sambil membayangkan sedang menusuk-nusuk Ceu Nuning yang lebih sempit atau Gisela yang putih dan tembem. Gisela adalah keponakannya pak Hendrik yang bening dan cantik.
Akhirnya, ketika dalam gaya doggy style, Arman mengerang dan mengatakan akan ke luar.
"Tante... tante... saya sudah enggak kuat..."
"Keluarin aja di dalam Arman... di dalam..."
Arman mengerang ketika dia memuncratkan ledakan gunung berapinya di dalam himpitan vulva Tante Susi.
"Aghrrr... tante..." Erang Arman. Dia merasakan aliran laharnya menyembur bagai air mancur di kedalaman. Dia lalu terkapar di lantai yang berkarpet merah.
***
"Ini buat kamu... makasih ya... tante puas sekali. 500 ribu cukup kan?"
"Cukup, tante. Tante baik sekali."
"Kamu juga... sungguh enak dan mantap... tante suka sekali. Nanti, kalau ada waktu luang dan tepat... kita ke hotel, kamu mau kan?"
"Mau tante. Ini punya Tante juga masih sempit dan legit." Kata Arman berbohong.
Tante Susi tertawa kecil.
"Soalnya aku rajin senam." Katanya sambil mengenakan celana dalamnya. Sekilas Arman melihat bibir-bibir di s**********n tante Susi tampak memble karena sudah dihajar tongkatnya yang garang dan ganas.