satu
Selama beberapa hari Arman tiduran saja di rumah. Dia membantu neneknya membuat tempe bungkus dengan giat. Namun hal tersebut menyebabkan jumlah produksi tempe menjadi meningkat tajam, sedangkan jumlah penjualannya masih segitu-segitu saja. Akhirnya, neneknya menghentikan produksi, sementara menunggu persediaan tempe yang sudah dibuat terjual habis.
Teman-temannya, Dase dan Usep selalu rutin datang setiap sore. Ngobrol dan memancing-mancing informasi. Sementara itu, anggota reserse yang tinggi besar itu masih terus saja menguntitnya.
Arman terkekeh sendirian. "Cepat atau lambat, aku akan punya kesempatan untuk mengambil uang itu." Katanya dalam hati.
Selama beberapa hari itu juga, secara diam-diam Arman mengawasi rumah Pak Hendrik yang terletak di ujung jalan raya. Rumah besar yang mewah itu tampak tidak terurus. Rupanya, sejak penggerebekan narkoba di rumah itu, tak ada seorang pun keluarga Pak Hendrik yang mau tinggal lagi. Bu Sella, istrinya Pak Hendrik serta Hendra Halim, anaknya, menghilang entah ke mana. Sedangkan rumah itu, konon, masih disegel perimeter oleh Polisi sebagai barang bukti tempat produksi sabu.
Sebagai gembong narkoba kelas kakap, Pak Hendrik sendiri dihukum kurungan seumur hidup oleh pengadilan. Namun proses peradilannya belum selesai karena pengacaranya mengajukan banding. Menurut sejumlah sumber yang Arman dengar ketika berada di penjara, Pak Hendrik itu seharusnya dihukum mati. Namun, bila proses bandingnya berhasil, mungkin hukuman kurungannya akan dikurangi menjadi hukum kurungan 15 tahun atau 10 tahun.
***
Sore itu, selepas main volley di lapangan dekat kantor RW, Arman dan beberapa anak-anak Karang Taruna berkumpul di balai RW. Sudah lama Arman tidak nongkrong di tempat itu dan dia merasa sangat ragu dan canggung. Soalnya, reputasinya sebagai satu-satunya warga kampung itu yang pernah dibui, sudah tersebar luas. Sejak dia turun ke lapangan bermain volley, ledekan-ledekan itu meletup di mana-mana. Namun dia berpura-pura cuek. Arman adalah pemain volley jempolan, bukan karena sekedar tubuhnya yang jangkung tapi juga karena loncatannya yang tinggi dan smashnya yang keras.
Saat beristirahat sejenak, dia masuk dan nimbrung ke Balai RW, namun anak-anak Karang Taruna itu tidak ada satu pun yang menyapa. Dia justru disambut dengan ledekan dan sindiran yang berseliweran di sekitarnya, sehingga membuat kuping Arman menjadi panas.
"Ngakunya kerja di Jakarta, taunya dipenjara..." Kata salah seorang pemuda yang bernama Boris.
"Mulut pengedar mana bisa dipercaya..." Kata yang lain.
"Kalau mau kaya jangan jualan sabu, jadi ojol aja kaya si Udin... hidupnya sudah lumayan tuh." Kata yang lain lagi.
Arman tak memiliki kesempatan membela diri. Dia pelahan-lahan meninggalkan balai RW dengan perasaan sakit dan tersinggung. Dia tidak bisa marah dan melabrak orang-orang di situ, itu hanya akan memperburuk reputasinya saja.
"Lebih baik kugenjot saja serabi emak-emaknya... biar tahu mereka bukan keturunan orang-orang suci." Desis Arman dengan penuh dendam.
Dia pulang ke rumahnya dan mengingat-ingat siapa saja orang yang sudah menyindirnya. Si Dodi, Ujang, Boris dan Toni. "Hm, mereka belum tahu kalau m***k emak-emaknya pada gatel semua!" Kata Arman dalam hatinya dengan sebal. Terutama si Boris yang tak henti menghina dan melecehkannya sejak dia ikut bermain volley.
Setelah mandi, dia nongkrong di depan rumah. Dase dan Usep tidak kelihatan batang hidungnya. "Mungkin sudah bosan." Katanya dalam hati. Arman juga tidak melihat si reserse tinggi besar itu menguntit dirinya. Tapi Arman yakin, si reserse itu masih mengawasinya dari kejauhan. "Aku harus tetap berhati-hati."
Pada saat itu, Pak RT Juhe lewat bersama Kang Atang dan Kang Odeng. Di punggung mereka menggantung tas yang berisi joran untuk memancing.
"Selamat sore Pak Juhe." Sapa Arman kepada Pak RT. Orang yang disapa hanya menjawab dengan dengusan yang angkuh.
"Anjing!" Maki Arman dalam hatinya. "Sombong benar." Demikian juga Kang Odeng dan Kang Atang. Mereka lewat dengan cuek dan angkuh.
"Hm, kesempatan nih." Kata Arman dalam hatinya. Dia lalu memikirkan sesuatu gagasan. Setelah merasa gagasannya cukup baik dan sempurna, dia mengambil 10 bungkus tempe dan memasukkannya ke dalam kantong kresek.
Pak RT itu adalah bapaknya si Boris, orang yang sejak tadi meledek dan menghinanya di lapangan volley dan di balai RW. Istrinya Pak RT, Ceu Lilis, adalah emak paling centil di kampung itu. Dia sering menggoda anak-anak muda yang nongkrong dan merasa dirinya cantik.
Ceu Lilis orangnya kurus, kecil dan pendek. Ketika kawin dengan Juhe, umurnya baru 17. Dia punya 2 orang anak, Boris berumur 19 tahun dan Erni, 17 tahun.
Arman melangkah menuju rumah Pak RT yang terletak di pojok kampung. Tiba di sana, dia mengintip ke jendela dan melihat Ceu Lilis tengah menonton video porno di Hpnya sambil mengusap-usap selangkangannya.
"Kebetulan... he he he." Desis Arman senang. Dia lalu mengetuk pintu pelahan-lahan.
"Permisi." Katanya.
"Ya, siapa ya?" Tanya Ceu Lilis.
"Saya Ceu, Arman."
"Maghrib-maghrib begini ada apa Arman?" Tanya Ceu Lilis. Dia membuka pintu dan berdiri di ambangnya. Karena pendek, dia tengadah memandang Arman. Sekilas Ceu Lilis memandang bagian yang menggembung di celana Arman.
"Bukannya Ceu Lilis pesen tempe... ini saya bawain." Kata Arman pura-pura.
"Enggak koq."
"Oh... jadi siapa atuh, kan uangnya sudah dibayar...bener ceuceu enggak pesen?"
"Ih enggak... Arman..."
"Aduh." Arman pura-pura menjatuhkan bungkusan tempe, dia segera membungkuk untuk mengambil bungkusan itu. Dengan secara sengaja, kepala Arman menyundul pertengahan s**********n ceu Lilis yang mengenakan gaun daster tidur.
Arman mendongak dan dengan sengaja pula mulutnya menyentuh ujung belahan bibir serabi ceu Lilis yang sudah mekar karena menonton film porno.
"Aduhhhh... Arman...aghkh..."
Tanpa membuang kesempatan, Arman segera meraih p****t Ceu Lilis dengan kedua tangannya, kepalanya lalu masuk ke dalam daster. Dia langsung menjulurkan lidahnya ke belahan bibir-bibir itu dan menjilatinya dengn piawai. Satu hal yang menguntungkan Arman, ternyata Ceu Lilis tidak memakai celana dalam.
"Khhammu apa-apaan... arhmanh... aghk..."
"Maaf Ceu... Ceuceu cantik sekali...maaf saya kelepasan..."
"Arhmanh.... kamu...Oughk!" Jerit Ceu Lilis. Jari Arman dengan tangkas mengobel liang vulva itu hingga menjadi banjir oleh cairan sahwat.
Arman lalu berdiri. Dia meraih tangan Ceu Lilis yang kecil dan membawanya ke celananya yang menggembung.
"Ceu... punya Arman gede kan?"
"Jangan... Arman, nanti ketahuan orang... "
"Jangan di sini ceu..."
"Itu ada si Erni lagi nonton TV..." Kata Ceu Lilis.
Arman dengan cepat menarik tangan Ceu Lilis, membawanya ke luar... ke samping rumah yang berupa gang gelap yang buntu. Arman yakin, ceu Lilis tidak akan menolak. Soalnya, dia sedang nonton film porno, pasti dia sedang h***y. Lagi pula, Arman pernah mendengar kalau Pak Juhe bermalasah dengan k*********a.
"Ceu... ini ceuceu sudah basah..." bisik Arman sambil mengelus-elus belahan Ceu Lilis dengan menyingkap daster tidurnya. Sementara itu tangan Ceu Lilis dibawa oleh tangan Arman masuk ke dalam celana pendeknya.
"Arman... ih... gede sekali... panas lagi..."
"Arman tahu Ceuceu sudah lama enggak merasakan ini." Kata Arman sambil memangku Ceu Lilis hingga naik ke perutnya. Ceu Lilis tubuhnya sangat ringan sekali.
Arman membiarkan celana pendeknya jatuh ke tanah. Menggenggam batang tongkatnya yang memiliki glandula seperti helm erman dan mengarahkannya secara intuitif ke dalam liang Ceu Lilis yang basah.
Jleb!
"Aduh anjing..." Bisik Ceu Lilis. "Man... ini kegedean... langsung masuk lagi... aih..."
Pelahan Arman menyusupkan glandulanya terus masuk ke dalam vulva Ceu Lilis yang disambut dengan rintihan tertahan dari emak yang centil ini. Seketika Ceu Lilis pun memeluk leher Arman dengan erat dan mengaitkan kedua kakinya ke pinggang Arman.
Sebetulnya Ceu Lilis sejak dulu sudah beberapa kali menggoda Arman, namun pemuda itu dingin-dingin saja sebelumnya. Ceu Lilis heran, mengapa tiba-tiba sekarang Arman langsung tanpa tedeng aling-aling menghujam dirinya dengan semangat? Ah, bodo amat. Yang penting tongkatnya yang gede itu kini sudah terbenam ke dalam liang kenikmatannya yang memang sudah lama tidak dicoblos Juhe, suaminya.
"Annjinngkhhh.... " Desah Ceu Lilis ketika Arman meraih buah pantatnya, mengangkatnya dan menurunkannya secara simultan dan dengan kecepatan stabil.
"Enak kan ceu?"
"Diam kamu! Terus genjot!!!" Sentak Ceu Lilis dalam bahasa dengan berbisik.
Setelah beberapa kali digenjot, tiba-tiba Ceu Lilis memeluk Arman dengan erat demikian juga kaitan kedua kakinya membelit pinggang Arman dengan sangat kuat. Hal tersebut menyebabkan Arman menghentikan genjotannya.
Rupanya Ceu Lilis tengah mengejang.
"Aku keluarrrrrhh... hanjingng... eurgggrrrrhhhh.... enak hanjinkh…"
Arman memeluk Ceu Lilis dengan kuat, memberikan waktu kepada emak centil ini untuk menyemprotkan kenikmatannya.
"Mamah... mamah... " Tiba-tiba suara seorang perempuan terdengar dari dalam rumah. "Mamaaaahhhh..." Teriak perempuan itu lagi. Itu adalah suara Erni, anaknya Ceu Lilis yang sudah berumur 17 tahun.
"t***l bener tuh anak... ada apa sih!" Ceu Lilis bersungut-sungut dan melepaskan diri dari pelukan Arman. Plok! Demikianlah bunyinya ketika tongkat Arman secara tiba-tiba dicabut dari vulva yang menyelubunginya.
"Ada apa sih Er?" Tanya Ceu Lilis sambil masuk ke dalam rumahnya dengan nada menyentak marah.
"Ini si bapa nge SMS, katanya umpannya ketinggalan di atas lemari... tolong ambilin terus anterin ke rumah Kang Atang."
"Huuuhhh... dasar si k****l peot pelupa... ini kan mamah lagi sibuk..."
"Mamah lagi sibuk apa sih?" Tanya Erni keheranan.
"Ini ngambil jemuran di luar... kamu aja yang nganterin ke sana... gih..."
"Gak mau, Erni lagi nonton sinetron... lagi seru..."
"Nih mamah kasih uang 10 ribu... cepat sana pergi... pulangnya kamu ke warung Ceu Romlah dulu ya... beli garam sama masako buat masak tempe."
Akhirnya Erni pun mau disuruh ibunya mengantarkan umpan ke rumah Kang Atang yang jaraknya cukup lumayan jauh.
"Man, ayo sini... kita terusin genotnya di dalem... "
Arman yang bersembunyi di balik gang sempit yang gelap, melangkah berjinjit sambil memegangi celana pendek dan celana dalamnya, dia pun masuk ke dalam rumah Ceu Lilis dan langsung ke kamar.
"Nah, sekarang ayo masukkan tongkolmu yang gagah ini… yang dalem ya..." Kata Ceu Lilis sambil berbaring di kasur kamar tidurnya. Kedua kakinya membuka lebar, membiarkan lubang guanya ngangap seperti mulut manja yang menunggu untuk disuapin.
Arman tersenyum penuh kemenangan. Tanpa sungkan-sungkan lagi dia menghajar emak centil itu dengan segenap tenaganya. Bentuk serabi belah Ceu Lilis yang memang kecil dan tipis itu, tampak kini menjadi amburadul karena dihajar oleh tongkat Arman yang gede dan panjang.
Bibir-bibirnya terbeliak-beliak oleh hujaman-hujaman glandula ikan tongkol Arman yang ganas.
Ceu Lilis ke luar berkali-kali hingga akhirnya dia kelenger.
"Sudah... sudah... man... sudah... aku sudah muncrat berkali-kali...." Katanya dengan nafas tersengal-sengal.
"Arman juga sudah cape Ceu, udah pengen ke luar..."
"Jangan di dalem, Man... nanti ceuceu hamil..."
"Akhhhh.... ceu... terlambat... arghkhkh.... euuukh.... "
Arman ternyata meledak di dalam selubung vulva Ceu Lilis yang berdenyut-denyut. Crot crot crot... akhhhh...
Ceu Lilis merasa kesal tapi Ceu Lilis tak berdaya, dia sudah kelengar oleh kenikmatannya sendiri. Dia melayang-layang dan tertidur.
Arman cepat-cepat memakai celananya dan pergi ke luar rumah. Tiba-tiba dia melihat Boris sedang berjalan pulang, Arman cepat bersembunyi di balik gang yang gelap. Ketika Boris memasuki rumahnya, dia melihat ibunya tidur dalam keadaan mengangkang dengan bibir-bibirnya ngangap terbuka.
Arman mengintip, ternyata si Dodi langsung menunggangi ibunya.
"Mamah... mamah... maaf ya Dodi n*****t mamah... enak sih..."
Arman pun pulang sambil tertawa-tawa kecil. Dendam pun sudah terbayarkan.
***