Dua
Ketika pulang, malam sudah jatuh dan neneknya berada di dalam kamar, mungkin tiduran atau mungkin sudah tidur. Arman duduk di kursi butut ruang tamu, menelonjorkan kaki di atas daun meja. Menyalakan rokok sambil merenungkan rencana-rencananya. Dia berpikir dan menimbang-nimbang, apakah dia akan mendaftar sebagai anggota baru di Pangkalan Ojek Cibeusi ataukah tidak. Kemarin dia mengunjungi rumah Mang Oha, namun syaratnya berat sekali. Mang Oha minta bagian setengah dari jumlah pendapatan bersih hasil ngojeg, sedangkan Arman menginginkan setoran.
“Mang Oha maunya enak sendiri... mau dapat uang banyak dengan mengeluarkan tenaga sedikit. Mang Oha sama saja dengan yang lain.” Gerutu Arman dalam hatinya. Dia terus memikirkan berbagai kemungkinan dan peluang, akhirnya dia menemukan gagasan yang cukup bagus.
"Ah, kenapa aku tidak mendaftar jadi ojek online aja?" Pikir Arman tiba-tiba. Dia teringat kepada kata-kata orang yang meledeknya di Balai RW. "Ya, kenapa aku tidak jadi driver ojol saja? Toh modalnya juga sama cukup besar."
Memikirkan hal itu, Arman jadi bersemangat. Besok dia akan berbicara dengan Enin atas rencananya ini. Mudah-mudahan Enin bisa membantu. Sebelum pergi tidur, dia ke kamar mandi dulu untuk menggosok gigi. Lalu dia mencuci muka dan mencuci “adik gede”nya yang lengket bekas cairan lendir yang mengering.
***
Keesokan harinya, setelah Enin pulang dari pasar, Arman mengutarakan niatnya. Enin sangat setuju dan gembira. Tapi...
"Enin sebetulnya enggak ngerti ojek online itu apa, Man. Tapi pasti beda syaratnya dengan ojek pangkalan."
"Ya i ya lah, Nin. Masa sama?! Syaratnya Arman harus punya SIM, STNK motor atas nama sendiri... motornya juga harus keluaran baru Nin, minimal keluaran tahun 2011... punya HP Android dengan OS terbaru... SKCK..."
"eS Ka Ce Ka? Apa itu ngger?"
"Itu, Surat Keterangan Catatan Polisi..."
"Tapi kan kamu pernah dibui, apa bisa...???"
"Ya, bisa saja, Nin. Cuma dalam catatannya dicantumkan bahwa Arman pernah dipidana gara-gara dituduh mengedarkan narkoba...."
"Apa betul kamu enggak pernah ngedarin obat haram itu, Man?"
"Sumpah, Nin, demi awloh, Arman ga pernah nyentuh barang haram itu... Arman cuma kerja di Pak Hendrik..."
"Sudah, sudah. Enin sudah tahu. Kira-kira biayanya semua berapa ya Man?"
"Entahlah, Nin. Besok Arman coba bikin SKCK dulu... setelah itu bikin SIM... setelah itu nyari HP seken... setelah itu..."
"Sudah, sudah. Kamu jangan ngawur dulu... jangan menghayal dulu... itu semua berapa? Kamu punya uang berapa?"
"Arman punya uang 700 ribu, Nin."
Nenek tua itu menghela nafas, berat.
"Enin memang punya simpanan... tapi sedikit... paling cuma gelang emas 10 gram... apa itu cukup?"
"Pasti cukup, Nin." Berkata demikian pikiran Arman langsung melayang ke kantong kresek yang dia sembunyikan di bawah bak sampah... "Hmm, aku harus mengambilnya secara diam-diam." batin Arman. "Malam ini aku harus mengendap-endap ke rumahnya Pak Hendrik..."
"Ya, sudah, besok habis jualan tempe, kita ke toko Mas." Kata Enin dengan nada suara pasrah.
***
Beberapa menit setelah mereka selesai melakukan pembicaraan serius, tiba-tiba Ceu Nuning datang bersama anaknya, Nita.
"Nin, koq engga bikin tempe?" Tanya Nuning heran, dia melirik sekilas ke arah Arman.
"Engga, Ning. Itu tuh masih banyak. Kemaren-kemaren Arman bikin banyak sekali, sekarang masih tersisa tuh... banyak sekali kan?"
"Oh, begitu ya. Tadinya saya mau bantu-bantu lagi bikin tempe... sekalian menyampaikan pesan bapak buat Arman, makasih katanya. Saya seneng bapak sudah sembuh, sekarang sudah bisa kerja lagi."
"Syukurlah, Ceu. Arman ikut senang." Jawab Arman, kalem. Tangan Arman yang kanan mengusap bagian depan celananya secara sambil lalu, tapi itu adalah sebuah kode rahasia yang hanya dimengerti oleh Nuning.
Nuning berdehem.
"Sekalian juga Nin, tadi Mak Ijah yang tinggal di RT sebelah bilang sama Nuning, katanya minta dipijit sama Enin... "
"Hoalah si Ijah tuh alesan saja... bilang saja dia kesepian minta ditemenin ngerumpi... dasar."
"Enin mau kan?"
"Ya sudah, mungpung lagi nganggur... nah, Enin mau berangkat ke sana sekarang."
"Mamah, Nita boleh ikut enggak sama Enin ke rumah Nenek Ijah?" Tanya Nita dengan polos.
"Boleh, tapi jangan ngerepotin yah... jangan sampai kesorean mainnya, kalau sudah sore langsung pulang ke rumah ya?"
"I ya mah." Jawab Nita dengan suara gembira.
"Emangnya Nita mau apa main ke rumah Nenek Ijah?" Tanya Arman penasaran.
"Mau main sama Rike... bonekanya banyak sekali... lagian Rike baik... Nita boleh main boneka-bonekaan punya Rike." Jawab Nita dengan semangat.
"Rike itu anaknya Kak Karmila, Arman, sepupu aku. Tetangganya Mak Ijah." Kata Nuning dengan sepasang matanya mengerjap-ngerjap.
"Oh."
Begitu Enin dan Nita meninggalkan rumah, Arman dan Nuning saling bertatapan. Mereka saling tersenyum dan berpegangan tangan.
"Ceu... di kamar yuk?" Ajak Arman.
Nuning tidak menjawab. Dia malah pergi ke pintu depan. Sekejap Arman terhenyak heran, tapi ternyata maksud Nuning adalah mengunci pintu depan. Tanpa basa basi dia langsung masuk ke dalam kamar Arman.
"Asik... akhirnya...." Bisik Arman dalam hatinya dengan gembira, dia pun melangkah memasuki kamarnya.
***
Mereka duduk di bibir ranjang berrendengan. Saling menatap. Lalu tiba-tiba Nuning menunduk.
"Man..."
"I ya Ceu? Ada apa?"
Nuning terdiam. Mendadak airmatanya menetes.
"Ada apa, Ceu? Ceritakan semuanya sama Arman biar hati ceuceu lega."
"Kang Dadang... ternyata dia selingkuh dengan Esih... teman kerjanya di Pabrik... ceuceu... ceuceu... merasa dikhianati. Ceuceu marah dan sekaligus sedih..."
Arman mengusap air mata yang jatuh di pipi Nuning.
"Saya mencintai Kang Dadang, Man. Sungguh... ceuceu tak ingin menghianatinya... tapi... sudah 3 bulan dia tak pernah menyentuh ceuceu ... ceuceu tidak kuat Man... ini, ini gatel sekali... enggak cukup digosok dengan jari sendiri... " Kata Nuning, suaranya bergetar. "Ceuceu tidak bermaksud apa-apa, Man, ceuceu... ceuceu... menyayangi kamu seperti seorang Ceuceu kepada adiknya..."
"Gapapa Ceu... Arman mengerti dan paham... Ceuceu tidak bermaksud meninggalkan Kang Dadang kan?" Kata Arman dengan nada tenang.
Nuning mengangguk.
"Ceuceu jangan khawatir, Arman tidak akan menuntut apa pun..."
"Sungguh?"
"I ya, Ceu... tapi..."
"Tapi apa?" Bisik Nuning.
"Ceu... apakah sebelumnya ceuceu pernah merasakan yang lain selain dengan Kang Dadang?" Tanya Arman.
"Belum pernah, Man... cuma sama kang Dadang saja dan kamu... itu pun... itu pun punya kamu belum pernah masuk..."
"Arman tidak akan mengganggu keutuhan pernikahan ceceu, tapi Arman janji akan memuaskan Ceuceu kapan pun ceuceu mau." Kata Arman dengan lembut di telinga Nuning.
Nuning tersenyum.
Pelahan dia tengadah dan membiarkan bibirnya dikecup oleh bibir Arman. Mereka berciuman lama sekali. Saling pagut. Arman merasakan lidah Ceu Lilis demikian haus dan karena itu dia menjadi sangat liar. Pelahan namun pasti, satu demi satu mereka menanggalkan bajunya masing-masing hingga akhirnya mereka telanjang bulat. Dalam keadaan telanjang bulat itu mereka saling menyentuh dan merasakan hasrat sahwat satu sama lain.
Setelah kurang lebih 15 menit, akhirnya Arman membaringkan Nuning di atas kasur.
"Aku akan membuatmu mustahil melupakanku seumur hidupmu." Batin Arman dalam hatinya. Dia kemudian menyusuri seluruh tubuh Nuning dengan bibirnya. Dari leher, pundak hingga ke perut. Sepasang p******a Nuning memang sudah agak lembek namun menurut Arman itu lebih baik daripada p******a Bu Kepala Sipir yang sudah sangat peot atau s**u tante Susi yang sudah memble. Dia mencucup p****g s**u itu dengan lembut. Mengisapnya dengan tehnik yang sudah dilatihnya selama berbulan-bulan di penjara.
Nuning pun mengerang. Tetapi bibirnya tersenyum merekah seperti merekahnya mulut kucingnya yang merah kecoklatan.
Dia pernah bercinta dengan Kang Dadang selama entah berapa kali... namun baru kali ini dia merasakan suatu sentuhan rangsangan yang menyeluruh... rasa bersalah dalam hatinya bahwa dia telah menghianati Kang Dadang pun luruh, seiring getaran-getaran sahwat menyetrumi seluruh tubuhnya.
Walau secara diam-diam Nuning merasa heran... bagaimana Arman, yang selama ini dia anggap sebagai anak kecil, demikian berpengalaman menjamah bagian-bagian tubuh sensitifnya namun Nuning tak begitu mempedulikannya. Dia kini merasakan mulut kucingnya mengeong-ngeong minta untuk disumbat dengan ikan tongkolnya Arman.
Nuning mengerang-erang lembut. Bahasa tubuhnya bergerak secara otomatis, membukakan kedua pahanya dengan lebar. Dia ingin mengatakan kepada Arman untuk secepatnya menyumpal mulut kucing cantiknya. Tapi ternyata Arman sangat sabar sekali.
"Armanh... aphha... yanghk... khamu lakhukhan..." Nuning mendesis keras ketika sebuah benda yang sangat lembut dan kenyal menyentuh-nyentuh benda kecil miliknya yang sensitif.
"Ssshhh.... ssshhhh.... shhhhh... armanhh.... shhhh... shhhh... ssshhhh.... shhhhh... armanhh.... shhhh... shhhh... Armanhhhh.... ssshhhh.... shhhhh... armanhh.... shhhh... shhhh... " Nuning mendesis-desis seperti makan rujak super pedas.
Seumur hidupnya Nuning belum pernah dijilat oleh siapa pun, termasuk oleh suaminya sendiri. Oleh karena itu, jilatan pertama yang dilakukan Arman membuatnya merasakan sensasi edan yang tak mungkin dilukiskan dengan kata-kata. Apalagi soal jilat menjilat ini Arman memiliki pengalaman yang cukup mumpuni. Di lapas itu, dalam keadaan tangan terborgol ke belakang, Arman setiap sore berdiri di atas lututnya dan menjilati Bu Kepala yang duduk mengangkang di atas meja. Dan itu dilakukannya selama berbulan-bulan.
Kini Arman tahu bahwa aroma mulut kucing Nuning lebih baik ketimbang Bu Kepala atau Bu Polwan. Ketika ujung lidahnya masuk ke dalam liang vulva Nuning dan mengobel-obelnya secara sangat terampil, hal itu membuat mamah muda itu mengangkat pinggulnya menjauhi permukaan kasur, meremas-remas dan menjambak rambut Arman dengan kegemasan terindah yang belum pernah dirasakannya.
"Armanhhh.... Ssshhh.... ssshhhh.... shhhhh... armanhh.... shhhh... shhhh... ssshhhh.... shhhhh... armanhh.... shhhh... shhhh... Armanhhhh.... ssshhhh.... shhhhh... Armanhh.... shhhh... shhhh... "
Lalu tiba-tiba Nuning menjerit.
"Aaaaakkkkkkkkkkkkk....."
Seiring dengan jeritannya yang menyayat tapi penuh kenikmatan itu, mulut vulvanya berdenyut-denyut keras.... lalu... srrrrrrr.... prottttt... prrrootttt... proottt.... ceprot!!!
Itulah Nuning untuk pertama kali dalam hidupnya mengalami o*****e.
"Oh Tuhan Arman... enak sekali..." Desisnya.
Arman tersenyum. Dia menatap Ceu Nuning yang terpejam dengan tubuh mengejang-ngejang. Arman membiarkan ceu Nuning selama beberapa saat sambil menikmati tubuh telanjangnya yang kuning langsat.
Sambil memejamkan mata, Ceu Nuning berkata, "Armanh... cepat... masukan... Armanhhh... masukan... ceuceu sudah enggak kuat..."
"I ya Ceu. Arman memasukkannya sampai dalam..."
"Cepatlah Armanhh... ceuceu sudah enggak kuat... masukkan yang dalammmhhhh...."
Arman kemudian dengan tenang membenamkan kepala ikan tongkolnya ke dalam liang yang menganga itu. Mencecabkannya hingga dalam dan menggenjotnya pelahan serta penuh perasaan.
Nuning merasakan batang yang keras itu memasuki dirinya hingga terasa penuh dan sesak.
"Akhh... yang cepat Armanhh... yang cepat dan dalam..."
"I ya Ceu... tunggu sebentar..."
Arman mempersiapkan dirinya untuk penyerbuan penggenjotan secara cepat. Dia menarik nafas dalam-dalam, lalu...
Jleb! Cleb! Jleb! Cleb! Jleb! Cleb! Jleb! Cleb! Drrrrttttt.... Jleb! Cleb! Jleb! Cleb!
Plak plok plak plok plak plok plok plak plok plak plok plok plak plok plak plok
Srrrr.... ceprot... ceprot.... plok plak plok plak plok srrrr.... ceprot... ceprot...
Baru saja 7 menit penggenjotan itu dilakukan, tiba-tiba Nuning memeluk tubuh Arman dengan sangat erat sambil menjerit... "Aaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkk......"
Arman membiarkan gerakannya dihentikkan oleh pelukan erat Ceu Nuning... dia langsung mencabut batangnya yang berlumuran dengan cairan putih warna s**u, yakni cairan kenikmatan yang berasal dari dalam vulva ceu Nuning... dengan gemetar dia menggenggam batangnya lalu dia menyemprotkan pejuhnya di daerah pubis Nuning yang berbulu halus...
Crot! Crot! Srrrrr... Crot... crot... crot...
"Arrrgggghhhh...." Arman menggeram saat pejuhnya yang terakhir menetes di ujung mulut glandulanya.
"Oukhhh... lumayan juga walau enggak ngecrot di dalem... hhh... brrrr...." Katanya dengan setengah berbisik kepada Nuning yang terkapar dalam keadaan setengah pingsan saking nikmatnya.
***
Arman berdiri dan melangkah mengambil handuk. Melap keringatnya yang membanjir di sekujur tubuhnya. Dia tersenyum-senyum melihat pucuk kucing genit Ceu Nuning yang mengkerut dengan ujungnya tampak masih berdenyut-denyut.
Mamah muda itu terlihat demikian lelap. Wajahnya berseri-seri sebagai efek dari kepuasan seksual yang telah dialaminya. Bibirnya pun tersenyum.
Melihat ketelanjangan mamah muda itu, tiba-tiba saja ikan tongkol Arman menegang lagi. Arman pun mentertawakan dirinya sendiri sambil mengenakan kaos dan celana pendeknya. Lalu pergi ke dapur dan menyeduh secangkir kopi tubruk. Dia membawa cangkir itu ke ruang tamu dan meletakkannya di atas meja.
Arman duduk di kursi dengan santai dan menyalakan rokoknya. Mengisapnya dengan kuat. Seiring kepulan asap rokok, pikiran-pikirannya bermunculan tanpa henti.
Di dalam kepalanya berloncatan rencana-rencana dan ide-ide. Setelah bercinta, memang biasanya Arman dapat berpikir jernih untuk mematangkan rencana-rencananya. Terutama rencananya untuk malam ini.
"Aku harus ke sana... masuk ke halaman belakang, menerobos benteng tembok setinggi 2 meter dan mengambil kantong kresek kecil itu... harus..." Desisnya dengan penuh tekad.
***
Nuning terjaga dari mimpi indahnya. Perasaannya masih melayang-layang, namun dia segera sadar kalau dia dalam keadaan telanjang bulat. Belahan kue serabinya terasa rapat oleh suatu cairan yang mengering. Mamah muda itu mengikik sendiri.
Dia cepat berpakaian dan menemukan Arman tengah merokok sendirian di ruang tamu. Nuning mendekatinya sambil tersenyum sumringah. Mereka bertatapan dengan sambil tersenyum.
Nuning lalu membungkuk dan mencium pipi Arman.
"Makasih, Man. Genjotannya enaaaakkk sekali. Mudah-mudahan si nyai enggak gatel lagi." Bisik Nuning di telinga Arman.
"Sama-sama ceu." Jawab Arman dengan senyum.
"Nanti, kalau si nyai gatel lagi... kamu harus mau ya genjot ceuceu kayak tadi."
"I ya, ceu."
"Ceuceu pulang dulu ya... "
"I ya ceu, salam ya buat bapak."
Ceu Nuning tak menjawab, dia tiba-tiba teringat sesuatu. Dengan buru-buru dia melangkahkan kaki meninggalkan rumah itu, langkahnya pun sangat tergesa-gesa.
"Mudah-mudahan nasi enggak gosong..." Katanya dalam hati dengan ekspresi wajah khawatir.
***