Sebuah apartemen tingkat lima yang berada di dekat stasiun kereta. Jaraknya hanya sekitar tiga ratus meter. Suara berisik kereta akan terdengar hingga apartemen itu. Seorang lelaki tinggal di apartemen itu, tepatnya pada lantai empat. Suara berisik kereta yang terdengar sekitar pukul tujuh pagi membuat bangun seorang lelaki yang sedang tertidur. Lelaki itu turun dari tempat tidurnya dan berjalan sambil menguap dan meregangkan tangannya ke atas. Dia berjalan perlahan menuju kamar mandi.
Lelaki itu berdiri di depan wastafel dan mengambil sikat gigi yang terletak di dalam gelas. Dia menatap wajahnya dari cermin sambil menggosok gigi dengan wajah mengantuk. Lelaki yang memiliki mata berwarna hijau dengan bola mata berbentuk almond ini adalah Gray Foster. Gray memiliki rambut kecoklatan dengan dahi tertutup poni. Ujung rambutnya menyentuh lehernya. Kulitnya tidak pucat dan juga tidak gelap. Tubuhnya cukup tinggi, sekitar 179 sentimeter dengan berat badan 65 kilogram.
Gray membasuh mukanya dan kemudian tersenyum sambil melihat wajahnya dicermin. Dia berjalan menuju ruang tengah sambil bersiul dengan semangat. Dia membuka kulkas dan melihat isinya. Dia mengeluarkan makanan yang dibelinya tadi malam untuk sarapan pagi. Gray juga menghidupkan mesin pembuat kopi otomatis. Dia menuangkan kreamer pada kopi yang baru saja dibuatnya. Dia duduk di depan televisi sambil menyantap sarapan paginya. Sandwich dengan isi sayur dan daging.
Gray terlihat menikmati sarapan dengan perlahan. Dia bahkan menghabiskan waktu dengan cukup lama hanya untuk sarapan. Hingga akhirnya sebuah telepon masuk pada ponsel miliknya.
“Halo?”
“Gray? Jam berapa kau akan sampai kantor?” tanya seseorang dari telepon itu. Suara itu berasal dari seorang lelaki.
“Setengah jam lagi aku akan sampai,” jawab Gray.
“Jangan sampai telat untuk rapat pagi ini!” sahut lelaki itu sambil mematikan panggilan.
Gray mengambil jas miliknya yang tergantung di ruangan itu. Dia mengenakan jas hitam dengan dasi merah bercorak polkadot hitam. Dia menukar sendal ruangan yang dipakainya dengan sepatu hitam. Dia membuka pintu dan keluar dari ruangan itu.
Menggunakan mobil menuju kantor, Gray menuju kantor yang jaraknya sekitar lima kilometer. Gray bekerja sebagai seorang polisi muda. Dia baru saja diangkat menjadi penyidik sejak empat bulan yang lalu. Di umurnya yang sudah 23 tahun, dia cukup mendapatkan kepercayaan dari rekan dan atasannya.
Sesampai di kantor, Gray langsung menuju ruang rapat utama di lantai dua kantor. Rapat dimulai pukul sembilan tadi. Gray sampai di kantor sedikit terlambat. Rapat sudah dimulai sejak setengah jam yang lalu. Dia masuk ke ruangan rapat dari pintu belakang dengan sangat perlahan. Dia diam-diam menyelinap di dalam ruangan gelap yang hanya di terangi oleh cahaya proyektor dari bahan rapat. Dia duduk di kursi di bagian belakang sambil berpura-pura telah mengikuti rapat dari awal.
Rapat mereka berputar tentang kasus yang baru-baru ini terjadi. Mereka memberikan beberapa tugas terhadap divisi yang berbeda. Gray merupakan bagian dari departemen criminal divisi satu. Anggota divisi satu sekitar delapan orang. Mereka termasuk divisi yang menghasilkan pencapaian yang baik dari tiga divisi penanganan kriminal yang ada.
Rapat kali ini hanya berlangsung sekitar satu jam lebih. Semua orang bubar dan melanjutkan aktivitas mereka untuk hari ini. Di saat itu, Gray hendak berdiri dan keluar dari ruangan.
“Gray!!!!” teriak seseorang dari arah depan. Wajahnya tampak emosi saat melihat Gray. Dia tahu bahwa Gray datang terlambat. Dia adalah orang yang menelepon Gray pagi ini.
Lelaki itu adalah Fred Rickman. Dia adalah partner Gray dalam bertugas. Seorang lelaki yang berumur 26 tahun. Fred memiliki perawakan lebih tinggi dan kuat dari Gray. Tubuhnya memiliki tinggi sekitar 185 sentimeter dengan berat badan 77 kilogram. Rambutnya memiliki potongan trimmed rapi di kiri dan kanannya sementara cukup tebal dan panjang di bagian atasnya. Rambutnya berwarna hitam pekat. Mata Fred sedikit tajam. Berwarna biru langit. Kulitnya sedikit kecoklatan. Tapi tidak terlalu ekstrem dan eksotis.
“Fred … he he he,” kata Gray tertawa.
Fred langsung menghela napas sesaat melihat Gray tertawa. “Apa yang kau lakukan sampai terlambat datang ha?” tanya Fred sambil menggerutu pada Gray.
“Tidak … kau tahu, tadi aku sudah secepatnya untuk berangkat. Tapi aku terjebak macet sebelum sampai ke tempat ini,” jawab Gray.
Fred hanya mengaruk kepalanya karena tidak percaya dengan perkataan Gray. Dia berjalan meninggalkan ruangan diikuti oleh Gray dari belakang.
Mereka berdua menuju ruangan departemen kriminal divisi satu yang berada di lantai dua itu. Ruangan divisi satu bersebelahan dengan divisi lain.
Ruangan divisi pertama berukuran cukup besar. Terdapat delapan meja dan kursi milik setiap anggota. Juga ada meja milik ketua divisi pertama yang terlihat lebih bagus dari yang lainnya. Di tepi ruangan terletak lemari-lemari yang berisikan dokumen-dokumen penyelidikan. Di dekat jendela, terdapat sebuah meja oval berwarna putih dengan sofa hitam yang cukup besar. Di sebelahnya, terletak berbagai jenis minuman instan dan juga mesin pemanas air otomatis. Ruang itu cukup di fasilitasi dengan baik hingga anggota yang bermalam di tempat itu bisa tidur dengan nyaman di sofa yang empuk.
Untuk pekerjaan hari ini, Gray dan yang lainnya mengurus kasus mereka masing-masing. Gray dan Fred yang sedang tidak bertugas tinggal di kantor sambil membuat laporan dari kasus yang sebelumnya mereka selesaikan.
“Hah … laporan ini tidak ada habis-habisnya,” keluh Gray.
Fred yang duduk di depannya menjulurkan kepala di balik komputer. Dia menatap datar Gray. “Kau benar,” jawab Fred pendek. Dia menatap jam dinding yang ada di sebelah kirinya. Sekarang pukul dua belas lewat lima belas menit. “Ayo kita makan siang dulu,” lanjut Fred.
“Apa kau yang akan membayarkanku?” tanya Gray.
“Yang benar saja,” kata Fred menolak.
Mereka berjalan ke arah pintu sambil berdebat. Saat itu, terlihat dua orang masuk ke dalam ruangan.
“Kalian mau ke mana?” tanya lelaki yang lebih tua.
Lelaki itu adalah atasan dari Gray dan Fred. Lebih tepatnya ketua divisi pertama. Dia memiliki nama Alfred Lawrence. Berumur 53 tahun. Pimpinan yang tegas namun juga asyik untuk diajak bicara.
Alfred merupakan lelaki dengan tubuh setinggi 175 sentimeter. Tubuhnya sudah mulai terlihat berisi dan gemuk, dengan berat badan 78 kilogram. Rambutnya pendek dan rapi. Berwarna hitam seperti warna bola matanya.
“Kami berencana untuk istirahat dan makan siang dulu, Pak,” jawab Fred.
“Benarkah? Kalau begitu aku juga ikut dengan kalian,” seru lelaki yang berdiri di sebelah Alfred.
Lelaki dengan senyuman menyegarkan itu adalah Aiden Berg. Lelaki berumur 26 tahun, sama seperti Fred. Aiden adalah bagian dari divisi satu juga.