Aiden memiliki tinggi 180 sentimeter dengan tubuh sedikit kurus tapi berotot. Rambutnya hitam dengan poni membelah ke tepi kiri. Rambutnya cukup tebal. Dia memakai kemeja putih dengan rompi hitam di luarnya.
“Apa kau sudah selesai dengan pekerjaanmu?” tanya Fred pada Aiden.
“Ya, aku bisa melanjutkannya nanti,” jawab Aiden.
Fred langsung bertanya pada Alfred apakah dia juga ingin ikut. Tapi Alfred menolak dan berkata bahwa dia membawa bekal dari istrinya. Wajah tiga lelaki yang masih bujangan itu langsung terlihat iri dengan Alfred. Mereka tertawa kecil dan langsung meninggalkan ruangan itu.
Mereka bertiga menuju restoran yang tempatnya berada dekat dari kantor. Hanya membutuhkan beberapa menit untuk mencapai tempat itu. Mereka lebih memilih restoran luar, bukan kantin kantor karena biasanya tempat itu akan sangat penuh oleh orang kantor.
Sesampai di restoran, mereka duduk di kursi yang berada dekat jendela restoran. Mereka langsung memesan lunch set yang ditawarkan oleh restoran.
“Oh iya, bagaimana dengan Eliana? Apa dia tidak datang ke kantor?” tanya Gray pada Aiden.
“Tidak. Dia sedang demam,” jawab Aiden dengan sedikit tawa.
“Benarkah? Apa dia baik-baik saja?” tanya Fred.
“Mungkin tidak. Saat aku meneleponnya tadi pagi, suaranya terdengar sangat serak dan berat,” jawab Aiden.
“Aku harap dia baik-baik saja,” kata Gray pada mereka.
Beberapa saat setelah itu, terlihat pelayan mengantarkan pesanan mereka. Mereka langsung menyantap makanan dengan lahap. Mereka menghabiskan waktu sekitar lima belas menit untuk makan siang. Setelah selesai, mereka segera kembali ke kantor.
Mereka melanjutkan pekerjaan masing-masing. Gray duduk di depan komputernya dengan wajah mengantuk dan malas. Dia tipe pekerja yang lebih menyukai untuk bergerak daripada duduk diam di ruangan. Meskipun begitu, dia tetap senang menyukai pekerjaannya sebagai penyidik.
Sekitar pukul enam sore, Gray melihat jam tangannya. Dia juga melihat sekitarnya. Hanya ada beberapa orang yang tinggal di ruangan itu. Dia memutar kursinya dan melihat ke Alfred. “Pak Alfred, apa aku boleh pulang untuk saat ini?” seru Gray bertanya.
“Hah? Apa kau sudah menyelesaikan laporanmu yang menumpuk itu?” tanya Alfred menatap tumpukan dokumen di atas meja Gray. Dia tidak diperbolehkan pulang sebelum tugasnya yang sudah lama diabaikannya selesai. Gray mengangguk dan mengatakan bahwa laporan miliknya sudah selesai. Jadi dia ingin pulang beristirahat.
Setelah mendapatkan izin, Gray langsung pamit pada orang yang tinggal. Dia langsung bergegas pulang. Akan tetapi sebelum pulang, Gray singgah di mini market dekat tempat tinggalnya. Dia membeli sebuah makanan instan dan beberapa minuman kaleng. Gray segera keluar setelah membayar belanjaannya.
Setiba di luar, dia berjalan ke arah tempat parkir. Saat berbelok arah, tiba-tiba dia tidak sengaja menyenggol seorang wanita dari arah yang berlawanan.
“Maafkan aku, apa kau baik-baik saja?” seru Gray mengulurkan tangannya.
Wanita itu terjatuh cukup keras hingga membuat telapak tangannya terluka saat dia menahan tubuhnya. Gray menjadi sangat panik. Dia mencari sapu tangan dari saku baju dan celananya. Tapi, dia tidak membawa sesuatu seperti sapu tangan.
“Tidak apa-apa. Ini hanya luka gores,” jawab wanita itu.
Suara wanita itu sangat lembut. Wanita itu mengangkat kepalanya melihat ke arah Gray. Gray terpana karena melihat wajah wanita itu. Paras yang sangat cantik. Rambutnya hitam keperak-perakan. Rambutnya tergerai panjang dan indah. Tubuhnya putih dan terlihat pucat. Matanya berwarna biru terang. Wanita itu memakai kemeja putih dan rok berwarna merah muda yang panjangnya menutupi mata kakinya. Dia memakai sebuah anting permata berwarna merah muda. Wanita itu meraih tangan Gray dan berdiri.
“Maafkan aku. Aku akan membeli sesuatu untuk mengobati tanganmu. Bisa kau tunggu aku di kursi yang ada di depan mini market itu?” tanya Gray.
Wanita itu mengangguk pelan. Dia mengikuti Gray yang berjalan ke arah mini market. Dia duduk di kursi yang di sediakan mini market dan meletakkan tas tangannya di sebelah kirinya. Dia hanya menatap ke dalam mini market melalui kaca jendela yang transparan. Dia melihat Gray yang berdiri di depan kasir.
“Maaf membuatmu menunggu,” kata Gray. Dia mengeluarkan antiseptik dan perban yang baru saja dibelinya. Gray juga membantu mengobati luka di telapak tangan wanita itu.
“Terima kasih banyak,” kata wanita itu dengan senyuman di wajahnya. Setelah berterimakasih, senyuman hilang dari wajah wanita itu. Dia terlihat cemas. “Kalau begitu, aku pergi dulu,” kata wanita itu pamit.
“Tunggu, boleh aku tahu di mana kau tinggal?” tanya Gray.
“Eh?” seru wanita itu bingung.
“Ah! Maaf, aku tidak memiliki maksud buruk. Aku hanya ingin menawarkan untuk mengantarkanmu pulang saja sebagai permintaan maaf,” kata Gray.
Wanita itu terlihat berpikir. Dia juga melihat ke arah lain berkali-kali. Gray langsung menyadari jika wanita itu ketakutan akan sesuatu. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Wanita itu menelan ludah dan menganggukkan kepala dengan lambat. Dia mengatakan pada Gray alamat rumahnya.
Gray sangat terkejut karena jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Bahkan berseberangan dengan apartemen miliknya. Gray langsung mengajak wanita itu menaiki mobil miliknya. Mereka hanya membutuhkan waktu lima menit mencapai apartemen milik wanita itu.
“Terima kasih karena telah berbaik hati untuk mengantarku,” kata wanita itu saat turun dari mobil Gray.
“Tunggu sebentar,” kata Gray pada wanita itu. Gray meraih kertas dan pena yang ada di kursi belakang. Dia menuliskan nomor telepon miliknya pada wanita itu. “Jika terjadi sesuatu, jangan segan untuk menghubungiku,” jawab Gray.
Wanita itu terlihat sedikit bingung. Akan tetapi dia hanya menganggukkan kepala dan menerima kertas itu. Dia segera pamit dan masuk ke dalam apartemen miliknya. Gray juga segera memutar mobilnya dan menuju apartemen miliknya.
Gray langsung keluar dari mobil. Dia menaiki tangga menuju lantai apartemen miliknya. Sesampai di pintu masuk, Gray berbalik arah dan melihat ke arah bawah. Apartemen wanita itu terlihat dari tempatnya berdiri saat ini. Gray juga memperhatikan sekitarnya. Dia merasa wanita itu diikuti oleh seseorang. Akan tetapi, dia tidak merasakan kehadiran orang lain. Hal itu membuatnya merasa aneh.
“Ah! Aku lupa mengatakan namaku dan menanyakan namanya,” gumam Gray pada dirinya.
Gray langsung menghela napas sadar bahwa dia juga tidak memperkenalkan diri sebagai seorang polisi. Gray juga merasa kalau wanita itu akan berpikiran bahwa dirinya adalah orang aneh yang memberikan nomor pada orang tidak dikenal.
“Ku harap perasaan aneh yang kurasakan bukan apa-apa,” pikir Gray sambil langsung masuk ke apartemennya.
Malam itu, sekitar pukul sepuluh malam, Gray hendak tidur lebih cepat. Dia mematikan lampu ruangan dan berjalan menuju kamarnya. Sesaat membaringkan tubuhnya ke atas kasur, tiba-tiba telepon miliknya berdering. Panggilan itu berasal dari nomor tidak dikenal.