“Ya, halo?”
“Ma-maaf, apa ini orang yang tadi sore?” tanya seorang wanita dengan suara gemetaran.
Gray langsung menyadari lawan bicaranya. Dia langsung bangkit dari kasur dan menanyakan keadaan wanita itu.
“A-ada seseorang di belakang gedung apartemenku … aku sangat ketakutan,” jelas wanita itu.
Gray langsung berlari keluar dan melihat apartemen wanita itu dari lantai apartemennya. “Apa kau sendiri saja di sana?” tanya Gray. Wanita itu mengatakan bahwa dia tinggal sendirian.
“Aku akan segera ke sana,” kata Gray sambil menutup telepon.
Gray bergegas mengambil jaketnya. Dia segera menutup pintu apartemennya dan berlari menuruni tangga. Dia langsung menyeberangi jalan dan menuju apartemen wanita itu. Gray memperhatikan sekitar, tidak terlihat orang yang mencurigakan sama sekali. Wanita itu mengatakan bahwa dia tinggal di lantai dua kamar nomor 203.
Tok tok tok.
“Permisi …,” seru Gray.
Terdengar suara kunci pintu terbuka. Wanita itu perlahan menampakkan dirinya. Wajahnya sangat pucat karena ketakutan. Gray juga melihat tangan wanita itu gemetaran walau hanya sekilas.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Gray.
Wanita itu mengangguk perlahan. Dia juga mempersilahkan Gray masuk ke dalam kamarnya. Gray segera meminta wanita itu untuk menunjukkan tempat dia melihat orang yang mencurigakan itu.
“Di balik jendela itu, di dekat pohon yang ada di belakang gedung apartemen ini,” jawab wanita itu lirih.
Gray bergerak ke arah tempat yang ditunjukkan. Dia mengintip dari gorden berwarna merah muda yang ditutup itu. Tidak terlihat seorang pun dari tempat itu. Akan tetapi, dari tingkah wanita itu, Gray merasa wanita itu tidak mungkin berbohong. Lagi pula tidak ada gunanya dia berbohong, pikir Gray.
Gray kemudian memperhatikan sekitarnya. Kamar itu terlihat sangat rapi dan bersih. Sebuah kamar yang terlihat feminin dan manis. Kamar itu hanya memiliki satu ruangan yang terhubung dengan ruang tengah dan dapur kecil. Di bagian kanan, terlihat pintu yang menuju kamar mandi.
“Maaf, aku mengganggu malam-malam seperti ini,” kata wanita itu melihat Gray berwajah serius.
“Ah tidak. Aku senang tidak terjadi sesuatu padamu,” jawab Gray.
Wanita itu mempersilahkan Gray untuk duduk di cushion bulat berwarna abu-abu. Dia juga menyajikan minuman pada Gray dan meletakkannya di meja persegi berukuran kecil.
“Aku ingin mendengarkan penjelasanmu tentang orang yang kau lihat tadi,” jawab Gray.
Wanita itu duduk di depan Gray. Tangannya menggenggam erat ujung bajunya. Dia terlihat ragu untuk menceritakan hal yang ada di pikirannya pada Gray.
Gray langsung tersenyum dan membelai kepala wanita itu. “Maaf, aku lupa menyampaikan sesuatu yang lebih penting. Namaku Gray Foster. Aku seorang polisi. Apa aku boleh tahu namamu?” tanya Gray dengan pelan.
Wanita itu terlihat kaget saat mendengar pekerjaan Gray. Dia juga terlihat melemaskan tubuhnya yang tegang sebelumnya. Dia menghela napas lega.
“Namaku Iris. Iris Lynx,” jawab wanita itu.
Iris mengatakan pada Gray tentang dirinya dan hal yang dialaminya. Dia seorang merupakan mahasiswa yang bersekolah di universitas dekat tempat ini. Dia berusia 20 tahun.
“Aku merasa akhir-akhir ini ada yang mengikutiku. Tapi rasanya dua hari ini rasanya sedikit menakutkan. Aku merasa kalau orang itu berada dekat sekali,” jelas Iris.
“Orang? Apa kau tahu kira-kira siapa yang melakukannya?” tanya Gray.
Iris menggelengkan kepala. Dia tidak tahu sama sekali dan merasa tidak memiliki masalah dengan orang lain hingga membuatnya diikuti seperti itu.
“Mungkin dia tidak memiliki masalah. Tapi dia memiliki maksud lain,” gumam Gray dengan suara pelan.
“Eh? Apa anda mengatakan sesuatu?” tanya Iris.
“Tidak, tidak.” Gray langsung menyarankan pada Iris untuk memasukkan laporan penguntitan ini pada kantor polisi. Akan berakhir buruk jika hal ini memang benar-benar sebuah kasus penguntitan.
“Tapi, aku tidak …,” jawab Iris bingung.
Melihat Iris masih ragu untuk melaporkan kasus ini, Gray mengatakan padanya untuk memikirkan hal ini lebih serius lagi. Dia juga tidak memaksa Iris untuk segera melaporkannya.
“Aku mengerti,” jawab Iris pendek.
“Kalau begitu, karena keadaan sudah terlihat aman, aku akan pulang untuk saat ini,” kata Gray.
Saat mendengar Gray pamit, Iris langsung terlihat kebingungan dan juga cemas. Akibatnya, Gray merasa tidak enak untuk meninggalkan Iris sendirian. Akan tetapi, dia merasa tidak enak juga untuk tinggal di ruangan ini berdua saja dengan seorang mahasiswi.
“Hmm, kalau begitu, apa kau mau ikut ke apartemenku? Di sana ada dua kamar. Jadi kau bisa istirahat di kamar itu,” kata Gray. Meskipun menawarkan hal itu, sebenarnya Gray merasa tidak yakin bahwa Iris akan ikut dengannya. Akan tetapi, Iris dengan segera menganggukkan kepalanya.
“Eh, benarkah?” gumam Gray lambat. Dia langsung menyuruh Iris untuk membawa barang yang diperlukannya.
Setelah lima menit bersiap-siap, Iris keluar dan menghampiri Gray yang menunggu di luar. “Ayo kita berangkat,” ajak Gray pada Iris.
Gray dan Iris memasuki apartemen milik Gray. Gray menghidupkan lampu dan mempersilahkan Iris masuk. Dia juga memberi tahu letak kamar mandi dan dapur pada Iris.
“Kau boleh beristirahat di kamar ini. Jika ada sesuatu yang kau inginkan, kau boleh membangunkanku. Aku akan tidur di kamar sebelah,” kata Gray memperlihatkan kamar kosong yang dimaksudnya pada Iris.
Iris memasuki kamar itu. Dia menatap kamar yang terlihat bersih dan rapi itu. Padahal Gray berkata kamar itu kosong. “Terima kasih banyak, tuan Gray,” jawab Iris.
“Kau boleh memanggilku dengan Gray saja. Lalu, jika kau ingin minum atau makan, kau boleh mengambil yang ada di kulkas,” kata Gray pada Iris.
Iris tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
*
Paginya, Gray bangun sekitar pukul tujuh pagi. Dia keluar dari kamarnya dan melihat Iris duduk di ruang tengah. Dia duduk sambil memegang secangkir gelas s**u panas.
“Ah, maaf aku menggunakan dapurmu begitu saja,” seru Iris sesaat melihat Gray.
“Tidak apa. Aku sudah mengizinkanmu kemarin bukan?” kata Gray berjalan ke arah dapur.
Iris langsung menawarkan untuk membuatkan minuman untuk Gray. Dia menyuruh Gray untuk duduk santai.
“Hari ini apa kau ada kegiatan?” tanya Gray pada Iris.
Iris mengatakan bahwa pukul delapan dia berencana pergi ke kampus. Mendengar hal itu, Gray menawarkan untuk mengantarkan Iris. Dia juga meminjamkan kunci kamar miliknya agar Iris dapat masuk ke kamarnya tanpa harus menunggu kedatangannya.
Iris awalnya menolak untuk menerima kunci cadangan itu. Dia merasa tidak enak masuk ke dalam rumah Gray begitu saja.
“Tenang saja, aku tidak keberatan sama sekali,” jawab Gray.
“Baiklah. Terima kasih banyak,” kata Iris menerima kunci itu.
Gray segera berangkat ke kantor setelah memberikan kunci cadangan miliknya pada Iris. Dia juga berangkat menggunakan mobilnya seperti biasanya. Pagi itu, dia memikirkan cara agar dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh Iris. Dia berencana untuk menceritakan hal ini pada Fred.