Pilot V atau lebih sering dikenal Kapten Van, ia lahir tepat pada tanggal 21 Juli 1983 dan tahun sekarang berusia 37 tahun. Usia yang cukup dewasa dan Matang, tak banyak yang tahu tentang hidupnya. Hanya orang terdekatlah yang mengetahui apa yang ia alami. Van tak pernah menyangka bahwa ia akan menjadi seorang tua tunggal untuk putrinya yang baru lahir. Kenapa takdir berpihak padanya untuk hidup bahagia bersama keluarga kecil, ini sungguh diluar rencana dalam hidupnya.
Tepat tanggal 11 April 2019 istri Kapten Van melahirkan putri yang diberi nama Jasmine sebuah nama yang indah. Tapi kebahagian tersebut tak berlangsung lama, setelah melahirkan sang istripun langsung meninggal akibat terjadi pendarahan yang hebat. Bagaiakan terserang petir disiang hari, baru juga mendapatkan kebahagian dengan hadirnya Jasmine. Bahkan sang istri baru melihat wajah putri kami hanya sebentar, setelah itu keadaan kritis pun dimulai.
"Dok" panggil Van panik, ketika kesadaran sang istri menghilang. Dokter pun menghampiri suara yang memanggil namanya.
"Maaf anda bisa keluar sebentar, istri anda sepertinya mengalami pendarahan" ungkap Dokter Stev.
"Tolong selamatkan istri saya Dok" lirih Van dengan wajah yang muram.
"Akan kita usahakan sebaik mungkin" ucap Stev.
Sudah hampir 1 jam dokter berada di dalam ruangan, tapi tak kunjung usai. Sementara Van semakin khawatir dan gelisah entah apa yang sebenarnya terjadi di dalam ruangan tersebut. Sementara sang ibu, Nan sudah berusaha menenangkan putra bungsunya ini. Van memang anak kedua dari dua bersuadara, ia hanya memiliki satu orang kakak perempuan.
"Van, tenanglah. Percayakan semua kepada para dokter, terus berdo'a" ucap Nan.
"Mom, how can I calm down? it's my wife, already fought to give birth to my daughter" lirih Van.
"Yeah, I know son. But you have to calm down and pray, that's what your wife needs" ucap Nan berusaha menenangkan putra satu-satunya itu.
"Makasih Mom, aku gak tau caranya bersikap tenang kalau keadaan seperti ini" ucap Van sambil memeluk wanita yang telah melahirkannya.
"Sudahlah Van, sekarang kau duduk dan beristirahatlah. Tubuhmu juga kelihatan lelah sekali. Apalagi kamu baru pulang dari penerbangan Eropa" ucap Nan, sementara Van hanya mengganggukan kepalanya.
Hampir 2 jam dokter baru bisa keluar dari ruangan UGD/IGD, tentu yang diharapkan adalah kabar baik. Namun rencana Tuhan berbeda dengan apa yang Van harapakan.
"Dok, bagaimana kondisi istriku?" tanya Van panik.
"Maafkan kami, istri anda tidak bisa kami selamatkan" ucap Stev sambil menepuk punggung Van.
Mendengar hal itu membuat kondisi Van semakin tak karuan, ia marah dengan memukul tangan ketembok yang ada dihadapannya.
"Tuhan, kenapa kau ambil dia dari hidupku" lirih Van.
"Mom, Shella gak meninggalkan?" lanjut Van sambil menatap wanita paruh baya tersebut.
"Sabar son, God is testing you" ucap Nan sambil memeluk putra bungsunya tersebut.
"Tapi kenapa harus secepat ini? kami baru saja bahagia dengan kelahiran Jasmine" ucap Van sambil tersendu-sendu.
"Tuhan tahu yang terbaik untukmu, lebih baik sekarang kita harus mengurus mayat istrimu. Sabar dan ikhlas kunci utama dalam menghadapi semua ujian tersebut" ucap Nan secara bijak.
"Van mau ngeliat kondisi Jasmine dulu, jenazah Shella biar pihak rumah sakit yang mengurusnya" ucap Van yang terus bergegas menuju ruangan bayi.
"Putriku, maafkan Daddy. Your mom is dead, semoga kau bisa tumbuh normal seperti anak-anak yg lain" batin Van sambil memandang Jasmine yang sedang tidur dengan tenang.