Agustus, 20119
Perempuan yang akrab dipanggil Rara ini memiliki nama asli Maira Al-Islamiya, perempuan sederhana dan jauh dari kehidupan penuh kekayaan. Tapi ia memiliki ambisi yang luar biasa dalam hidupnya, usianya baru 24 tahun. Apapun yang ia inginkan harus didapatkan. Bisa dikatakan memiliki sikap yang keras kepala, membuat orang tuanya sedikit kewalahan mengatasi putrinya tersebut. Dalam hidupnya ia tak memikirkan soal cinta apalagi menikah, kenapa tidak seperti kebanyakan perempuan yang seumur dengannya yang sudah memiliki keluarga sendiri? Rara ini tipe yang cuek dan tidak mau memperdulikan omongan orang mengenai urusan cinta. Apakah dia memiliki trauma akan cinta? yang jelas, hanya Rara yang tahu akan hal dirinya. Pandangan terhadap cinta memang berbeda-beda, hanya saja bagi Rara tak ada cinta yang tulus dimatanya.
Karena Rara ini orangnya penuh dengan ambisi, ia mulai mencari pengalamannya di badan kesehatan dunia atau sering dikenal WHO. Ia memiliki harapan yang besar, bahwa itu akan bermanfaat untuk bekalanya kelak dimasa yang akan datang. Karena memiliki ambisi yang tinggi, ia selalu ingin berkuliah di luar negeri dengan segala usaha yang ia maksimalkan untuk mendapatkan impiannya tersebut. Segala konversi yang berada di luar negeri selalu ia ikuti, ambisinya bagaikan bara api yang selalu menyala dan kayu bakar sebagai bahan semangatnya yang akan membuat bara api selalu nyala.
Bahkan pada pada akhir bulan juli sampe agustus ia pergi ke Australia, tentu saja tujuan utamanya bukan untuk berlibur. Melainkan untuk mencari tempat kuliah dan sekalian ada acara konversi dari The University of Melbourne, selain itu juga ia mengunjungi University of Queensland. Bisa dibilang ambisi Rara memang gila, tapi itu lah pilihan hidupnya. Semua yang dia perjuangkan bukan untuk dirinya sendiri melainkan keluarga. Perjuang itu memang tak mudah, tapi jika kita punya keyakinan dan percaya dengan keajiban dari Allah SWT maka semua itu akan bisa tercapai.
Konversi di Australia bukan yang pertama untuknya, hanya saja bepergian jauh ke negera lain merupakan pengalaman pertama untuknya. Acaranya cukup meriah dan banyak ilmu yang bisa Rara dapatkan selama disana, tapi ia tak pernah menyangkan selama perjalanan akan bertemu dengan orang-orang hebat dalam bidangnya masing-masing sehingga membuatnya semakin bersemangat.
Sudah hampir seminggu ia berada di negera kangguru dan sudah mulai terbiasa dengan cuaca disana. Sebenarnya ia tak ingin cepat pulang ke Indonesia, hanya saja ada hal penting yang membuatnya harus kembali. Tak banyak oleh-oleh yang ia bawa, yang terpenting adalah pengalaman yang mungkin akan jarang didapatkan.
Melbourne Internasional Airport
Sudah saatnya Rara pulang, ia baru sampai bandara sebelum 2 jam keberangkatan. Entahlah ia memang tipe orang yang tak pernah telat, selalu mengharagai waktu dengan baik dan bijak "Ya Rabb, semoga aku masih bisa berkesempatan kembali lagi ke negera ini bahkan mengelilingi dunia yang luas ini. Aamiin" monolog dalam hati Rara.
Karena penerbangan masih lama sekitar 2 jam lagi, maka ia jalan-jalan disekitar bandara dan menuju tempat makan disekitarnya. Secara tak sengaja ia menabrak seorang pria di hadapannya membuat mereka jatuh secara bersamaan "Aw" refleks Rara.
"Sorry" ucap pria asing berwajah asia.
"No problem" ucap Rara sambil berdiri.
"Once again I'm sorry. in exchange, I'll take your suitcase until the flight arrives" ucap pria asing tersebut.
"No, I go it" tolak Rara secara halus. Ia memang selalu berwaspada jika ada orang asing tapi bukan berarti selalu berpikiran buruk. Setelah itu ia bergegas pergi meninggalkan pria asing dihadapannya.
"Sorry, what your name?" pria asing tersebut kembali mengejar Rara.
"Rara, you?" tanya balik Rara.
"Van, Nice to meet you" ucapnya.
"Me too" ucap Rara sambil meninggalkan Van yang masih memperhatikan kepergian gadis yang baru dikenalanya.